tag:theconversation.com,2011:/id/pendidikan/articles Pendidikan + Budaya – The Conversation 2026-02-04T09:01:46Z tag:theconversation.com,2011:article/274539 2026-02-04T09:01:46Z 2026-02-04T09:01:46Z ‘Slow science’ lebih cocok untuk riset bidang sosial humaniora di Indonesia <p>● ‘<em>Slow science</em>’ perlu diterapkan untuk melawan tren “menyampah” (‘<em>junkification</em>’) dalam riset dan publikasi ilmiah.</p> <p>● Riset sosial humaniora membutuhkan waktu lama untuk membangun kepercayaan subjek dan mengungkap realitas.</p> <p>● Kebijakan negara perlu lebih menghargai dampak sosial, skema riset multitahun, serta luaran penelitian nontradisional.</p> <hr> <p><a href="https://theconversation.com/reliable-science-takes-time-but-the-current-system-rewards-speed-249497">Permasalahan etika akademis</a> yang semakin banyak dalam riset dan publikasi ilmiah membuat perbincangan mengenai <a href="https://slowscience.be/the-slow-science-manifesto-2/"><em>slow science</em></a> atau sains yang tak tergesa, kembali mengemuka.</p> <p>Pada penghujung 2025 lalu, publik ramai memperbincangkan <a href="https://doi.org/10.1177/13505084251399576">aktivitas menyampah (<em>junkification</em>) dalam riset dan publikasi</a>—menerbitkan artikel jurnal secara cepat, asal-asalan dan tanpa kualitas memadai. </p> <hr> <p> <em> <strong> Baca juga: <a href="https://theconversation.com/4-masalah-yang-kerap-dihadapi-dosen-indonesia-ketika-menulis-artikel-ilmiah-226924">4 masalah yang kerap dihadapi dosen Indonesia ketika menulis artikel ilmiah</a> </strong> </em> </p> <hr> <figure class="align-center zoomable"> <a href="https://images.theconversation.com/files/715198/original/file-20260129-56-hag63j.jpg?ixlib=rb-4.1.0&amp;q=45&amp;auto=format&amp;w=1000&amp;fit=clip"><img alt="Gambar menjelaskan mengenai spiral dari 'junkfication' dalam riset dan publikasi di dunia 'online'. Gambar tersebut menjelaskan adanya dua perubahan sistem yang menekan, yaitu sistem dunia akademik dan publikasi ilmiah online." src="https://images.theconversation.com/files/715198/original/file-20260129-56-hag63j.jpg?ixlib=rb-4.1.0&amp;q=45&amp;auto=format&amp;w=754&amp;fit=clip" srcset="https://images.theconversation.com/files/715198/original/file-20260129-56-hag63j.jpg?ixlib=rb-4.1.0&amp;q=45&amp;auto=format&amp;w=600&amp;h=410&amp;fit=crop&amp;dpr=1 600w, https://images.theconversation.com/files/715198/original/file-20260129-56-hag63j.jpg?ixlib=rb-4.1.0&amp;q=30&amp;auto=format&amp;w=600&amp;h=410&amp;fit=crop&amp;dpr=2 1200w, https://images.theconversation.com/files/715198/original/file-20260129-56-hag63j.jpg?ixlib=rb-4.1.0&amp;q=15&amp;auto=format&amp;w=600&amp;h=410&amp;fit=crop&amp;dpr=3 1800w, https://images.theconversation.com/files/715198/original/file-20260129-56-hag63j.jpg?ixlib=rb-4.1.0&amp;q=45&amp;auto=format&amp;w=754&amp;h=515&amp;fit=crop&amp;dpr=1 754w, https://images.theconversation.com/files/715198/original/file-20260129-56-hag63j.jpg?ixlib=rb-4.1.0&amp;q=30&amp;auto=format&amp;w=754&amp;h=515&amp;fit=crop&amp;dpr=2 1508w, https://images.theconversation.com/files/715198/original/file-20260129-56-hag63j.jpg?ixlib=rb-4.1.0&amp;q=15&amp;auto=format&amp;w=754&amp;h=515&amp;fit=crop&amp;dpr=3 2262w" sizes="(min-width: 1466px) 754px, (max-width: 599px) 100vw, (min-width: 600px) 600px, 237px"></a> <figcaption> <span class="caption">Spiral penurunan akibat ‘junkification’</span> <span class="attribution"><a class="source" href="https://journals.sagepub.com/doi/10.1177/13505084251399576#bibr5-13505084251399576">Rhodes dan Linnenluecke (2025)</a></span> </figcaption> </figure> <p>Sebaliknya, konsep <a href="https://theconversation.com/how-slow-science-can-improve-the-way-we-do-and-interpret-research-90168"><em>slow science</em></a> adalah pendekatan dalam riset dan publikasi yang memberikan cukup waktu bagi peneliti untuk memahami fenomena riset dan menyusun pembahasan secara lebih mendalam.</p> <p>Pendekatan ini lebih menekankan kualitas dan ketelitian riset <a href="https://www.scientificamerican.com/article/the-dangers-of-fast-science/">daripada <em>fast science</em> (sains yang tergesa)</a> yang berorientasi pada publikasi sesegera mungkin demi mengejar kenaikan jabatan atau insentif keuangan.</p> <p>Sebenarnya, asal dilakukan secara akurat dan beretika, <a href="https://issues.org/slow-science-fast-science/"><em>fast science</em></a> sah saja dan tetap dibutuhkan. Misalnya ketika terjadi pandemi atau bencana alam yang memerlukan hasil-hasil penelitian sebagai solusi taktis atau dasar pengambilan kebijakan. </p> <p>Namun, dalam konteks riset sosial dan humaniora (soshum), pendekatan sains yang tak tergesa lebih tepat untuk digunakan. Sebab, fenomena sosial itu kompleks dan tidak bisa dipahami dengan pendekatan instan.</p> <p>‘<em>Slow science</em>’ dapat memberi ruang observasi bagi peneliti sekaligus memperdalam analisisnya, sehingga <a href="https://www.sciencedirect.com/science/article/pii/S1815566925000785">penelitian tidak hanya mereproduksi temuan lama tanpa menawarkan pemahaman atau perspektif baru</a>.</p> <h2>Karakter riset sosial humaniora: Membutuhkan waktu</h2> <p><a href="https://ses.library.usyd.edu.au/bitstream/handle/2123/33647/Doran_E_Thesis.pdf?sequence=1&amp;isAllowed=y">Penelitian di tahun 2025</a> menunjukkan bahwa riset ilmu-ilmu sosial di Indonesia telah terjebak pada logika <em>publish or perish</em>—terbitkan saja untuk menggugurkan kewajiban.</p> <p>Tekanan ini terjadi karena sistem yang mengekor logika internasionalisasi: terutama terkait peringkat institusi dan publikasi internasional.</p> <hr> <p> <em> <strong> Baca juga: <a href="https://theconversation.com/riset-ungkap-ilmu-komunikasi-di-indonesia-statis-bahkan-setelah-20-tahun-lebih-era-reformasi-dan-meluasnya-kebebasan-akademik-193851">Riset ungkap Ilmu Komunikasi di Indonesia statis, bahkan setelah 20 tahun lebih era Reformasi dan meluasnya kebebasan akademik</a> </strong> </em> </p> <hr> <p><a href="https://theconversation.com/target-world-class-university-mau-dibawa-ke-mana-perguruan-tinggi-indonesia-233457">Internasionalisasi pendidikan tinggi di Indonesia</a>, salah satunya menuntut publikasi di jurnal-jurnal internasional yang berbahasa Inggris. </p> <p>Akibat mengejar internasionalisasi, pengukuran kuantitas publikasi internasional kemudian menjadi <a href="https://theconversation.com/keluar-dari-tirani-matriks-solusi-alternatif-untuk-masalah-publikasi-ilmiah-232505">syarat kenaikan jabatan akademis</a>. Dampaknya, banyak peneliti sosial di Indonesia mengejar “asal publikasi internasional”, dan <a href="https://theconversation.com/bagaimana-jurnal-predator-melemahkan-penelitian-dan-kepercayaan-masyarakat-terhadap-akademisi-214087">terjerumus jurnal predatoris.</a></p> <p>Padahal, paradigma keilmuan dan metodologi riset dalam bidang <a href="https://conbio.onlinelibrary.wiley.com/doi/epdf/10.1111/cobi.12326"><em>STEM</em> (sains, teknologi, rekayasa, dan matematika), berbeda dengan soshum</a>. </p> <p>Kami berpandangan bahwa sebisa mungkin riset ilmu sosial perlu mendeteksi apa yang disebut sebagai <a href="https://journals.sagepub.com/doi/full/10.1177/15586898211049847">mekanisme generatif (<em>generative mechanism</em>)</a>, atau gambaran penyebab utama dari realitas yang diamati, sekalipun ia tersembunyi di dasar gunung es.</p> <p>Artinya, jika menggunakan pendekatan kualitatif, peneliti memerlukan waktu yang cukup lama untuk membangun relasi dan kepercayaan dengan partisipan. Peneliti juga perlu memikirkan kembali data-data di lapangan yang diperoleh untuk dianalisa mendalam dan dihubungkan misalnya dengan permasalahan etis yang mungkin akan terjadi.</p> <p>Kedalaman semacam ini tidak mungkin terwujud jika riset dilakukan secara buru-buru dan asal bisa terbit.</p> <p></p> <h2>Mengapa ‘<em>fast science</em>’ perlu dihindari</h2> <p>Kami berpendapat bahwa <em>fast science</em> saat ini adalah sebuah logika yang diciptakan oleh sistem. Sistem riset saat ini mendorong peneliti untuk memproduksi <a href="https://theconversation.com/reliable-science-takes-time-but-the-current-system-rewards-speed-249497">karya ilmiah sebanyak mungkin dan secepat mungkin</a>.</p> <p>Sistem ini muncul karena beberapa hal, misalnya penilaian kinerja peneliti berbasis jumlah publikasi dan peringkat jurnal, <a href="https://doi.org/10.1080/00472336.2019.1627389">sebagaimana juga terjadi dalam riset sosial di Indonesia</a>.</p> <p>Bagi peneliti sosial humaniora, ini memunculkan dilema apakah memilih menerbitkan hasil penelitian secara cepat agar bisa segera dikutip, atau memperdalam dan memperkuat analisis penelitian untuk kemudian mengembalikannya kepada komunitas yang diteliti?</p> <p>Padahal, kita menyadari bahwa hasil riset dan publikasi sosial humaniora <a href="https://academic.oup.com/rev/article/30/3/323/6220452">tidak mesti harus dinilai dari jumlah kutipan atau kuantitas produknya</a>, tetapi bisa juga dari bagaimana hasil riset dan publikasi tersebut dapat meningkatkan kualitas kebijakan publik atau memunculkan perubahan sosial di masyarakat.</p> <p>Jika kita terus berkutat pada jumlah produksi yang cepat, dampaknya akan meluas. Misalnya, <a href="https://doi.org/10.1007/978-3-030-05900-2_2">peneliti tidak melibatkan suara-suara dari kelompok marginal</a> dan semakin menyisihkan mereka dari advokasi kebijakan publik.</p> <h2>Menjadikan ‘<em>slow science</em>’ sebagai alternatif</h2> <p>Sains yang tak tergesa dalam riset dan publikasi sosial humaniora bertujuan untuk memastikan bahwa riset dan publikasi tersebut <a href="https://doi.org/10.4324/9781003083504-9">bermakna dan bernilai</a>, sehingga dapat menciptakan sebuah pengetahuan baru dan perubahan sosial.</p> <p>Mempertimbangkan <em>slow science</em> di era sekarang dapat memberikan waktu bagi peneliti untuk melakukan introspeksi mengenai apa tujuan utama dalam meriset dan menerbitkan karya ilmiah.</p> <p>Untuk mendukung sains yang tak tergesa, kita perlu menambahkan beberapa hal dalam sistem yang sudah ada sekarang.</p> <p><em>Pertama</em>, kami merekomendasikan agar riset dan publikasi sosial humaniora tidak dinilai dari ukuran jumlah saja, tetapi juga mempertimbangkan dampak sosial yang mungkin dapat dihasilkan. Ini untuk melengkapi kebijakan pendidikan tinggi saat ini yang masih berfokus pada pencapaian <a href="https://syarahilefendi.medium.com/menjawab-manifesto-sains-yang-laun-slow-science-bagi-pendidikan-tinggi-kita-dbb5bbbb0c81">jumlah publikasi dan metrik kuantitatif lainnya</a>.</p> <p><em>Kedua</em>, karena penilaian luaran dari riset sosial humaniora kita telah cukup sering didekati dengan pendekatan kuantitatif, kami mendorong agar prinsip seperti <a href="https://sfdora.org/about-dora/"><em>The Declaration on Research Assessment</em> (<em>DORA</em>)</a> dapat lebih dikenalkan kepada akademisi di universitas untuk bisa melihat dari sudut pandang yang lain.</p> <p><em>Ketiga</em>, kami berharap ada lebih banyak skema riset multitahun untuk bidang sosial humaniora yang tidak berfokus pada <a href="https://www.arc.gov.au/sites/default/files/minisite/static/4551/ERA2015/s4-1_research-outputs-type.html">luaran yang bersifat tradisional</a>, tetapi juga dampak sosial atau pengetahuan baru yang mungkin dihasilkan.</p> <p><em>Keempat</em>, kami menyarankan agar pemerintah dapat lebih menghargai luaran-luaran riset dan publikasi sosial humaniora yang bersifat <a href="https://libguides.mq.edu.au/researchimpact/NTROs"><em>non-traditional research outputs</em> (NTROs)</a> seperti portofolio karya atau pertunjukan seni.</p> <hr> <p> <em> <strong> Baca juga: <a href="https://theconversation.com/pengakuan-karya-seni-dosen-langkah-awal-untuk-penilaian-yang-lebih-adil-257237">Pengakuan karya seni dosen: Langkah awal untuk penilaian yang lebih adil</a> </strong> </em> </p> <hr> <p><em>Terakhir</em>, kami mendorong peningkatan budaya akademis di universitas, misalnya memperkuat sistem mentoring dari profesor untuk membina dosen-dosen dalam riset dan melibatkan pemangku kepentingan terkait dalam riset sosial humaniora. </p> <p>Kami meyakini bahwa sains yang tak tergesa dapat memperkuat kolaborasi akademis karena melibatkan banyak pihak dan memperkuat diskursus di publik karena berfokus pada penciptaan pengetahuan baru dan pengembalian manfaat riset untuk komunitas.</p> <hr> <p> <em> <strong> Baca juga: <a href="https://theconversation.com/studi-media-dan-komunikasi-di-indonesia-stagnan-perlu-pendekatan-baru-227325">Studi media dan komunikasi di Indonesia stagnan: perlu pendekatan baru</a> </strong> </em> </p> <hr> <hr> <iframe src="https://tally.so/embed/zxYrpE?alignLeft=1&amp;hideTitle=1&amp;transparentBackground=1&amp;dynamicHeight=1" width="100%" height="321" frameborder="0" marginheight="0" marginwidth="0" title="Survey Form"> </iframe><img src="https://counter.theconversation.com/content/274539/count.gif" alt="The Conversation" width="1" height="1" /> <p class="fine-print"><em><span>Para penulis tidak bekerja, menjadi konsultan, memiliki saham atau menerima dana dari perusahaan atau organisasi mana pun yang akan mengambil untung dari artikel ini, dan telah mengungkapkan bahwa ia tidak memiliki afiliasi di luar afiliasi akademis yang telah disebut di atas.</span></em></p> Dalam konteks riset sosial dan humaniora (soshum), pendekatan ‘slow science’ lebih tepat untuk digunakan karena dapat membantu peneliti memperkuat kedalaman analisis. Putu Sukma Kurniawan, Staf Pengajar Program Studi Akuntansi, Universitas Pendidikan Ganesha M. Fasha Rouf, PhD Student, The University of Queensland Licensed as Creative Commons – attribution, no derivatives. tag:theconversation.com,2011:article/274957 2026-02-03T05:46:14Z 2026-02-03T05:46:14Z Laki-laki kembali mendominasi Grammy 2026, jumlah pemenang perempuan merosot tajam <p>Saat menerima penghargaan kategori album vokal pop terbaik di malam penganugerahan Grammy Awards ke-68 tadi malam, Lady Gaga menyoroti berbagai tantangan yang dihadapi perempuan di studio rekaman.</p> <p>“Ini bisa menjadi perjuangan yang berat,” ujarnya.</p> <p>“Maka, saya mendesak kalian untuk selalu mendengarkan diri sendiri dan… berjuanglah demi lagu-lagu kalian, berjuanglah untuk diri kalian sebagai produser. Pastikan suara kalian didengar dengan lantang,” lanjutnya.</p> <p>Pernyataan ini seolah meletakkan tanggung jawab kepada kaum perempuan untuk mengambil kendali dalam memperjuangkan kesetaraan di industri musik.</p> <p>Banyak megabintang perempuan, baik senior maupun pendatang baru, terdengar sangat vokal menyuarakan kesetaran gender di depan kamera dalam siaran tadi malam. Namun, jika kita melihat perolehan penghargaan, nominasi, serta kondisi industri secara luas, potret yang muncul sangatlah berbeda.</p> <p>Bersama rekan bisnis saya, Richard Addy yang merupakan seorang pakar strategi, saya menelaah representasi gender <a href="https://theconversation.com/topics/grammys-8646">di seluruh 95 kategori Grammy tahun ini</a>. Analisis kami mengungkapkan bahwa jumlah pemenang perempuan dan grup musik perempuan menurun drastis dibandingkan tahun lalu. </p> <p>Mereka hanya meraih kurang dari seperempat total piala Grammy (23%), merosot 14 poin persentase dari capaian tertinggi tahun lalu yang sebesar 37%, sekaligus menjadi level terendah sejak 2022.</p> <p>Penurunan ini sebagian merupakan cerminan dari menyusutnya pengakuan terhadap perempuan sebagai nomine Grammy. Representasi perempuan sempat mencapai puncaknya di angka hampir sepertiga (28%) dari <a href="https://akas.london//userfiles/Grammy/Grammy%20Report%20FINAL.pdf">total nominasi pada tahun lalu</a>. Namun, tahun ini hanya satu dari empat nominasi (24%) yang diberikan kepada perempuan.</p> <p>Terlepas dari pesan penyemangat Lady Gaga agar perempuan berdaulat atas musik mereka sebagai produser, perjuangan untuk mendapatkan tempat di jajaran produser papan atas belum membuahkan hasil.</p> <p>Sejak diperkenalkan 51 tahun silam, belum pernah ada satu pun perempuan yang memenangkan piala Grammy bergengsi untuk kategori <em>Producer of the Year, Non-Classical</em>. Tahun lalu, <a href="https://www.grammy.com/artists/alissia/51562">Alissia baru menjadi perempuan kesepuluh</a> yang berhasil masuk nominasi dalam kategori tersebut, tapi ia kalah dari Daniel Nigro. Tahun ini, kelima nomine dalam kategori tersebut adalah laki-laki.</p> <figure> <iframe width="440" height="260" src="https://www.youtube.com/embed/EGZZ4XFoZXE?wmode=transparent&amp;start=0" frameborder="0" allowfullscreen=""></iframe> </figure> <p>Addy dan saya sebelumnya telah selama setahun menginvestigasi data lebih dari 9.700 nominasi dan <a href="https://akas.london//userfiles/Grammy/Grammy%20Report%20FINAL.pdf">2.200 pemenang Grammy antara 2017 hingga 2024</a>. Riset tersebut mengungkapkan bahwa dibutuhkan “satu desa khusus laki-laki” untuk membesarkan seorang megabintang, baik perempuan maupun laki-laki. </p> <p>Para pemenang kategori <em>Record of the Year, Album of the Year, dan Song of the Year</em>—tiga dari empat penghargaan Grammy paling bergengsi—biasanya naik ke atas panggung untuk menerima trofi mereka sendirian. Namun pada kenyataannya, mereka berbagi penghargaan tersebut dengan banyak produser, teknisi rekaman (<em>engineer</em>), dan penata suara yang mayoritasnya adalah laki-laki. </p> <p>Oleh karena itu, momen saat ikon musik seperti Beyoncé atau Taylor Swift menerima penghargaan individu sebenarnya menutupi struktur dominasi laki-laki di balik kemenangan tersebut. Sebagai contoh, Bad Bunny, pemenang Album of the Year tahun ini, menerima penghargaan tersebut bersama 12 produser, penulis lagu, dan teknisi laki-laki yang tidak ikut naik ke atas panggung bersamanya.</p> <p>Meskipun visibilitas perempuan secara konsisten sangat tinggi dalam pengumuman nominasi dan siaran Recording Academy sepanjang tahun, pengakuan terhadap mereka di seluruh ajang Grammy tetap berada di pinggiran dibandingkan laki-laki. </p> <p>Sejak 2017, sebanyak 76% nominasi dan kemenangan di semua kategori diberikan kepada laki-laki. Sebaliknya, perempuan hanya dinominasikan dan memenangkan satu dari lima piala Grammy pada periode yang sama.</p> <p>Penelitian secara konsisten menunjukkan bahwa alasan mengapa perempuan tetap terpinggirkan di ajang Grammy—dan dalam industri musik secara umum—bersifat sangat struktural dan kompleks.</p> <figure> <iframe width="440" height="260" src="https://www.youtube.com/embed/kyvPTA0SW-E?wmode=transparent&amp;start=0" frameborder="0" allowfullscreen=""></iframe> </figure> <p>Meskipun <a href="https://www.recordingacademy.com/inclusion">misi Recording Academy</a> adalah memajukan budaya keberagaman, inklusi, rasa memiliki, dan rasa hormat yang kuat di industri musik, perempuan tetap terpinggirkan sebagai anggota Recording Academy.</p> <p>Proporsi anggota pemungut suara (<em>voting members</em>) Grammy perempuan memang meningkat dari <a href="https://www.billboard.com/music/music-news/recording-academy-invites-900-new-voting-members-task-force-8478236/">21% (2018)</a> menjadi <a href="https://www.voanews.com/a/grammys-revamped-voting-body-is-more-diverse-with-66-new-members/7811335.html">28% (2024)</a>. Namun, dengan laju pertumbuhan seperti ini, kesetaraan gender baru akan tercapai pada tahun 2051.</p> <p>Lambatnya pertumbuhan ini kemungkinan besar berkaitan dengan fakta bahwa <a href="https://documents.recordingacademy.com/NMC_25_Data_Report.pdf">69% anggota pemungut suara merupakan penulis lagu, komposer, produser, dan teknisi rekaman</a>—peran-peran yang menurut berbagai laporan berulang kali menunjukkan tingkat marginalisasi perempuan tertinggi. </p> <p>Sebagai contoh, laporan terbaru <a href="https://assets.uscannenberg.org/docs/aii-inclusion-recording-studio-2025-01-29-2.pdf"><em>Inclusion in the Recording Studio</em></a> dari USC Annenberg Initiative mengungkapkan bahwa rasio keseluruhan antara laki-laki dan perempuan dalam penulisan lagu di tangga lagu akhir tahun Billboard Hot 100 selama 13 tahun terakhir adalah 6,2 berbanding 1.</p> <p>Tinjauan kami terhadap 67 makalah akademis dan laporan dalam riset kami, <a href="https://www.akas.london/grammy-landing-page">The Missing Voices of Women in Music and Music News</a>, mengungkapkan bahwa diskriminasi gender, pelecehan seksual, dan kekerasan seksual secara konsisten menghambat kesuksesan perempuan di dunia musik. </p> <p>Selain itu, kesenjangan upah, pengucilan budaya dari kelompok elite laki-laki, serta terbatasnya peluang promosi dan eksposur juga menjadi kendala serius. Menurut laporan tahun 2024 dari konsultan Midia, <a href="https://www.midiaresearch.com/reports/be-the-change-gender-equity-in-music"><em>Be The Change: Gender equity in music</em></a>, yang berbasis pada riset di 133 negara, 60% perempuan di industri musik pernah mengalami pelecehan seksual, sementara satu dari lima perempuan pernah menjadi penyintas kekerasan seksual.</p> <p>Berbagai bukti tersebut menunjukkan realitas pahit bahwa sebesar apa pun talenta atau tekad perempuan untuk sukses, mereka hanya akan berhasil jika industri musik melakukan perubahan sistemik. Hingga saat itu tiba, kecil kemungkinan kita akan melihat perempuan mencapai kesetaraan pengakuan di ajang Grammy maupun penghargaan musik lainnya.</p><img src="https://counter.theconversation.com/content/274957/count.gif" alt="The Conversation" width="1" height="1" /> <p class="fine-print"><em><span>Luba Kassova adalah salah satu pendiri AKAS, sebuah konsultan strategi audiens yang fokus melayani organisasi nirlaba berbasis misi. Sebelumnya, AKAS pernah menerima pendanaan dari Gates Foundation untuk mengerjakan laporan Missing Perspectives of Women yang diterbitkan antara tahun 2020 dan 2025. Riset mengenai nominasi dan pemenang Grammy 2026 ini—yang akan menjadi landasan laporan mendatang—tidak menerima pendanaan eksternal apa pun.</span></em></p> Perempuan masih harus berjuang keras untuk mendapatkan pengakuan sebagai seniman, produser, penata suara, dan teknisi rekaman. Luba Kassova, PhD Candidate, Researcher and Journalist, University of Westminster Licensed as Creative Commons – attribution, no derivatives. tag:theconversation.com,2011:article/274548 2026-02-01T12:56:02Z 2026-02-01T12:56:02Z Program televisi dari AI: Inovasi teknologi atau degradasi seni? <p>● Program ‘Legenda Bertuah’ menjadi pionir tayangan televisi di Indonesia yang memanfaatkan AI secara penuh.</p> <p>● Penggunaan teknologi ini memicu kritik terkait potensi hilangnya kedalaman makna dan peran kreatif seniman manusia.</p> <p>● Menggunakan AI tanpa kehati-hatian berisiko menghilangkan fungsi karya seni dan memicu persoalan hak cipta.</p> <hr> <p>Perkembangan teknologi menghadirkan perubahan serius dalam produksi karya seni. Salah satu acara televisi swasta bertajuk <a href="https://www.instagram.com/reel/DTYFVwyAMs2/"><em>Legenda Bertuah</em></a>, misalnya, menjadi <a href="https://www.detik.com/pop/movie/d-8310234/trans7-hadirkan-acara-tv-pertama-full-ai#google_vignette">program televisi pertama</a> yang memanfaatkan teknologi <em>artificial intelligence</em> (AI) secara penuh di Indonesia. </p> <p></p> <p>Program televisi ini mengangkat legenda atau cerita rakyat di Indonesia, seperti <a href="https://www.instagram.com/p/DTvKbpJjmHj/">Sangkuriang</a> dan <a href="https://www.instagram.com/p/DTVUdg7kpWR/">Malin Kundang</a>. Tujuanya mengenalkan cerita rakyat Nusantara kepada penonton, terutama kisah-kisah monumental di Indonesia. </p> <p>Dalam konteks ini, pengelola program memanfaatkan AI sejak tahap praproduksi—seperti pengembangan ide, penulisan naskah awal, dan perencanaan visual—hingga proses produksi. AI juga digunakan dalam pascaproduksi, termasuk penyuntingan gambar, pengolahan suara, efek visual, bahkan penentuan alur narasi berbasis data audiens. </p> <p>Artinya, AI bukan lagi sekadar alat bantu teknis, melainkan instrumen produksi utama dalam program televisi.</p> <p>Penayangan program televisi dengan AI ini mengundang pro kontra dari masyarakat umum. Beberapa penonton merasa program televisi tersebut adalah <a href="https://x.com/txtfrombrand/status/2008797727686357411?s=20">inovasi teknologi dengan tampilan visual penuh warna dan bergaya fantasi</a>. Namun, tidak sedikit masyarakat yang mengkritik penggunaan AI karena dianggap <a href="https://x.com/PandaMerahku/status/2005548540324610220?s=20">menghilangkan kreativitas para seniman</a>.</p> <p>Dari sudut pandang sosiologi masyarakat digital dan sosiologi algoritma, masalah utama dari penggunaan AI dalam produksi seni bukan terletak pada teknologinya, melainkan pada pergeseran kendali kreatif. </p> <p>Ketika algoritma mulai menentukan alur cerita, gaya visual, dan emosi yang dianggap paling sesuai dengan selera pasar, karya seni berisiko kehilangan kedalaman reflektifnya.</p> <hr> <p> <em> <strong> Baca juga: <a href="https://theconversation.com/ai-bisa-mengancam-seniman-dan-melanggar-hak-cipta-perlu-diregulasi-bukan-dilarang-251370">AI bisa mengancam seniman dan melanggar hak cipta: Perlu diregulasi, bukan dilarang</a> </strong> </em> </p> <hr> <h2>Seni vs AI</h2> <p>Penggunaan AI dalam program televisi membuktikan <a href="https://books.google.co.id/books?hl=id&amp;lr=&amp;id=Uf5NEQAAQBAJ&amp;oi=fnd&amp;pg=PP1&amp;dq=AI+as+representations+of+TV&amp;ots=uiaNZNREeO&amp;sig=K3TuBiq3-t710S5C_SdwlTJZUcY&amp;redir_esc=y#v=onepage&amp;q=AI%20as%20representations%20of%20TV&amp;f=false">pesatnya perkembangan teknologi digital dan algoritma</a>. Namun, apakah ini benar-benar kemajuan kreatif, atau sekadar ilusi inovasi?</p> <p>AI memang menawarkan <a href="https://www.researchgate.net/profile/Powelaere-Ojobo-Charlie-2/publication/394476257_Discourse_Representation_of_Artificial_Intelligence_AI_in_Nigerian_Television_News_Headlines/links/689d9058fc368579b82fcdd6/Discourse-Representation-of-Artificial-Intelligence-AI-in-Nigerian-Television-News-Headlines.pdf">banyak keuntungan</a>. Proses produksi menjadi lebih cepat, biaya lebih murah, dan analisis preferensi penonton bisa dilakukan secara presisi. </p> <p>AI juga mampu <a href="https://revistas.unav.edu/index.php/communication-and-society/article/view/50300">membaca pola cerita yang disukai audiens, memprediksi emosi penonton, bahkan menyarankan alur yang dianggap “paling laku”</a>.</p> <p>Dalam logika industri, ini tampak ideal: ceritanya efisien, terukur, dan minim risiko tak laku. Namun, di sinilah problem sosiologisnya bermula.</p> <p>Ketika cerita diproduksi berdasarkan pola masa lalu dan kalkulasi algoritma, <a href="https://www.researchgate.net/publication/390994685_Artificial_Intelligence_in_Television_Series_Creation">sinetron berisiko kehilangan fungsi budayanya sebagai ruang refleksi sosial</a>.</p> <p>Cerita tidak lagi lahir dari pengalaman, konflik, dan imajinasi manusia, tetapi dari dataset dan statistik perilaku penonton. Akibatnya, program televisi AI cenderung mereproduksi narasi yang seragam, aman, dan mudah ditebak—bukan cerita yang kritis dan transformatif.</p> <p></p> <p>Masalah lainnya: siapakah pemilik hak cipta dari naskah yang ditulis bersama AI? Bagaimana posisi penulis, sutradara, dan pekerja kreatif ketika sebagian proses kreatif dialihkan ke mesin?</p> <p>Dalam konteks ini, AI bukan sekadar alat, melainkan berpotensi menjadi mekanisme baru penggeser kekuasaan dalam industri budaya—dari kreator manusia ke korporasi pemilik teknologi. </p> <p>Artinya, meski bernuansa kultural dan historis, <em>Legenda Bertuah</em> justru menciptakan ilusi kreativitas dan mengurangi (bahkan mencabut) peran seniman ataupun pekerja kreatif untuk berkarya.</p> <hr> <p> <em> <strong> Baca juga: <a href="https://theconversation.com/disrupsi-ai-dalam-industri-kreatif-benarkah-mengancam-tenaga-kerja-muda-254702">Disrupsi AI dalam industri kreatif: benarkah mengancam tenaga kerja muda?</a> </strong> </em> </p> <hr> <h2>Fungsi seni di ruang publik</h2> <p>Kemunculan program televisi AI seperti <em>Legenda Bertuah</em> menandai perubahan penting dalam cara produksi dan konsumsi karya seni. Teknologi kini bukan lagi sekadar alat bantu, melainkan bagian dari proses kreatif itu sendiri.</p> <p>Namun, perubahan ini tidak bisa dipahami secara sederhana sebagai kemajuan tanpa konsekuensi. Di balik efisiensi dan kecanggihan visual, terdapat persoalan yang lebih mendasar tentang arah seni, kreativitas, dan posisi manusia di dalamnya.</p> <p>Cerita rakyat dan narasi historis yang seharusnya <a href="https://revistas.set.org.br/ijbe/article/view/208">membuka ruang tafsir</a> justru cenderung disederhanakan menjadi tontonan yang aman, repetitif, dan mudah dicerna. Di titik inilah AI kerap menghadirkan kesan inovatif di permukaan, tetapi rapuh secara makna.</p> <p>Situasi ini juga berdampak langsung pada seniman dan pekerja kreatif. Kreativitas manusia perlahan ditempatkan sebagai sesuatu yang bisa digantikan oleh mesin. Padahal, proses artistik <a href="https://books.google.co.id/books?hl=id&amp;lr=&amp;id=9WyuDwAAQBAJ&amp;oi=fnd&amp;pg=PR7&amp;dq=AI+reduce+creativity+of+artist&amp;ots=RSwB8xeGSM&amp;sig=pYid-wSEfOKkYkJeHVYoTGi4kII&amp;redir_esc=y#v=onepage&amp;q=AI%20reduce%20creativity%20of%20artist&amp;f=false">tidak hanya soal menghasilkan karya</a>, tetapi juga menyangkut pengalaman, kepekaan, dan keberpihakan sosial yang tumbuh dari relasi manusia dengan realitasnya.</p> <p>Ketika peran ini terpinggirkan, seni berisiko terkikis menjadi sekadar produk industri yang tunduk pada logika efisiensi. Karena itu, penggunaan AI dalam seni dan televisi perlu ditempatkan secara lebih hati-hati dan kritis. Teknologi semestinya mendukung proses kreatif, bukan menentukan arah cerita.</p> <p>Di sisi lain, kita juga masih memerlukan kejelasan etika, perlindungan hak cipta, serta pengakuan yang adil terhadap kerja kreatif manusia. Tujuannya agar transformasi digital tidak berujung pada pemusatan kuasa di tangan segelintir pemilik teknologi.</p> <p>Di tengah derasnya arus inovasi teknologi, menjaga ruang kreativitas manusia bukanlah sikap antikemajuan, melainkan upaya mempertahankan seni sebagai medium refleksi sosial.</p> <hr> <p> <em> <strong> Baca juga: <a href="https://theconversation.com/deepfake-begitu-banyak-di-internet-bagaimana-strategi-bedakan-fakta-dari-fiksi-ciptaan-ai-218737">'Deepfake' begitu banyak di internet: bagaimana strategi bedakan fakta dari fiksi ciptaan AI</a> </strong> </em> </p> <hr> <hr> <iframe src="https://tally.so/embed/68ZoVo?alignLeft=1&amp;hideTitle=1&amp;transparentBackground=1&amp;dynamicHeight=1" width="100%" height="321" frameborder="0" marginheight="0" marginwidth="0" title="Survey Form"> </iframe><img src="https://counter.theconversation.com/content/274548/count.gif" alt="The Conversation" width="1" height="1" /> <p class="fine-print"><em><span>Rafi Aufa Mawardi tidak bekerja, menjadi konsultan, memiliki saham, atau menerima dana dari perusahaan atau organisasi mana pun yang akan mengambil untung dari artikel ini, dan telah mengungkapkan bahwa ia tidak memiliki afiliasi selain yang telah disebut di atas.</span></em></p> Kehadiran program televisi berbasis AI menawarkan inovasi visual, tetapi juga memicu kritik tentang kreativitas, pergeseran kuasa, dan terpinggirkannya seniman. Rafi Aufa Mawardi, Dosen Sosiologi, Universitas Airlangga Licensed as Creative Commons – attribution, no derivatives. tag:theconversation.com,2011:article/273469 2026-01-30T02:03:05Z 2026-01-30T02:03:05Z Ramai kasus ‘Mens Rea’: Mengapa kita memaknai humor secara berbeda? <p>● Perbedaan reaksi terhadap pertunjukan komedi ‘Mens Rea’ menunjukkan bahwa lelucon tidak bermakna tunggal.</p> <p>● Dalam logika anomali, penggunaan umpatan atau sindiran dianggap sebagai bagian dari proses pembentukan humor yang wajar.</p> <p>● Kritik bisa berubah jadi serangan pribadi ketika tidak ada kesamaan pemahaman, dan ini dapat memicu reaksi sosial.</p> <hr> <p>Pertunjukan <em>stand-up comedy</em> (komedi tunggal) <a href="https://www.netflix.com/id/title/82627260"><em>Mens Rea</em> oleh Pandji Pragiwaksono</a> memicu beragam reaksi di media sosial. Potongan-potongan videonya tersebar luas. Apabila dilihat menggunakan <a href="https://pers.droneemprit.id/sentimen-publik-terhadap-mens-rea-oleh-pandji-pragiwaksono/">sentimen analisis,</a> tampak bahwa media sosial cenderung pro dengan <em>jokes</em> Pandji yang kental dengan kritikan terhadap pemerintah. Namun, media massa daring berpendapat sebaliknya.</p> <p>Ini menunjukkan bahwa satu materi humor bisa dipahami dengan cara yang sangat berbeda oleh orang-orang yang menontonnya. <a href="https://www.researchgate.net/publication/396545123_An_Analysis_of_Implicature_in_Drew_Lynch's_Stand-Up_Comedy">Komedi tunggal yang mengandalkan makna implisit dalam menyampaikan ide</a> memerlukan kemampuan seseorang untuk memahami konteks sehingga bisa menangkap maksud yang coba disampaikan oleh komika.</p> <p>Dalam konteks <em>Mens Rea</em>, masyarakat yang mendukung Pandji melihat bahwa lawakan Pandji berfokus pada kritik terhadap keburukan penguasa, sehingga mewakili keresahan mereka yang tertawa lepas saat menonton. Sebaliknya, mereka yang kurang setuju dengan candaan Pandji melihatnya sebagai <em>body shaming</em> maupun ujaran yang memuat unsur SARA. </p> <p></p> <h2>Humor tidak bermakna tunggal</h2> <p>Tujuan dari humor dalam <em>stand-up comedy</em> adalah <a href="https://europeanjournalofhumour.org/ejhr/article/view/248">membuat orang tertawa</a>. Namun, humor juga merupakan salah satu <a href="https://www.semanticscholar.org/paper/Communicating-through-humour%3A-A-project-of-stand-up-Pinto-Mar%C3%A7al/581d7fcfd666a86b8a84b7aca1cdfb8abe5f7ca0">cara manusia berkomunikasi</a>.</p> <p>Ketika seorang komika melontarkan lelucon, ia sebenarnya sedang menyampaikan kritik, sindiran, kegelisahan, atau sekadar ajakan untuk melihat suatu hal dari sudut pandang berbeda.</p> <p>Sebagai contoh, perkataan Pandji yang menyebut Wakil Presiden Gibran Rakabuming sebagai orang “ngantuk” akan dinilai sebagai sesuatu yang negatif jika kita memahaminya secara literal. Tompi, misalnya, menjelaskan dalam <a href="https://www.instagram.com/reel/DTDFKvSkq5e/?igsh=aWZ3bmZpdmJnMHFu">kapasitasnya sebagai dokter</a> bahwa kelopak mata Gibran mengalami Ptosis, sehingga ia kurang setuju jika hal tersebut dijadikan bahan lelucon.</p> <p>Namun, jika kita melihatnya dalam konteks kritik kinerja wakil presiden, apa yang diucapkan komika masih relevan. Sebab, komentar atau pidato Gibran memang kerap bersifat <em>blunder</em>. Misalnya menyebut asam folat menjadi asam <a href="https://www.tempo.co/politik/gibran-diduga-salah-sebut-asam-sulfat-untuk-ibu-hamil-di-dua-acara-berbeda-112120">sulfat</a> atau <a href="https://inharmonia.id/index.php/berita/berita/ditanya-geopolitik-oleh-perwira-tni-jawaban-gibran-dianggap-tak-nyambung">memberikan jawaban yang tidak relevan</a>.</p> <p>Hal tersebut menjadi landasan perkataan sarkastis Panji untuk mengkritik kinerja Gibran sebagai orang yang mengantuk sekaligus menjadikannya bahan lelucon—tujuan utama pertunjukan komedi tunggal.</p> <hr> <p> <em> <strong> Baca juga: <a href="https://theconversation.com/komeng-masuk-parlemen-bukti-efektifnya-strategi-komedi-di-dunia-politik-224026">Komeng masuk parlemen: bukti efektifnya strategi komedi di dunia politik</a> </strong> </em> </p> <hr> <h2>Datang untuk mencari anomali</h2> <p>Ketika seseorang memutuskan untuk menonton <em>stand up comedy</em>, <a href="https://europeanjournalofhumour.org/ejhr/article/view/248">ada semacam kontrak tak tertulis yang terjalin antara penonton dan komika</a>, bahwa penonton ingin dibuat tertawa dan komika berusaha sebaik mungkin membuat audiens tergelak. </p> <p>Jika dalam percakapan sehari-hari, seseorang terbiasa atau perlu berbicara santun, hal tersebut kurang berlaku dalam ruang komedi tunggal.</p> <p>Pasalnya, <a href="https://assap.wum.edu.pk/index.php/ojs/article/view/129">komedi tunggal menekankan adanya anomali</a>—suatu penyimpangan dari standar yang ada, dan menjadi hal dasar ketika kita berbicara tentang humor. Ciri-ciri anomali tersebut mencakup sesuatu yang tidak terduga, berbeda, ataupun menyimpangi norma.</p> <p>Anomali-anomali itulah yang membuat komedi tunggal <a href="https://www.researchgate.net/publication/376863946_MULTIMODALITY_OF_INCONGRUITY_AS_COGNITIVE_MECHANISM_OF_CREATING_HUMOUR_CASE_STUDY_OF_POLITICAL_STAND-UP_COMEDY">menjadi hidup dan lucu</a>. <a href="https://www.researchgate.net/publication/266341908_'It's_About_Expecting_the_Unexpected'_Live_Stand-up_Comedy_from_the_Audiences'_Perspective">Survei tahun 2011</a> menunjukkan bahwa audiens komedi tunggal justru mengharapkan anomali ketika mendatangi suatu pertunjukkan komedi tunggal.</p> <p>Karena itu, batas kesantunan dalam komedi tunggal biasanya menjadi longgar. Komika sengaja membicarakan hal-hal yang umum dihindari dalam percakapan sehari-hari seperti <a href="https://www.atlantis-press.com/proceedings/soshec-19/125926130">umpatan, makian, sumpah serapah, dan hinaan</a> untuk membuat lelucon.</p> <hr> <p> <em> <strong> Baca juga: <a href="https://theconversation.com/mengapa-kita-tertawa-saat-melihat-seseorang-terjatuh-201959">Mengapa kita tertawa saat melihat seseorang terjatuh?</a> </strong> </em> </p> <hr> <h2>Makna ada di benak penonton</h2> <p>Meskipun terdapat kontrak tidak tertulis bahkan izin dari penontonnya, para komika tidak bisa membatasi beragam tafsiran yang muncul atas lelucon mereka. Terlebih, terdapat kontrol sosial dan kesepakatan bersama tentang apa yang boleh dibuat lelucon dan apa yang tidak. </p> <p>Menyampaikan humor dengan bahasa-bahasa di luar kewajaran bukan tanpa resiko. <a href="https://www.latimes.com/entertainment-arts/movies/story/2022-12-12/5-comics-arrested-onstage">Pada rentang tahun 1946 – 1981</a>, lima komika di Amerika Serikat (AS) ditangkap oleh pihak berwenang karena ujaran yang waktu itu dianggap cabul.</p> <p><a href="https://www.semanticscholar.org/paper/Humor-Styles-and-Symbolic-Boundaries-Kuipers/6a7b918c49d4393fef0f4afd8485eef66a2ff433">Dari perspektif sosiolinguistik</a>, ujaran-ujaran yang mencakup topik-topik sensitif—seperti seksualitas dan gender, kematian dan penyakit, fungsi tubuh, kekerasan dan agresi, kelompok etnis dan ras minoritas, pelanggaran moral atau sosial, dan gangguan mental—dikenal dengan istilah humor transgresif.</p> <p>Humor jenis ini biasanya <a href="https://journals.sagepub.com/doi/pdf/10.1177/20438206221075713">menggunakan satire atau sarkasme yang dianggap provokatif oleh sebagian orang</a>. Ketika komika gagal menyampaikan humor transgresif, ia akan dianggap melampaui batas kepantasan, tidak sensitif terhadap isu sosial, serta berpotensi menyinggung nilai-nilai moral atau identitas kelompok tertentu.</p> <p>Artinya, karena humor transgresif bekerja dengan cara melampaui norma, keberhasilannya sangat bergantung pada <a href="https://academic.oup.com/jaac/article/78/4/491/6049427">ketepatan penyampaian, sensitivitas konteks, serta kesamaan kerangka penafsiran antara komika dan audiens</a>.</p> <p>Ketika keselarasan ini gagal terbangun, humor tidak lagi dipahami sebagai kritik sosial, melainkan sebagai serangan personal, penghinaan, atau pelanggaran etika. Pada titik inilah humor kehilangan fungsi reflektifnya dan justru memicu resistensi sosial.</p> <p></p> <p>Fenomena polemik pertunjukan <em>Mens Rea</em> menunjukkan bahwa humor, khususnya humor transgresif, tidak pernah berdiri sebagai hiburan semata. <a href="https://www.semanticscholar.org/paper/Deadly-serious%3A-Humor-and-the-politics-of-aesthetic-Gerlofs/1977c82ceb254aa346877429780aac974045461f">Ia selalu berkelindan</a> dengan konteks sosial, politik, dan kultural yang melingkupinya.</p> <p>Perbedaan respons publik terhadap materi yang sama menegaskan bahwa humor bukan hanya soal kelucuan, melainkan juga soal bagaimana kata-kata ditafsirkan, nilai dibaca, dan batas sosial diperbincangkan.</p> <p>Dalam ruang digital yang terbuka dan cepat menyebar, <a href="https://www.researchgate.net/publication/395189886_Digital_Folklore_and_Digital_Fieldwork_Researching_Online_Humour_with_Its_Offline_Context_in_Mind">satu potongan lelucon dapat dengan mudah terlepas dari konteks awalnya</a> sehingga audiens bisa memaknainya secara berbeda.</p> <p>Kasus <em>Mens Rea</em> memperlihatkan bahwa kegagalan humor transgresif bukan semata akibat niat pembuat lelucon, melainkan juga hasil dari tawar-menawar makna yang tidak selalu sejalan antara pembicara dan pendengar.</p> <p>Dalam masyarakat yang semakin majemuk dan sensitif terhadap isu identitas, <a href="https://www.semanticscholar.org/paper/After-the-Charlie-Hebdo-Attack%3A-The-Line-between-of-Oboler/99e10fac1eda89afb7d29679ea417f700faeedac">batas antara kritik, satire, dan ofensivitas menjadi semakin tipis</a>.</p> <p>Karena itu, memahami humor sebagai praktik kebahasaan—yang sarat dengan konteks, dan relasi kuasa—menjadi penting. Tujuannya agar perdebatan tidak berhenti pada soal “lucu atau tidak”, melainkan bergerak pada pemahaman yang lebih luas tentang bagaimana humor bekerja di ruang publik.</p> <hr> <p> <em> <strong> Baca juga: <a href="https://theconversation.com/ruang-sipil-makin-sempit-kaum-muda-makin-takut-berekspresi-268999">Ruang sipil makin sempit, kaum muda makin takut berekspresi</a> </strong> </em> </p> <hr> <hr> <iframe src="https://tally.so/embed/44Kb2Y?alignLeft=1&amp;hideTitle=1&amp;transparentBackground=1&amp;dynamicHeight=1" width="100%" height="321" frameborder="0" marginheight="0" marginwidth="0" title="Survey Form"> </iframe><img src="https://counter.theconversation.com/content/273469/count.gif" alt="The Conversation" width="1" height="1" /> <p class="fine-print"><em><span>Imam Hanafi tidak bekerja, menjadi konsultan, memiliki saham, atau menerima dana dari perusahaan atau organisasi mana pun yang akan mengambil untung dari artikel ini, dan telah mengungkapkan bahwa ia tidak memiliki afiliasi selain yang telah disebut di atas.</span></em></p> ‘Mens Rea’ memicu perdebatan di kalangan publik. Mengapa humor bisa dipahami dengan cara yang sangat berbeda oleh orang-orang yang menontonnya? Imam Hanafi, Dosen Linguistik, Universitas Negeri Surabaya Licensed as Creative Commons – attribution, no derivatives. tag:theconversation.com,2011:article/226924 2026-01-28T08:18:03Z 2026-01-28T08:18:03Z 4 masalah yang kerap dihadapi dosen Indonesia ketika menulis artikel ilmiah <p>● Dosen Indonesia sudah banyak menerbitkan naskah jurnal, tapi belum semuanya berkualitas. </p> <p>● Umumnya, kendala dosen ada pada topik yang sudah usang, analisis tidak akurat, pengabaian etika, serta keterbatasan kemampuan berbahasa Inggris.</p> <p>● Tekanan publikasi memicu maraknya pelanggaran etika seperti kepengarangan palsu dan manipulasi data.</p> <hr> <p>Dunia akademis Indonesia masih menghadapi berbagai persoalan serius. Keterbatasan anggaran penelitian yang berbanding terbalik dengan tingginya tuntutan publikasi, misalnya, <a href="https://www.tempo.co/politik/ui-masuk-13-kampus-risiko-riset-wakil-rektor-bilang-wajar-1925185">menciptakan dilema bagi akademisi Indonesia</a>.</p> <p>Secara kuantitas, jumlah <a href="https://www.kompas.id/baca/opini/2023/09/26/publikasi-ilmiah-dan-pematangan-intelektual">publikasi yang diterbitkan</a> terus meningkat. Namun, peningkatan ini belum sepenuhnya diiringi dengan kualitas. Banyak dosen akhirnya menerbitkan artikel ilmiah di jurnal tidak bereputasi demi mengejar syarat administratif, ketimbang berusaha menembus jurnal internasional bergengsi.</p> <hr> <p> <em> <strong> Baca juga: <a href="https://theconversation.com/pelanggaran-akademis-di-indonesia-masih-marak-merusak-ekosistem-riset-dan-menyalahgunakan-uang-rakyat-224516">Pelanggaran akademis di Indonesia masih marak: merusak ekosistem riset dan menyalahgunakan uang rakyat</a> </strong> </em> </p> <hr> <p>Berdasarkan pengalaman kami sebagai narasumber untuk pelatihan penulisan artikel ilmiah bagi dosen—yang diselenggarakan oleh Direktorat Riset, Teknologi, dan Pengabdian kepada Masyarakat (DRTPM), Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (<a href="https://www.unpas.ac.id/unpas-dan-drtpm-kemendikbudristek-gelar-pelatihan-penulisan-artikel-ilmiah-internasional/">Kemendikbudristek)</a>—dosen Indonesia kerap menghadapi beberapa persoalan ketika menulis naskah untuk jurnal internasional.</p> <p>Persoalan ini mencakup kebaruan riset, analisis, kemampuan menulis dalam bahasa Inggris, dan etika publikasi.</p> <p></p> <p><strong>1. Tidak ada unsur kebaruan</strong></p> <p>Kebaruan hasil riset dan kreativitas peneliti merupakan salah satu faktor kunci yang menentukan diterima atau tidaknya naskah ilmiah oleh editor dan <em>reviewer</em> jurnal. </p> <p><a href="https://www.sciencedirect.com/science/article/pii/S0048733317301038#bib0290">Kebaruan publikasi ilmiah</a> adalah kemampuan penulis mengombinasikan komponen pengetahuan yang sudah ada dengan sudut pandang yang baru atau belum pernah ada sebelumnya. Kebaruan hasil riset menuntut kreativitas peneliti untuk mencari solusi baru atas masalah yang sedang diteliti. </p> <p>Sayangnya, banyak peserta yang mengikuti pelatihan penulisan ilmiah belum menyadari hal ini. Sekitar 75% dari manuskrip peserta memiliki topik riset yang sudah usang atau kurang mendalam. </p> <p>Untuk bidang pertanian misalnya, masih ada peserta yang menyuguhkan ide untuk meneliti pengaruh pupuk nitrogen terhadap pertumbuhan dan produksi tanaman secara umum. Topik semacam ini akan sulit menembus jurnal bereputasi jika data dan bahasannya masih dalam skala yang terlalu luas. Sebab, <a href="https://essd.copernicus.org/articles/10/969/2018/">topik serupa sudah banyak dikaji</a> sejak 1950-an. </p> <p>Salah satu cara untuk menghindari persoalan ini adalah dengan rajin membaca <em>update</em> artikel ilmiah bermutu dari jurnal internasional berkualitas tinggi agar kita bisa mengetahui perkembangan mutakhir (<em>state of the art</em>) topik riset. </p> <p>Dalam konteks pupuk tersebut, peserta bisa merujuk ke contoh riset terbaru <a href="https://www.sciencedirect.com/science/article/pii/S0038071723003358">penggunaan pupuk nitrogen</a> dengan hasil dan pembahasan pada level mikro atau nano yang diterbitkan di jurnal internasional bereputasi (Q1).</p> <p>Selain itu, tema dengan <a href="https://www.sciencedirect.com/science/article/pii/S0039368125000792">kearifan lokal Indonesia</a>, umumnya lebih menarik minat pembaca internasional. </p> <p><strong>2. Analisis dan presentasi data tidak menarik</strong></p> <p>Analisis dan penyajian data penting karena <a href="https://www.sciencedirect.com/science/article/pii/B9780128214107000121">hasil riset yang tidak lengkap</a> atau kurang menarik bisa menurunkan relevansi dan reputasi peneliti maupun institusinya.</p> <p>Masalah dalam hal ini kerap terjadi karena kesalahan pengumpulan, pengolahan dan penafsiran data. Beberapa isu krusial yang sering ditemukan <a href="https://www.sciencedirect.com/science/article/pii/S0873215911000973">dalam analisis dan presentasi data</a>, antara lain:</p> <p>• Informasi atau data tidak cukup atau bahkan berlebihan.</p> <p>• Kurangnya penjelasan terperinci tentang data, cara memperoleh dan menganalisisnya.</p> <p>• Penulisan rumus umum secara berlebihan, lebih dari konteks yang diperlukan.</p> <p>• Ketidaksesuaian penulisan rumus, satuan, dan persamaan dengan standar baku (mengikuti panduan penulisan).</p> <p>• Kurangnya penjelasan lengkap tentang proses pemilihan dan perekrutan responden/partisipan. </p> <p>• Minimnya uraian tentang perlindungan terhadap objek riset berupa makhluk hidup yang seharusnya mendapatkan prioritas tinggi. Peneliti perlu menyampaikan bagaimana perlakuan objek riset sebelum dan sesudah riset dilakukan, termasuk perawatan objek riset selama riset berlangsung—<a href="https://usupress.usu.ac.id/images/buku/Prinsip%20Dasar%20Tikus%20sebagai%20Model%20Penelitian%20final.pdf">misalnya dengan mengikuti panduan</a> ketika menggunakan objek riset hewan.</p> <p>• Kurang menjaga privasi objek riset terkait identitas untuk memastikan anonimitas (dalam tulisan, tabel, foto).</p> <p>Sementara dari sisi analisis, <a href="https://www.sciencedirect.com/science/article/abs/pii/S217351151100039X">metode</a> semestinya menggambarkan apa yang telah dikerjakan oleh peneliti untuk menjawab pertanyaan dan menyelesaikan masalah penelitian. Penulis tidak perlu lagi mengutip definisi konsep metodologi penelitian, terutama yang sudah umum diketahui.</p> <p>Jika metode yang diterapkan dalam riset kurang kuat atau tidak tepat, hasilnya tidak meyakinkan kalangan akademis. Sebagai contoh, metode yang tidak memiliki tahapan yang jelas untuk menghasilkan solusi dari permasalahan akan mengurangi nilai dari artikel. </p> <p><strong>3. Kemampuan menulis ilmiah dalam bahasa Inggris masih terbatas</strong></p> <p>Hingga saat ini, mata kuliah tentang cara menulis ilmiah di jurnal belum banyak dimasukkan di kurikulum S-2 atau S-3. Padahal, tugas akhir studi (skripsi, tesis, dan disertasi) bisa jadi <a href="https://www.editage.com/insights/the-basics-of-converting-your-phd-thesis-into-journal-articles">bahan</a> untuk dipublikasikan di jurnal.</p> <p>Berdasarkan pengalaman kami, banyak peserta belum terampil mengubah tugas akhir menjadi artikel jurnal karena mereka belum mengetahui <a href="https://www.editage.com/insights/9-differences-between-a-thesis-and-a-journal-article">perbedaan antara penulisan tesis dan jurnal</a>. </p> <p>Alih-alih melakukan tahapan-tahapan untuk <a href="https://www.editage.com/insights/tips-on-rewriting-your-thesis-as-a-journal-article">mengubah tesis atau disertasi menjadi naskah ilmiah</a>, mayoritas peserta langsung menggunakan seluruh isi disertasi atau memotongnya menjadi beberapa bagian yang mirip. </p> <p>Selain itu, untuk mengirimkan artikel ke jurnal internasional, dosen harus menulis <a href="https://www.nature.com/scitable/ebooks/english-communication-for-scientists-14053993/">naskahnya dalam bahasa Inggris</a>. Ini membutuhkan keahlian khusus karena tidak semua dosen familier dengan penulisan artikel ilmiah dalam bahasa Inggris. </p> <p>Untuk mengatasi ini, praktik kerja sama antara lembaga penelitian dan pengabdian kepada masyarakat (LPPM) dan pusat bahasa di Universitas Andalas (Unand) bisa diadopsi oleh perguruan tinggi lainnya. Di universitas ini, naskah ilmiah yang ditulis dalam bahasa Indonesia diterjemahkan oleh ahli bahasa di <a href="https://lc.unand.ac.id/index.php?option=com_k2&amp;view=item&amp;id=77:t-p&amp;Itemid=337">Pusat Bahasa Unand</a>. Khusus untuk dosen Unand, jasa ini tidak berbayar.</p> <p><strong>4. Kurang memperhatikan etika</strong></p> <p>Kemendikbudristek telah menerbitkan <a href="https://jdih.kemdikbud.go.id/sjdih/siperpu/dokumen/salinan/salinan_20220113_084946_Salinan%20RPM%20Nomor%2039%20Tahun%202021%20ttg%20Integritas%20Akademik%20(upload%20jdih).pdf">Peraturan Menteri No. 39/2021 tentang Pelanggaran Integritas Akademik</a> dalam menghasilkan karya ilmiah.</p> <p>Pengukuran tingkat pelanggaran dan sanksinya pun sudah ada. <a href="https://anjani.kemdikbud.go.id/">Platform anjungan integritas akademik Indonesia (Anjani) </a> jelas mengatur perihal ini, termasuk pembentukan <a href="https://anjani.kemdikbud.go.id/contents/majelis-kehormatan-integritas-akademik-6675554?ctx=majelis-kehormatan#:%7E:text=Majelis%20kehormatan%20Integritas%20Akademik%20adalah,%2C%20mahasiswa%2C%20atau%20tenaga%20kependidikan.">Majelis Kehormatan Integritas Akademik</a> di setiap perguruan tinggi.</p> <p>Namun, pelanggaran etika masih <a href="https://theconversation.com/pelanggaran-akademis-warnai-perjalanan-menuju-guru-besar-di-indonesia-214079">jamak terjadi</a>, mulai dari penulisan nama-nama dalam baris kepengarangan meski tidak berkontribusi, hingga pemalsuan data.</p> <p></p> <p>Praktik tersebut terjadi <a href="https://theconversation.com/pandangan-moralis-kaburkan-masalah-struktural-dalam-pendidikan-tinggi-butuh-lebih-dari-sekadar-kejujuran-untuk-atasi-pelanggaran-akademis-227326">karena tekanan publikasi dan lemahnya pemahaman serta pengawasan di institusi.</a> Solusi masalah ini adalah pendidikan etika, standar penulisan yang ketat, pendampingan, dan penggunaan teknologi pendukung. </p> <hr> <p> <em> <strong> Baca juga: <a href="https://theconversation.com/kenali-dan-hindari-ini-5-jenis-pelanggaran-akademis-yang-kamu-perlu-tahu-226961">Kenali dan hindari: ini 5 jenis pelanggaran akademis yang kamu perlu tahu</a> </strong> </em> </p> <hr> <hr> <p><em>Artikel ini juga mendapatkan saran dan masukan dari Yoga Dwi Arianda dari DRTPM, Kemendikbudristek. Tim penulis mengucapkan terima kasih atas sumbangsih pemikirannya.</em></p> <hr> <iframe src="https://tally.so/embed/RGDjOj?alignLeft=1&amp;hideTitle=1&amp;transparentBackground=1&amp;dynamicHeight=1" width="100%" height="321" frameborder="0" marginheight="0" marginwidth="0" title="Survey Form"> </iframe><img src="https://counter.theconversation.com/content/226924/count.gif" alt="The Conversation" width="1" height="1" /> <p class="fine-print"><em><span>Para penulis tidak bekerja, menjadi konsultan, memiliki saham atau menerima dana dari perusahaan atau organisasi mana pun yang akan mengambil untung dari artikel ini, dan telah mengungkapkan bahwa ia tidak memiliki afiliasi di luar afiliasi akademis yang telah disebut di atas.</span></em></p> Terdapat 4 masalah yang kerap dihadapi oleh dosen Indonesia dalam menulis artikel ilmiah untuk jurnal internasional. Apa saja? Dian Fiantis, Professor of Soil Science, Universitas Andalas Amirul Mukminin, Professor in Educational Policy, Universitas Jambi Muhammad Zudhy Irawan, Professor in Travel Behaviour and Demand, Universitas Gadjah Mada Siti Nurmaini, Professor of Computer Science, Universitas Sriwijaya Suminar S. Achmadi, Professor of Chemistry, IPB University Licensed as Creative Commons – attribution, no derivatives. tag:theconversation.com,2011:article/274197 2026-01-26T00:57:25Z 2026-01-26T00:57:25Z Jejak seni tertua umat manusia ditemukan di Sulawesi <figure><img src="https://images.theconversation.com/files/714090/original/file-20260115-56-j0pw7s.JPG?ixlib=rb-4.1.0&amp;rect=684%2C168%2C3347%2C2231&amp;q=45&amp;auto=format&amp;w=1050&amp;h=700&amp;fit=crop" /><figcaption><span class="caption"></span> <span class="attribution"><span class="source">Supplied</span></span></figcaption></figure><p>Selama ini, Eropa kerap dianggap sebagai titik awal sejarah seni dunia. Deretan lukisan gua tersohor di Prancis dan Spanyol sering kali dijadikan bukti bahwa wilayah tersebut merupakan simbol rahim kebudayaan manusia. </p> <p>Namun, temuan terbaru dari Indonesia merombak peta sejarah tersebut secara dramatis. Penelitian kami, yang baru saja terbit di <a href="https://doi.org/10.1038/s41586-025-09968-y">jurnal <em>Nature</em></a>, mengungkapkan bahwa penduduk yang mendiami wilayah Indonesia Timur telah menciptakan seni cadas jauh lebih awal dari yang pernah dibuktikan sebelumnya.</p> <p>Para seniman ini bukan sekadar pembuat gambar pertama di dunia, melainkan kemungkinan besar adalah bagian dari populasi yang kelak menjadi cikal bakal leluhur penduduk asli Australia (Aborigin) dan Papua.</p> <figure> <iframe width="440" height="260" src="https://www.youtube.com/embed/PRNL329dZ9Y?wmode=transparent&amp;start=0" frameborder="0" allowfullscreen=""></iframe> </figure> <h2>Stensil tangan dari masa lalu</h2> <p>Temuan ini berasal dari gua-gua kapur di Pulau Sulawesi. Di sana, jejak stensil tangan berwarna merah pudar—yang dibuat dengan cara meniupkan pigmen pada tangan yang ditempelkan ke dinding batu—tampak samar di balik lapisan endapan mineral.</p> <p>Dengan menganalisis kandungan uranium dalam jumlah sangat kecil pada lapisan mineral tersebut, kami dapat menentukan waktu pembentukannya. Karena mineral ini terbentuk tepat di atas lukisan, penanggalan tersebut mengungkap usia termuda yang mungkin dari karya seni di bawahnya.</p> <p>Dalam beberapa kasus, ketika lukisan dibuat di atas lapisan mineral, data ini juga dapat menunjukkan batas usia tertua dari gambar-gambar tersebut.</p> <figure class="align-center zoomable"> <a href="https://images.theconversation.com/files/713272/original/file-20260120-56-wgpzpb.jpg?ixlib=rb-4.1.0&amp;q=45&amp;auto=format&amp;w=1000&amp;fit=clip"><img alt="Guratan samar stensil tangan pada dinding berbatu kapur." src="https://images.theconversation.com/files/713272/original/file-20260120-56-wgpzpb.jpg?ixlib=rb-4.1.0&amp;q=45&amp;auto=format&amp;w=754&amp;fit=clip" srcset="https://images.theconversation.com/files/713272/original/file-20260120-56-wgpzpb.jpg?ixlib=rb-4.1.0&amp;q=45&amp;auto=format&amp;w=600&amp;h=400&amp;fit=crop&amp;dpr=1 600w, https://images.theconversation.com/files/713272/original/file-20260120-56-wgpzpb.jpg?ixlib=rb-4.1.0&amp;q=30&amp;auto=format&amp;w=600&amp;h=400&amp;fit=crop&amp;dpr=2 1200w, https://images.theconversation.com/files/713272/original/file-20260120-56-wgpzpb.jpg?ixlib=rb-4.1.0&amp;q=15&amp;auto=format&amp;w=600&amp;h=400&amp;fit=crop&amp;dpr=3 1800w, https://images.theconversation.com/files/713272/original/file-20260120-56-wgpzpb.jpg?ixlib=rb-4.1.0&amp;q=45&amp;auto=format&amp;w=754&amp;h=503&amp;fit=crop&amp;dpr=1 754w, https://images.theconversation.com/files/713272/original/file-20260120-56-wgpzpb.jpg?ixlib=rb-4.1.0&amp;q=30&amp;auto=format&amp;w=754&amp;h=503&amp;fit=crop&amp;dpr=2 1508w, https://images.theconversation.com/files/713272/original/file-20260120-56-wgpzpb.jpg?ixlib=rb-4.1.0&amp;q=15&amp;auto=format&amp;w=754&amp;h=503&amp;fit=crop&amp;dpr=3 2262w" sizes="(min-width: 1466px) 754px, (max-width: 599px) 100vw, (min-width: 600px) 600px, 237px"></a> <figcaption> <span class="caption">Seni cadas tertua yang pernah diketahui hingga saat ini: stensil tangan berusia 67.800 tahun di dinding gua.</span> <span class="attribution"><span class="source">Supplied</span></span> </figcaption> </figure> <p>Salah satu stensil tangan yang berhasil diidentifikasi berasal dari setidaknya 67.800 tahun yang lalu—menjadikannya seni cadas dengan penanggalan paling akurat yang pernah ditemukan di dunia.</p> <p>Temuan ini setidaknya 15 ribu tahun lebih tua dibandingkan <a href="https://doi.org/10.1038/s41586-024-07541-7">seni cadas di wilayah ini yang pernah kami teliti sebelumnya</a>, serta lebih dari 30 ribu tahun lebih tua daripada <a href="https://archeologie.culture.gouv.fr/chauvet/en">seni gua tertua di Prancis</a>. Hal ini membuktikan bahwa manusia telah menciptakan karya seni gua jauh lebih awal dari yang kita yakini selama ini.</p> <figure class="align-center zoomable"> <a href="https://images.theconversation.com/files/713024/original/file-20260119-56-63f1m2.png?ixlib=rb-4.1.0&amp;q=45&amp;auto=format&amp;w=1000&amp;fit=clip"><img alt="" src="https://images.theconversation.com/files/713024/original/file-20260119-56-63f1m2.png?ixlib=rb-4.1.0&amp;q=45&amp;auto=format&amp;w=754&amp;fit=clip" srcset="https://images.theconversation.com/files/713024/original/file-20260119-56-63f1m2.png?ixlib=rb-4.1.0&amp;q=45&amp;auto=format&amp;w=600&amp;h=268&amp;fit=crop&amp;dpr=1 600w, https://images.theconversation.com/files/713024/original/file-20260119-56-63f1m2.png?ixlib=rb-4.1.0&amp;q=30&amp;auto=format&amp;w=600&amp;h=268&amp;fit=crop&amp;dpr=2 1200w, https://images.theconversation.com/files/713024/original/file-20260119-56-63f1m2.png?ixlib=rb-4.1.0&amp;q=15&amp;auto=format&amp;w=600&amp;h=268&amp;fit=crop&amp;dpr=3 1800w, https://images.theconversation.com/files/713024/original/file-20260119-56-63f1m2.png?ixlib=rb-4.1.0&amp;q=45&amp;auto=format&amp;w=754&amp;h=337&amp;fit=crop&amp;dpr=1 754w, https://images.theconversation.com/files/713024/original/file-20260119-56-63f1m2.png?ixlib=rb-4.1.0&amp;q=30&amp;auto=format&amp;w=754&amp;h=337&amp;fit=crop&amp;dpr=2 1508w, https://images.theconversation.com/files/713024/original/file-20260119-56-63f1m2.png?ixlib=rb-4.1.0&amp;q=15&amp;auto=format&amp;w=754&amp;h=337&amp;fit=crop&amp;dpr=3 2262w" sizes="(min-width: 1466px) 754px, (max-width: 599px) 100vw, (min-width: 600px) 600px, 237px"></a> <figcaption> <span class="caption">Foto stensil tangan yang telah melalui proses penanggalan (a) dan hasil pelacakan digital (b); ka merupakan singkatan dari ‘ribu tahun yang lalu’.</span> <span class="attribution"><span class="source">Supplied</span></span> </figcaption> </figure> <p>Stensil tangan ini juga terasa istimewa karena mengusung gaya unik yang hanya ditemukan di Sulawesi. Ujung jemarinya dibentuk sedemikian rupa hingga tampak meruncing, menyerupai cakar hewan.</p> <p>Modifikasi citra tangan manusia seperti ini diyakini memiliki makna simbolis, yang kemungkinan besar berkaitan dengan pemahaman masyarakat kuno tersebut mengenai hubungan antara manusia dan hewan.</p> <p>Dalam penelitian sebelumnya di Sulawesi, kami menemukan gambar sosok manusia berkepala burung dan fitur hewan lainnya yang <a href="https://doi.org/10.1038/s41586-019-1806-y">berusia setidaknya 48 ribu tahun</a>. Secara kolektif, berbagai temuan kami menunjukkan bahwa masyarakat awal di wilayah ini telah memiliki pemikiran kompleks mengenai identitas dan hubungan manusia-hewan sejak masa yang sangat lampau.</p> <figure class="align-center zoomable"> <a href="https://images.theconversation.com/files/713259/original/file-20260120-56-z19nsa.JPG?ixlib=rb-4.1.0&amp;q=45&amp;auto=format&amp;w=1000&amp;fit=clip"><img alt="Permukaan berbatu dengan stensil tangan yang dikelilingi pigmen merah dan jemari yang meruncing." src="https://images.theconversation.com/files/713259/original/file-20260120-56-z19nsa.JPG?ixlib=rb-4.1.0&amp;q=45&amp;auto=format&amp;w=754&amp;fit=clip" srcset="https://images.theconversation.com/files/713259/original/file-20260120-56-z19nsa.JPG?ixlib=rb-4.1.0&amp;q=45&amp;auto=format&amp;w=600&amp;h=450&amp;fit=crop&amp;dpr=1 600w, https://images.theconversation.com/files/713259/original/file-20260120-56-z19nsa.JPG?ixlib=rb-4.1.0&amp;q=30&amp;auto=format&amp;w=600&amp;h=450&amp;fit=crop&amp;dpr=2 1200w, https://images.theconversation.com/files/713259/original/file-20260120-56-z19nsa.JPG?ixlib=rb-4.1.0&amp;q=15&amp;auto=format&amp;w=600&amp;h=450&amp;fit=crop&amp;dpr=3 1800w, https://images.theconversation.com/files/713259/original/file-20260120-56-z19nsa.JPG?ixlib=rb-4.1.0&amp;q=45&amp;auto=format&amp;w=754&amp;h=566&amp;fit=crop&amp;dpr=1 754w, https://images.theconversation.com/files/713259/original/file-20260120-56-z19nsa.JPG?ixlib=rb-4.1.0&amp;q=30&amp;auto=format&amp;w=754&amp;h=566&amp;fit=crop&amp;dpr=2 1508w, https://images.theconversation.com/files/713259/original/file-20260120-56-z19nsa.JPG?ixlib=rb-4.1.0&amp;q=15&amp;auto=format&amp;w=754&amp;h=566&amp;fit=crop&amp;dpr=3 2262w" sizes="(min-width: 1466px) 754px, (max-width: 599px) 100vw, (min-width: 600px) 600px, 237px"></a> <figcaption> <span class="caption">Stensil tangan dengan jemari meruncing di Leang Jarie, Maros, Sulawesi.</span> <span class="attribution"><span class="source">Adhi Agus Oktaviana</span></span> </figcaption> </figure> <h2>Bukan sekadar momen kreativitas sesaat</h2> <p>Hasil penanggalan ini membuktikan bahwa gua-gua tersebut telah digunakan sebagai media lukis dalam kurun waktu yang sangat panjang. Karya seni terus diproduksi secara berulang hingga mencapai puncaknya sekitar 20 ribu tahun lalu—puncak dari zaman es terbaru.</p> <p>Setelah jeda yang panjang, gua-gua ini kembali dihiasi oleh para petani pertama di Indonesia, yakni masyarakat penutur bahasa Austronesia yang tiba di wilayah tersebut sekitar 4.000 tahun silam. Mereka menambahkan citra-citra baru di atas lukisan zaman es yang jauh lebih tua.</p> <p>Rangkaian sejarah yang panjang ini menunjukkan bahwa ekspresi simbolis bukanlah sebuah inovasi singkat yang terisolasi. Sebaliknya, hal tersebut merupakan tradisi budaya yang langgeng dan dipelihara secara turun-temurun oleh masyarakat yang mendiami Wallacea—wilayah kepulauan yang memisahkan daratan Asia dengan Australia dan Papua Nugini.</p> <figure class="align-right zoomable"> <a href="https://images.theconversation.com/files/713261/original/file-20260120-56-tsg2yt.JPG?ixlib=rb-4.1.0&amp;q=45&amp;auto=format&amp;w=1000&amp;fit=clip"><img alt="Seorang pria menggunakan senter khusus untuk menyingkap jejak jemari pada dinding berbatu di gua yang gelap." src="https://images.theconversation.com/files/713261/original/file-20260120-56-tsg2yt.JPG?ixlib=rb-4.1.0&amp;q=45&amp;auto=format&amp;w=237&amp;fit=clip" srcset="https://images.theconversation.com/files/713261/original/file-20260120-56-tsg2yt.JPG?ixlib=rb-4.1.0&amp;q=45&amp;auto=format&amp;w=600&amp;h=800&amp;fit=crop&amp;dpr=1 600w, https://images.theconversation.com/files/713261/original/file-20260120-56-tsg2yt.JPG?ixlib=rb-4.1.0&amp;q=30&amp;auto=format&amp;w=600&amp;h=800&amp;fit=crop&amp;dpr=2 1200w, https://images.theconversation.com/files/713261/original/file-20260120-56-tsg2yt.JPG?ixlib=rb-4.1.0&amp;q=15&amp;auto=format&amp;w=600&amp;h=800&amp;fit=crop&amp;dpr=3 1800w, https://images.theconversation.com/files/713261/original/file-20260120-56-tsg2yt.JPG?ixlib=rb-4.1.0&amp;q=45&amp;auto=format&amp;w=754&amp;h=1005&amp;fit=crop&amp;dpr=1 754w, https://images.theconversation.com/files/713261/original/file-20260120-56-tsg2yt.JPG?ixlib=rb-4.1.0&amp;q=30&amp;auto=format&amp;w=754&amp;h=1005&amp;fit=crop&amp;dpr=2 1508w, https://images.theconversation.com/files/713261/original/file-20260120-56-tsg2yt.JPG?ixlib=rb-4.1.0&amp;q=15&amp;auto=format&amp;w=754&amp;h=1005&amp;fit=crop&amp;dpr=3 2262w" sizes="(min-width: 1466px) 754px, (max-width: 599px) 100vw, (min-width: 600px) 600px, 237px"></a> <figcaption> <span class="caption">Adhi Agus Oktaviana menyorot salah satu stensil tangan dengan senter.</span> <span class="attribution"><span class="source">Max Aubert</span></span> </figcaption> </figure> <h2>Apa hubungannya dengan penduduk asli Australia?</h2> <p>Implikasinya lebih dari sekadar sejarah seni.</p> <p><a href="https://doi.org/10.1038/nature22968">Bukti arkeologi dan genetik</a> menunjukkan bahwa manusia modern <a href="https://doi.org/10.1126/sciadv.ady9493">mencapai benua kuno Sahul</a>—daratan luas yang menyatukan Australia dan Papua—sekitar 65.000 hingga 60.000 tahun yang lalu.</p> <p>Perjalanan menuju ke sana membutuhkan pelayaran laut yang terencana, yang merupakan ekspedisi laut jarak jauh tertua yang pernah dilakukan oleh spesies kita.</p> <p>Para peneliti memperkirakan dua rute migrasi utama menuju Sahul. Rute utara membawa manusia dari daratan Asia Tenggara melewati Kalimantan dan Sulawesi, sebelum menyeberang ke Papua dan Australia. </p> <p>Sementara rute selatan melewati Sumatra dan Jawa, lalu melintasi Kepulauan Nusa Tenggara, termasuk Timor, sebelum akhirnya mencapai Australia bagian barat laut</p> <figure class="align-center zoomable"> <a href="https://images.theconversation.com/files/713066/original/file-20260119-56-szg1cn.png?ixlib=rb-4.1.0&amp;q=45&amp;auto=format&amp;w=1000&amp;fit=clip"><img alt="" src="https://images.theconversation.com/files/713066/original/file-20260119-56-szg1cn.png?ixlib=rb-4.1.0&amp;q=45&amp;auto=format&amp;w=754&amp;fit=clip" srcset="https://images.theconversation.com/files/713066/original/file-20260119-56-szg1cn.png?ixlib=rb-4.1.0&amp;q=45&amp;auto=format&amp;w=600&amp;h=490&amp;fit=crop&amp;dpr=1 600w, https://images.theconversation.com/files/713066/original/file-20260119-56-szg1cn.png?ixlib=rb-4.1.0&amp;q=30&amp;auto=format&amp;w=600&amp;h=490&amp;fit=crop&amp;dpr=2 1200w, https://images.theconversation.com/files/713066/original/file-20260119-56-szg1cn.png?ixlib=rb-4.1.0&amp;q=15&amp;auto=format&amp;w=600&amp;h=490&amp;fit=crop&amp;dpr=3 1800w, https://images.theconversation.com/files/713066/original/file-20260119-56-szg1cn.png?ixlib=rb-4.1.0&amp;q=45&amp;auto=format&amp;w=754&amp;h=616&amp;fit=crop&amp;dpr=1 754w, https://images.theconversation.com/files/713066/original/file-20260119-56-szg1cn.png?ixlib=rb-4.1.0&amp;q=30&amp;auto=format&amp;w=754&amp;h=616&amp;fit=crop&amp;dpr=2 1508w, https://images.theconversation.com/files/713066/original/file-20260119-56-szg1cn.png?ixlib=rb-4.1.0&amp;q=15&amp;auto=format&amp;w=754&amp;h=616&amp;fit=crop&amp;dpr=3 2262w" sizes="(min-width: 1466px) 754px, (max-width: 599px) 100vw, (min-width: 600px) 600px, 237px"></a> <figcaption> <span class="caption">Kemungkinan rute migrasi manusia modern menuju Australia/Papua Nugini; rute utara ditandai dengan panah merah, sedangkan rute selatan ditandai dengan panah biru. Titik-titik merah merepresentasikan area dengan temuan seni cadas dari zaman Pleistosen yang telah teridentifikasi penanggalannya.</span> <span class="attribution"><span class="source">Supplied</span></span> </figcaption> </figure> <p>Hingga saat ini, bukti arkeologi masih menyisakan celah besar di sepanjang jalur migrasi tersebut. Temuan seni cadas yang terletak tepat di sepanjang rute utara ini dapat memberikan bukti langsung tertua tentang keberadaan manusia modern di koridor migrasi kunci menuju Sahul.</p> <p>Dengan kata lain, masyarakat yang membuat stensil tangan di gua-gua Sulawesi tersebut kemungkinan besar merupakan bagian dari populasi yang kelak menyeberangi lautan dan menjadi leluhur penduduk asli Australia.</p> <h2>Memikirkan ulang dari mana budaya bermula</h2> <p>Temuan ini menambah jajaran bukti yang menunjukkan bahwa kreativitas manusia awal tidak muncul di satu tempat saja, pun tidak terbatas di Eropa pada zaman es.</p> <p>Sebaliknya, perilaku simbolis—termasuk seni, tradisi bercerita, serta penandaan wilayah dan identitas—telah berkembang pesat di Asia Tenggara seiring dengan persebaran manusia ke seluruh penjuru dunia.</p> <figure class="align-left zoomable"> <a href="https://images.theconversation.com/files/713268/original/file-20260120-56-9nbwml.jpeg?ixlib=rb-4.1.0&amp;q=45&amp;auto=format&amp;w=1000&amp;fit=clip"><img alt="Seorang pria berhelm putih duduk di atas bebatuan gua, dengan deretan karya seni megah terpampang di atasnya." src="https://images.theconversation.com/files/713268/original/file-20260120-56-9nbwml.jpeg?ixlib=rb-4.1.0&amp;q=45&amp;auto=format&amp;w=237&amp;fit=clip" srcset="https://images.theconversation.com/files/713268/original/file-20260120-56-9nbwml.jpeg?ixlib=rb-4.1.0&amp;q=45&amp;auto=format&amp;w=600&amp;h=800&amp;fit=crop&amp;dpr=1 600w, https://images.theconversation.com/files/713268/original/file-20260120-56-9nbwml.jpeg?ixlib=rb-4.1.0&amp;q=30&amp;auto=format&amp;w=600&amp;h=800&amp;fit=crop&amp;dpr=2 1200w, https://images.theconversation.com/files/713268/original/file-20260120-56-9nbwml.jpeg?ixlib=rb-4.1.0&amp;q=15&amp;auto=format&amp;w=600&amp;h=800&amp;fit=crop&amp;dpr=3 1800w, https://images.theconversation.com/files/713268/original/file-20260120-56-9nbwml.jpeg?ixlib=rb-4.1.0&amp;q=45&amp;auto=format&amp;w=754&amp;h=1005&amp;fit=crop&amp;dpr=1 754w, https://images.theconversation.com/files/713268/original/file-20260120-56-9nbwml.jpeg?ixlib=rb-4.1.0&amp;q=30&amp;auto=format&amp;w=754&amp;h=1005&amp;fit=crop&amp;dpr=2 1508w, https://images.theconversation.com/files/713268/original/file-20260120-56-9nbwml.jpeg?ixlib=rb-4.1.0&amp;q=15&amp;auto=format&amp;w=754&amp;h=1005&amp;fit=crop&amp;dpr=3 2262w" sizes="(min-width: 1466px) 754px, (max-width: 599px) 100vw, (min-width: 600px) 600px, 237px"></a> <figcaption> <span class="caption">Shinatria Adhityatama working in the cave.</span> <span class="attribution"><span class="source">Supplied</span></span> </figcaption> </figure> <p>Hal ini menunjukkan bahwa populasi pertama yang mencapai Australia membawa serta tradisi budaya yang telah lama mengakar, termasuk bentuk-bentuk ekspresi simbolis yang kompleks yang akar terdalamnya kemungkinan besar berasal dari Afrika.</p> <p>Temuan ini memicu pertanyaan penting: jika seni sekuno itu ada di Sulawesi, lantas berapa banyak lagi yang belum terungkap?</p> <p>Sebagian besar wilayah Indonesia dan pulau-pulau di sekitarnya masih belum dieksplorasi secara arkeologis. Jika hasil penelitian kami menjadi acuan, maka bukti tradisi budaya yang sama kunonya—atau bahkan lebih tua—mungkin masih tersembunyi di dinding-dinding gua di seluruh kawasan ini.</p> <p>Seiring dengan pencarian yang terus kami lakukan, satu hal yang pasti: kisah kreativitas manusia jauh lebih tua, lebih kaya, dan lebih beragam secara geografis daripada yang pernah kita bayangkan sebelumnya.</p> <hr> <p><em>Penelitian mengenai seni cadas awal di Sulawesi ini telah diangkat ke dalam sebuah film dokumenter berjudul <a href="https://www.arte.tv/Sulawesi">‘Sulawesi l'île des premières images’</a>. Film ini diproduksi oleh ARTE dan dirilis di Eropa belum lama ini.</em></p><img src="https://counter.theconversation.com/content/274197/count.gif" alt="The Conversation" width="1" height="1" /> <p class="fine-print"><em><span>Maxime Aubert menerima dana dari Australian Research Council, Google Arts &amp; Culture dan The National Geographic Society. </span></em></p><p class="fine-print"><em><span>Adam Brumm menerima dana dari Dewan Riset Australia (Australian Research Council).</span></em></p><p class="fine-print"><em><span>Adhi Oktaviana menerima dana dari The National Geographic Society.</span></em></p><p class="fine-print"><em><span>Renaud Joannes-Boyau menerima dana dari Dewan Riset Australia (Australian Research Council).</span></em></p> Masyarakat di Indonesia telah menciptakan seni cadas sejak 67.800 tahun yang lalu—jauh sebelum manusia modern menginjakkan kaki di Australia. Maxime Aubert, Professor of Archaeological Science, Griffith University Adam Brumm, Professor of Archaeology, Griffith University Adhi Oktaviana, Research Centre of Archeometry, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Renaud Joannes-Boyau, Professor in Geochronology and Geochemistry, Southern Cross University Licensed as Creative Commons – attribution, no derivatives. tag:theconversation.com,2011:article/273382 2026-01-23T02:11:44Z 2026-01-23T02:11:44Z Menghilang 50.000 tahun lalu, riset ungkap apa yang terjadi pada habitat para ‘hobbit’ Flores <figure><img src="https://images.theconversation.com/files/712147/original/file-20251207-66-gnci0t.jpg?ixlib=rb-4.1.0&amp;rect=0%2C253%2C4000%2C2666&amp;q=45&amp;auto=format&amp;w=1050&amp;h=700&amp;fit=crop" /><figcaption><span class="caption">_Homo floresiensis_ skull.</span> <span class="attribution"><a class="source" href="https://en.wikipedia.org/wiki/Homo_floresiensis#/media/File:Homo_Florensiensis-MGL_95216-P5030051-white.jpg">Wikimedia Commons</a>, <a class="license" href="http://creativecommons.org/licenses/by-sa/4.0/">CC BY-SA</a></span></figcaption></figure><p>Sekitar 50 ribu tahun lalu, umat manusia kehilangan salah satu kerabat hominin terakhirnya, Homo floresiensis—yang dijuluki “hobbit” karena tubuhnya yang mungil. </p> <p>Setelah bertahan lebih dari satu juta tahun di pulau vulkanik terpencil di Flores, Nusa Tenggara Timur (NTT), penyebab kepunahan mereka masih menjadi misteri besar hingga kini.</p> <p>Bukti baru menunjukkan bahwa periode kekeringan ekstrem yang dimulai sekitar 61 ribu tahun lalu kemungkinan turut memicu kepunahan “hobbit” tersebut.</p> <p>Studi terbaru kami, yang terbit di <a href="https://doi.org/10.1038/s43247-025-02961-3">jurnal <em>Communications Earth &amp; Environment</em></a>, mengungkap kisah tentang pasang surut ekologi di sana. Kami telah menyusun catatan iklim paling mendetail hingga saat ini di lokasi tempat hominin kuno tersebut pernah hidup.</p> <p>Ternyata, Homo floresiensis dan salah satu mangsa utama mereka—gajah purba kerdil—sama-sama terusir dari habitat mereka karena kekeringan yang berlangsung selama ribuan tahun.</p> <p>Mungkin, kondisi ini juga yang membuat mereka bertemu langsung dengan spesies manusia yang jauh lebih besar: Homo sapiens.</p> <figure> <iframe width="440" height="260" src="https://www.youtube.com/embed/0vDJZjdid_w?wmode=transparent&amp;start=0" frameborder="0" allowfullscreen=""></iframe> </figure> <h2>Pulau dengan gua-gua yang dalam</h2> <p><a href="https://theconversation.com/a-decade-on-and-the-hobbit-still-holds-secrets-33454">Penemuan Homo floresiensis pada 2003</a> mengubah cara kita memaknai arti menjadi manusia. Meski berotak kecil dan hanya setinggi 1,1 meter, hominin mungil ini mampu membuat alat batu. Melawan segala rintangan, mereka berhasil mencapai Flores meski tampaknya tidak memiliki teknologi perahu.</p> <p>Tulang belulang dan alat batu milik Homo floresiensis ditemukan di Liang Bua—sebuah gua yang tersembunyi di lembah kecil di dataran tinggi Flores. Sisa-sisa peninggalan ini diperkirakan berasal dari masa antara <a href="https://theconversation.com/the-hobbits-were-extinct-much-earlier-than-first-thought-56922">190 - 50 ribu tahun yang lalu </a>.</p> <figure class="align-center zoomable"> <a href="https://images.theconversation.com/files/706641/original/file-20251205-56-iv6040.jpg?ixlib=rb-4.1.0&amp;q=45&amp;auto=format&amp;w=1000&amp;fit=clip"><img alt="Sebuah sungai kecil berbatu mengalir di antara petak-petak sawah terasering yang hijau terang dan perbukitan rimbun yang menghijau gelap." src="https://images.theconversation.com/files/706641/original/file-20251205-56-iv6040.jpg?ixlib=rb-4.1.0&amp;q=45&amp;auto=format&amp;w=754&amp;fit=clip" srcset="https://images.theconversation.com/files/706641/original/file-20251205-56-iv6040.jpg?ixlib=rb-4.1.0&amp;q=45&amp;auto=format&amp;w=600&amp;h=303&amp;fit=crop&amp;dpr=1 600w, https://images.theconversation.com/files/706641/original/file-20251205-56-iv6040.jpg?ixlib=rb-4.1.0&amp;q=30&amp;auto=format&amp;w=600&amp;h=303&amp;fit=crop&amp;dpr=2 1200w, https://images.theconversation.com/files/706641/original/file-20251205-56-iv6040.jpg?ixlib=rb-4.1.0&amp;q=15&amp;auto=format&amp;w=600&amp;h=303&amp;fit=crop&amp;dpr=3 1800w, https://images.theconversation.com/files/706641/original/file-20251205-56-iv6040.jpg?ixlib=rb-4.1.0&amp;q=45&amp;auto=format&amp;w=754&amp;h=381&amp;fit=crop&amp;dpr=1 754w, https://images.theconversation.com/files/706641/original/file-20251205-56-iv6040.jpg?ixlib=rb-4.1.0&amp;q=30&amp;auto=format&amp;w=754&amp;h=381&amp;fit=crop&amp;dpr=2 1508w, https://images.theconversation.com/files/706641/original/file-20251205-56-iv6040.jpg?ixlib=rb-4.1.0&amp;q=15&amp;auto=format&amp;w=754&amp;h=381&amp;fit=crop&amp;dpr=3 2262w" sizes="(min-width: 1466px) 754px, (max-width: 599px) 100vw, (min-width: 600px) 600px, 237px"></a> <figcaption> <span class="caption">Pemandangan hulu sungai Wae Racang jika dilihat dari Liang Bua ke arah Liang Luar.</span> <span class="attribution"><span class="source">Garry K. Smith</span></span> </figcaption> </figure> <p>Saat ini, Flores memiliki iklim monsun dengan curah hujan tinggi selama musim kemarau yang basah (terutama dari November hingga Maret) dan curah hujan lebih sedikit selama musim dingin yang lebih kering (Mei hingga September).</p> <p>Namun, selama periode glasial terakhir, terjadi variasi yang signifikan baik dalam jumlah curah hujan maupun waktu kedatangannya.</p> <p>Untuk mengetahui kondisi hujan di masa itu, tim kami beralih ke sebuah gua yang terletak 700 meter di hulu Liang Bua bernama Liang Luar. Secara kebetulan, di kedalaman gua tersebut terdapat stalagmit yang tumbuh tepat selama interval waktu hilangnya Homo floresiensis. Stalagmit tumbuh lapis demi lapis dari tetesan air, sehingga perubahan komposisi kimianya turut mencatat sejarah perubahan iklim.</p> <figure class="align-right zoomable"> <a href="https://images.theconversation.com/files/706642/original/file-20251205-56-kfqmms.jpg?ixlib=rb-4.1.0&amp;q=45&amp;auto=format&amp;w=1000&amp;fit=clip"><img alt="Tujuh penelusur gua berpose di depan stalagmit setinggi 8 meter yang kaya dekorasi alami di dalam gua." src="https://images.theconversation.com/files/706642/original/file-20251205-56-kfqmms.jpg?ixlib=rb-4.1.0&amp;q=45&amp;auto=format&amp;w=237&amp;fit=clip" srcset="https://images.theconversation.com/files/706642/original/file-20251205-56-kfqmms.jpg?ixlib=rb-4.1.0&amp;q=45&amp;auto=format&amp;w=600&amp;h=775&amp;fit=crop&amp;dpr=1 600w, https://images.theconversation.com/files/706642/original/file-20251205-56-kfqmms.jpg?ixlib=rb-4.1.0&amp;q=30&amp;auto=format&amp;w=600&amp;h=775&amp;fit=crop&amp;dpr=2 1200w, https://images.theconversation.com/files/706642/original/file-20251205-56-kfqmms.jpg?ixlib=rb-4.1.0&amp;q=15&amp;auto=format&amp;w=600&amp;h=775&amp;fit=crop&amp;dpr=3 1800w, https://images.theconversation.com/files/706642/original/file-20251205-56-kfqmms.jpg?ixlib=rb-4.1.0&amp;q=45&amp;auto=format&amp;w=754&amp;h=974&amp;fit=crop&amp;dpr=1 754w, https://images.theconversation.com/files/706642/original/file-20251205-56-kfqmms.jpg?ixlib=rb-4.1.0&amp;q=30&amp;auto=format&amp;w=754&amp;h=974&amp;fit=crop&amp;dpr=2 1508w, https://images.theconversation.com/files/706642/original/file-20251205-56-kfqmms.jpg?ixlib=rb-4.1.0&amp;q=15&amp;auto=format&amp;w=754&amp;h=974&amp;fit=crop&amp;dpr=3 2262w" sizes="(min-width: 1466px) 754px, (max-width: 599px) 100vw, (min-width: 600px) 600px, 237px"></a> <figcaption> <span class="caption">Tim penelusur gua di bagian dalam Gua Liang Luar yang gelap dan sunyi pada 2006.</span> <span class="attribution"><span class="source">Garry K. Smith.</span></span> </figcaption> </figure> <p>Pakar paleoklimatologi memiliki dua instrumen geokimia untuk merekonstruksi curah hujan masa lalu dari stalagmit. Kita dapat melihat perubahan kekuatan monsun melalui pengukuran oksigen spesifik yang dikenal sebagai <a href="https://en.wikipedia.org/wiki/%CE%9418O">d18O</a>. Sementara itu, rasio magnesium terhadap kalsium menunjukkan jumlah curah hujan total.</p> <p>Kami memasangkan kedua pengukuran ini pada sampel yang sama, menetapkan penanggalan waktu yang presisi, lalu menyusun ulang jumlah curah hujan tahunan serta musim panas dan dingin. Semua ini memberikan wawasan baru yang mendalam tentang variabilitas iklim musiman.</p> <p>Kami menemukan tiga fase iklim utama. Pertama, kondisi sepanjang tahun jauh lebih basah dibanding hari ini pada medio 91-76 ribu tahun lalu. Kedua monsun menjadi sangat musiman—dengan musim panas yang lebih basah dan musim dingin yang lebih kering yang terjadi 76-61 ribu tahun lalu, .</p> <p>Kemudian, antara 61 ribu hingga 47 ribu tahun lalu, iklim berubah menjadi jauh lebih kering di musim panas.</p> <h2>Pindah mengikuti mangsa</h2> <p>Kami telah memiliki catatan yang akurat mengenai perubahan iklim besar di masa lalu, tapi bagaimana dengan dampak ekologisnya? Untuk menjawab itu, kami harus menyusun lini masa yang presisi dari bukti fosil Homo floresiensis di Liang Bua.</p> <p>Jawaban tersebut datang secara tak terduga dari analisis d18O pada email gigi fosil Stegodon florensis insularis—kerabat jauh gajah modern bertubuh kerdil yang telah punah.</p> <figure class="align-left zoomable"> <a href="https://images.theconversation.com/files/706640/original/file-20251205-76-a194hl.jpg?ixlib=rb-4.1.0&amp;q=45&amp;auto=format&amp;w=1000&amp;fit=clip"><img alt="Rahang bawah Stegodon berwarna abu-abu pucat dengan gigi geraham bergelombang, latar belakang hitam dan batang skala putih." src="https://images.theconversation.com/files/706640/original/file-20251205-76-a194hl.jpg?ixlib=rb-4.1.0&amp;q=45&amp;auto=format&amp;w=237&amp;fit=clip" srcset="https://images.theconversation.com/files/706640/original/file-20251205-76-a194hl.jpg?ixlib=rb-4.1.0&amp;q=45&amp;auto=format&amp;w=600&amp;h=381&amp;fit=crop&amp;dpr=1 600w, https://images.theconversation.com/files/706640/original/file-20251205-76-a194hl.jpg?ixlib=rb-4.1.0&amp;q=30&amp;auto=format&amp;w=600&amp;h=381&amp;fit=crop&amp;dpr=2 1200w, https://images.theconversation.com/files/706640/original/file-20251205-76-a194hl.jpg?ixlib=rb-4.1.0&amp;q=15&amp;auto=format&amp;w=600&amp;h=381&amp;fit=crop&amp;dpr=3 1800w, https://images.theconversation.com/files/706640/original/file-20251205-76-a194hl.jpg?ixlib=rb-4.1.0&amp;q=45&amp;auto=format&amp;w=754&amp;h=479&amp;fit=crop&amp;dpr=1 754w, https://images.theconversation.com/files/706640/original/file-20251205-76-a194hl.jpg?ixlib=rb-4.1.0&amp;q=30&amp;auto=format&amp;w=754&amp;h=479&amp;fit=crop&amp;dpr=2 1508w, https://images.theconversation.com/files/706640/original/file-20251205-76-a194hl.jpg?ixlib=rb-4.1.0&amp;q=15&amp;auto=format&amp;w=754&amp;h=479&amp;fit=crop&amp;dpr=3 2262w" sizes="(min-width: 1466px) 754px, (max-width: 599px) 100vw, (min-width: 600px) 600px, 237px"></a> <figcaption> <span class="caption">Tulang rahang dan geraham bergerigi dari Stegodon florensis dewasa, leluhur bertubuh besar dari Stegodon florensis insularis. Batang skala menunjukkan 10 cm.</span> <span class="attribution"><span class="source">Gerrit van den Berg</span></span> </figcaption> </figure> <p>Gajah purba kerdil yang masih muda merupakan salah satu mangsa utama “Hobbit”, sebagaimana terungkap melalui temuan <a href="https://www.sciencedirect.com/science/article/abs/pii/S0047248408001607">bekas sayatan pada tulang-tulang di Liang Bua.</a></p> <p>Menariknya, pola d18O pada stalagmit di Liang Luar dan pada gigi-gigi yang ditemukan di lapisan sedimen Liang Bua menunjukkan keselarasan yang sempurna. Temuan ini memungkinkan kami untuk menentukan penanggalan fosil Stegodon serta sisa-sisa Homo floresiensis yang menyertainya secara presisi.</p> <p>Lini masa yang telah diperbarui menunjukkan bahwa sekitar 90% sisa-sisa gajah kerdil berasal dari masa 76–61 ribu tahun lalu, yakni periode dengan iklim musiman “Goldilocks” (tidak terlalu panas ataupun dingin) yang sangat kuat. Ini kemungkinan merupakan lingkungan ideal bagi gajah kerdil untuk merumput sekaligus bagi Homo floresiensis untuk memburu mereka. </p> <figure class="align-center zoomable"> <a href="https://images.theconversation.com/files/706950/original/file-20251208-56-4jjkec.jpg?ixlib=rb-4.1.0&amp;q=45&amp;auto=format&amp;w=1000&amp;fit=clip"><img alt="Gambar ringkasan. Di bagian bawah terdapat foto stalagmit yang telah dipotong dan digosok, lengkap dengan titik pengambilan sampel yang ditandai dengan kotak biru. Di atasnya terdapat grafik garis dan batang yang menunjukkan frekuensi fosil Stegodon. Grafik tersebut menunjukkan keselarasan yang jelas dengan periode musim panas yang basah." src="https://images.theconversation.com/files/706950/original/file-20251208-56-4jjkec.jpg?ixlib=rb-4.1.0&amp;q=45&amp;auto=format&amp;w=754&amp;fit=clip" srcset="https://images.theconversation.com/files/706950/original/file-20251208-56-4jjkec.jpg?ixlib=rb-4.1.0&amp;q=45&amp;auto=format&amp;w=600&amp;h=288&amp;fit=crop&amp;dpr=1 600w, https://images.theconversation.com/files/706950/original/file-20251208-56-4jjkec.jpg?ixlib=rb-4.1.0&amp;q=30&amp;auto=format&amp;w=600&amp;h=288&amp;fit=crop&amp;dpr=2 1200w, https://images.theconversation.com/files/706950/original/file-20251208-56-4jjkec.jpg?ixlib=rb-4.1.0&amp;q=15&amp;auto=format&amp;w=600&amp;h=288&amp;fit=crop&amp;dpr=3 1800w, https://images.theconversation.com/files/706950/original/file-20251208-56-4jjkec.jpg?ixlib=rb-4.1.0&amp;q=45&amp;auto=format&amp;w=754&amp;h=362&amp;fit=crop&amp;dpr=1 754w, https://images.theconversation.com/files/706950/original/file-20251208-56-4jjkec.jpg?ixlib=rb-4.1.0&amp;q=30&amp;auto=format&amp;w=754&amp;h=362&amp;fit=crop&amp;dpr=2 1508w, https://images.theconversation.com/files/706950/original/file-20251208-56-4jjkec.jpg?ixlib=rb-4.1.0&amp;q=15&amp;auto=format&amp;w=754&amp;h=362&amp;fit=crop&amp;dpr=3 2262w" sizes="(min-width: 1466px) 754px, (max-width: 599px) 100vw, (min-width: 600px) 600px, 237px"></a> <figcaption> <span class="caption">Penampang melintang stalagmit yang digunakan dalam penelitian ini, menunjukkan lapisan-lapisan pertumbuhan dengan penanggalan yang presisi. Grafik di atasnya menampilkan pembaruan lini masa fosil Stegodon pada dua sektor ekskavasi di Liang Bua.</span> <span class="attribution"><span class="source">Mike Gagan</span></span> </figcaption> </figure> <p>Namun, kedua spesies tersebut hampir menghilang saat iklim berubah menjadi lebih kering.</p> <p>Penurunan curah hujan yang terjadi bersamaan dengan menyusutnya populasi gajah kerdil dan “Hobbit” mengindikasikan bahwa berkurangnya sumber daya alam memainkan peran krusial dalam ditinggalkannya Liang Bua secara bertahap.</p> <p>Seiring iklim yang kian kering, Wae Racang—sungai kecil yang menjadi sumber air utama saat musim kemarau—mungkin telah menyusut drastis hingga membuat Stegodon kehilangan akses air bersih. Hewan-hewan ini kemungkinan bermigrasi keluar dari kawasan tersebut, yang kemudian diikuti oleh Homo floresiensis.</p> <h2>Apakah erupsi gunung berapi turut berkontribusi?</h2> <p>Sisa-sisa fosil Stegodon dan alat batu terakhir di Liang Bua tertutup oleh lapisan abu vulkanik tebal yang berasal dari sekitar 50 ribu tahun lalu. Belum diketahui secara pasti apakah letusan gunung berapi di dekat lokasi tersebut menjadi “faktor pamungkas” yang memicu kepunahan “Hobbit” di Liang Bua.</p> <p>Bukti arkeologis pertama yang merujuk pada Homo sapiens ditemukan <a href="https://www.sciencedirect.com/science/article/pii/S0047248417303160">di atas lapisan abu tersebut</a>. Meskipun belum ada cara untuk memastikan apakah Homo sapiens dan Homo floresiensis pernah bertemu, <a href="https://www.science.org/doi/10.1126/sciadv.ady9493">bukti arkeologis</a> dan <a href="https://www.nature.com/articles/nature22968">DNA terbaru</a> menunjukkan bahwa Homo sapiens telah melakukan perjalanan antarpulau melintasi Indonesia menuju superbenua Sahul setidaknya sejak 60 ribu tahun yang lalu.</p> <p>Jika tekanan ekologis memaksa Homo floresiensis keluar dari tempat persembunyian mereka menuju wilayah pesisir, ada kemungkinan mereka berinteraksi dengan manusia modern. Jika itu terjadi, mungkinkah persaingan, penyakit, atau bahkan predasi menjadi faktor penentu kepunahan mereka?</p> <p>Apa pun penyebab utamanya, penelitian kami memberikan kerangka kerja bagi studi di masa depan untuk menelaah kepunahan Homo floresiensis yang ikonik dalam konteks perubahan iklim.</p> <p>Peran krusial ketersediaan air tawar dalam hilangnya salah satu sepupu manusia ini mengingatkan kita bahwa sejarah kemanusiaan adalah sebuah eksperimen kelangsungan hidup yang rapuh. Ini menjadi bukti nyata bagaimana pergeseran pola curah hujan dapat membawa dampak yang sangat mendalam bagi eksistensi sebuah spesies.</p><img src="https://counter.theconversation.com/content/273382/count.gif" alt="The Conversation" width="1" height="1" /> <p class="fine-print"><em><span>Nick Scroxton menerima dana dari Sustainable Energy Authority of Ireland, dan melakukan penelitian ini saat menerima dana dari Australian Research Council.</span></em></p><p class="fine-print"><em><span>Gerrit (Gert) van den Bergh menerima dana hibah penelitian dari Australian Research Council.</span></em></p><p class="fine-print"><em><span>Michael Gagan menerima dana hibah penelitian dari Australian Research Council.</span></em></p><p class="fine-print"><em><span>Mika Rizki Puspaningrum tidak bekerja, menjadi konsultan, memiliki saham, atau menerima dana dari perusahaan atau organisasi mana pun yang akan mengambil untung dari artikel ini, dan telah mengungkapkan bahwa ia tidak memiliki afiliasi selain yang telah disebut di atas.</span></em></p> Selama satu juta tahun, salah satu kerabat terakhir umat manusia hidup di Flores, NTT. Mengapa mereka punah? Nick Scroxton, Research Fellow, Palaeoclimate, Maynooth University Gerrit (Gert) van den Bergh, Researcher in Palaeontology, University of Wollongong Michael Gagan, Honorary Professor, Palaeoclimate, University of Wollongong; The University of Queensland Mika Rizki Puspaningrum, Researcher in Palaeontology, Bandung Institute of Technology, Institut Teknologi Bandung Licensed as Creative Commons – attribution, no derivatives. tag:theconversation.com,2011:article/273468 2026-01-22T04:30:20Z 2026-01-22T04:30:20Z Budaya sungkan dan basa-basi menghambat komunikasi orang dengan autisme <blockquote> <p>● Standar kesopanan Indonesia yang sarat akan isyarat dan basa-basi amat melelahkan bagi orang dengan autisme.</p> <p>● Hambatan komunikasi kerap terjadi karena masyarakat pada umumnya gagal memahami perbedaan cara berkomunikasi.</p> <p>● Untuk membangun inklusivitas, kita perlu melepaskan standar kesopanan yang kaku dan membangun ruang aman berbasis kepercayaan.</p> </blockquote> <hr> <p>Menurut etika percakapan yang lazim di Indonesia, <a href="https://doi.org/10.1016/j.ssaho.2025.102344">jeda sering dianggap sebagai tanda ketidaktertarikan</a> pada lawan bicara, sehingga orang diharapkan terus merespons dan berbicara.</p> <p>Selain itu, orang juga harus menyaring setiap kata yang diucapkan agar terdengar sopan dan tidak menyinggung.</p> <p>Bagi individu dengan autisme (beberapa orang menyebutnya dengan istilah <a href="https://doi.org/10.1177/13623613221145377"><em>neurodivergent</em>—individu dengan struktur dan cara kerja otak yang beragam</a>), pola komunikasi semacam ini memicu kelelahan luar biasa.</p> <p>Masyarakat cenderung menganggap hambatan komunikasi orang <em>neurodivergent</em> terjadi karena “defisit” atau kegagalan fungsi saraf individu yang bersangkutan. </p> <p>Padahal, <a href="https://doi.org/10.1016/j.ssaho.2025.102344">riset terbaru kami pada 2026</a> menunjukkan bahwa masalahnya bukan pada individu dengan autisme, melainkan pada ketidaksiapan masyarakat neurotipikal—(<a href="https://doi.org/10.1089/aut.2020.29014.njw">individu dengan struktur, perkembangan, dan fungsi otak yang dianggap “normal” oleh masyarakat</a>)—untuk beradaptasi <a href="https://doi.org/10.1016/j.ssaho.2025.102344">dengan gaya komunikasi yang berbeda.</a></p> <p>Sementara, <a href="https://doi.org/10.1177/13623613221145377">sebagai bagian dari kelompok <em>neurodivergent</em></a> orang dengan autisme memproses informasi, pengalaman sensoris, dan interaksi sosial dengan cara yang berbeda dari neurotipikal.</p> <hr> <p> <em> <strong> Baca juga: <a href="https://theconversation.com/bagaimana-seharusnya-memperlakukan-anak-dengan-autisme-220600">Bagaimana seharusnya memperlakukan anak dengan autisme?</a> </strong> </em> </p> <hr> <h2>Jebakan budaya ‘high-context’ di Indonesia</h2> <p>Indonesia, seperti halnya banyak negara di Asia dan Afrika, <a href="https://www.researchgate.net/publication/255646167_Communication_Style_and_Cultural_Features_in_HighLow_Context_Communication_Cultures_A_Case_Study_of_Finland_Japan_and_India">berkomunikasi dengan gaya <em>high-context</em></a>. </p> <p>Dalam budaya ini, pesan tidak hanya disampaikan melalui kata-kata, tetapi sangat bergantung pada isyarat non-verbal, relasi dan status sosial, nada bicara, serta hal-hal yang tidak diungkapkan secara langsung. </p> <p>Orang diharapkan bisa “membaca situasi” tanpa perlu penjelasan gamblang. Akibatnya, orang yang berkomunikasi secara lugas atau tidak menangkap isyarat tersirat—seperti banyak individu dengan autisme—sering disalahpahami.</p> <p>Dalam konteks budaya Indonesia, perilaku alami <em>neurodivergent</em> kerap disalahartikan sebagai:</p> <p><strong>1. Keheningan atau ‘silence’</strong>: Individu neurotipikal sering merasa tidak nyaman dengan keheningan dalam percakapan, sehingga cenderung berupaya mengisinya dengan obrolan ringan.</p> <p>Padahal, bagi individu dengan autisme, diam justru menjadi ruang untuk memproses informasi dan menenangkan pengalaman sensoris. Diam atau keheningan bukan tanda mereka tidak peduli atau tidak tertarik.</p> <p><strong>2. Kejujuran literal</strong>: Komunikasi <em>neurodivergent</em> yang cenderung langsung ke inti dan apa adanya sering dianggap “kasar” atau “tidak sopan”. Padahal, gaya ini bertujuan menyampaikan pesan sejelas mungkin, bukan untuk melukai perasaan lawan bicara.</p> <p><strong>3. Hambatan sensorik</strong>: Sikap orang dengan autisme yang tampak seperti menarik diri dari obrolan atau pergaulan sering kali dianggap antisosial. Padahal, ini merupakan mekanisme perlindungan diri dari lingkungan yang terlalu bising atau rangsangan berlebih.</p> <p>Dalam konteks budaya Indonesia yang menekankan nilai sungkan (enggak enakan) dan keharusan menjaga harmoni (kerukunan), standar komunikasi yang berkembang cenderung sangat tersirat. </p> <p>Bagi <em>neurodivergent</em> yang mengutamakan efisiensi informasi dalam berkomunikasi, pola seperti ini sangat menguras energi.</p> <p>Demi menyesuaikan diri dengan lingkungan, mereka akhirnya terdorong melakukan <em>masking</em>—<a href="https://doi.org/10.1016/j.socscimed.2020.112826">upaya meniru perilaku yang dianggap umum, seperti memaksakan kontak mata yang hangat, tersenyum, atau basa-basi</a> agar tidak dicap “aneh” atau “tidak sopan”.</p> <hr> <p> <em> <strong> Baca juga: <a href="https://theconversation.com/mengenal-gangguan-spektrum-autisme-pentingnya-menghargai-keberagaman-orang-neurodivergent-261397">Mengenal gangguan spektrum autisme: Pentingnya menghargai keberagaman orang 'neurodivergent'</a> </strong> </em> </p> <hr> <h2>Melawan empati ganda</h2> <p>Selama ini, anggapan umum di masyarakat masih didominasi oleh sudut pandang neurotipikal—memposisikan cara berkomunikasi individu neurotipikal sebagai <a href="https://doi.org/10.1016/j.ssaho.2025.102344">satu-satunya standar yang benar.</a> Mereka menganggap aneh cara komunikasi <em>neurodivergent</em> sehingga merasa perlu memperbaiki.</p> <p>Sayangnya, intervensi komunikasi masih berat sebelah. Orang dengan autisme terus dilatih untuk mengerti individu neurotipikal, tapi jarang sekali ada edukasi publik yang mendorong individu neurotipikal untuk mengerti cara berpikir dan berkomunikasi orang dengan autisme.</p> <p>Beban untuk “memahami” selama ini <a href="https://doi.org/10.1016/j.socscimed.2020.112826">lebih sering diberikan kepada kelompok <em>neurodivergent</em></a> sementara penyesuaian dari pihak neurotipikal umumnya dilakukan dari kacamata mereka.</p> <p>Situasi ini diperparah oleh stigma lama yang masih melekat pada autisme—dianggap berkaitan dengan kekuatan supranatural atau kegagalan pengasuhan orang tua. Alhasil, fokus komunikasi bukan pada upaya saling memahami, melainkan pada <a href="https://doi.org/10.1002/aur.1225">penyembuhan agar anak terlihat normal.</a></p> <p>Di negara-negara maju, <a href="https://doi.org/10.1177/10538151221083984">sistem pendukung bagi <em>neurodivergent</em> umumnya sudah terstruktur</a>. Contohnya program <em>early intervention</em> di Inggris yang menyediakan akses ke berbagai profesional, termasuk: psikolog, terapis wicara dan bahasa, ahli perkembangan anak, dan pekerja sosial untuk mendukung tumbuh kembang anak dengan autisme.</p> <figure> <iframe width="440" height="260" src="https://www.youtube.com/embed/1TdNbOco9jU?wmode=transparent&amp;start=3" frameborder="0" allowfullscreen=""></iframe> </figure> <p>Sementara di negara berkembang, dukungan seringkali bergantung pada komunitas lokal. Sayangnya, komunitas ini sering <a href="https://doi.org/10.1016/j.ajp.2019.09.007">menuntut konformitas budaya—harus bisa bersosialisasi dengan cara tradisional</a>. </p> <p>Dalam komunitas tersebut, keluarga ditekan untuk mengikuti standar sosial tradisional agar anak terlihat “normal”. Mereka akhirnya memaksa anak dengan autisme untuk menghindari komunikasi atau ekspresi yang dianggap berbeda.</p> <p>Hambatan ini disebut juga dengan <a href="https://doi.org/10.1080/09687599.2012.710008"><em>double empathy problem</em></a>. Teori ini menegaskan bahwa kesulitan komunikasi muncul akibat ketidakselarasan perspektif antarkelompok dengan pengalaman hidup dan cara memaknai dunia yang berbeda.</p> <h2>Membangun kepercayaan</h2> <p>Inklusi tidak terjadi secara instan. Dalam <a href="https://doi.org/10.1016/j.ssaho.2025.102344">riset kolaboratif kami</a>, pembangunan kepercayaan (<em>trust</em>) adalah proses yang mendalam dan emosional. Kepercayaan tumbuh bukan melalui paksaan, melainkan melalui:</p> <p><strong>1. Keterbukaan</strong>: Kesediaan pihak neurotipikal untuk mengakui bias dalam berkomunikasi dan berhenti menjadi pihak yang merasa paling mengetahui apa yang terbaik bagi <em>neurodivergent</em>.</p> <p><strong>2. Memahami kebutuhan waktu</strong>: Dibutuhkan waktu bagi rekan dengan autisme untuk mulai merasa percaya dan aman menjadi diri sendiri tanpa takut dihakimi.</p> <p>Masyarakat neurotipikal perlu melakukan <em>unlearning</em> (melepaskan pengetahuan, kebiasaan, atau pola pikir lama yang sudah tidak relevan) dengan belajar untuk tidak mendominasi percakapan dan menghargai ritme komunikasi yang berbeda. </p> <p>Keheningan tidak seharusnya dimaknai sebagai ketidakterlibatan, dan komunikasi yang langsung tidak semestinya dianggap tidak sopan. Dalam konteks budaya Indonesia yang menekankan harmoni, pemahaman perlu diposisikan sebagai tanggung jawab timbal balik. </p> <p><a href="https://doi.org/10.1016/j.ssaho.2025.102344">Riset kami</a> menunjukkan bahwa ketika individu neurotipikal bersedia mengakui adanya bias dan melepaskan standar kesopanan yang kaku, ruang interaksi yang lebih adil dapat tercipta.</p> <p>Karena itu, penting membangun ruang komunikasi yang aman bagi individu neurotipikal maupun <em>neurodivergent</em> melalui keluarga, sekolah, dan tempat kerja.</p> <p>Kebijakan pendidikan inklusif yang dicanangkan pemerintah merupakan langkah awal yang penting, mengingat peran institusi pendidikan sebagai “laboratorium sosial”. Namun, kebijakan ini perlu dilengkapi dengan panduan praktis agar muncul dalam praktik sehari-hari.</p> <p>Dengan begitu, keberagaman kognitif tidak seharusnya dipandang sebagai anomali. Inklusi perlu digeser dari upaya “memperbaiki” individu menjadi berkomunikasi untuk memahami.</p> <hr> <p> <em> <strong> Baca juga: <a href="https://theconversation.com/rasa-cipta-karsa-kunci-peran-guru-dalam-pendidikan-inklusif-235042">Rasa, cipta, karsa: kunci peran guru dalam pendidikan inklusif</a> </strong> </em> </p> <hr> <hr> <iframe src="https://tally.so/embed/ZjOr4o?alignLeft=1&amp;hideTitle=1&amp;transparentBackground=1&amp;dynamicHeight=1" width="100%" height="321" frameborder="0" marginheight="0" marginwidth="0" title="Survey Form"> </iframe><img src="https://counter.theconversation.com/content/273468/count.gif" alt="The Conversation" width="1" height="1" /> <p class="fine-print"><em><span>Para penulis tidak bekerja, menjadi konsultan, memiliki saham atau menerima dana dari perusahaan atau organisasi mana pun yang akan mengambil untung dari artikel ini, dan telah mengungkapkan bahwa ia tidak memiliki afiliasi di luar afiliasi akademis yang telah disebut di atas.</span></em></p> Kegagalan komunikasi dengan ‘neurodivergent’ (orang dengan autisme) disebabkan oleh faktor budaya di Indonesia yang terlalu fokus pada membenahi, bukan memahami. Nirma Yossa, Peneliti Pusat Riset Kependudukan, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Afifah Muharikah, Dosen Fakultas Ilmu Pendidikan, Universitas Islam Internasional Indonesia (UIII) Licensed as Creative Commons – attribution, no derivatives. tag:theconversation.com,2011:article/273639 2026-01-21T11:10:47Z 2026-01-21T11:10:47Z Tanaman obat Alor: Warisan tradisi lisan dan sains lokal <blockquote> <p>● Dokumentasi linguistik dan etnobotani dapat digunakan untuk melestarikan pengetahuan kuno tanaman obat di Kepulauan Alor-Pantar.</p> <p>● Tanaman bukan sekadar obat harian, melainkan elemen sakral yang memandu identitas sosial masyarakat adat.</p> <p>● Tanaman dan jamur merupakan fondasi penting dalam sistem kepercayaan serta struktur pengetahuan adat masyarakat Abui.</p> </blockquote> <hr> <blockquote> <p>“Saat anak demam, hancurkan satu butir kemiri (<em>fiyaai</em> [<a href="https://www.sciencedirect.com/topics/agricultural-and-biological-sciences/aleurites-moluccanus"><em>Aleurites moluccanus</em></a>]). Tambahkan air ke dalam campuran tersebut, lalu balurkan ke tubuh anak, niscaya demamnya akan turun.”</p> </blockquote> <figure class="align-center zoomable"> <a href="https://images.theconversation.com/files/711377/original/file-20260108-64-bwpmid.jpg?ixlib=rb-4.1.0&amp;q=45&amp;auto=format&amp;w=1000&amp;fit=clip"><img alt="Aleurites moluccanus" src="https://images.theconversation.com/files/711377/original/file-20260108-64-bwpmid.jpg?ixlib=rb-4.1.0&amp;q=45&amp;auto=format&amp;w=754&amp;fit=clip" srcset="https://images.theconversation.com/files/711377/original/file-20260108-64-bwpmid.jpg?ixlib=rb-4.1.0&amp;q=45&amp;auto=format&amp;w=600&amp;h=808&amp;fit=crop&amp;dpr=1 600w, https://images.theconversation.com/files/711377/original/file-20260108-64-bwpmid.jpg?ixlib=rb-4.1.0&amp;q=30&amp;auto=format&amp;w=600&amp;h=808&amp;fit=crop&amp;dpr=2 1200w, https://images.theconversation.com/files/711377/original/file-20260108-64-bwpmid.jpg?ixlib=rb-4.1.0&amp;q=15&amp;auto=format&amp;w=600&amp;h=808&amp;fit=crop&amp;dpr=3 1800w, https://images.theconversation.com/files/711377/original/file-20260108-64-bwpmid.jpg?ixlib=rb-4.1.0&amp;q=45&amp;auto=format&amp;w=754&amp;h=1015&amp;fit=crop&amp;dpr=1 754w, https://images.theconversation.com/files/711377/original/file-20260108-64-bwpmid.jpg?ixlib=rb-4.1.0&amp;q=30&amp;auto=format&amp;w=754&amp;h=1015&amp;fit=crop&amp;dpr=2 1508w, https://images.theconversation.com/files/711377/original/file-20260108-64-bwpmid.jpg?ixlib=rb-4.1.0&amp;q=15&amp;auto=format&amp;w=754&amp;h=1015&amp;fit=crop&amp;dpr=3 2262w" sizes="(min-width: 1466px) 754px, (max-width: 599px) 100vw, (min-width: 600px) 600px, 237px"></a> <figcaption> <span class="caption">Daun dan buah pohon kemiri.</span> <span class="attribution"><a class="source" href="https://prota.prota4u.org/protav8.asp?g=pe&amp;p=Aleurites+moluccanus">PROTA4U</a>, <a class="license" href="http://creativecommons.org/licenses/by-nc-sa/4.0/">CC BY-NC-SA</a></span> </figcaption> </figure> <p>Formula penyembuhan ini bukan berasal dari <a href="https://www.britannica.com/topic/Corpus-Hippocraticum"><em>Hippocratic Collection</em></a> atau <a href="https://www.britannica.com/topic/Regimen-Sanitatis-Salernitanum"><em>Salernitan Guide to Health</em></a>, dua koleksi pengetahuan medis kuno dan abad pertengahan yang paling terkenal.</p> <p>Ini adalah resep lisan <a href="https://glottolog.org/resource/languoid/id/abui1241">Abui</a> dari <a href="https://www.britannica.com/place/Alor-Islands">Alor</a>, sebuah pulau kecil di Indonesia bagian tenggara. <a href="https://scholar.xjtlu.edu.cn/en/persons/FrancescoPerono/">Saya dan tim</a> mengumpulkan resep tersebut, bersama banyak resep lainnya, selama <a href="https://www.oxfordbibliographies.com/display/document/obo-9780199772810/obo-9780199772810-0075.xml">kerja lapangan dokumentasi bahasa kami</a>.</p> <hr> <p> <em> <strong> Baca juga: <a href="https://theconversation.com/finding-kape-how-language-documentation-helps-us-preserve-an-endangered-language-247465">Finding 'Kape': How Language Documentation helps us preserve an endangered language</a> </strong> </em> </p> <hr> <p>Masyarakat adat di Indonesia—seperti <a href="https://www.britannica.com/topic/Papuan-people">suku Abui di Alor, Nusa Tenggara Timur (NTT)</a>—merupakan penjaga pengetahuan kuno yang tak ternilai harganya. Salah satu warisan leluhur yang masih lestari hingga kini adalah praktik pengobatan tradisional yang mengandalkan kemahiran dalam memanfaatkan tanaman obat.</p> <p>Melalui penelitian lapangan selama bertahun-tahun, terungkap bagaimana <a href="https://www.mdpi.com/2409-9252/4/4/30">nama-nama tanaman obat lokal</a>, khasiatnya, hingga metode pengobatannya terkait erat dalam percakapan dan praktik keseharian masyarakat setempat. Fenomena linguistik ini bahkan membentuk <a href="https://cbg.uvt.ro/wp-content/uploads/2022/04/06_Lim_Cacciafoco.pdf">toponimi (kajian asal-usul, makna, dan sejarah di balik nama-nama tempat)</a> serta memengaruhi alur <a href="https://anale-lingvistica.reviste.ucv.ro/index.php/laucv/article/view/14">legenda dan cerita rakyat</a> dari daerah tersebut.</p> <p>Singkatnya, nama-nama tanaman ini bukan sekadar kosa kata dalam bahasa daerah yang terancam punah atau belum terdokumentasi. Istilah-istilah tersebut merupakan pintu masuk menuju “harta karun” pengetahuan medis, sejarah budaya, serta tradisi lisan yang selama ini belum terekam oleh dunia luar.</p> <h2>Mengumpulkan nama, memahami budaya</h2> <p>Studi kami mengenai <a href="https://en.wiktionary.org/wiki/phytonym">fitonim</a> (nama lokal tanaman) dan tanaman obat merupakan sebuah upaya interdisipliner yang berakar dari dokumentasi bahasa. Kami memadukan ilmu <a href="https://www.sciencedirect.com/topics/agricultural-and-biological-sciences/ethnobotany">etnobotani</a> (kajian mengenai hubungan antara tumbuhan dengan masyarakat di sekitarnya) dengan <a href="https://www.oxfordbibliographies.com/display/document/obo-9780199772810/obo-9780199772810-0015.xml">linguistik lapangan</a> untuk mendokumentasikan konteks masyarakat adat, khususnya di wilayah Indonesia Tenggara (Kepulauan Alor-Pantar). Ini termasuk <a href="https://theconversation.com/finding-kape-how-language-documentation-helps-us-preserve-an-endangered-language-247465">Kape</a>, <a href="https://glottolog.org/resource/languoid/id/papu1257">Papuna</a>, <a href="https://glottolog.org/resource/languoid/id/kama1365">Kamang</a>, <a href="https://glottolog.org/resource/languoid/id/kabo1247">Kabola</a>, <a href="https://glottolog.org/resource/languoid/id/kula1280">Kula</a>, dan <a href="https://glottolog.org/resource/languoid/id/sawi1256">Sawila</a>. </p> <p>Pendekatan ini bertujuan untuk memetakan hubungan mendalam antara kekayaan alam dan identitas bahasa yang dimiliki oleh masyarakat tersebut.</p> <p>Kami mengumpulkan dan menganalisis sampel tanaman beserta namanya melalui kolaborasi dengan para penutur asli dari masyarakat adat. Metode yang digunakan mencakup wawancara sistematis secara langsung, kerja lapangan, hingga pengembangan basis data yang berkelanjutan.</p> <p>Guna menjamin akurasi <a href="https://www.britannica.com/science/taxonomy">taksonomi</a>(penamaan berdasarkan pengelompokan mahluk hidup), pakar botani dari Royal Botanic Gardens, <a href="https://www.kew.org/">Kew</a>, Inggris, memeriksa dan memverifikasi langsung sampel-sampel tersebut.</p> <p>Untuk setiap tanaman, data yang kami rekam melampaui sekadar klasifikasi ilmiah dan spesimen fisik. Kami mendokumentasikan nama lokal, terjemahan dalam bahasa Inggris, hingga <a href="https://blogs.ntu.edu.sg/abui/">akar budayanya</a>. Upaya ini berhasil mengungkap tradisi lisan, praktik medis leluhur, serta sejarah tak tertulis yang melekat pada setiap spesies.</p> <p>Kerja lintas disiplin ini membuktikan bahwa khasiat medis, kisah dan mitos yang belum terdokumentasi, serta kepercayaan leluhur merupakan <a href="https://anale-lingvistica.reviste.ucv.ro/index.php/laucv/article/view/157">satu kesatuan</a> yang saling <a href="https://link.springer.com/rwe/10.1007/978-3-030-26825-1_62-1">bertaut erat</a>.</p> <h2>Praktik budaya yang berkelindan</h2> <p>Di luar khasiat medisnya, tanaman dan jamur telah lama menjadi bagian penting dalam sistem kepercayaan serta tradisi masyarakat Abui. Kehadirannya membentuk struktur pengetahuan adat yang kompleks dan penuh makna.</p> <p>Contohnya jamur <em>ruui haweei</em>, yang secara harfiah berarti “telinga tikus” (<a href="https://www.sciencedirect.com/topics/biochemistry-genetics-and-molecular-biology/auricularia-polytricha"><em>Auricularia polytricha</em></a>). Di komunitas ini, ibu hamil mengonsumsi jamur tersebut dengan harapan kelak buah hati mereka terlahir dengan bentuk telinga yang indah.</p> <p>Selain itu, terdapat pula <em>naai</em> atau kacang gude (<a href="https://www.sciencedirect.com/topics/agricultural-and-biological-sciences/cajanus-cajan"><em>Cajanus cajan</em></a>). Dalam pengobatan tradisional, tanaman ini berguna untuk menangani penyakit anak yang diyakini muncul akibat perbuatan zina atau perselingkuhan yang dilakukan ayahnya.</p> <p>Dalam ritual penyembuhannya, tabib akan menyajikan bubur kacang gude kepada sang ibu. Jumlah biji kacang yang tersisa di dalam periuk dipercaya dapat mengungkap jumlah perempuan yang pernah ditiduri suaminya. Menurut kepercayaan lokal, pengungkapan rahasia inilah yang menjadi kunci bagi kesembuhan anak.</p> <figure class="align-center zoomable"> <a href="https://images.theconversation.com/files/711378/original/file-20260108-56-rv5a61.png?ixlib=rb-4.1.0&amp;q=45&amp;auto=format&amp;w=1000&amp;fit=clip"><img alt="Cajanus cajan" src="https://images.theconversation.com/files/711378/original/file-20260108-56-rv5a61.png?ixlib=rb-4.1.0&amp;q=45&amp;auto=format&amp;w=754&amp;fit=clip" srcset="https://images.theconversation.com/files/711378/original/file-20260108-56-rv5a61.png?ixlib=rb-4.1.0&amp;q=45&amp;auto=format&amp;w=600&amp;h=867&amp;fit=crop&amp;dpr=1 600w, https://images.theconversation.com/files/711378/original/file-20260108-56-rv5a61.png?ixlib=rb-4.1.0&amp;q=30&amp;auto=format&amp;w=600&amp;h=867&amp;fit=crop&amp;dpr=2 1200w, https://images.theconversation.com/files/711378/original/file-20260108-56-rv5a61.png?ixlib=rb-4.1.0&amp;q=15&amp;auto=format&amp;w=600&amp;h=867&amp;fit=crop&amp;dpr=3 1800w, https://images.theconversation.com/files/711378/original/file-20260108-56-rv5a61.png?ixlib=rb-4.1.0&amp;q=45&amp;auto=format&amp;w=754&amp;h=1089&amp;fit=crop&amp;dpr=1 754w, https://images.theconversation.com/files/711378/original/file-20260108-56-rv5a61.png?ixlib=rb-4.1.0&amp;q=30&amp;auto=format&amp;w=754&amp;h=1089&amp;fit=crop&amp;dpr=2 1508w, https://images.theconversation.com/files/711378/original/file-20260108-56-rv5a61.png?ixlib=rb-4.1.0&amp;q=15&amp;auto=format&amp;w=754&amp;h=1089&amp;fit=crop&amp;dpr=3 2262w" sizes="(min-width: 1466px) 754px, (max-width: 599px) 100vw, (min-width: 600px) 600px, 237px"></a> <figcaption> <span class="caption">Tanaman bernama ‘Pigeon pea’ atau kacang gude.</span> <span class="attribution"><a class="source" href="https://prota.prota4u.org/protav8.asp?h=M4&amp;t=Cajanus&amp;p=Cajanus+cajan#Synonyms">PROTA4U</a>, <a class="license" href="http://creativecommons.org/licenses/by-nc-sa/4.0/">CC BY-NC-SA</a></span> </figcaption> </figure> <p>Peran tanaman di Alor juga menyentuh ranah resolusi konflik. Pada masa perang antarsuku, tanaman <em>luul meeting</em> atau cabai jawa (<a href="https://www.gbif.org/species/3086342"><em>Piper retrofractum</em></a>) digunakan untuk secara simbolis membersihkan “darah panas” yang tumpah di medan laga. </p> <p>Dengan mengonsumsi bagian akar atau bijinya, warga desa melakukan pemurnian atas pertumpahan darah yang terjadi. Ritual ini memungkinkan mereka untuk kembali makan bersama dan mengunyah <a href="https://www.sciencedirect.com/topics/agricultural-and-biological-sciences/betel-nut">sirih pinang</a> dalam ikatan perdamaian.</p> <p>Terakhir, pohon <em>bayooqa (<a href="https://www.gbif.org/species/7910941">Pterospermum diversifolium</a></em>) menjadi jembatan antara dunia medis dan alam roh. Daunnya berkhasiat mengobati luka dan disentri (diare berdarah akibat infeksi usus). </p> <p>Sementara kayu <em>bayooqa</em> dianggap sakral oleh masyarakat Abui. Secara tradisional, kayu pohon ini digunakan untuk membangun panggung pemujaan bagi dewa kuno mereka, <a href="https://www.sciencedirect.com/science/article/abs/pii/S0024384116301784?via%3Dihub"><em>Lamòling</em></a>.</p> <p>Masyarakat setempat menggunakan panggung ini dalam ritual yang disebut <em>bayooqa liik hasuonra</em> (merubuhkan panggung), yang dilaksanakan empat puluh hari setelah pemakaman. Dalam prosesi ini, anggota keluarga berbagi hidangan ritual di atas lempengan kayu sebelum akhirnya memotong tiang penyangga dan membalik panggung tersebut—sebuah simbol perpisahan terakhir pada kerabat yang meninggal.</p> <p>Artinya, tanaman obat tidak hanya menjadi pilar utama dalam memenuhi kebutuhan medis harian masyarakat adat di Alor, tapi juga menjadi bagian tak terpisahkan dari warisan budaya yang berakar kuat. Pengetahuan ini membentuk identitas lokal mereka dan menjadi panduan dalam setiap fase kehidupan, mulai dari kelahiran hingga kematian.</p> <hr> <iframe src="https://tally.so/embed/WORyJa?alignLeft=1&amp;hideTitle=1&amp;transparentBackground=1&amp;dynamicHeight=1" width="100%" height="321" frameborder="0" marginheight="0" marginwidth="0" title="Survey Form"> </iframe><img src="https://counter.theconversation.com/content/273639/count.gif" alt="The Conversation" width="1" height="1" /> <p class="fine-print"><em><span>Francesco Perono Cacciafoco menerima dana dari Xi&#39;an Jiaotong-Liverpool University (XJTLU): Research Development Fund (RDF) Grant, &quot;Place Names and Cultural Identity: Toponyms and Their Diachronic Evolution among the Kula People from Alor Island&quot;, Nomor Hibah: RDF-23-01-014, School of Humanities and Social Sciences (HSS), Xi&#39;an Jiaotong-Liverpool University (XJTLU), Suzhou (Jiangsu), Tiongkok, 2024-2025.</span></em></p> Tanaman adat dan nama-namanya di Alor, NTT, membuka kotak harta karun rahasia medis dan budaya. Apa saja tanaman-tanaman tersebut dan apa kegunaannya? Francesco Perono Cacciafoco, Associate Professor in Linguistics, Xi'an Jiaotong-Liverpool University Licensed as Creative Commons – attribution, no derivatives. tag:theconversation.com,2011:article/273578 2026-01-20T02:26:36Z 2026-01-20T02:26:36Z Saat kesalahan karya ilmiah dibiarkan: Penerbit tetap untung, publik yang rugi <blockquote> <p>● Kesalahan di jurnal ilmiah bisa berdampak besar, tetapi sering lambat dikoreksi.</p> <p>● Sistem penerbitan akademik yang berorientasi keuntungan acap abai akan kesalahan.</p> <p>● Diperlukan reformasi agar koreksi cepat dan terbuka dihargai sebagai bagian inti dari sains.</p> </blockquote> <hr> <p>Karya ilmiah yang keliru bukan cuma memenuhi jurnal ilmiah, tapi juga bisa menyesatkan kebijakan, membuang-buang dana publik, dan bahkan bisa membahayakan nyawa manusia. </p> <p>Sayangnya, kesalahan seperti ini masih terjadi di jurnal-jurnal ilmiah ternama karena mekanisme koreksi yang tidak berjalan dengan baik. Hal ini terlihat jelas dari pengalaman yang kami alami.</p> <p>Pada Maret 2025, jurnal <em>Communications Earth &amp; Environment</em> menerbitkan <a href="https://www.nature.com/articles/s43247-025-02150-2">hasil penelitian</a> yang mengklaim bahwa sertifikasi kelapa sawit membuat hasil panen turun dan memicu pembukaan lahan baru.</p> <p>Namun, setelah kami telusuri ulang, kesimpulan studi tersebut ternyata keliru. Penulis tersebut salah menafsirkan data citra satelit. </p> <p>Penurunan produksi sebenarnya hanya sementara karena kebun sedang dalam proses peremajaan tanaman, bukan karena area produksi kelapa sawit benar-benar berkurang. Setelah kami koreksi, data menunjukkan tidak ada penurunan produksi.</p> <p>Dengan demikian, kesimpulan studi tersebut yang menyatakan bahwa sertifikasi meningkatkan pembukaan lahan, tidak berdasar. </p> <p>Kami lantas meminta agar tulisan tersebut ditarik. Namun, permintaan kami ditolak penerbit. Kami diminta mengajukan teks sanggahan, tetapi sudah hampir setahun berlalu, <a href="https://www.preprints.org/manuscript/202511.2263">sanggahan</a> kami masih dalam proses peninjauan.</p> <p>Contoh lain terjadi pada riset yang diterbitkan jurnal <a href="https://www.nature.com/articles/s41586-023-06642-z"><em>Nature</em></a> pada 2023 tentang perkiraan deforestasi akibat perkebunan karet. Studi itu salah mengambil sampel, sehingga dampak deforestasi yang dilaporkan terlihat jauh lebih besar daripada kenyataannya.</p> <p><a href="https://www.nature.com/articles/s41586-025-08848-9">Koreksi yang kami ajukan</a> baru terbit hampir dua tahun kemudian, dan itu pun terbit di balik <em>paywall</em> alias hanya bisa diakses dengan membayar. Sementara, riset bermasalah tersebut sudah dikutip 98 kali dan memengaruhi berbagai laporan kebijakan.</p> <p>Kedua makalah ini lolos dari penelaahan sejawat di jurnal-jurnal ilmiah terkemuka. Hal ini menunjukkan bahwa, bahkan di jurnal top internasional pun, kesalahan bisa tersebar sama mudahnya seperti temuan ilmiah yang benar.</p> <h2>Mengapa kesalahan ini sulit diperbaiki?</h2> <p>Kasus-kasus ini—dan <a href="https://theconversation.com/the-5-stages-of-the-enshittification-of-academic-publishing-269714">masih banyak lagi</a>—menunjukkan bahwa <a href="https://www.theguardian.com/environment/2026/jan/13/microplastics-human-body-doubt">“mesin koreksi akademis” sedang macet</a>. Hanya sedikit jurnal yang memprioritaskan penarikan atau ralat. Sementara peneliti yang mencoba mengungkap kesalahan sering kali tidak mendapatkan dukungan. </p> <p>Dunia akademis sering kali lebih menghargai hal baru ketimbang <a href="https://journals.plos.org/plosmedicine/article?id=10.1371/journal.pmed.0020124">akurasi</a>. Karier seorang peneliti bergantung pada publikasi baru, bukan pada koreksi yang teliti. </p> <p>Kritik pascapublikasi jarang dianggap penting. Mengakui kesalahan bisa merusak reputasi, sementara mengungkap kekeliruan orang lain berisiko menuai kecaman.</p> <p>Dalam konteks seperti ini, tak heran jika kesalahan—bahkan yang sudah diketahui—terus menumpuk. Penarikan artikel jarang terjadi, lambat, dan sering ditutupi. Bahkan, ada satu makalah di jurnal <em>Nature</em> yang baru <a href="https://retractionwatch.com/2024/06/18/nature-retracts-highly-cited-2002-paper-that-claimed-adult-stem-cells-could-become-any-type-of-cell/#more-129437">ditarik</a> 22 tahun kemudian, setelah hampir 4.500 kali dikutip.</p> <p>Keterlambatan koreksi ini tentu berdampak serius. Di bidang medis, data yang keliru bisa menyebabkan keputusan klinis berbahaya. Misalnya kesalahan dalam <a href="https://doi.org/10.1016/S0140-6736(20)31180-6">studi <em>Lancet</em> (2020) tentang hidroksiklorokuin, yang kini sudah ditarik,</a> sempat membuat proses uji klinis vaksin COVID-19 di dunia terhenti sementara. </p> <p>Dalam konservasi, <a href="https://www.science.org/doi/10.1126/sciadv.aat2993">estimasi angka deforestasi berbasis satelit juga sering kali berbeda-beda</a> sehingga membuat bingung pembuat kebijakan dan merusak kepercayaan terhadap bukti ilmiah. </p> <p>Beragam studi menghasilkan data kehilangan hutan yang berbeda-beda pula, sehingga klaim saling bertentangan dan prioritas pun menjadi tidak jelas.</p> <hr> <p> <em> <strong> Baca juga: <a href="https://theconversation.com/akses-jurnal-ilmiah-perlu-dipermudah-untuk-bentuk-ekosistem-pengetahuan-nasional-258701">Akses jurnal ilmiah perlu dipermudah untuk bentuk ekosistem pengetahuan nasional</a> </strong> </em> </p> <hr> <h2>Bagaimana ini bisa terjadi?</h2> <p>Penyebab persoalan ini bersifat struktural dan saling memengaruhi—didorong oleh keuntungan dan tekanan.</p> <ul> <li><strong>Komersialisasi penerbitan akademik</strong></li> </ul> <p>Banyak pihak telah menyoroti <a href="https://theconversation.com/publish-or-perish-evolutionary-pressures-shape-scientific-publishing-for-better-and-worse-259258">masalah dalam sistem penerbitan karya ilmiah</a> saat para ilmuwan, yang sering kali didanai uang publik, melakukan riset, menelaah artikel tanpa dibayar, lalu institusi mereka harus membayar biaya mahal untuk mengakses hasilnya. Di lain pihak, perusahaan swasta justru meraup keuntungan.</p> <p>Menurut kami, akar masalah ini bisa ditelusuri dari sejarah pendirian perusahaan penerbitan karya ilmiah Pergamon Press oleh Robert Maxwell pada 1960-an di Inggris. </p> <p>Maxwell mengubah penerbit tersebut menjadi <a href="https://www.theguardian.com/science/2017/jun/27/profitable-business-scientific-publishing-bad-for-science?">“mesin penghasil uang abadi”</a>. Ia memelopori model yang <a href="https://www.asimov.press/p/nature">mengomersialkan prestise akademik</a> dan ego peneliti, dan membangun kerajaan penerbitan yang mendominasi hingga kini.</p> <p>Model Maxwell yang dipakai banyak perusahaan sampai saat ini sangat menguntungkan. Springer Nature, misalnya, melaporkan margin laba sekitar <a href="https://annualreport.springernature.com/2024/">28% dari total pendapatan yang mencapai €2 miliar</a> (Rp39,22 triliun). Perusahaan lainnya, <a href="https://www.relx.com/%7E/media/Files/R/RELX-Group/documents/reports/annual-reports/relx-2024-annual-report.pdf">Elsevier</a> dan <a href="https://investors.wiley.com/annual-reports">Wiley</a>, mencatat margin operasional yang bahkan lebih tinggi.</p> <p>Kini, penerbitan akademik menjadi salah satu industri paling menguntungkan. Ironisnya, keuntungan ini diperoleh berkat kerja keras para akademisi yang tidak dibayar—misalnya, penelaahan sejawat saja memakan <a href="https://pubmed.ncbi.nlm.nih.gov/34776003/">lebih dari 100 juta jam per tahun</a>. </p> <p>Penerbit pun membatasi akses publik terhadap hasil riset, sehingga mereka yang membutuhkan terpaksa membayar.</p> <hr> <p> <em> <strong> Baca juga: <a href="https://theconversation.com/kejar-indeksasi-demi-gengsi-salah-kaprah-penilaian-kualitas-riset-dan-evaluasi-kinerja-penelitian-248448">Kejar indeksasi demi gengsi: Salah kaprah penilaian kualitas riset dan evaluasi kinerja penelitian</a> </strong> </em> </p> <hr> <ul> <li><strong>Penelaahan sejawat dan ketimpangan akses</strong></li> </ul> <p>Penelaahan sejawat, sebagai penjaga integritas ilmiah, kewalahan karena jumlah naskah yang harus ditinjau terus meningkat.</p> <p>Peneliti di banyak negara kini mempercepat produksi ilmiah, terlebih dengan bantuan <a href="https://ai.nejm.org/doi/full/10.1056/AIe2501273">alat AI yang mempermudah produksi</a>. Bahkan <em>Nature</em> baru-baru ini menyebut situasi ini sebagai <a href="https://www.nature.com/articles/d41586-025-02457-2">“krisis <em>peer-review</em>”</a>. </p> <p>Jumlah riset yang ditarik penerbit sudah <a href="https://about.ebsco.com/blogs/ebscopost/value-retraction-indicators-research-platforms">melebihi 10 ribu pada 2023</a> dan terus meningkat. Kita bisa melihat ini bukan sebagai tanda sistem koreksi yang sehat, melainkan sebagai bukti <a href="https://journals.sagepub.com/doi/10.1177/13505084251399576">krisis kontrol kualitas</a>.</p> <p>Di saat yang sama, <em>paywall</em> dan biaya publikasi akses terbuka (APC) menghalangi banyak peneliti yang sebenarnya mampu melakukan koreksi. Misalnya, biaya APC <em>Nature</em> kini mencapai <a href="https://www.nature.com/nature/for-authors/publishing-options">€10.690</a> (sekitar Rp210 juta). Akibatnya, banyak peneliti dari negara berpendapatan rendah sulit untuk menerbitkan, mengakses, atau mengoreksi karya ilmiah.</p> <figure class="align-center "> <img alt="" src="https://images.theconversation.com/files/711362/original/file-20260108-56-ftnoi3.jpg?ixlib=rb-4.1.0&amp;q=45&amp;auto=format&amp;w=754&amp;fit=clip" srcset="https://images.theconversation.com/files/711362/original/file-20260108-56-ftnoi3.jpg?ixlib=rb-4.1.0&amp;q=45&amp;auto=format&amp;w=600&amp;h=237&amp;fit=crop&amp;dpr=1 600w, https://images.theconversation.com/files/711362/original/file-20260108-56-ftnoi3.jpg?ixlib=rb-4.1.0&amp;q=30&amp;auto=format&amp;w=600&amp;h=237&amp;fit=crop&amp;dpr=2 1200w, https://images.theconversation.com/files/711362/original/file-20260108-56-ftnoi3.jpg?ixlib=rb-4.1.0&amp;q=15&amp;auto=format&amp;w=600&amp;h=237&amp;fit=crop&amp;dpr=3 1800w, https://images.theconversation.com/files/711362/original/file-20260108-56-ftnoi3.jpg?ixlib=rb-4.1.0&amp;q=45&amp;auto=format&amp;w=754&amp;h=298&amp;fit=crop&amp;dpr=1 754w, https://images.theconversation.com/files/711362/original/file-20260108-56-ftnoi3.jpg?ixlib=rb-4.1.0&amp;q=30&amp;auto=format&amp;w=754&amp;h=298&amp;fit=crop&amp;dpr=2 1508w, https://images.theconversation.com/files/711362/original/file-20260108-56-ftnoi3.jpg?ixlib=rb-4.1.0&amp;q=15&amp;auto=format&amp;w=754&amp;h=298&amp;fit=crop&amp;dpr=3 2262w" sizes="(min-width: 1466px) 754px, (max-width: 599px) 100vw, (min-width: 600px) 600px, 237px"> <figcaption> <span class="caption">Pendapatan ganda bagi penerbit: peneliti membayar untuk menerbitkan, pembaca membayar untuk membaca.</span> </figcaption> </figure> <p>Secara teori, sains bersifat mengoreksi diri. Sayangnya, sistem yang mengutamakan keuntungan dan prestise hanya akan melakukan koreksi jika terpaksa. Itu pun sangat lambat.</p> <h2>Saatnya berbenah</h2> <p>Sains maju bukan karena selalu benar, melainkan karena tahu saat ia keliru—dan memperbaikinya. Reformasi sistemik semestinya memandang koreksi cepat sebagai tanda integritas, bukan cap kegagalan.</p> <p>Platform koreksi terbuka, data bersama, dan bantuan alat penelaahan AI sebenarnya sudah memungkinkan peninjauan kolektif yang cepat. Namun, yang kurang adalah insentif dan keberanian untuk menjadikannya norma baru.</p> <p>Jika penerbit bisa meraup untung dari kesalahan di balik <em>paywall</em>, mereka seharusnya juga mampu menyediakan koreksi terbuka. Jika institusi dan pemberi dana bisa menghitung jumlah makalah dan sitasi, mereka mestinya juga bisa menghitung koreksi.</p> <p>Jurnal ilmiah perlu memastikan koreksi terlihat jelas, bergengsi, dan bisa disitasi, serta memperluas model “<a href="https://www.unesco.org/en/diamond-open-access"><em>diamond open access</em></a>”. Akses yang lebih luas berarti pengawasan lebih ketat dan perbaikan lebih cepat.</p> <p>Institusi seharusnya menghargai transparansi daripada sekadar kuantitas. Pemberi dana perlu mendukung verifikasi pascapublikasi. Peneliti pun sebaiknya memilih penerbit yang mengutamakan ketelitian daripada sensasi.</p> <p>Pembaca bisa mendorong universitas masing-masing bergabung dengan <a href="https://www.coalition-s.org/about/">cOAlition S</a> untuk mendukung koreksi yang lebih adil dan cepat. Pembaca pun dapat berperan—misalnya dengan memeriksa <a href="https://retractionwatch.com/">Retraction Watch</a> sebelum mengutip.</p> <p>Perangkat untuk koreksi yang lebih cepat dan adil sebenarnya sudah ada—yang kurang hanyalah kemauan untuk menggunakannya.</p> <p>Kesalahan itu tak terelakkan, tetapi diam dan pasrah bukan pilihan. Sebab, kekuatan sains bukan karena ia tidak pernah salah, melainkan pada seberapa mampu dan terbuka ia memperbaiki dirinya sendiri.</p> <hr> <iframe src="https://tally.so/r/pboYPb?alignLeft=1&amp;hideTitle=1&amp;transparentBackground=1&amp;dynamicHeight=1" width="100%" height="321" frameborder="0" marginheight="0" marginwidth="0" title="Survey Form"> </iframe><img src="https://counter.theconversation.com/content/273578/count.gif" alt="The Conversation" width="1" height="1" /> <p class="fine-print"><em><span>Para penulis tidak bekerja, menjadi konsultan, memiliki saham atau menerima dana dari perusahaan atau organisasi mana pun yang akan mengambil untung dari artikel ini, dan telah mengungkapkan bahwa ia tidak memiliki afiliasi di luar afiliasi akademis yang telah disebut di atas.</span></em></p> Sistem penerbitan akademik seringkali membiarkan kesalahan ilmiah tetap ada karena lebih mengutamakan keuntungan dan prestise daripada koreksi yang cepat. Douglas Sheil, Professor, Faculty of Environmental Sciences and Natural Resource Management, Wageningen University Erik Meijaard, Honorary Professor of Conservation, University of Kent Licensed as Creative Commons – attribution, no derivatives. tag:theconversation.com,2011:article/272657 2026-01-19T02:31:15Z 2026-01-19T02:31:15Z When science discourages correction: How publishers profit from mistakes <p>Flawed scientific articles don’t just clutter journals — they misguide policies, waste taxpayer funds, and endanger lives. Errors in top-tier research persist due to a broken correction system. Consider our own recent experiences.</p> <p>In March 2025, <em>Communications Earth &amp; Environment published</em> <a href="https://www.nature.com/articles/s43247-025-02150-2">a paper</a> claiming oil palm certification reduces yields and drives land expansion. But the study misread satellite data – interpreting temporary declines during replanting as a loss of production area. When corrected, the data show no decline in efficiency. </p> <p>The paper’s conclusion, that certification increases land demand, is therefore unsupported. Despite this, our request for retraction was declined, and we were asked to submit a rebuttal text, but our <a href="https://www.preprints.org/manuscript/202511.2263">rebuttal</a> remains under review nearly a year later.</p> <p>Another example is a <a href="https://www.nature.com/articles/s41586-023-06642-z">2023 <em>Nature</em> paper</a> estimating deforestation due to rubber plantations. The study’s sampling errors overstated rubber’s deforestation footprint. <a href="https://www.nature.com/articles/s41586-025-08848-9">Our correction</a> finally appeared almost two years later – behind a paywall – by which time the flawed study had been cited 98 times and shaped multiple policy reports.</p> <p>Both papers passed peer review in leading journals, showing that even top-tier systems promote errors as easily as insights. </p> <h2>Why errors are hard to fix</h2> <p>These cases, and <a href="https://theconversation.com/the-5-stages-of-the-enshittification-of-academic-publishing-269714">too many more</a>, show that <a href="https://www.theguardian.com/environment/2026/jan/13/microplastics-human-body-doubt">academia’s “correction machinery” is faltering</a>. Few journals prioritise retractions or errata, and researchers who expose errors receive little encouragement. </p> <p>The academic economy rewards novelty <a href="https://journals.plos.org/plosmedicine/article?id=10.1371/journal.pmed.0020124">over accuracy</a>. Careers hinge on new papers, not careful corrections. Post-publication critique counts for little. Admitting error risks reputation. Pointing out others’ mistakes risks backlash.</p> <p>In this context, it is unsurprising that errors – even those that are flagged – accumulate. Retractions are rare, slow, and often buried. One <em>Nature</em> paper was <a href="https://retractionwatch.com/2024/06/18/nature-retracts-highly-cited-2002-paper-that-claimed-adult-stem-cells-could-become-any-type-of-cell/#more-129437">retracted</a> 22 years later – after nearly 4,500 citations.</p> <p>These delays carry costs. In medicine, flawed data have led to harmful clinical decisions – as seen in the <a href="https://www.thelancet.com/journals/lancet/article/PIIS0140-6736(20)31180-6/fulltext">now-retracted 2020 Lancet hydroxychloroquine study</a> that briefly halted global COVID-19 trials, although the efficacy of hydroxychloroquine <a href="https://www.thelancet.com/journals/lancet/article/PIIS0140-6736(20)31528-2/fulltext">remains contested</a>“.</p> <p>In conservation, <a href="https://www.science.org/doi/10.1126/sciadv.aat2993">satellite-based deforestation estimates often vary widely</a>, confusing policymakers and undermining trust in the evidence. Different studies have produced very different pictures of forest loss, leading to contested claims and uncertain priorities. </p> <hr> <p> <em> <strong> Baca juga: <a href="https://theconversation.com/publish-or-perish-evolutionary-pressures-shape-scientific-publishing-for-better-and-worse-259258">'Publish or perish' evolutionary pressures shape scientific publishing, for better and worse</a> </strong> </em> </p> <hr> <h2>How we got here</h2> <p>The reasons are structural and self-reinforcing – driven by profit and pressure.</p> <ul> <li><strong>Commercialisation of academic publishing</strong></li> </ul> <p>Many others have highlighted <a href="https://theconversation.com/publish-or-perish-evolutionary-pressures-shape-scientific-publishing-for-better-and-worse-259258">the problems of a system</a> where the norm is that scientists, often funded by public money, conduct research, review papers for free, and then their institutions pay exorbitant fees to access the results while private companies pocket the profits.</p> <p>The roots of this dysfunction trace back to Robert Maxwell, who in the 1960s turned Pergamon Press into a <a href="https://www.theguardian.com/science/2017/jun/27/profitable-business-scientific-publishing-bad-for-science?">"perpetual financing machine”</a>. Maxwell pioneered a model that <a href="https://www.asimov.press/p/nature">commodified academic prestige</a> and researcher vanity, creating the commercial empires that dominate the landscape today.</p> <p>Maxwell’s model remains successful. Springer Nature reported profit margins of around <a href="https://annualreport.springernature.com/2024/">28% on nearly €2 billion</a> (US$2.3 billion) in annual revenue. <a href="https://www.relx.com/%7E/media/Files/R/RELX-Group/documents/reports/annual-reports/relx-2024-annual-report.pdf">Elsevier</a> and <a href="https://investors.wiley.com/annual-reports">Wiley</a> post even higher profit margins. </p> <p>Academic publishing is now one of the most lucrative industries per unit of input, but profitability rests on extensive unpaid academic labour – peer review alone totals <a href="https://pubmed.ncbi.nlm.nih.gov/34776003/">more than 100 million hours annually</a> – and on restricted public access to the outputs. </p> <hr> <p> <em> <strong> Baca juga: <a href="https://theconversation.com/academic-publishing-is-a-multibillion-dollar-industry-its-not-always-good-for-science-250056">Academic publishing is a multibillion-dollar industry. It's not always good for science</a> </strong> </em> </p> <hr> <ul> <li><strong>Peer review and inequality of access</strong></li> </ul> <p>Peer review, the gatekeeper of scientific integrity, is buckling under an insatiable demand. The number of submissions is growing as many nations accelerate their scientific outputs, and <a href="https://ai.nejm.org/doi/full/10.1056/AIe2501273">AI tools facilitate the production</a> of increasingly credible looking submissions. <em>Nature</em> itself <a href="https://www.nature.com/articles/d41586-025-02457-2">recently described a “peer-review crisis”</a>. </p> <p>Retractions <a href="https://about.ebsco.com/blogs/ebscopost/value-retraction-indicators-research-platforms">exceeded 10,000 in 2023</a> and continue to rise. Arguably, not a sign of self-correction working, but <a href="https://journals.sagepub.com/doi/10.1177/13505084251399576">of quality control in crisis</a>.</p> <p>Meanwhile, paywalls and charges for open access publishing (APCs) exclude many of the researchers able to catch flaws. Nature’s APCs now reach <a href="https://www.nature.com/nature/for-authors/publishing-options">€10,690</a> (US$12,690). These costs are effectively barring many from low-income countries from publishing, accessing or correcting published work. </p> <figure class="align-center "> <img alt="" src="https://images.theconversation.com/files/711362/original/file-20260108-56-ftnoi3.jpg?ixlib=rb-4.1.0&amp;q=45&amp;auto=format&amp;w=754&amp;fit=clip" srcset="https://images.theconversation.com/files/711362/original/file-20260108-56-ftnoi3.jpg?ixlib=rb-4.1.0&amp;q=45&amp;auto=format&amp;w=600&amp;h=237&amp;fit=crop&amp;dpr=1 600w, https://images.theconversation.com/files/711362/original/file-20260108-56-ftnoi3.jpg?ixlib=rb-4.1.0&amp;q=30&amp;auto=format&amp;w=600&amp;h=237&amp;fit=crop&amp;dpr=2 1200w, https://images.theconversation.com/files/711362/original/file-20260108-56-ftnoi3.jpg?ixlib=rb-4.1.0&amp;q=15&amp;auto=format&amp;w=600&amp;h=237&amp;fit=crop&amp;dpr=3 1800w, https://images.theconversation.com/files/711362/original/file-20260108-56-ftnoi3.jpg?ixlib=rb-4.1.0&amp;q=45&amp;auto=format&amp;w=754&amp;h=298&amp;fit=crop&amp;dpr=1 754w, https://images.theconversation.com/files/711362/original/file-20260108-56-ftnoi3.jpg?ixlib=rb-4.1.0&amp;q=30&amp;auto=format&amp;w=754&amp;h=298&amp;fit=crop&amp;dpr=2 1508w, https://images.theconversation.com/files/711362/original/file-20260108-56-ftnoi3.jpg?ixlib=rb-4.1.0&amp;q=15&amp;auto=format&amp;w=754&amp;h=298&amp;fit=crop&amp;dpr=3 2262w" sizes="(min-width: 1466px) 754px, (max-width: 599px) 100vw, (min-width: 600px) 600px, 237px"> <figcaption> <span class="caption">Double income for the publishers: Researchers pay to publish. Readers pay to read.</span> </figcaption> </figure> <p>Science, at least in theory, is self-correcting. But a system prioritising profit and prestige corrects only when it must – and slowly.</p> <h2>It’s time to reform</h2> <p>Science advances not by being right, but by discovering where it’s wrong – and fixing it. Systemic reform must reframe prompt correction as a hallmark of integrity, not a badge of failure. </p> <p>Open correction platforms, shared data, and AI-assisted review tools already make rapid, collective scrutiny possible. What’s missing are the incentives and the courage to make that the new norm.</p> <p>If publishers can profit from paywalled errors, they can afford open corrections. If institutions and funders can count our papers and citations, they can also count our corrections.</p> <p>Journals should make corrections visible, prestigious, and citable, and expand “<a href="https://www.unesco.org/en/diamond-open-access">Diamond Open Access</a>” models. Wider access means more scrutiny and faster fixes. </p> <p>Institutions should reward transparency over output, funders should back post-publication verification, and researchers should favour publishers that value rigour over hype. </p> <p>You can encourage your university to join <a href="https://www.coalition-s.org/about/">cOAlition S</a> to advance fairer, faster correction. Readers, too, can help – by checking <a href="https://retractionwatch.com/">Retraction Watch</a> before citing.</p> <p>The tools for faster, fairer correction already exist – what’s missing is the will to use them. Errors are inevitable – but resigned silence isn’t. Science’s strength lies not in never being wrong, but in how effectively and openly it corrects itself.</p> <p><em>This article was updated on January 31, 2026, at 11:16 a.m. with the addition of an explanation about hydroxychloroquine in paragraph 9.</em></p><img src="https://counter.theconversation.com/content/272657/count.gif" alt="The Conversation" width="1" height="1" /> <p class="fine-print"><em><span>Para penulis tidak bekerja, menjadi konsultan, memiliki saham atau menerima dana dari perusahaan atau organisasi mana pun yang akan mengambil untung dari artikel ini, dan telah mengungkapkan bahwa ia tidak memiliki afiliasi di luar afiliasi akademis yang telah disebut di atas.</span></em></p> Academic publishing system often allows scientific errors to persist because it prioritises profit and prestige over timely correction. Douglas Sheil, Professor, Faculty of Environmental Sciences and Natural Resource Management, Wageningen University Erik Meijaard, Honorary Professor of Conservation, University of Kent Licensed as Creative Commons – attribution, no derivatives. tag:theconversation.com,2011:article/272721 2026-01-18T13:17:39Z 2026-01-18T13:17:39Z Survei membuktikan, mayoritas dosen Indonesia alami kekerasan di kampus <blockquote> <p>● Survei SPK menunjukkan pekerja kampus menghadapi kekerasan, eksploitasi, dan ketidakamanan.</p> <p>● Kerja paksa, tekanan psikologis, dan minimnya layanan kesehatan mental memicu stres tinggi dan ‘burnout’.</p> <p>● Transparansi dan akuntabilitas penting untuk menurunkan kekerasan, stres kerja, dan memperbaiki kondisi kerja di kampus.</p> </blockquote> <hr> <p>Kondisi lingkungan kerja di sektor pendidikan tinggi Indonesia menyimpan berbagai ancaman tersembunyi. <a href="https://spk.or.id/post/view/survei-nasional-ungkap-krisis-keamanan-dan-kesehatan-mental-pekerja-kampus-indonesia">Kampus belum sepenuhnya menjadi ruang aman bagi para pekerja kampus dan/atau mahasiswa yang ada di dalamnya</a>.</p> <p>Sebagai serikat yang memperjuangkan hak dan kesejahteraan pekerja di perguruan tinggi, <a href="https://spk.or.id/#:%7E:text=Serikat%20Pekerja%20Kampus%20(SPK)%20adalah,tenaga%20kependidikan%2C%20dan%20staf%20lainnya.">Serikat Pekerja Kampus (SPK)</a> melakukan <a href="https://www.youtube.com/live/5Sw7DP7hmiU">survei tentang keamanan kerja dan kesejahteraan psikologis pekerja kampus pada 2025 kemarin</a>.</p> <p></p> <p><a href="https://www.tempo.co/politik/serikat-pekerja-kampus-ungkap-91-kasus-pelecehan-seksual-verbal-terjadi-di-lingkungan-kampus-2083175">Survei elektronik selama enam bulan yang diikuti oleh 421 responden</a> dari seluruh Indonesia ini menemukan bahwa ancaman kekerasan, baik itu fisik, seksual, maupun psikis, masih banyak menimpa dosen-dosen di Indonesia. Kekerasan juga turut mengancam dalam bentuk regulasi atau kebijakan yang tidak memihak pekerja kampus.</p> <hr> <p> <em> <strong> Baca juga: <a href="https://theconversation.com/berniat-jadi-guru-atau-dosen-ini-2-masalah-hubungan-kerja-guru-dan-dosen-yang-perlu-diketahui-212365">Berniat jadi guru atau dosen? Ini 2 masalah hubungan kerja guru dan dosen yang perlu diketahui</a> </strong> </em> </p> <hr> <h2>Budaya feodal dan kerja paksa</h2> <figure> <iframe width="440" height="260" src="https://www.youtube.com/embed/?wmode=transparent&amp;start=0" frameborder="0" allowfullscreen=""></iframe> <figcaption><span class="caption">Diseminasi hasil survei SPK 2025.</span></figcaption> </figure> <p><a href="https://koreksi.org/2025/10/28/survei-spk-mengungkap-kerja-paksa-di-kampus/">Survei SPK</a> menemukan bahwa bentuk kekerasan fisik yang paling dominan bukanlah penganiayaan konvensional, melainkan “kerja paksa” untuk memberikan keuntungan ekonomi bagi pelaku. Jumlahnya sebanyak 46 laporan. </p> <p>Bentuk kerja paksa ini dapat berupa dosen junior yang diminta mengerjakan tugas-tugas atasan langsung/dosen senior. Bisa juga melalui pemberian pekerjaan ekstra tanpa waktu libur bahkan tanpa kompensasi yang adil.</p> <p>Eksploitasi atau kerja paksa umum terjadi karena kentalnya budaya feodal atau sungkan di Indonesia. Para pekerja harus menerima perintah senior ataupun atasan mereka untuk bekerja di luar jam kerja, bahkan memberikan perlakuan khusus.</p> <p>Kasus-kasus seperti <a href="https://regional.kompas.com/read/2026/01/14/153626978/terungkap-modus-perundungan-ppds-unsri-senior-minta-dibayari-uang-semester">perundungan mahasiswa Program Pendidikan Dokter Spesialis (PPDS)</a> menjadi contoh dari budaya dan senioritas ini.</p> <p>Jika berani menolak, mereka harus siap menerima hukuman berupa pengucilan, pengurangan jam mengajar, penumpukan pekerjaan, pengurangan upah, bahkan hingga diberi surat peringatan.</p> <p>Ini menunjukkan bahwa faktor ekonomi menjadi salah satu pemicu munculnya kekerasan fisik di kampus.</p> <hr> <p> <em> <strong> Baca juga: <a href="https://theconversation.com/berapa-gaji-dosen-berikut-hasil-survei-nasional-pertama-yang-memetakan-kesejahteraan-akademisi-di-indonesia-203854">Berapa gaji dosen? Berikut hasil survei nasional pertama yang memetakan kesejahteraan akademisi di Indonesia</a> </strong> </em> </p> <hr> <h2>Eksploitasi yang dianggap wajar</h2> <p>Secara umum, pekerja kampus mengalami tingkat stres pekerjaan yang cukup tinggi <a href="https://jakartasatu.com/2025/10/28/temuan-survei-nasional-2025-serikat-pekerja-kampus-spk-di-balik-menara-gading-ada-dunia-yang-retak/">(skor rata-rata mencapai 3,39 dari skala 5)</a>. Beban kerja yang berat, waktu yang singkat, dan tugas yang menumpuk menjadi sumber tekanan utama yang dilaporkan.</p> <p>Tak heran, tingkat kelelahan mental atau <em>burnout</em> di kalangan pekerja kampus secara signifikan berada di atas ambang batas wajar (p &lt; .001). <em>Burnout</em> secara signifikan lebih tinggi dialami oleh pekerja di PTN dibandingkan dengan PTS. </p> <p>Tingkat <em>burnout</em> tertinggi ditemukan pada kelompok pekerja dengan masa kerja tiga hingga enam tahun. Ini secara signifikan lebih tinggi dibandingkan kelompok senior dengan <a href="https://spk.or.id/post/view/survei-nasional-ungkap-krisis-keamanan-dan-kesehatan-mental-pekerja-kampus-indonesia">masa kerja 24 tahun atau lebih</a>.</p> <p><em>Burnout</em> memang menjadi ancaman serius bagi dosen. <a href="https://ojs.unimal.ac.id/ijpp/article/view/18484">Penelitian pada dosen Universitas Malikussaleh tahun 2025</a> menunjukkan bahwa dosen yang aktif bekerja di Universitas Malikussaleh adalah individu yang kelelahan akibat banyaknya aktivitas sebagai dosen: mengajar, membimbing, meneliti, mengabdi kepada masyarakat, dan lain-lain.</p> <p>Situasi tersebut diperparah dengan minimnya fasilitas kesehatan mental. Sebanyak 79,6% responden melaporkan bahwa perguruan tinggi mereka <a href="https://jakartasatu.com/2025/10/28/temuan-survei-nasional-2025-serikat-pekerja-kampus-spk-di-balik-menara-gading-ada-dunia-yang-retak/">tidak menyediakan fasilitas sama sekali (40,4%), tidak mengetahui keberadaannya (32,1%), atau menyediakan namun tidak memadai (17,1%)</a>.</p> <p><a href="https://spk.or.id/post/view/survei-nasional-ungkap-krisis-keamanan-dan-kesehatan-mental-pekerja-kampus-indonesia">Hanya 10,5% responden</a> yang merasa institusinya menyediakan fasilitas kesehatan mental yang lengkap dan dapat diakses kapan pun. </p> <p>Tidak heran mayoritas pekerja kampus memiliki tingkat <em>burnout</em> yang lebih tinggi di antara kalangan pekerja pada umumnya.</p> <h2>Terpaksa bungkam</h2> <p>Sementara itu, kekerasan seksual menunjukkan fenomena “gunung es”. Pelecehan verbal dan nonfisik seperti “ujaran yang mendiskriminasi tampilan fisik” (109 laporan) dan “ucapan bernuansa seksual” (91 laporan) sangat marak terjadi.</p> <p>Sebaliknya, tidak ada laporan seputar kekerasan seksual fisik yang paling berat—seperti perkosaan, penyiksaan seksual, dan perbudakan seksual—akibat kuatnya budaya bungkam.</p> <p>Ketakutan untuk melapor ini terjadi karena masih ada anggapan bahwa kekerasan seksual adalah <a href="https://jurnal.unpad.ac.id/sosioglobal/article/view/28440">aib yang memalukan</a> bagi korban dan/atau keluarga korban. Terlebih jika ada intimidasi atau ancaman dari pelaku yang <a href="https://www.abc.net.au/indonesian/2020-05-09/alasan-korban-pelecehan-seksual-tak-mau-melapor/12226414">memiliki posisi lebih tinggi atau lebih berkuasa.</a></p> <p>Kejadian kekerasan tersebut juga dapat terjadi secara sistematis, menunjukkan adanya kerentanan serius di lingkungan akademis. Kinerja Satuan Tugas Pencegahan dan Penanganan Kekerasan Seksual (Satgas PPKS), misalnya, <a href="https://theconversation.com/3-sebab-satgas-pencegahan-kekerasan-seksual-di-universitas-rentan-derita-eksploitasi-kerja-211446">menghadapi tantangan internal yang kompleks </a>—beberapa bahkan terpaksa mengundurkan diri.</p> <hr> <p> <em> <strong> Baca juga: <a href="https://theconversation.com/satgas-ppks-ui-terpaksa-mundur-sulitnya-menjamin-kampus-bebas-kekerasan-seksual-227224">Satgas PPKS UI terpaksa mundur: sulitnya menjamin kampus bebas kekerasan seksual</a> </strong> </em> </p> <hr> <h2>Transparansi jadi solusi</h2> <p>Dengan upah yang belum layak, pekerja kampus masih harus berjibaku dengan berbagai jenis kekerasan, baik itu kekerasan fisik, kekerasan psikis, maupun kekerasan seksual. Sementara, upaya pencegahan dan penanganan kekerasan masih belum efektif. </p> <p>Adanya satuan tugas memang dapat meningkatkan kesadaran dan pelaporan kasus perundungan, sekaligus menurunkan tingkat kekerasan eksplisit. Namun, belum terbukti dapat mengatasi kekerasan seksual.</p> <p>Salah satu solusi yang bisa dipakai adalah transparansi. <a href="https://www.youtube.com/live/5Sw7DP7hmiU">Survei ini</a> membuktikan, transparansi dapat menurunkan level stres kerja, <em>burnout</em>, serta meningkatkan efektivitas program pencegahan kekerasan dan kepatuhan terhadap standar kesehatan dan keselamatan kerja (K3).</p> <p>Artinya, untuk memperbaiki kondisi kerja di perguruan tinggi, kampus bisa memulainya dengan memperbaiki transparansi terlebih dahulu. Misalnya dengan memberikan transparansi soal keuangan, beban kerja, tata kelola dan lain-lain, sehingga tercipta iklim kerja yang tidak menyuburkan kekerasan.</p> <hr> <p> <em> <strong> Baca juga: <a href="https://theconversation.com/dosen-vs-negara-bersakit-sakit-dahulu-sejahteranya-kapan-272904">Dosen vs Negara: Bersakit-sakit dahulu, sejahteranya kapan?</a> </strong> </em> </p> <hr> <hr> <iframe src="https://tally.so/embed/dWaobV?alignLeft=1&amp;hideTitle=1&amp;transparentBackground=1&amp;dynamicHeight=1" width="100%" height="321" frameborder="0" marginheight="0" marginwidth="0" title="Survey Form"> </iframe><img src="https://counter.theconversation.com/content/272721/count.gif" alt="The Conversation" width="1" height="1" /> <p class="fine-print"><em><span>Dian Noeswantari terafiliasi dengan KIKA Kaukus Indonesia untuk Kebebasan Akademik, KPI Koalisi Perempuan Indonesia, SEPAHAM Serikat Pengajar HAM Indonesia, Lembaga Perlindungan Anak Jatim, South East Asian Human Rights Networks, pernah jadi fasilitator dan narsum di Badiklatda PDI Perjuangan Jatim, dan Universitas Surabaya (Ubaya) sbg dosen LB. Dian Noeswantari pernah menerima dana dari LPPM Ubaya, AusAID, SIDA Lund University, DIKTI, Unicef, EU Yappika Sepaham untuk penelitian dan kegiatan lainnya. </span></em></p> Ancaman kekerasan, baik itu kekerasan fisik, seksual, maupun psikis, termasuk dalam bentuk regulasi atau kebijakan, masih banyak menimpa dosen-dosen di Indonesia. Dian Noeswantari, Sessional Lecturer, Universitas Surabaya Licensed as Creative Commons – attribution, no derivatives. tag:theconversation.com,2011:article/272824 2026-01-15T09:23:13Z 2026-01-15T09:23:13Z Alor’s healing plants: a treasure trove of medical knowledge and oral tradition <blockquote> <p>“When a child has a fever, crush a ‘candlenut’ (<em>fiyaai</em> [<a href="https://www.sciencedirect.com/topics/agricultural-and-biological-sciences/aleurites-moluccanus"><em>Aleurites moluccanus</em></a>]). Add water to the mixture, and apply it to the child’s body. The fever will go down.” </p> </blockquote> <figure class="align-center zoomable"> <a href="https://images.theconversation.com/files/711377/original/file-20260108-64-bwpmid.jpg?ixlib=rb-4.1.0&amp;q=45&amp;auto=format&amp;w=1000&amp;fit=clip"><img alt="Aleurites moluccanus" src="https://images.theconversation.com/files/711377/original/file-20260108-64-bwpmid.jpg?ixlib=rb-4.1.0&amp;q=45&amp;auto=format&amp;w=754&amp;fit=clip" srcset="https://images.theconversation.com/files/711377/original/file-20260108-64-bwpmid.jpg?ixlib=rb-4.1.0&amp;q=45&amp;auto=format&amp;w=600&amp;h=808&amp;fit=crop&amp;dpr=1 600w, https://images.theconversation.com/files/711377/original/file-20260108-64-bwpmid.jpg?ixlib=rb-4.1.0&amp;q=30&amp;auto=format&amp;w=600&amp;h=808&amp;fit=crop&amp;dpr=2 1200w, https://images.theconversation.com/files/711377/original/file-20260108-64-bwpmid.jpg?ixlib=rb-4.1.0&amp;q=15&amp;auto=format&amp;w=600&amp;h=808&amp;fit=crop&amp;dpr=3 1800w, https://images.theconversation.com/files/711377/original/file-20260108-64-bwpmid.jpg?ixlib=rb-4.1.0&amp;q=45&amp;auto=format&amp;w=754&amp;h=1015&amp;fit=crop&amp;dpr=1 754w, https://images.theconversation.com/files/711377/original/file-20260108-64-bwpmid.jpg?ixlib=rb-4.1.0&amp;q=30&amp;auto=format&amp;w=754&amp;h=1015&amp;fit=crop&amp;dpr=2 1508w, https://images.theconversation.com/files/711377/original/file-20260108-64-bwpmid.jpg?ixlib=rb-4.1.0&amp;q=15&amp;auto=format&amp;w=754&amp;h=1015&amp;fit=crop&amp;dpr=3 2262w" sizes="(min-width: 1466px) 754px, (max-width: 599px) 100vw, (min-width: 600px) 600px, 237px"></a> <figcaption> <span class="caption">Candlenut tree’s leaves and fruits.</span> <span class="attribution"><a class="source" href="https://prota.prota4u.org/protav8.asp?g=pe&amp;p=Aleurites+moluccanus">PROTA4U</a>, <a class="license" href="http://creativecommons.org/licenses/by-nc-sa/4.0/">CC BY-NC-SA</a></span> </figcaption> </figure> <p>This healing formula doesn’t come from a section of the <a href="https://www.britannica.com/topic/Corpus-Hippocraticum">‘Hippocratic Collection’</a> or <a href="https://www.britannica.com/topic/Regimen-Sanitatis-Salernitanum">the ‘Salernitan Guide to Health’</a>, two of the most famous collections of ancient and medieval medical knowledge. </p> <p>It is an <a href="https://glottolog.org/resource/languoid/id/abui1241">Abui</a> oral prescription from <a href="https://www.britannica.com/place/Alor-Islands">Alor</a>, a small island from Eastern Indonesia. <a href="https://scholar.xjtlu.edu.cn/en/persons/FrancescoPerono/">My team and I</a> collected it and many others during our <a href="https://www.oxfordbibliographies.com/display/document/obo-9780199772810/obo-9780199772810-0075.xml">language documentation</a> fieldwork. </p> <hr> <p> <em> <strong> Baca juga: <a href="https://theconversation.com/finding-kape-how-language-documentation-helps-us-preserve-an-endangered-language-247465">Finding 'Kape': How Language Documentation helps us preserve an endangered language</a> </strong> </em> </p> <hr> <p>Indigenous Indonesian communities — like the <a href="https://www.britannica.com/topic/Papuan-people">Papuan</a> Abui people of Alor — are the custodians of very ancient knowledge. Their traditional healing practices rely on the masterful use of medicinal plants.</p> <p>Through years of fieldwork and research, we have documented how the <a href="https://www.mdpi.com/2409-9252/4/4/30">names of local healing plants</a>, their properties, and the related treatments are integrated into everyday conversation and practice among Indigenous communities. These names even shape local human geography <a href="https://cbg.uvt.ro/wp-content/uploads/2022/04/06_Lim_Cacciafoco.pdf">(toponyms)</a> and the plots of <a href="https://anale-lingvistica.reviste.ucv.ro/index.php/laucv/article/view/14">legends and folktales</a>. </p> <p>In short, those plant names are more than just vocabulary items in endangered or undocumented languages. They provide us with leads to a treasure trove of medical knowledge, cultural history, and unrecorded oral traditions.</p> <h2>Collecting the names, understanding the culture</h2> <p>Our studies on local <a href="https://en.wiktionary.org/wiki/phytonym">phytonyms</a> and medicinal plants represent an interdisciplinary effort originating from language documentation. We combine <a href="https://www.sciencedirect.com/topics/agricultural-and-biological-sciences/ethnobotany">ethnobotany</a> with <a href="https://www.oxfordbibliographies.com/display/document/obo-9780199772810/obo-9780199772810-0015.xml">field linguistics</a> to document mainly Papuan Indigenous contexts from Southeast Indonesia (Alor-Pantar Archipelago) — including Abui, <a href="https://theconversation.com/finding-kape-how-language-documentation-helps-us-preserve-an-endangered-language-247465">Kape</a>, <a href="https://glottolog.org/resource/languoid/id/papu1257">Papuna</a>, <a href="https://glottolog.org/resource/languoid/id/kama1365">Kamang</a>, <a href="https://glottolog.org/resource/languoid/id/kabo1247">Kabola</a>, <a href="https://glottolog.org/resource/languoid/id/kula1280">Kula</a>, and <a href="https://glottolog.org/resource/languoid/id/sawi1256">Sawila</a>.</p> <p>Collecting and analysing plant samples and their names involves working closely with Indigenous speakers — through direct and systematic interviews — as well as fieldwork and the development of an ongoing database. To ensure <a href="https://www.britannica.com/science/taxonomy">taxonomic</a> accuracy, we verify every identification with botanists from the Royal Botanic Gardens, <a href="https://www.kew.org/">Kew.</a></p> <p>For every plant, we record more than just its scientific classification and specimen data. We document its local name, English translation, and <a href="https://blogs.ntu.edu.sg/abui/">cultural roots</a> — uncovering the oral traditions, ancestral medical practices, and unwritten histories attached to each species.</p> <p>This interdisciplinary work proves that medicinal properties, undocumented stories and myths, and ancestral beliefs are <a href="https://anale-lingvistica.reviste.ucv.ro/index.php/laucv/article/view/157">deeply</a> and <a href="https://link.springer.com/rwe/10.1007/978-3-030-26825-1_62-1">intricately interwoven</a>. </p> <h2>Intertwined practices and heritage</h2> <p>Beyond their medicinal use, plants and fungi are woven into the cultural beliefs and traditions of the Abui people. They shape a complex system of Indigenous knowledge.</p> <p>Take the <em>ruui haweei</em>, or ‘rat’s ears’ mushroom (<a href="https://www.sciencedirect.com/topics/biochemistry-genetics-and-molecular-biology/auricularia-polytricha"><em>Auricularia polytricha</em></a>). Pregnant women eat this in the hope that their children will be born with beautiful ears.</p> <p>Then there is the <em>naai</em> or ‘pigeon pea’ (<a href="https://www.sciencedirect.com/topics/agricultural-and-biological-sciences/cajanus-cajan"><em>Cajanus cajan</em></a>). This plant is used to treat diseases in children believed to be caused by their father’s adultery.</p> <p>In this ritual, healers serve cooked pea porridge to the mother. The number of seeds left behind in the pot is said to reveal the number of women the husband has slept with. According to local belief, this revelation heals the sick child.</p> <figure class="align-center zoomable"> <a href="https://images.theconversation.com/files/711378/original/file-20260108-56-rv5a61.png?ixlib=rb-4.1.0&amp;q=45&amp;auto=format&amp;w=1000&amp;fit=clip"><img alt="Cajanus cajan" src="https://images.theconversation.com/files/711378/original/file-20260108-56-rv5a61.png?ixlib=rb-4.1.0&amp;q=45&amp;auto=format&amp;w=754&amp;fit=clip" srcset="https://images.theconversation.com/files/711378/original/file-20260108-56-rv5a61.png?ixlib=rb-4.1.0&amp;q=45&amp;auto=format&amp;w=600&amp;h=867&amp;fit=crop&amp;dpr=1 600w, https://images.theconversation.com/files/711378/original/file-20260108-56-rv5a61.png?ixlib=rb-4.1.0&amp;q=30&amp;auto=format&amp;w=600&amp;h=867&amp;fit=crop&amp;dpr=2 1200w, https://images.theconversation.com/files/711378/original/file-20260108-56-rv5a61.png?ixlib=rb-4.1.0&amp;q=15&amp;auto=format&amp;w=600&amp;h=867&amp;fit=crop&amp;dpr=3 1800w, https://images.theconversation.com/files/711378/original/file-20260108-56-rv5a61.png?ixlib=rb-4.1.0&amp;q=45&amp;auto=format&amp;w=754&amp;h=1089&amp;fit=crop&amp;dpr=1 754w, https://images.theconversation.com/files/711378/original/file-20260108-56-rv5a61.png?ixlib=rb-4.1.0&amp;q=30&amp;auto=format&amp;w=754&amp;h=1089&amp;fit=crop&amp;dpr=2 1508w, https://images.theconversation.com/files/711378/original/file-20260108-56-rv5a61.png?ixlib=rb-4.1.0&amp;q=15&amp;auto=format&amp;w=754&amp;h=1089&amp;fit=crop&amp;dpr=3 2262w" sizes="(min-width: 1466px) 754px, (max-width: 599px) 100vw, (min-width: 600px) 600px, 237px"></a> <figcaption> <span class="caption">‘Pigeon pea’ plant.</span> <span class="attribution"><a class="source" href="https://prota.prota4u.org/protav8.asp?h=M4&amp;t=Cajanus&amp;p=Cajanus+cajan#Synonyms">PROTA4U</a>, <a class="license" href="http://creativecommons.org/licenses/by-nc-sa/4.0/">CC BY-NC-SA</a></span> </figcaption> </figure> <p>Plants also play a role in conflict resolution. During tribal wars, the <em>luul meeting</em> or ‘long pepper’ (<em><a href="https://www.gbif.org/species/3086342">Piper retrofractum</a></em>) was used to symbolically cleanse the ‘warm blood’ spilled in battle. By eating the roots or nuts, villagers purified the bloodshed, allowing them to share meals again and chew <a href="https://www.sciencedirect.com/topics/agricultural-and-biological-sciences/betel-nut">betel nuts</a> in peace.</p> <p>Finally, the <em>bayooqa</em> tree (<a href="https://www.gbif.org/species/7910941"><em>Pterospermum diversifolium</em></a>) bridges the gap between medicine and the spirit world. While its leaves treat wounds and dysentery, its wood is sacred. It was traditionally used to build worship platforms for the ancient god ‘<a href="https://www.sciencedirect.com/science/article/abs/pii/S0024384116301784?via%3Dihub">Lamòling</a>’. </p> <p>Locals used these platforms in a ritual called <em>bayooqa liik hasuonra</em> (‘pushing down the platform’), performed forty days after a burial. Family members shared a ritual meal on a wooden slab before cutting down the posts and flipping the platform over — a final farewell to their relative.</p> <p>Our findings show that healing plants are not only central to the daily medicinal needs of Indigenous Papuan communities, but are also part of a deep-rooted cultural heritage. This knowledge shapes their local identity and guides them through every stage of life — from birth to death.</p><img src="https://counter.theconversation.com/content/272824/count.gif" alt="The Conversation" width="1" height="1" /> <p class="fine-print"><em><span>Francesco Perono Cacciafoco received funding from Xi&#39;an Jiaotong-Liverpool University (XJTLU): Research Development Fund (RDF) Grant, &quot;Place Names and Cultural Identity: Toponyms and Their Diachronic Evolution among the Kula People from Alor Island&quot;, Grant Number: RDF-23-01-014, School of Humanities and Social Sciences (HSS), Xi&#39;an Jiaotong-Liverpool University (XJTLU), Suzhou (Jiangsu), China, 2024-2025.</span></em></p> From healing wounds to rituals to atone adultery: how Indigenous plants and their names in Alor, Indonesia, unlock a treasure trove of medical and cultural secrets. Francesco Perono Cacciafoco, Associate Professor in Linguistics, Xi'an Jiaotong-Liverpool University Licensed as Creative Commons – attribution, no derivatives. tag:theconversation.com,2011:article/272825 2026-01-13T06:01:01Z 2026-01-13T06:01:01Z Paradoks pendidikan guru: Cemas soal kesejahteraan, mahasiswa enggan mengajar setelah lulus <blockquote> <p>● Banyak mahasiswa PGSD enggan menjadi guru karena gaji rendah, prospek karier, dan status sosial profesi.</p> <p>● Motivasi mengajar melemah akibat kesejahteraan yang buruk, beban administratif tinggi, dan kondisi kerja yang kompleks.</p> <p>● Diperlukan seleksi ketat, peningkatan kesejahteraan, dan jalur karier yang jelas agar profesi guru kembali diminati.</p> </blockquote> <hr> <p>Sebagai dosen sekaligus alumni Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD) di Universitas Negeri Makassar, saya meyakini bahwa menjadi guru adalah jalan pengabdian. Namun hari ini, di ruang-ruang kuliah, saya sering mendengar dari mahasiswa: “Pak, kalau ada pilihan lain, saya tidak ingin jadi guru.”</p> <p>Ini bukan sekadar ekspresi personal, tapi cermin kecemasan rasional terhadap masa depan profesi guru—khususnya guru sekolah dasar—yang dipengaruhi oleh status sosial di masyarakat.</p> <p>Gaji relatif rendah dan proyeksi karier yang kurang pasti membuat banyak lulusan fakultas pendidikan <a href="https://doaj.org/article/36230ef5956345e2af9c6a1ca8efb4df">beralih ke pekerjaan lain setelah lulus</a>. Selain itu, hanya sebagian kecil tenaga pengajar yang masih muda (berusia &lt;30 tahun), <a href="https://databoks.katadata.co.id/pendidikan/statistik/d2cc084660f1cfa/mayoritas-guru-di-indonesia-generasi-milenial?utm">sehingga regenerasi guru menghadapi tantangan besar.</a></p> <p>Di Indonesia, <a href="https://journal.umg.ac.id/index.php/didaktika/article/view/8865?utm">studi</a> menemukan bahwa kurikulum pendidikan tinggi perlu disesuaikan dengan tuntutan kompetensi di dunia industri guna meningkatkan keterserapan tenaga kerja lulusan.</p> <p><a href="https://journal.umg.ac.id/index.php/didaktika/article/view/8865?utm">Studi tahun 2024 ini</a> mengungkap bahwa banyak lulusan pendidikan beralih menjadi pegawai swasta, tutor, bahkan profesi lain yang bukan sebagai guru misalnya pegawai bank. Sebab, mereka mempertimbangkan kebutuhan ekonomi dan peluang kerja yang lebih menjanjikan. </p> <p>Jika persoalan ini terus dibiarkan, sekolah khususnya di tingkat SD di Indonesia akan kekurangan guru yang benar-benar fokus dan gembira mengajar di depan kelas. </p> <h2>Hilangnya motivasi</h2> <p>Persoalan terkait guru ini tidak hanya terjadi di Indonesia. Menurut <a href="https://www.oecd.org/en/publications/results-from-talis-2024_90df6235-en/full-report/sustaining-the-teaching-profession_c761a598.html">laporan Organisation for Economic Co-operation and Development (OECD) terbaru</a>, kesejahteraan kerja dan niat guru untuk bertahan menjadi isu utama dalam kebijakan pendidikan global. </p> <p>Motivasi memilih profesi mengajar dipengaruhi oleh <a href="https://www.researchgate.net/publication/396853104_Analysis_of_Fourth_Grade_Teacher_Motivation_at_Muhammadiyah_1_Candi_Sidoarjo_Analisis_motivasi_Guru_Kelas_IV_di_SD_Muhammadiyah_1_Candi_Sidoarjo">kombinasi faktor intrinsik dan ekstrinsik.</a> Secara intrinsik, motivasi menjadi guru bersumber dari dorongan internal yang tidak bergantung pada imbalan materi.</p> <p>Banyak calon guru merasakan kepuasan batin ketika melihat siswa mengalami perkembangan akademis maupun karakter, sehingga aktivitas mengajar dianggap sebagai pekerjaan yang bermakna.</p> <p></p> <p>Namun, apabila dorongan intrinsik tersebut tidak diimbangi dengan sistem kesejahteraan dan kondisi kerja yang memadai, motivasi perlahan melemah. Inilah mengapa sebagian mahasiswa pendidikan mulai kehilangan minat untuk benar-benar berkarier sebagai guru.</p> <p>Sementara secara eksternal, turunnya motivasi menjadi guru diperburuk oleh dinamika sistem rekrutmen dan kesejahteraan profesi guru.</p> <p><a href="https://www.oecd.org/en/publications/education-at-a-glance-2019_f8d7880d-en.html?">Data <em>OECD Education at a Glance</em> 2019</a> menunjukkan bahwa gaji guru, khususnya di jenjang sekolah dasar, cenderung berada di bawah rata-rata pendapatan lulusan perguruan tinggi lain.</p> <p>Realitas di lapangan juga menunjukkan bahwa kondisi kerja guru semakin kompleks. Banyak guru mengalami <a href="https://ejurnal.man4kotapekanbaru.sch.id/takuana/article/download/250/95/1732?utm">tekanan tugas administratif yang tinggi</a> karena tuntutan digitalisasi dan kurikulum yang hampir setiap tahun berubah, jam kerja yang panjang, serta tantangan dalam mengelola kelas yang beragam .</p> <p>Tak heran, banyak calon guru yang mengalami penurunan motivasi setelah beberapa semester/periode melakukan praktikum di lapangan. </p> <h2>Apa yang harus dilakukan</h2> <p>Ini adalah paradoks besar bagi dunia pendidikan guru: kami mencetak lulusan PGSD, tetapi semakin sedikit yang benar-benar ingin mengajar.</p> <p>Untuk mengatasinya, pemerintah dan pemangku kepentingan perlu mempertimbangkan beberapa kebijakan:</p> <p><strong>1. Perketat seleksi masuk pendidikan guru</strong></p> <p>Menjadikan proses masuk program studi PGSD dan program profesi guru lebih kompetitif bisa meningkatkan kualitas awal calon guru. Pendekatan berbasis kompetensi dan motivasi karier yang jelas harus diprioritaskan agar profesi guru menjadi pilihan yang terhormat dan diinginkan, bukan sekadar jalur pilihan pragmatis semata. </p> <p><strong>2. Reformasi kesejahteraan guru</strong></p> <p>Kesejahteraan guru, terutama pada tahap awal karier, perlu ditingkatkan untuk mengurangi anggapan bahwa profesi ini kurang menjanjikan dibandingkan profesi lain. Ini akan membantu meningkatkan retensi dan motivasi bertahan dalam profesi.</p> <hr> <p> <em> <strong> Baca juga: <a href="https://theconversation.com/upaya-hukum-yang-bisa-dilakukan-untuk-memperjuangkan-hak-guru-dan-dosen-213089">Upaya hukum yang bisa dilakukan untuk memperjuangkan hak guru dan dosen</a> </strong> </em> </p> <hr> <p><strong>3. Kembangkan jalur karier guru yang jelas</strong></p> <p>Menyediakan jalur karier yang transparan, termasuk promosi, pengembangan profesional, dan pengakuan sosial yang lebih kuat, dapat meningkatkan daya tarik profesi guru dan mendorong lulusan untuk tetap berada di sektor pendidikan. </p> <p>Meskipun ini sudah diterapkan melalui program Pendidikan Profesi Guru (PPG), tapi <em>output</em>-nya masih belum sesuai harapan. <a href="https://www.jer.or.id/index.php/jer/article/view/1825">Evaluasi pelaksanaan PPG</a> menunjukkan adanya kesenjangan antara penguasaan teori dan keterampilan praktis lulusan.</p> <p>Banyak peserta masih merasa kurang siap dalam manajemen kelas dan pemanfaatan teknologi pembelajaran karena pengalaman praktik lapangan yang terbatas. Alhasil, PPG belum sepenuhnya efektif mempersiapkan guru menghadapi realitas kelas.</p> <p>Kampus PGSD bukan pabrik ijazah. Negara harus melakukan tindakan nyata agar generasi muda kembali mau dan serius berkomitmen menjadi guru.</p> <hr> <p> <em> <strong> Baca juga: <a href="https://theconversation.com/kualitas-guru-di-indonesia-berisiko-tertinggal-tanpa-perbaikan-pendidikan-guru-awal-245170">Kualitas guru di Indonesia berisiko tertinggal tanpa perbaikan Pendidikan Guru Awal</a> </strong> </em> </p> <hr> <hr> <iframe src="https://tally.so/embed/D4k6Gb?alignLeft=1&amp;hideTitle=1&amp;transparentBackground=1&amp;dynamicHeight=1" width="100%" height="321" frameborder="0" marginheight="0" marginwidth="0" title="Survey Form"> </iframe><img src="https://counter.theconversation.com/content/272825/count.gif" alt="The Conversation" width="1" height="1" /> <p class="fine-print"><em><span>A. MUH. ALI tidak bekerja, menjadi konsultan, memiliki saham, atau menerima dana dari perusahaan atau organisasi mana pun yang akan mengambil untung dari artikel ini, dan telah mengungkapkan bahwa ia tidak memiliki afiliasi selain yang telah disebut di atas.</span></em></p> Banyak lulusan Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD) enggan mengajar karena rendahnya tingkat kesejahteraan dan lemahnya sistem rekrutmen guru. A. MUH. ALI, Dosen Pendidikan Guru Sekolah Dasar, Universitas Negeri Makassar Licensed as Creative Commons – attribution, no derivatives. tag:theconversation.com,2011:article/272748 2026-01-08T02:23:14Z 2026-01-08T02:23:14Z Ketika publik tak lagi percaya ahli, bagaimana memulihkan Indonesia dari krisis kepakaran? <blockquote> <p>● Cina mewajibkan kualifikasi akademis bagi ‘content creator’ untuk menegaskan nilai kepakaran.</p> <p>● Di Indonesia, krisis kepakaran dipicu lemahnya ekosistem pengetahuan, budaya riset dan standar akademis rendah, serta visibilitas.</p> <p>● Pemulihan kepakaran memerlukan standar akademis ketat, meritokrasi berbasis rekam jejak ilmiah, dan penguatan tabiat ilmiah masyarakat.</p> </blockquote> <hr> <p>Oktober 2025 lalu, badan Administrasi Ruang Siber China (CAC) membuat regulasi <a href="https://www.cnbctv18.com/world/chinas-new-influencer-law-wants-only-degree-holders-to-discuss-sensitive-topics-19730061.htm">baru</a> yang mensyaratkan para <em>content creator</em> memiliki kualifikasi akademis. Langkah Cina ini mungkin saja terbilang antidemokratis, tetapi bisa juga bermakna upaya penegasan kembali nilai-nilai kepakaran.</p> <p>Pemerintah Indonesia pun <a href="https://nasional.kompas.com/read/2025/11/01/06553811/komdigi-pertimbangkan-sertifikasi-untuk-influencer-seperti-di-china">mempertimbangkan</a> melakukan kebijakan serupa yang menyasar para <em>influencer</em> di bidang-bidang kesehatan, hukum, pendidikan, dan keuangan.</p> <p>Pro kontra kemudian <a href="https://economictimes.indiatimes.com/news/international/global-trends/us-news-no-degree-no-discussion-china-tightens-the-grip-on-influencers-and-its-new-law-has-sparked-massive-debate-online-check-details/articleshow/124929667.cms?">bermunculan</a>. Para pengkritik menyebutnya sebagai bentuk baru penyensoran yang disamarkan sebagai pengendalian kualitas.</p> <p>Namun, tak sedikit yang menganggap aturan ini masuk akal. Dengan internet, orang awam bisa berubah menjadi figur “pakar” hanya dengan modal rasa percaya diri. Ini berpeluang mendorong suburnya disinformasi.</p> <p>Di Tanah Air, gejala krisis disinformasi yang ada sedikit berbeda—kalau tidak bisa dibilang lebih parah. Selain disinformasi yang disebarkan oleh berbagai media termasuk para <em>influencer</em>, kepakaran juga sedang mengalami krisis kredibilitas. </p> <p>Salah satunya ditandai oleh komodifikasi gelar-gelar akademis tanpa otoritas yang berujung pada kekosongan epistemik yang mengancam kepentingan publik.</p> <h2>Runtuhnya otoritas epistemik</h2> <p>Indonesia tidak kekurangan orang pintar. Yang terjadi adalah kurangnya sistem kredibel yang memproduksi, memvalidasi, dan memelihara kepakaran.</p> <p>Situasi tersebut berhulu dari minimnya kehendak politis untuk membangun ekosistem pengetahuan. Ini ditandai dengan dana penelitian Indonesia yang terus saja di bawah <a href="https://data.worldbank.org/indicator/GB.XPD.RSDV.GD.ZS?locations=ID">0,3%</a> dari PDB—salah satu terendah di dunia.</p> <hr> <p> <em> <strong> Baca juga: <a href="https://theconversation.com/diskursus-matinya-kepakaran-di-media-sosial-bagaimana-agar-ilmuwan-tak-kalah-pamor-dari-influencer-244970">Diskursus "matinya kepakaran" di media sosial: Bagaimana agar ilmuwan tak kalah pamor dari 'influencer'</a> </strong> </em> </p> <hr> <p>Komunitas akademis kita juga rendah dinamika. Budaya tinjauan sejawat (<em>peer review</em>) masih lemah dan cenderung bersifat formalitas. Sementara publikasi akademis lebih sering <a href="https://www.pnas.org/doi/10.1073/pnas.2402202121">mementingkan</a> aspek birokratis daripada kualitas intelektual.</p> <p>Bahkan jabatan akademis yang dulu prestisius, pelan tapi pasti, kehilangan kemilaunya. </p> <p>Gelar “Guru Besar” atau “Profesor” dulu menjadi penanda sosok yang telah bertahun-tahun mengabdi dalam dunia penelitian dan berkontribusi penting pada ilmu pengetahuan. Kini, gelar tersebut dapat diperoleh hanya dengan satu publikasi di jurnal internasional bereputasi—terlepas dari dampak atau kontribusi intelektualnya. </p> <p>Standar yang sangat rendah ini menjadikan gelar profesor tidak lagi menjamin otoritas intelektual tapi hanya pemenuhan kelengkapan birokrasi. </p> <hr> <p> <em> <strong> Baca juga: <a href="https://theconversation.com/pelanggaran-akademis-warnai-perjalanan-menuju-guru-besar-di-indonesia-214079">Pelanggaran akademis warnai perjalanan menuju guru besar di Indonesia</a> </strong> </em> </p> <hr> <p>Wajar kalau kita yang di dunia akademisi sering mendengar istilah: “santai saja, semua profesor pada akhirnya”. Fenomena yang terjadi bukanlah kekosongan profesor, tetapi maraknya profesor “kosong”. </p> <p>Kekosongan ini kemudian diisi oleh <em>influencer</em>, <em>content creator</em>, atau para pengamat selebriti “palu gada"—apa yang lu mau gua ada.</p> <p>Jangan terkejut jika para selebritas pengamat ini tidak punya jejak publikasi ilmiah. Ide-ide yang bagi penggemarnya sangat brilian itu memang tidak pernah diuji atau diverifikasi secara ilmiah.</p> <h2>Akademisi ‘offside’</h2> <p>Di lingkungan perguruan tinggi, kondisi ini diperparah dengan <a href="https://theconversation.com/pakar-menjawab-seperti-apa-potret-gaji-dan-realitas-kesejahteraan-dosen-di-indonesia-193044">rendahnya kesejahteraan dosen</a>. Banyak dosen bahkan profesor bekerja sampingan sebagai instruktur pelatihan, konsultan swasta, konsultan pemerintah atau menjadi komentator televisi yang acapkali jauh dari bidang keahlian mereka.</p> <hr> <p> <em> <strong> Baca juga: <a href="https://theconversation.com/berapa-gaji-dosen-berikut-hasil-survei-nasional-pertama-yang-memetakan-kesejahteraan-akademisi-di-indonesia-203854">Berapa gaji dosen? Berikut hasil survei nasional pertama yang memetakan kesejahteraan akademisi di Indonesia</a> </strong> </em> </p> <hr> <p>Seiring waktu, visibilitas menggantikan verifikasi. Pihak yang paling "terlihat” menjadi yang paling kredibel terlepas dari apa kompetensinya. Validitas digantikan visibilitas, bukti dikalahkan oleh citra personalitas.</p> <p></p> <p>Pemilihan pejabat publik juga idealnya memberi contoh ke masyarakat. Pertimbangan loyalitas politik, visibilitas “pakar” dan jumlah pengikutnya di media sosial jangan menjadi <a href="https://nasional.kompas.com/read/2025/11/17/10450781/influencer-jabatan-publik-dan-panggung-popularitas?page=all">pertimbangan utama</a> dalam pemilihan jabatan publik. Sangat ironis, jika sampai penyebar disinformasi, atau penggemar teori konspirasi, naik pangkat jadi penentu kebijakan.</p> <p>Krisis kepakaran juga menembus ruang-ruang pengadilan. Dalam kasus kerusakan lingkungan—penambangan ilegal, pembukaan lahan, sungai tercemar—hakim sering <a href="https://www.sciencedirect.com/science/article/pii/S1462901123002800">menyederhanakan</a> sifat multidisiplin dalam menghitung kerugian. </p> <p>Padahal, filosofi kerendahan hati akademis (<em>academic humility</em>) biasanya mensyaratkan pendekatan multidisipliner, apalagi untuk kasus-kasus lingkungan yang merugikan negara triliunan rupiah.</p> <p>Untuk kasus-kasus lingkungan besar di negara lain, pengadilan membentuk <a href="https://onlinelibrary.wiley.com/doi/10.1002/ieam.4940">panel ahli</a> yang terdiri dari para pakar dari berbagai bidang. Ada ekonom, hidrolog, ekolog, ahli hukum, dan lain-lain. Mereka bekerja bersama, melakukan studi primer, menjalankan proses <em>peer-review</em> dan bekerja sesuai prinsip-prinsip ilmiah baku. </p> <p>Yang terpenting mereka dipilih karena rekam jejak akademis yang tercatat pada publikasi-publikasi ilmiahnya.</p> <p>Kita harus menghindari jangan sampai hukuman seseorang ditentukan hanya oleh hitung-hitungan satu lembar <em>spreadsheet</em> yang dibuat satu atau dua orang yang pekerjaannya tidak cukup terverifikasi.</p> <h2>Membangun kembali otoritas pengetahuan</h2> <p>Krisis kepakaran harus segera diatasi. Langkah pertama bisa dimulai dengan meningkatkan standar promosi akademis terutama untuk jabatan guru besar, dan mengombinasikannya dengan perbaikan sistem insentif.</p> <p>Kemudian, praktik penunjukan jabatan-jabatan publik strategis perlu dilakukan secara lebih transparan. Meritokrasi berbasis rekam jejak dan reputasi akademis perlu diperkuat sebagai basis pengisian jabatan-jabatan strategis tersebut.</p> <p>Asosiasi-asosiasi keilmuan juga perlu diperkuat, termasuk jaringannya ke komunitas epistemik internasional. Asosiasi-asosiasi inilah yang dapat menjadi referensi ketika sebuah institusi, misalnya pengadilan, membutuhkan kepakaran tertentu dalam kasus-kasusnya. </p> <p>Sistem peradilan juga perlu mengalokasikan anggaran yang cukup untuk membentuk panel ahli untuk kasus-kasus besar.</p> <hr> <p> <em> <strong> Baca juga: <a href="https://theconversation.com/indonesia-perlu-lebih-banyak-pemimpin-yang-implementasikan-kebijakan-berbasis-riset-130113">Indonesia perlu lebih banyak pemimpin yang implementasikan kebijakan berbasis riset</a> </strong> </em> </p> <hr> <p>Terakhir, pelan tapi pasti kita harus membangun tabiat ilmiah (<em>scientific temper</em>) di masyarakat. <a href="https://www.epw.in/engage/article/scientific-temper">Tabiat ilmiah</a> adalah budaya kita sebagai masyarakat untuk berpikir menggunakan metode-metode ilmiah dalam melihat dan menyelesaikan berbagai persoalan.</p> <p>Kita bisa belajar ke India. Di sana, kewajiban warga negara untuk <a href="https://theleaflet.in/civil-justice/what-does-the-indian-constitution-truly-ask-of-its-citizens-when-it-speaks-of-scientific-temper#:%7E:text=The%20Indian%20Constitution%20envisions%20science,science%2C%20and%20in%20whose%20name.">menjaga tabiat ilmiah tercantum secara eksplisit dalam konstitusi negara</a>.</p> <p></p> <p>Tentunya ini bisa dimulai dengan pendidikan sains berjenjang dari yang terendah sampai tertinggi. Selain juga kampanye dan promosi yang terus menerus di jalur formal maupun informal. </p> <p>Pada akhirnya, keluarnya kita dari krisis kepakaran sangat tergantung dari seberapa cepat kita membangun masyarakat bertabiat ilmiah. </p> <p>Kita mungkin tidak perlu mengikuti Cina dengan mewajibkan sertifikasi <em>influencer</em>. Di Indonesia, langkah semacam itu hanya akan mengobati gejala, bukan menyembuhkan penyakitnya. </p> <p>Yang jauh lebih penting adalah memulihkan kredibilitas kepakaran dengan menata ulang sistem yang melahirkannya dan membangun ekosistem yang membuatnya kembali dipercaya dan relevan.</p> <hr> <iframe src="https://tally.so/embed/Y50JON?alignLeft=1&amp;hideTitle=1&amp;transparentBackground=1&amp;dynamicHeight=1" width="100%" height="321" frameborder="0" marginheight="0" marginwidth="0" title="Survey Form"> </iframe><img src="https://counter.theconversation.com/content/272748/count.gif" alt="The Conversation" width="1" height="1" /> <p class="fine-print"><em><span>Arief Anshory Yusuf adalah anggota Dewan Ekonomi Nasional.</span></em></p> Di Indonesia, krisis kepakaran kian parah karena disinformasi dan komodifikasi gelar akademis yang merusak kredibilitas pengetahuan dan mengancam kepentingan publik. Arief Anshory Yusuf, Professor in Economics, Universitas Padjadjaran Licensed as Creative Commons – attribution, no derivatives. tag:theconversation.com,2011:article/272904 2026-01-08T01:35:59Z 2026-01-08T01:35:59Z Dosen vs Negara: Bersakit-sakit dahulu, sejahteranya kapan? <figure><img src="https://images.theconversation.com/files/711137/original/file-20260107-56-7ibyg5.jpg?ixlib=rb-4.1.0&amp;rect=0%2C667%2C2430%2C1620&amp;q=45&amp;auto=format&amp;w=1050&amp;h=700&amp;fit=crop" /><figcaption><span class="caption"></span> <span class="attribution"><span class="source">Berna Elif/Pexels</span></span></figcaption></figure><p>Profesi dosen sering dipandang sebagai pekerjaan yang mapan, bergengsi, dan sejahtera secara finansial. Namun, di balik jas almamater dan gelar akademis yang mentereng, tersimpan realita pahit di mana banyak dosen di Indonesia yang masih digaji jauh di bawah Upah Minimum Regional (UMR).</p> <p>Meski sudah berlangsung lama, persoalan ini tak kunjung menemukan titik terangnya.</p> <p>Memasuki tahun baru 2026, kawan-kawan Serikat Pekerja Kampus (SPK) memulai babak baru perjuangan kesejahteraan dosen dengan melayangkan tuntutan ke Mahkamah Konsitusi (MK). </p> <p>Mereka mengajukan gugatan atas pasal 52 ayat (1), ayat (2), dan ayat (3) UU Nomor 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen, dan meminta agar gaji pokok dosen setara dengan Upah Minimum Regional (UMR).</p> <p>Dalam episode <em>SuarAkademia</em> kali ini, The Conversation Indonesia berbincang dengan Rizma Afian Azhiim—anggota SPK sekaligus dosen dari Universitas Bhayangkara Jakarta Raya—tentang kesejahteraan dosen sekaligus kerentanan profesi ini dan langkah hukum yang sedang mereka tempuh.</p> <p>Menurut Azhiim, tuntutan mereka sebenarnya sederhana tapi fundamental, yaitu gaji pokok (<em>basic wage</em>) pendidik harus minimal setara dengan UMR/UMP. Ia menegaskan, SPK menolak praktik kampus yang mengklaim sudah memenuhi UMR dengan cara menggabungkan gaji pokok kecil dengan tunjangan tidak tetap. Azhiim berpendapat, gaji pokok adalah hak dasar yang tidak bisa ditawar (<em>non-negotiable</em>).</p> <p>Lebih jauh, Azhiim mengungkapkan temuan miris di lapangan, di mana masih ada dosen di kota besar seperti Bandung yang hanya menerima gaji sekitar Rp 1,5 juta per bulan. Ia menyoroti bahwa akar masalahnya terletak pada sistem pengupahan yang berbasis jumlah SKS mengajar.</p> <p>Azhiim memaparkan bahwa banyak universitas hanya membayar dosen di masa kuliah aktif, tapi tidak saat libur semester karena tidak ada kelas. Padahal, Azhiim mengingatkan, di masa libur pun dosen tetap bekerja melakukan penelitian dan tugas administrasi, sehingga keringat mereka diperas tapi tidak dihitung sebagai kinerja.</p> <p>Azhiim menambahkan, terdapat empat masalah sistemik yang menghantui dosen di Indonesia hari ini. Ini termasuk upah tidak layak akibat ketidakjelasan standar gaji minimum, hingga kekerasan fisik maupun psikis di lingkungan kampus. </p> <p>Selain itu, Azhiim juga menggarisbawahi isu kriminalisasi, di mana dosen yang vokal sering dibungkam dengan UU ITE, serta masalah keamanan kerja (<em>job security</em>) terkait maraknya status dosen kontrak seumur hidup tanpa jaminan pensiun.</p> <p>Azhiim juga menyebut “Surat Lolos Butuh"—surat resmi dari instansi asal yang menyatakan persetujuan pelepasan atau pemindahan dosen ke instansi lain—sebagai salah satu isu paling kontroversial. Pasalnya, dosen bisa kesulitan untuk mengundurkan diri atau pindah kampus akibat rumitnya syarat "Surat Lolos Butuh” ini. Menurut Azhiim, sistem administrasi ini bisa mematikan karier dosen jika kampus asal menolak menerbitkan surat tersebut, sehingga data dosen tersandera. </p> <p>Azhiim bahkan secara tegas menyebut praktik mengikat pekerja tanpa kebebasan untuk keluar ini sebagai bentuk “perbudakan modern”. Hal ini juga memicu perdebatan terkait inkonsistensi regulasi pemerintah.</p> <p>Dua tahun lalu, harapan sempat muncul lewat Permendikbud Ristek No. 44 Tahun 2024 yang menjanjikan sanksi bagi kampus nakal, tapi pelaksanaannya justru ditunda. Parahnya, regulasi baru di tahun 2025 justru dinilai memundurkan perlindungan dengan menghapus sanksi tegas tersebut. Menurut Azhiim, ketidakpastian hukum ini membuat posisi tawar dosen semakin lemah di hadapan yayasan atau rektorat.</p> <p>Azhiim mengajak kita untuk berefleksi bahwa pendidikan tinggi seharusnya dilihat sebagai usaha sosial (<em>social enterprise</em>), bukan sekadar ladang bisnis pencari <em>profit</em>. Ia percaya bahwa kesejahteraan dosen berbanding lurus dengan kualitas pendidikan bangsa, sehingga mustahil mencetak generasi emas jika pengajarnya masih harus berjuang hanya untuk sekadar makan layak.</p> <p>Simak episode lengkapnya hanya di <em>SuarAkademia</em>—ngobrol seru isu terkini, bareng akademisi. Kamu bisa mendengarkan episode SuarAkademia lainnya yang terbit setiap pekan di Spotify, Youtube Music dan Apple Podcast.</p><img src="https://counter.theconversation.com/content/272904/count.gif" alt="The Conversation" width="1" height="1" /> Profesi dosen sering dipandang sebagai pekerjaan yang mapan, bergengsi, dan sejahtera secara finansial. Namun, di balik jas almamater dan gelar akademis yang mentereng, tersimpan realita pahit di mana… Resya Arva Vradana, Podcast Producer, The Conversation Licensed as Creative Commons – attribution, no derivatives. tag:theconversation.com,2011:article/271100 2026-01-07T05:45:40Z 2026-01-07T05:45:40Z Memahami tren populisme dan otoritarianisme melalui pemikiran Hannah Arendt <blockquote> <p>● Menurut Hannah Arendt, populisme dan otoritarianisme berakar pada ‘worldlessness’: runtuhnya ruang publik dan ikatan kolektif. </p> <p>● Arendt menekankan bahwa hakikat politik adalah ‘freedom’ (tindakan di ruang publik), bukan ‘liberation’ (pembebasan). </p> <p>● Populisme dan otoritarianisme masa kini memanfaatkan sentimen ‘ingroup–outgroup’ dan kerinduan akan ikatan kolektif.</p> </blockquote> <hr> <p>Tahun 2025 adalah peringatan <a href="https://www.goethe.de/ins/id/de/kul/ges/hna.html">50 tahun</a> kematian Hannah Arendt, salah seorang filsuf perempuan yang berpengaruh di abad 20. Arendt mewariskan pemikiran penting, terutama kritik terhadap totalitarianisme dan liberalisme yang masih relevan sampai sekarang. </p> <p>Pemikiran Arendt lahir dari pengalamannya menyaksikan kebangkitan totalitarianisme, baik dalam rezim fasis di Jerman dan Italia maupun komunisme Uni Soviet. Dari konteks inilah ia mengembangkan analisis tentang krisis politik modern.</p> <p>Menurut Arendt, totalitarianisme bukan sekadar persoalan rezim, melainkan gejala dari persoalan yang lebih mendasar, yaitu <a href="https://plato.stanford.edu/entries/arendt/">keterpisahan manusia dari dunia bersama</a> (<em>worldlessness</em>). </p> <p>“Dunia” dalam konsep Arendt dimaknai sebagai ruang publik tempat manusia berinteraksi. Sementara <em>worldlessness</em> menggambarkan hilangnya komitmen etis untuk merawat kebersamaan di ruang publik tersebut. </p> <hr> <p> <em> <strong> Baca juga: <a href="https://theconversation.com/filosofi-pembebasan-mengenang-pemikiran-karl-marx-dan-relevansinya-dengan-indonesia-sekarang-229313">Filosofi pembebasan: mengenang pemikiran Karl Marx dan relevansinya dengan Indonesia sekarang</a> </strong> </em> </p> <hr> <p>Konsep <em>worldlessness</em> ini dapat menjadi pijakan untuk memahami tren <a href="https://doi.org/10.1093/ia/iiae217">populisme</a> dan <a href="https://doi.org/10.17645/pag.v6i2.1498">otoritarianisme</a> yang berkembang di era liberalisme seperti sekarang ini.</p> <h2>Hilangnya komitmen bersama dalam politik</h2> <p>Hasrat individualisme dan kepentingan sosial ekonomi di dalam <a href="https://www.researchgate.net/publication/358864026_Globale_Zivilgesellschaft_Wie_aktuell_ist_Hannah_Arendt_Der_Sinn_von_Politik_ist_Freiheit_Was_hat_das_mit_Fridays_for_Future_zu_tun">sistem liberalisme</a>, menurut Arendt, telah menggerus <em>sensus communis</em> (ikatan kolektif). Akibatnya, individu terisolasi dari komunitasnya.</p> <p>Salah satu <a href="https://www.bpb.de/lernen/inklusiv-politisch-bilden/505229/das-politische-als-kern-der-politischen-bildung-hannah-arendt/">unsur penting <em>sensus communis</em></a> adalah komitmen menjaga pluralitas dan berdialog di ruang publik tanpa harus merasa terancam dengan kehadiran pihak lain yang berbeda.</p> <p>Dengan tergerusnya ikatan kolektif, politik tidak lagi menjadi ruang bersama untuk mewujudkan <em>freedom</em> (kebebasan), tetapi menjadi instrumen untuk mengejar <em>necessity</em> (kebutuhan material untuk bertahan hidup). </p> <p>Arendt juga menegaskan perbedaan <a href="https://www.jstor.org/stable/191431"><em>freedom</em> (kebebasan) dan <em>liberation</em> (pembebasan)</a>. Menurut dia, <a href="https://www.jstor.org/stable/191431"><em>liberation</em></a> merujuk pada ketiadaan dominasi yang menghalangi setiap individu, termasuk di ruang privat. </p> <p>Sebagai contoh, tergulingnya rezim otoritarian seperti dalam peristiwa <a href="https://www.nationalgeographic.com/culture/article/arab-spring-cause"><em>Arab Spring</em></a> di Timur Tengah atau <a href="https://tirto.id/sejarah-reformasi-1998-latar-belakang-dan-dampaknya-gJnx">Reformasi 1998</a> di Indonesia adalah bentuk <em>liberation</em>. </p> <p>Akan tetapi, <em>liberation</em> tidak menjamin terciptanya sebuah <em>freedom</em>. <a href="https://www.jstor.org/stable/191431"><em>Freedom</em></a> adalah terbukanya ruang untuk mengambil inisiatif bersama dan bertindak. </p> <p>Terbukanya ruang partisipasi politik di tengah perbedaan yang menjamin kesetaraan adalah <em>freedom</em>. <em>Liberation</em> bisa jadi hanya mengganti rezim otoritarian, tapi gagal menciptakan ruang publik yang adil. </p> <p>Bagi Arendt, hakikat dari politik adalah <a href="https://www.jstor.org/stable/191431"><em>freedom</em>, bukan <em>liberation</em>.</a> Karena itu, ia secara tegas <a href="https://archive.org/details/dli.ernet.528547">memisahkan politik dari kepentingan sosial ekonomi</a>. Tujuannya, menjamin ruang publik agar tidak dikuasai oleh tuntutan kebutuhan privat.</p> <h2>Jebakan populisme</h2> <p>Di banyak negara Barat, populisme umumnya muncul dalam bentuk sentimen <a href="https://doi.org/10.1007/s12134-025-01247-z">anti-imigran</a> dan <a href="https://doi.org/10.1093/oso/9780197648995.001.0001">anti-Islam</a> yang dibingkai dengan ancaman terhadap eksistensi penduduk pribumi kulit putih.</p> <p>Populisme telah mengeksploitasi perbedaan di dalam masyarakat dengan skema <a href="https://doi.org/10.1057/s41269-024-00368-0">favoritisme <em>ingroup</em> (kita) vs diskriminasi <em>outgroup</em> (mereka)</a> berdasarkan <a href="https://www.sciencedirect.com/topics/psychology/social-identity-theory">kategori sosial</a> seperti ras, agama dan suku. Ini adalah mekanisme menggalang sentimen solidaritas dengan membingkai <em>ingroup</em> dengan citra positif dan <em>outgroup</em> dengan citra negatif. </p> <p>Dengan cara demikian, populisme semakin membangun sentimen superioritas <em>ingroup</em> terhadap <em>outgroup</em>.</p> <hr> <p> <em> <strong> Baca juga: <a href="https://theconversation.com/tipu-daya-populisme-prabowo-memperkuat-polarisasi-menghilangkan-oposisi-249746">Tipu daya populisme Prabowo: Memperkuat polarisasi, menghilangkan oposisi</a> </strong> </em> </p> <hr> <p>Partai-partai sayap kanan seperti <a href="https://www.zeit.de/gesellschaft/zeitgeschehen/2024-09/afd-aufstieg-abwanderungsplaene-migrationshintergrund-studie"><em>Alternative für Deutschland</em></a> (AfD) di Jerman, <a href="https://www.economist.com/briefing/2025/12/11/once-a-pariah-the-national-rally-is-now-frances-most-popular-party"><em>Rassemblement National</em></a> (RN) di Prancis dan <a href="https://nccr-onthemove.ch/blog/italy-setting-trends-in-the-european-radical-right-the-success-of-fratelli-ditalia/?lang=de"><em>Fratelli D'Italia</em></a> di Italia berhasil memanfaatkan narasi ini untuk meraih dukungan politik.</p> <p>Dalam populisme semacam ini, ikatan kolektif di tengah pluralitas menjadi mustahil terwujud. Padahal, koeksistensi (hidup berdampingan secara damai) dan kerja sama politik hanya mungkin terjadi jika ada ikatan bersama.</p> <p>Ikatan tersebut adalah bentuk persahabatan politik yang tidak berdasarkan pada kesamaan ras, agama atau kategori sosial yang lain. Bukan pula ikatan itu berbasiskan rasa suka atau tidak suka ataupun kesamaan ideologi.</p> <p>Menurut Arendt, persahabatan politik dibangun atas dasar <a href="https://doi.org/10.1177/01914537241232580">penghormatan</a> terhadap sesama manusia <a href="https://www.bpb.de/lernen/inklusiv-politisch-bilden/505229/das-politische-als-kern-der-politischen-bildung-hannah-arendt/">untuk merawat kebersamaan</a> di tengah pluralitas masyarakat.</p> <p>Pluralitas sendiri adalah <a href="https://archive.org/details/dli.ernet.528547">hal intrinsik yang melekat pada diri manusia</a>. Ia bukan sekadar keanekaragaman jenis yang bisa diukur, tetapi <a href="https://www.bpb.de/lernen/inklusiv-politisch-bilden/505229/das-politische-als-kern-der-politischen-bildung-hannah-arendt/">pengakuan akan kesetaraan sekaligus perbedaan</a>.</p> <p>Dengan pluralitas, perbedaan tidak dinegasikan tapi dikelola melalui interaksi yang terbuka dan setara bagi siapa saja. Prinsip inilah yang menjadi fondasi keadilan di ruang publik.</p> <h2>Mundurnya demokrasi?</h2> <p>Tren otoritarianisme berkelindan dengan kemunduran demokrasi. Di Indonesia, munculnya <a href="https://ash.harvard.edu/wp-content/uploads/2023/12/democracy_and_authoritarianism_in_the_21st_century-_a_sketch.pdf">gejala-gejala otoritarianisme</a> ditandai dengan terkonsentrasinya kekuasaan pada segelintir elite politik, rusaknya institusi demokrasi, hilangnya partisipasi publik maupun <em>check &amp; balance</em> dalam mekanisme pengambilan keputusan politik, dan pengekangan kebebasan sipil. </p> <hr> <p> <em> <strong> Baca juga: <a href="https://theconversation.com/80-tahun-indonesia-runtuhnya-negara-hukum-dan-wajah-baru-otoritarianisme-241574">80 tahun Indonesia: Runtuhnya negara hukum dan wajah baru otoritarianisme</a> </strong> </em> </p> <hr> <p>Sayangnya, gaya kepemimpinan otoriter yang menuntut ketaatan buta justru kerap diminati oleh kelompok masyarakat tertentu. Mereka cenderung <a href="https://pmc.ncbi.nlm.nih.gov/articles/PMC9983523/">mudah terpesona oleh gaya kepemimpinan otoriter</a> akibat merasa curiga atau terancam oleh keberadaan <em>outgroup</em> karena dianggap akan menggerus nilai-nilai serta tradisi yang dianut oleh <em>ingroup</em>. </p> <p>Lewat populisme, <a href="https://www.journalofdemocracy.org/articles/the-enduring-vulnerability-of-liberal-democracy/">sosok-sosok otoriter</a> memanfaatkan harapan sebagian segmen masyarakat untuk memulihkan kembali ikatan kolektif dengan tradisi lokal yang terpinggirkan oleh derasnya arus modernisasi dan liberalisme. </p> <p></p> <p>Budaya liberalisme jugalah yang mendorong isolasi individu (<a href="https://doi.org/10.1007/978-94-015-9440-0_5">atomisasi</a>) di dalam masyarakat sekaligus mencerabut ikatan kolektif masyarakat terhadap tradisi. Ini juga yang menjadi gejala <em>worldlessness</em> dalam masyarakat liberal.</p> <p>Dengan kata lain, jika menggunakan pendekatan Arendt, otoritarianisme dan populisme tidak semata-mata fenomena politik, tetapi fenomena kultural antropologis. Keduanya berkembang di tengah runtuhnya ruang publik, sambil mempropagandakan ikatan kolektif dan sentimen anti-asing.</p> <hr> <iframe src="https://tally.so/embed/aQ5DVB?alignLeft=1&amp;hideTitle=1&amp;transparentBackground=1&amp;dynamicHeight=1" width="100%" height="321" frameborder="0" marginheight="0" marginwidth="0" title="Survey Form"> </iframe><img src="https://counter.theconversation.com/content/271100/count.gif" alt="The Conversation" width="1" height="1" /> <p class="fine-print"><em><span>Martinus Ariya Seta tidak bekerja, menjadi konsultan, memiliki saham, atau menerima dana dari perusahaan atau organisasi mana pun yang akan mengambil untung dari artikel ini, dan telah mengungkapkan bahwa ia tidak memiliki afiliasi selain yang telah disebut di atas.</span></em></p> Individualisme dan kepentingan sosial ekonomi telah menggerus ikatan komunitas. Sehingga, politik sekadar menjadi instrumen pemenuhan kebutuhan material. Martinus Ariya Seta, Dosen, Universitas Sanata Dharma Licensed as Creative Commons – attribution, no derivatives. tag:theconversation.com,2011:article/272560 2026-01-06T08:00:48Z 2026-01-06T08:00:48Z Negara minta guru jadi konselor: Tak adil bagi guru, tak aman buat siswa <blockquote> <p>● Menjadikan guru sebagai konselor berisiko membebani guru, mengaburkan peran profesional, dan mengancam keselamatan siswa.</p> <p>● Peran konseling memerlukan keahlian khusus.</p> <p>● Deteksi dini dan pelaporan menjadi solusi realistis dan berkelanjutan untuk menjaga siswa dan guru.</p> </blockquote> <hr> <p>November 2025 lalu, <a href="https://nasional.kompas.com/read/2025/11/11/16432931/semua-guru-kini-punya-tugas-bimbingan-konseling-cegah-kekerasan-di-sekolah">Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Abdul Mu'ti</a> menegaskan bahwa semua guru harus turut menjadi guru Bimbingan Konseling (BK) guna mencegah kekerasan di sekolah.</p> <p>Meski terlihat progresif, kebijakan yang terkesan terburu-buru tanpa melibatkan analisis kesiapan sekolah dan dampak implementasi ini, berpotensi besar menimbulkan masalah baru. </p> <p><a href="https://files.eric.ed.gov/fulltext/ED540203.pdf">Sekolah</a> memang berperan penting dalam tumbuh kembang, serta perubahan perilaku dan emosional. Guru pun sering kali menjadi pihak pertama yang menyadari perubahan tersebut. </p> <p>Namun, kemampuan guru mata pelajaran dalam mengidentifikasi perubahan dalam perilaku murid akan berbeda dengan kemampuan yang dimiliki oleh guru BK.</p> <p></p> <p><a href="https://pmc.ncbi.nlm.nih.gov/articles/PMC12130425/">Konselor sekolah</a> terlatih secara khusus untuk menangani trauma, memastikan siswa mendapatkan dukungan yang diperlukan serta berperan penting dalam menjalin <a href="https://journals.sagepub.com/doi/10.1177/20556365241295299">kerja sama</a> dengan guru, orang tua dan tenaga ahli eksternal jika dibutuhkan. </p> <p>Selama ini, salah satu alasan utama <a href="https://onlinelibrary.wiley.com/doi/epdf/10.1002/capr.12816?saml_referrer">peran konselor</a> tidak maksimal di sekolah adalah ketidakjelasan batas peran dan lemahnya identitas profesional.</p> <p>Sebuah <a href="https://pmc.ncbi.nlm.nih.gov/articles/PMC10804620/">penelitian tahun 2024 di Australia</a>, misalnya, menemukan bahwa guru kerap merasa tidak cukup mumpuni untuk menanganinya. Guru mengkhawatirkan intervensi mereka justru dapat memperburuk keadaan murid.<br> Ini menegaskan bahwa kejelasan peran antara guru dan konselor sangatlah penting untuk melindungi murid sekaligus tenaga pendidik.</p> <hr> <p> <em> <strong> Baca juga: <a href="https://theconversation.com/tidak-hanya-siswa-guru-juga-perlu-merasa-aman-di-sekolah-244416">Tidak hanya siswa, guru juga perlu merasa aman di sekolah</a> </strong> </em> </p> <hr> <h2>Risiko psikososial dan hukum</h2> <p>Konseling di sekolah adalah bagian dari <a href="https://journal.unesa.ac.id/index.php/jbk/article/view/19829/8751">praktik profesional</a> yang memerlukan kualifikasi khusus, standar etik, pengawasan, serta mekanisme rujukan yang jelas. Menambahkan peran konseling kepada guru dapat menimbulkan <a href="https://www.ilo.org/resource/psychosocial-risks-and-stress-work">bahaya psikososial</a>—semua hal yang dapat meningkatkan risiko stres terkait pekerjaan. </p> <p>Tanpa peran konseling, guru sudah memiliki mandat utama sebagai pendidik yang mengajar, menilai, membimbing akademik, dan mengelola kelas. Alhasil, dari sisi beban kerja, kebijakan ini berpotensi memperparah <a href="https://www.researchgate.net/publication/345362287_STRES_KERJA_DAN_KELELAHAN_KERJA_PENGARUHNYA_TERHADAP_KINERJA_GURU_SEKOLAH_DASAR">kelelahan kerja guru</a> yang selama ini sudah menghadapi tuntutan administratif, kurikulum, dan target pembelajaran.</p> <p>Konseling juga membuat guru lebih sering terpapar kasus kekerasan. Ini dapat <a href="https://www.mdpi.com/1660-4601/22/9/1439#B17-ijerph-22-01439">meningkatkan stres</a>, kecemasan, kelelahan, gangguan tidur dan penurunan kualitas pembelajaran.</p> <p><a href="https://www.who.int/news/item/09-10-2024-who-and-unicef-launch-guidance-to-improve-access-to-mental-health-care-for-children-and-young-people">Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) dan UNICEF</a> menekankan pentingnya penyediaan layanan kesehatan mental anak yang harus melibatkan tenaga ahli dan terlatih, dukungan sistemik, dan intervensi berbasis bukti agar tidak memperburuk kesehatan mental anak. </p> <p>Sehingga, pengalihan fungsi guru menjadi konselor bukanlah hal yang tepat. Niat baik untuk melindungi anak justru bisa berbalik menjadi kebijakan yang tidak adil bagi guru dan tidak aman bagi siswa.</p> <p>Selain itu, terdapat pula risiko hukum yang serius. <a href="https://peraturan.bpk.go.id/Details/38723/uu-no-35-tahun-2014">Undang-Undang Perlindungan Anak </a> No 35 Tahun 2014 mewajibkan guru untuk melaporkan setiap indikasi adanya kekerasan atau eksploitasi terhadap anak. Kelalaian atau penundaan pelaporan oleh guru, dengan alasan penyelesaian masalah secara mandiri, dapat berujung pada penyelidikan atau bahkan tuntutan pidana.</p> <p>Ketika guru diposisikan sebagai konselor tanpa kejelasan peran dan jalur penanganan yang jelas, muncul risiko guru memilih untuk menanganinya secara mandiri dan menunda pelaporan. Dalam situasi ini, guru dapat diperiksa secara hukum dan dituntut secara pidana karena lalai menjalankan kewajiban. </p> <h2>Mendeteksi lalu melaporkan, bukan menangani langsung</h2> <p>Alih-alih memerintahkan semua guru menjadi konselor, kebijakan yang lebih realistis dan berkelanjutan adalah menciptakan jalur pelaporan yang jelas, terstandar, dan terintegrasi, atau dikenal sebagai <a href="https://awspntest.apa.org/record/2023-11687-027"><em>mandatory reporting</em></a>.</p> <p>Praktik ini sudah lama digunakan <a href="https://link.springer.com/book/10.1007/978-981-16-9820-0">di banyak negara</a> sebagai bagian dari upaya perlindungan anak. Bahkan, sebanyak <a href="http://link.springer.com/chapter/10.1007/978-981-16-9820-0_27">72,2% negara di Asia</a> telah mengadopsi <em>mandatory reporting</em> dalam kebijakan perlindungan anak mereka. </p> <hr> <p> <em> <strong> Baca juga: <a href="https://theconversation.com/hadapi-rentannya-emosi-remaja-sekolah-perlu-kembangkan-ekosistem-empati-269717">Hadapi rentannya emosi remaja, sekolah perlu kembangkan ekosistem empati</a> </strong> </em> </p> <hr> <p>Dalam <a href="https://aifs.gov.au/resources/resource-sheets/mandatory-reporting-child-abuse-and-neglect"><em>mandatory reporting</em></a>, guru ditempatkan sebagai pendeteksi awal yang mengamati tanda-tanda risiko tanpa harus beralih peran menjadi seorang konselor. </p> <p>Guru kemudian melaporkan kasus melalui jalur yang telah ditetapkan. Penanganan lebih lanjut akan dilakukan oleh konselor, psikolog, lembaga perlindungan anak, atau tenaga ahli terkait. </p> <p>Jika negara mau melindungi anak di sekolah, maka kebijakan pemerintah seharusnya diarahkan untuk memperkuat sistem pelaporan, <a href="https://www.kompas.com/edu/read/2025/11/25/144353771/pemerintah-tegaskan-bullying-terjadi-bukan-karena-kekurangan-guru-bk">meningkatkan jumlah dan kualitas guru konselor</a>, serta koordinasi yang solid antara sekolah dan berbagai stakeholder lain yang berkaitan dengan fungsi perlindungan anak.</p> <p>Buku panduan perlindungan anak UNICEF <a href="https://www.unicef.org/media/104416/file/Child-Protection-Strategy-2021.pdf">(2021-2030)</a> telah menjelaskan bahwa perlindungan anak membutuhkan kolaborasi seluruh pihak meliputi pendidikan, kesehatan, penegak hukum, lembaga sosial, dan lain lain. Ini sejalan dengan gagasan <em>mandatory reporting</em> yang mengedepankan kolaborasi berbagai pihak.</p> <p>Dalam kerangka ini, guru tidak diposisikan sebagai “penanggung jawab tunggal”, melainkan sebagai bagian dari ekosistem perlindungan anak yang bekerja bersama para pemangku kepentingan (<em>stakeholders</em>) terkait.</p> <p>Lebih lanjut, jalur pelaporan yang jelas dan tersistem memperkuat efektivitas perlindungan anak, sekaligus melindungi guru sebagai <a href="https://www.cambridge.org/highereducation/books/law-and-ethics-for-australian-teachers/E0537AEEE9EE6C641F7F7AACFE504DDE/child-protection-and-mandatory-reporting/FBE8F35EA169B1CF57955BED2D1AFB7C">pelapor</a> sehingga dapat mencegah risiko hukum yang tidak diinginkan. </p> <p><a href="https://link.springer.com/book/10.1007/978-94-017-9685-9#accessibility-information">Penelitian lintas negara</a> melaporkan bahwa perlindungan anak melalui <em>mandatory reporting</em> efektif dalam membantu meningkatkan identifikasi dini kasus kekerasan, dan memberikan intervensi yang tepat.</p> <p><em>Mandatory reporting</em> ini juga telah selaras dengan <a href="https://peraturan.bpk.go.id/Details/44473/uu-no-23-tahun-2002">asas perlindungan anak di Indonesia</a> yang mengutamakan identifikasi dini, pelaporan kasus, dan pendampingan korban oleh tenaga professional.</p> <p>Menyederhanakan kompleksitas isu kekerasan di sekolah dengan membebankan peran konseling kepada guru tanpa kompetensi yang cukup, justru berisiko melemahkan sistem perlindungan itu sendiri. </p> <hr> <iframe src="https://tally.so/embed/vGexpA?alignLeft=1&amp;hideTitle=1&amp;transparentBackground=1&amp;dynamicHeight=1" width="100%" height="321" frameborder="0" marginheight="0" marginwidth="0" title="Survey Form"> </iframe><img src="https://counter.theconversation.com/content/272560/count.gif" alt="The Conversation" width="1" height="1" /> <p class="fine-print"><em><span>Farieda Ilhami Zulaikha menerima dana dari Australia Awards Indonesia untuk studi doktoralnya</span></em></p><p class="fine-print"><em><span>Mirah Mahaswari menerima dana Australia Awards Scholarship dari DFAT, Australian Government dalam masa studi doktoral</span></em></p> Guru bukan konselor. Kejelasan peran antara guru dan konselor sangatlah penting untuk melindungi murid sekaligus tenaga pendidik. Farieda Ilhami Zulaikha, student, University of Sydney Mirah Mahaswari, PhD candidate & Teaching Fellow, Monash University, Monash University Licensed as Creative Commons – attribution, no derivatives. tag:theconversation.com,2011:article/272350 2025-12-27T09:28:43Z 2025-12-27T09:28:43Z Bagaimana kampus bisa memfasilitasi mahasiswa menginisiasi kewirausahaan hijau? <blockquote> <p>● Tingginya tingkat pengangguran lulusan perguruan tinggi membuat inisiasi kewirausahaan dari kampus makin dibutuhkan.</p> <p>● Kampus berpotensi besar menjadi wadah pengembangan kewirausahaan berorientasi lingkungan.</p> <p>● Kampus juga perlu mendorong inisiasi kewirausahaan untuk komersialisasi hasil penelitian. </p> </blockquote> <hr> <p>Kewirausahaan hijau memiliki potensi besar dalam hal penyerapan tenaga kerja sehingga bisa jadi solusi bagi <a href="https://theconversation.com/green-jobs-apa-benar-punya-prospek-buat-kaum-muda-256255">kaum muda Tanah Air</a>. Terlebih, tingkat lulusan universitas yang <a href="https://lpem.org/membaca-sinyal-putus-asa-di-pasar-kerja-indonesia-labor-market-brief-november-2025/">menganggur dan putus asa mencari kerja semakin banyak</a>. </p> <p><a href="https://www.oecd.org/en/topics/sub-issues/greening-smes/green-entrepreneurship.html">Kewirausahaan hijau</a> adalah proses pembentukan ide bisnis yang mengintegrasikan tujuan ekonomi dengan pelestarian lingkungan. </p> <p><a href="https://www.oecd.org/en/topics/sub-issues/greening-smes/green-entrepreneurship.html">Ukuran utamanya</a> adalah tri manfaat (manusia, bumi dan keuntungan), dekarbonisasi dan mengubah masalah limbah lingkungan menjadi sumber daya produksi. </p> <p><a href="https://greennetwork.id/gna-knowledge-hub/memberdayakan-pengusaha-perempuan-untuk-ekonomi-hijau-asean/">Kewirausahaan hijau</a> menciptakan produk atau layanan ramah lingkungan, menggunakan sumber daya berkelanjutan, mengurangi limbah, dan berinovasi untuk memecahkan masalah ekologis sambil tetap menghasilkan keuntungan finansial—menciptakan sinergi antara ekonomi, sosial, dan lingkungan. </p> <p>Ini <a href="https://www.ilo.org/wcmsp5/groups/public/---asia/---ro-bangkok/---ilo-jakarta/documents/publication/wcms_149950.pdf">mencakup</a> jenis usaha yang membantu melindungi ekosistem dan biodiversitas; mengurangi energi, materi, dan konsumsi air; dekarbonisasi perekonomian; serta mengurangi atau mencegah pembuatan segala bentuk limbah dan polusi.</p> <hr> <p> <em> <strong> Baca juga: <a href="https://theconversation.com/green-jobs-apa-benar-punya-prospek-buat-kaum-muda-256255">Green jobs: Apa benar punya prospek buat kaum muda?</a> </strong> </em> </p> <hr> <p>Sebagai institusi yang dituntut untuk <a href="https://kemdiktisaintek.go.id/news/article/aktualisasi-kampus-berdampak-sebagai-keberlanjutan-kampus-merdeka">berdampak positif</a> bagi masyarakat, lembaga pendidikan seperti universitas jadi salah satu wadah penting untuk mengembangkan potensi dan minat kaum muda terhadap kewirausahaan hijau.</p> <h2>Peran kampus sebagai fasilitator mahasiswa</h2> <p>Kampus bisa jadi wadah ideal untuk mendorong inovasi <a href="https://theconversation.com/green-jobs-apa-benar-punya-prospek-buat-kaum-muda-256255"><em>green jobs</em></a> dan kewirausahaan hijau karena memiliki akses terhadap fasilitas eksperimen, bimbingan akademis, dan komunitas lintas disiplin. Salah satu fasilitas yang layak dijadikan pusat pengembangan adalah program inkubator bisnis.</p> <p>Melalui ekosistem inkubator bisnis, mahasiswa bisa mengembangkan ide awal menjadi model bisnis yang matang. Di Universitas Indonesia, misalnya, <a href="https://innovation.ui.ac.id/">Science Techno Park</a> yang berada di bawah Direktorat Inovasi dan Riset Berdampak Tinggi (DIRBT-UI) telah membina berbagai <em>startup</em> mahasiswa dan dosen.</p> <p>Inkubator menyediakan proses validasi sistematis, mentoring teknis dan bisnis, serta pendampingan dalam membangun model bisnis berkelanjutan dengan pembekalan strategi pasar, model finansial, dan <em>pitch deck</em> (presentasi singkat tentang rencana bisnis perusahaan) yang siap diakses investor.</p> <p>Program seperti <a href="https://pendidikan.ui.ac.id/pendaftaran-kampus-berdampak/">Kampus Berdampak</a> bisa digunakan sebagai instrumen untuk memperkuat kolaborasi mahasiswa dan dosen dalam menghasilkan riset terapan yang langsung terasa manfaatnya bagi masyarakat. </p> <p>Dengan menyelaraskan ide bisnis dengan fokus riset dosen, peluang hibah, dan misi pengabdian yang sudah ada, mahasiswa dapat mengembangkan inovasi hijau yang lebih kuat secara ilmiah sekaligus lebih mudah mendapatkan pendanaan dan fasilitas pendukung.</p> <hr> <p> <em> <strong> Baca juga: <a href="https://theconversation.com/7-hal-yang-dapat-dilakukan-universitas-untuk-mencetak-sdm-siap-green-jobs-226137">7 hal yang dapat dilakukan universitas untuk mencetak SDM siap 'green jobs'</a> </strong> </em> </p> <hr> <h2>Realisasi ide</h2> <p>Tidak perlu muluk-muluk untuk memulai ide pengembangan kewirausahaan hijau. <a href="https://innovation.ui.ac.id/startup-ui-econela-raih-juara-1-the-gade-sociopreneurship-challenge-2025/">Econella</a>, <em>startup</em> di bidang energi terbarukan yang melibatkan mahasiswa Universitas Indonesia, menunjukkan bagaimana ide sederhana dapat berkembang menjadi inovasi besar.</p> <p>Dengan memanfaatkan limbah pertanian seperti daun cengkeh dan serai, mereka mengembangkan <a href="https://www.google.com/amp/s/m.antaranews.com/amp/berita/4547598/startup-binaan-ui-juara-satu-ajang-the-gade-sociopreneurship-challenge">bioaditif (zat aditif berbahan alami)</a> yang meningkatkan efisiensi konsumsi bahan bakar solar bagi petani hingga 25% dengan tingkat dekarbonisasi 36%.</p> <p></p> <p>Kampus secara aktif memfasilitasi Econella dengan pemahaman, keahlian, dan jejaring seputar ekosistem ekonomi sirkuler. Pemahaman terhadap kondisi ini memungkinkan mahasiswa merancang model bisnis yang lebih sesuai dengan realitas rantai nilai ekonomi sirkular di Indonesia.</p> <hr> <p> <em> <strong> Baca juga: <a href="https://theconversation.com/ekonomi-sirkular-saat-pandemi-menciptakan-lapangan-kerja-dan-mengurangi-sampah-142663">Ekonomi sirkular saat pandemi : menciptakan lapangan kerja dan mengurangi sampah</a> </strong> </em> </p> <hr> <p>Progres Econella tak hanya membuktikan meningkatnya minat generasi muda—termasuk mahasiswa terhadap <em>green jobs</em> dan kewirausahaan hijau—tapi juga mendorong mereka untuk berani menciptakan inovasinya sendiri.</p> <h2>Jejaring ekosistem kolaboratif</h2> <p>Pengembangan kewirausahaan hijau di kampus tidak cukup hanya bertumpu pada ide kreatif mahasiswa atau kecanggihan teknologi dari riset. Faktor penentu keberlanjutan justru terletak pada ekosistem bisnis yang mampu menjembatani proses pembelajaran, eksperimen, hingga komersialisasi. </p> <p>Berbagai kajian menunjukkan <a href="https://www.researchgate.net/publication/280243567_Entrepreneurial_Ecosystems_and_Regional_Policy_A_Sympathetic_Critique">kewirausahaan berkelanjutan</a> lebih mudah tumbuh dalam ekosistem yang menyediakan akses jejaring, pendampingan, pasar, serta dukungan kelembagaan yang saling terhubung.</p> <p>Dalam konteks ini, kampus berperan sebagai simpul awal yang mempertemukan mahasiswa dengan dosen, pelaku industri, pemerintah, komunitas, dan lembaga pendanaan. </p> <p>Peran ini menjadi penting karena kewirausahaan hijau menggabungkan tujuan ekonomi dengan misi sosial dan lingkungan, sehingga membutuhkan kolaborasi lintas aktor sejak tahap awal pengembangan.</p> <p>Ekosistem bisnis yang sehat juga mendorong kolaborasi lintas disiplin untuk memecahkan tak hanya permasalahan lingkungan yang bersifat teknis, tetapi juga pemahaman sosial, model bisnis yang adaptif, serta dukungan kebijakan. Karena itu, kampus harus membuka peluang bagi mahasiswa untuk terjun ke lapangan seperti melalui program magang.</p> <figure> <iframe width="440" height="260" src="https://www.youtube.com/embed/18A-eqlb_Ak?wmode=transparent&amp;start=0" frameborder="0" allowfullscreen=""></iframe> </figure> <p>Magang adalah sarana efektif untuk memahami praktik berkelanjutan dalam konteks riil. Banyak perusahaan dan organisasi menyediakan kesempatan magang di bidang ekonomi hijau, mulai dari teknologi ramah lingkungan, manajemen sampah, energi terbarukan, hingga proyek berbasis dampak sosial terkini.</p> <p>Pengalaman lapangan ini sering kali menjadi titik lahirnya ide bisnis baru. Mahasiswa dapat melihat langsung permasalahan, merumuskan solusi kecil, dan menemukan celah inovasi yang tidak bisa didapatkan di ruang kelas.</p> <h2>Peran kampus harus berkelanjutan</h2> <p>Wirausaha hijau tidak lagi sekadar gagasan idealistik, tetapi kebutuhan mendesak dalam menjawab tantangan ekonomi dan lingkungan. Kampus memiliki posisi strategis untuk menjadi inkubator gagasan berkelanjutan melalui ekosistem akademis, kolaborasi mahasiswa, dan jaringan industrinya.</p> <p>Dengan langkah-langkah sederhana—integrasi keilmuan lintas disiplin, penyediaan program hibah dan magang, serta memahami teknologi dan regulasi—mahasiswa dapat membangun wirausaha hijau yang relevan dan berdampak. </p> <p>Kampus bukan lagi menara gading, tetapi <a href="https://lldikti3.kemdikbud.go.id/diktisaintek-berdampak/">agen perubahan</a> yang melahirkan inovator masa depan.</p> <p>Jika semakin banyak mahasiswa berani bereksperimen dan memanfaatkan sumber daya kampus secara strategis, wirausaha hijau dapat menjadi fondasi penting bagi pembangunan ekonomi Indonesia yang lebih inovatif, inklusif, dan berkelanjutan.</p> <hr> <p> <em> <strong> Baca juga: <a href="https://theconversation.com/degrowth-melawan-industrialisasi-dan-konsumsi-berlebihan-demi-masa-depan-yang-berkelanjutan-242483">'Degrowth': Melawan industrialisasi dan konsumsi berlebihan demi masa depan yang berkelanjutan</a> </strong> </em> </p> <hr> <hr> <iframe src="https://tally.so/embed/BzazjQ?alignLeft=1&amp;hideTitle=1&amp;transparentBackground=1&amp;dynamicHeight=1" width="100%" height="321" frameborder="0" marginheight="0" marginwidth="0" title="Survey Form"> </iframe><img src="https://counter.theconversation.com/content/272350/count.gif" alt="The Conversation" width="1" height="1" /> <p class="fine-print"><em><span>Para penulis tidak bekerja, menjadi konsultan, memiliki saham atau menerima dana dari perusahaan atau organisasi mana pun yang akan mengambil untung dari artikel ini, dan telah mengungkapkan bahwa ia tidak memiliki afiliasi di luar afiliasi akademis yang telah disebut di atas.</span></em></p> Kewirausahaan hijau dapat menjadi fondasi penting bagi pembangunan ekonomi Indonesia yang lebih inovatif, inklusif, dan berkelanjutan. Imam Salehudin, Associate professor, Universitas Indonesia Anna Amalyah Agus, Dosen/peneliti bidang Bisnis Digital, Universitas Indonesia Aswin Dewanto Hadisumarto, Dosen Manajemen Kewirausahaan , Universitas Indonesia Fandis Ekyawan, Dosen Senior bidang Bisnis dan Manajemen, Lembaga Management FEB UI Licensed as Creative Commons – attribution, no derivatives. tag:theconversation.com,2011:article/271766 2025-12-27T01:21:36Z 2025-12-27T01:21:36Z Terjemahan yang mustahil: Mengapa beberapa kata sulit dialihbahasakan <figure><img src="https://images.theconversation.com/files/707709/original/file-20251120-56-sfuwq2.jpg?ixlib=rb-4.1.0&amp;rect=0%2C0%2C2750%2C1833&amp;q=45&amp;auto=format&amp;w=1050&amp;h=700&amp;fit=crop" /><figcaption><span class="caption"></span> <span class="attribution"><a class="source" href="https://unsplash.com/photos/a-group-of-people-sitting-on-top-of-a-mountain-Lpk55kO8nlA">Wietse Jongsma/Unsplash</a></span></figcaption></figure><p>Jika kamu fasih berbahasa selain bahasa pertamamu, kamu mungkin menyadari ada hal-hal tertentu yang nyaris mustahil untuk diterjemahkan secara persis. Ada banyak sekali yang bisa dijadikan contoh.</p> <p>Misalnya, seorang desainer Jepang yang mengagumi <a href="https://en.wikipedia.org/wiki/Shibui"><em>shibui</em></a>—keindahan yang sederhana tapi elegan dan abadi—kerap kesulitan menemukan padanan kata yang tepat dalam bahasa Inggris.</p> <p>Istilah <a href="https://www.harpercollins.com/products/the-little-book-of-hygge-meik-wiking?variant=32206016872482"><em>hygge</em></a> dalam bahasa Denmark merujuk pada rasa nyaman yang begitu khas, hingga kita memerlukan buku-buku tersendiri untuk menjelaskannya secara utuh.</p> <p>Penutur bahasa Portugis kerap kesulitan mengekspresikan <a href="https://en.wiktionary.org/wiki/saudade#Portuguese"><em>saudade</em></a>—perasaan yang memadukan kerinduan, kepiluan, dan melankolia. </p> <p>Penutur bahasa Wales bahkan menghadapi tantangan yang lebih besar saat menerjemahkan <a href="https://www.bbc.com/travel/article/20210214-the-welsh-word-you-cant-translate"><em>hiraeth</em></a>, sebuah konsep yang juga memuat kerinduan mendalam terhadap budaya dan tradisi khas Keltik.</p> <p>Di Indonesia, kata seperti ‘gemas’ juga susah dialihbahasakan. Terlebih kata-kata dalam bahasa lokal seperti <a href="https://ivanlanin.medium.com/ketakterjemahan-9ab37a7b4d42">“kunduran” yang dalam bahasa Jawa memiliki arti spesifik, yaitu tertabrak sesuatu (misalnya truk) yang berjalan mundur</a>.</p> <h2>Terpenjara oleh relativitas bahasa</h2> <p>Kata-kata dalam bahasa yang berbeda membuat penuturnya memaknai pikiran serta pengalaman secara berbeda. Ini yang disebut dengan teori <a href="https://www.cambridge.org/us/universitypress/subjects/languages-linguistics/grammar-and-syntax/rethinking-linguistic-relativity?format=PB&amp;isbn=9780521448901">“relativitas linguistik”</a>.</p> <p>Teori ini, juga dikenal sebagai hipotesis Sapir-Whorf, berakar pada <a href="https://www.jstor.org/stable/409588?seq=3">pernyataan ahli linguistik Amerika Edward Sapir pada 1929</a>. Menurutnya bahasa berfungsi sebagai penanda “jaringan pola budaya” para penuturnya. </p> <p>Jika penutur bahasa Denmark mengalami <em>hygge</em>, maka mereka memiliki kata untuk membicarakannya. Namun jika penutur bahasa Inggris tidak mengalaminya, maka mereka pun tidak memiliki kata yang mewakili pengalaman itu.</p> <figure class="align-center zoomable"> <a href="https://images.theconversation.com/files/703554/original/file-20251120-56-35sif8.jpg?ixlib=rb-4.1.0&amp;q=45&amp;auto=format&amp;w=1000&amp;fit=clip"><img alt="The Welsh mountainside" src="https://images.theconversation.com/files/703554/original/file-20251120-56-35sif8.jpg?ixlib=rb-4.1.0&amp;q=45&amp;auto=format&amp;w=754&amp;fit=clip" srcset="https://images.theconversation.com/files/703554/original/file-20251120-56-35sif8.jpg?ixlib=rb-4.1.0&amp;q=45&amp;auto=format&amp;w=600&amp;h=480&amp;fit=crop&amp;dpr=1 600w, https://images.theconversation.com/files/703554/original/file-20251120-56-35sif8.jpg?ixlib=rb-4.1.0&amp;q=30&amp;auto=format&amp;w=600&amp;h=480&amp;fit=crop&amp;dpr=2 1200w, https://images.theconversation.com/files/703554/original/file-20251120-56-35sif8.jpg?ixlib=rb-4.1.0&amp;q=15&amp;auto=format&amp;w=600&amp;h=480&amp;fit=crop&amp;dpr=3 1800w, https://images.theconversation.com/files/703554/original/file-20251120-56-35sif8.jpg?ixlib=rb-4.1.0&amp;q=45&amp;auto=format&amp;w=754&amp;h=603&amp;fit=crop&amp;dpr=1 754w, https://images.theconversation.com/files/703554/original/file-20251120-56-35sif8.jpg?ixlib=rb-4.1.0&amp;q=30&amp;auto=format&amp;w=754&amp;h=603&amp;fit=crop&amp;dpr=2 1508w, https://images.theconversation.com/files/703554/original/file-20251120-56-35sif8.jpg?ixlib=rb-4.1.0&amp;q=15&amp;auto=format&amp;w=754&amp;h=603&amp;fit=crop&amp;dpr=3 2262w" sizes="(min-width: 1466px) 754px, (max-width: 599px) 100vw, (min-width: 600px) 600px, 237px"></a> <figcaption> <span class="caption">Istilah ‘hiraeth’ dalam bahasa Welsh dapat mengandung makna kerinduan yang khusus tertuju pada budaya dan tradisi Keltik.</span> <span class="attribution"><a class="source" href="https://unsplash.com/photos/a-landscape-with-trees-and-grass-XCXhotVEgsI">Mitchell Orr/Unsplash</a></span> </figcaption> </figure> <p>Namun, Sapir melangkah lebih jauh dengan menyatakan bahwa para pengguna bahasa “tidak hidup semata-mata di dunia objektif […], melainkan sangat dipengaruhi bahkan di bawah pengaruh bahasa yang mereka gunakan.”</p> <p>Teori “determinisme linguistik” ini menyiratkan kondisi penutur bahasa Inggris yang terperangkap oleh bahasanya sendiri. Dalam hal ini, kita sebenarnya tidak dapat mengalami <em>hygge</em>—atau setidaknya, tidak dengan cara yang sama seperti orang Denmark. </p> <p>Kata yang hilang tersebut menyiratkan konsep kekosongan dalam dunia pengalaman kita.</p> <h2>Perdebatan antarteori</h2> <p>Beberapa teori terbukti menuai kontroversi. Pada 1940, murid Sapir, Benjamin Lee Whorf, <a href="https://archive.org/details/languagethoughtr00whor/page/216/mode/2up?ref=ol">mengklaim tentang</a> ketiadaan penanda waktu (masa lalu, kini, dan masa depan) dalam bahasa Hopi menunjukkan bahwa penuturnya memiliki “pengalaman psikis” tentang waktu dan alam semesta yang berbeda dari para fisikawan Barat.</p> <p>Klaim tersebut kemudian dibantah oleh <a href="https://www-degruyterbrill-com.ap1.proxy.openathens.net/document/doi/10.1515/9783110822816/html">studi lanjutan</a> yang mengulas hampir 400 halaman tentang waktu dalam bahasa Hopi. Ulasan tersebut juga mencakup konsep tentang “hari ini”, “Januari”, termasuk pembahasan tentang tindakan yang berlangsung di masa kini, lampau, dan mendatang.</p> <p>Pernah mendengar klaim tentang “50 kata Inuit untuk salju”? <a href="https://archive.org/details/languagethoughtr00whor/page/217/mode/2up?ref=ol">Klaim ini juga berasal dari Whorf</a>.</p> <p>Meski jumlah klaim sebenarnya lebih mendekati tujuh, angka ini kemudian dinilai <a href="https://web.archive.org/web/20181203001555/http://users.utu.fi/freder/Pullum-Eskimo-VocabHoax.pdf">terlalu banyak</a> sekaligus <a href="https://link.springer.com/chapter/10.1007/978-90-481-8587-0_16">terlalu sedikit</a>—tergantung pada bagaimana seseorang mendefinisikan apa yang disebut sebagai sebuah “kata”.</p> <figure class="align-center zoomable"> <a href="https://images.theconversation.com/files/701788/original/file-20251112-62-fwzqb0.jpg?ixlib=rb-4.1.0&amp;rect=0%2C195%2C3605%2C2027&amp;q=45&amp;auto=format&amp;w=1000&amp;fit=clip"><img alt="Four Inuit children." src="https://images.theconversation.com/files/701788/original/file-20251112-62-fwzqb0.jpg?ixlib=rb-4.1.0&amp;rect=0%2C195%2C3605%2C2027&amp;q=45&amp;auto=format&amp;w=754&amp;fit=clip" srcset="https://images.theconversation.com/files/701788/original/file-20251112-62-fwzqb0.jpg?ixlib=rb-4.1.0&amp;q=45&amp;auto=format&amp;w=600&amp;h=402&amp;fit=crop&amp;dpr=1 600w, https://images.theconversation.com/files/701788/original/file-20251112-62-fwzqb0.jpg?ixlib=rb-4.1.0&amp;q=30&amp;auto=format&amp;w=600&amp;h=402&amp;fit=crop&amp;dpr=2 1200w, https://images.theconversation.com/files/701788/original/file-20251112-62-fwzqb0.jpg?ixlib=rb-4.1.0&amp;q=15&amp;auto=format&amp;w=600&amp;h=402&amp;fit=crop&amp;dpr=3 1800w, https://images.theconversation.com/files/701788/original/file-20251112-62-fwzqb0.jpg?ixlib=rb-4.1.0&amp;q=45&amp;auto=format&amp;w=754&amp;h=506&amp;fit=crop&amp;dpr=1 754w, https://images.theconversation.com/files/701788/original/file-20251112-62-fwzqb0.jpg?ixlib=rb-4.1.0&amp;q=30&amp;auto=format&amp;w=754&amp;h=506&amp;fit=crop&amp;dpr=2 1508w, https://images.theconversation.com/files/701788/original/file-20251112-62-fwzqb0.jpg?ixlib=rb-4.1.0&amp;q=15&amp;auto=format&amp;w=754&amp;h=506&amp;fit=crop&amp;dpr=3 2262w" sizes="(min-width: 1466px) 754px, (max-width: 599px) 100vw, (min-width: 600px) 600px, 237px"></a> <figcaption> <span class="caption">Apakah bahasa Inuit benar-benar memiliki 50 kata untuk menyebut salju?</span> <span class="attribution"><a class="source" href="https://unsplash.com/photos/VRcBV-tQNM8">UC Berkeley, Department of Geography</a></span> </figcaption> </figure> <hr> <p> <em> <strong> Baca juga: <a href="https://theconversation.com/do-inuit-languages-really-have-many-words-for-snow-the-most-interesting-finds-from-our-study-of-616-languages-252522">Do Inuit languages really have many words for snow? The most interesting finds from our study of 616 languages</a> </strong> </em> </p> <hr> <p>Dalam perkembangan terkini, ahli linguistik antropologis Dan Everett <a href="https://www.journals.uchicago.edu/doi/10.1086/431525">mengklaim</a> bahwa bahasa Pirahã di Amazon tidak memiliki “rekursi”, yakni kemampuan untuk menyisipkan satu kalimat ke dalam kalimat lain.</p> <p>Jika benar, klaim ini akan menunjukkan bahwa bahasa Pirahã berbeda justru pada aspek yang oleh Noam Chomsky dianggap sebagai <a href="https://direct.mit.edu/books/monograph/4022/The-Minimalist-Program">sifat utama yang mendefinisikan semua bahasa manusia.</a></p> <p>Namun sekali lagi, klaim Everett memantik perdebatan karena dinilai melangkah <a href="https://www.jstor.org/stable/40492871">terlalu jauh</a> dan sekaligus <a href="https://www.newyorker.com/magazine/2007/04/16/the-interpreter-2">tidak cukup jauh</a>. </p> <p>Debat kusir ini berlanjut hingga dua buku <a href="https://www.penguin.com.au/books/through-the-language-glass-9781446494905">terkini</a> yang <a href="https://www.oup.com.au/books/others/9780190468897-the-language-hoax">sama-sama penting tentang topik ini</a> justru mengajukan pandangan yang nyaris bertolak belakang—bahkan judulnya pun saling berlawanan.</p> <h2>Bahasa sebagai rumah</h2> <p>Bagaimanapun, kedua pandangan di atas masing-masing tetap memiliki kebenaran.</p> <p>Setidaknya, beberapa aspek bahasa manusia pasti identik atau hampir sama, karena semuanya digunakan oleh anggota spesies manusia yang sama—dengan tubuh, otak, dan <a href="https://direct.mit.edu/books/monograph/3292/Origins-of-Human-Communication">pola komunikasi yang serupa</a>.</p> <p>Namun, peningkatan pemahaman bahasa-bahasa adat di berbagai belahan dunia dalam beberapa tahun terakhir memberi kita dua pelajaran penting.</p> <p>Pertama, keberagaman bahasa di dunia jauh lebih besar daripada yang <a href="https://doi.org/10.1017/S0140525X0999094X">sebelumnya diyakini</a>. Kedua, perbedaan-perbedaan tersebut kerap berkaitan erat dengan pola budaya dan lingkungan tempat suatu bahasa digunakan.</p> <figure class="align-center zoomable"> <a href="https://images.theconversation.com/files/703556/original/file-20251120-66-ik6854.jpeg?ixlib=rb-4.1.0&amp;q=45&amp;auto=format&amp;w=1000&amp;fit=clip"><img alt="A scenic view of mountains with huts" src="https://images.theconversation.com/files/703556/original/file-20251120-66-ik6854.jpeg?ixlib=rb-4.1.0&amp;q=45&amp;auto=format&amp;w=754&amp;fit=clip" srcset="https://images.theconversation.com/files/703556/original/file-20251120-66-ik6854.jpeg?ixlib=rb-4.1.0&amp;q=45&amp;auto=format&amp;w=600&amp;h=450&amp;fit=crop&amp;dpr=1 600w, https://images.theconversation.com/files/703556/original/file-20251120-66-ik6854.jpeg?ixlib=rb-4.1.0&amp;q=30&amp;auto=format&amp;w=600&amp;h=450&amp;fit=crop&amp;dpr=2 1200w, https://images.theconversation.com/files/703556/original/file-20251120-66-ik6854.jpeg?ixlib=rb-4.1.0&amp;q=15&amp;auto=format&amp;w=600&amp;h=450&amp;fit=crop&amp;dpr=3 1800w, https://images.theconversation.com/files/703556/original/file-20251120-66-ik6854.jpeg?ixlib=rb-4.1.0&amp;q=45&amp;auto=format&amp;w=754&amp;h=566&amp;fit=crop&amp;dpr=1 754w, https://images.theconversation.com/files/703556/original/file-20251120-66-ik6854.jpeg?ixlib=rb-4.1.0&amp;q=30&amp;auto=format&amp;w=754&amp;h=566&amp;fit=crop&amp;dpr=2 1508w, https://images.theconversation.com/files/703556/original/file-20251120-66-ik6854.jpeg?ixlib=rb-4.1.0&amp;q=15&amp;auto=format&amp;w=754&amp;h=566&amp;fit=crop&amp;dpr=3 2262w" sizes="(min-width: 1466px) 754px, (max-width: 599px) 100vw, (min-width: 600px) 600px, 237px"></a> <figcaption> <span class="caption">Dalam banyak bahasa di kawasan Himalaya, ungkapan-ungkapan bahasa mencerminkan lingkungan pegunungan yang menjadi latar kehidupan penuturnya.</span> <span class="attribution"><span class="source">Mark Post</span></span> </figcaption> </figure> <p>Sebagai contoh, di <a href="https://onlinelibrary.wiley.com/doi/abs/10.1111/1467-968X.12155">Kawasan Himalaya</a>, tempat tinggal penutur memengarungi arti sebuah ungkapan. Ungkapan “rumah itu”, contohnya, memiliki tiga variasi berbeda “rumah itu di atas”, “rumah itu di bawah”, dan “rumah itu di tingkat yang sama”. Semuanya dipengaruhi oleh lanskap wilayah tempat tinggal mereka. </p> <p>Ketika penuturnya bermigrasi ke wilayah berketinggian lebih rendah, sistem tersebut dapat bergeser dari pembeda “ke atas/ke bawah” menjadi “ke hulu/ke hilir”. Jika tidak ada sungai yang cukup besar, pembedaan itu bahkan bisa <a href="https://www.benjamins.com/catalog/dia.19018.pos">menghilang sama sekali</a>.</p> <p>Dalam bahasa-bahasa Aslian yang digunakan masyarakat adat Semenanjung Malaysia, terdapat <a href="https://www.tandfonline.com/doi/abs/10.2752/174589311X12893982233597">kosakata yang sangat kaya</a> untuk penyebutan ragam aroma alam. Ini mencerminkan lingkungan alam yang beragam dan kaya tempat para penuturnya hidup dan mencari nafkah.</p> <p><a href="https://doi.org/10.13140/RG.2.2.31841.94565">Kajian terhadap komunitas kecil</a> yang terikat erat, seperti masyarakat Milang di India timur laut, menunjukkan bahasa dapat menuntut penuturnya menandai sumber informasi yang mereka sampaikan. Ini termasuk apakah pernyataan tersebut merupakan pengetahuan umum kelompok sosialnya, atau diperoleh melalui sumber lain seperti dari mulut ke mulut, atau hasil penalaran berdasarkan bukti.</p> <p>Penutur bahasa yang memiliki sistem “evidensialitas” (menunjukkan bukti atau sumber informasi) semacam ini tetap dapat mempelajari bahasa lain, seperti bahasa Inggris, yang tidak mewajibkan penandaan sumber informasi. </p> <p>Namun, kebiasaan berbahasa dari bahasa ibu ternyata sulit dilepaskan. <a href="https://www.tandfonline.com/doi/full/10.1080/09658416.2025.2499589">Sebuah studi terbaru</a> menunjukkan bahwa penutur bahasa dengan evidensialitas cenderung lebih sering menambahkan kata-kata seperti “katanya” atau “tampaknya” dalam pernyataan mereka, dibandingkan penutur asli bahasa Inggris.</p> <p>Bahasa manusia bukanlah penjara yang mengurung para penuturnya tanpa jalan keluar. Ia lebih menyerupai rumah yang terlalu nyaman sehingga sulit ditinggalkan. </p> <p>Sebuah kata dari bahasa lain memang selalu bisa dipinjam, tetapi makna kultural khas yang menyertainya sering kali tetap berada sedikit di luar jangkauan.</p><img src="https://counter.theconversation.com/content/271766/count.gif" alt="The Conversation" width="1" height="1" /> <p class="fine-print"><em><span>Mark W. Post tidak bekerja, menjadi konsultan, memiliki saham, atau menerima dana dari perusahaan atau organisasi mana pun yang akan mengambil untung dari artikel ini, dan telah mengungkapkan bahwa ia tidak memiliki afiliasi selain yang telah disebut di atas.</span></em></p> Hanya dengan mengalami, kita bisa memiliki kata untuk membicarakan sebuah hal atau pengalaman. Mark W. Post, Senior Lecturer in Linguistics, University of Sydney Licensed as Creative Commons – attribution, no derivatives. tag:theconversation.com,2011:article/272275 2025-12-25T08:23:12Z 2025-12-25T08:23:12Z Alkitab sedikit menceritakan masa kecil Yesus, tapi umat kristen abad pertengahan menikmati kisah yang menggambarkannya sebagai sosok suci yang “nakal” <figure><img src="https://images.theconversation.com/files/709337/original/file-20251211-56-gaqhcp.jpg?ixlib=rb-4.1.0&amp;rect=0%2C0%2C1489%2C993&amp;q=45&amp;auto=format&amp;w=1050&amp;h=700&amp;fit=crop" /><figcaption><span class="caption">Ilustasi dari manuskrip Vernon pada tahun 1400-an. Manuskrip ini menunjukkan motif familiar dari lembu dan keledai yang memerhatikan bayi Yesus.</span> <span class="attribution"><a class="source" href="https://digital.bodleian.ox.ac.uk/objects/da750ebb-7e9a-40e9-9838-433f202beed1/surfaces/88261bcf-9924-4e14-bc3d-1599344d771a/">© Perpustakaan Bodleian, Universitas Oxford</a>, <a class="license" href="http://creativecommons.org/licenses/by-nc/4.0/">CC BY-NC</a></span></figcaption></figure><p>Adegan kelahiran Yesus Kristus (<em>Manger scenes</em>) yang ramai dalam waktu Natal biasanya digambarkan dengan kehadiran lembu dan keledai di samping bayi Yesus. Menurut <a href="https://www.biblegateway.com/passage/?search=Luke%202%3A7&amp;version=KJV"><em>Injil Lukas</em></a>, saat itu tidak ada ruangan yang tersedia untuk Bunda Maria dan bayi Yesus. Akhirnya Bunda Maria membaringkan bayinya di bak beralas jerami. </p> <p>Kehadiran lembu dan keledai dalam adegan ini sebenarnya bukan sekadar sebagai pengasuh. Kehadiran ini bisa merujuk pada kitab Yesaya 1:3 yang ditafsirkan oleh umat Kristen awal sebagai <a href="https://www.biblegateway.com/passage/?search=Isaiah%201%3A3&amp;version=KJV">nubuat kelahiran kristus</a>. </p> <p>Dalam sejumlah karya seni awal, lembu dan keledai kerap digambarkan berlutut untuk menunjukkan bentuk penghormatan. Gestur ini merupakan sebuah pengakuan bahwa bayi yang dibedong dan lahir di dunia dengan kesederhanaan tersebut merupakan sosok Tuhan. </p> <p>Injil-injil kanonik dalam Perjanjian Baru sebenarnya tidak menceritakan kehadiran hewan-hewan yang menyambut kelahiran Yesus seperti gambaran sebelumnya. Akan tetapi, <a href="https://commons.wikimedia.org/wiki/File:9821_-_Milano_-_Sant%27Ambrogio_-_Sarcofago_di_Stilicone_-_Foto_Giovanni_Dall%27Orto_25-Apr-2007.jpg">karya seni sejak abad keempat</a> memperlihatkan hal ini. </p> <p><a href="https://www.harvard.com/book/9781648766275">Teks apokrif</a>—cerita-cerita Kristen kuno yang tidak masuk dalam kanon Alkitab, juga memopulerkan penggambaran tersebut. Contohnya <a href="https://wipfandstock.com/9781532637131/the-gospel-of-pseudo-matthew-and-the-nativity-of-mary/"><em>Injil Pseudo-Matius</em></a>, yang kemungkinan besar ditulis oleh seorang rahib anonim pada abad ketujuh. Injil ini banyak mengisahkan masa anak-anak Yesus. </p> <p>Setelah membahas kelahiran, Alkitab hampir sepenuhnya tidak membahas mengenai masa kecil Yesus. Walaupun begitu, kisah masa-masa awal Yesus tetap menyebar luas pada abad pertengahan.</p> <p>Hal inilah yang menjadi fokus dalam <a href="https://www.pennpress.org/9780812248845/the-quest-for-the-christ-child-in-the-later-middle-ages/#:%7E:text=In%20The%20Quest%20for%20the,intellectual%20elite%20of%20the%20church.">buku saya pada 2017</a>. Meskipun kisah mengenai lembu dan keledai cukup populer di kalangan umat Kristen, saat ini sangat sedikit yang menyadari bahwa masih ada kisah-kisah mengejutkan lainnya yang diwariskan oleh <a href="https://global.oup.com/academic/product/the-apocryphal-gospels-9780199732104?cc=us&amp;lang=en&amp;">teks apokrif</a>.</p> <h2>Pembuat mukjizat</h2> <figure class="align-right zoomable"> <a href="https://images.theconversation.com/files/708346/original/file-20251212-56-9a18yk.jpg?ixlib=rb-4.1.0&amp;q=45&amp;auto=format&amp;w=1000&amp;fit=clip"><img alt="Lukisan berlatar dengan bingkai emas menggambarkan seorang pria dan perempuan yang tengah berbicara dengan seorang anak yang kedua tangannya disilangkan. Terdapat sebuah _nimbus_ yakni sebuah lingkaran cahaya pada kepala ketiga sosok tersebut" src="https://images.theconversation.com/files/708346/original/file-20251212-56-9a18yk.jpg?ixlib=rb-4.1.0&amp;q=45&amp;auto=format&amp;w=237&amp;fit=clip" srcset="https://images.theconversation.com/files/708346/original/file-20251212-56-9a18yk.jpg?ixlib=rb-4.1.0&amp;q=45&amp;auto=format&amp;w=600&amp;h=844&amp;fit=crop&amp;dpr=1 600w, https://images.theconversation.com/files/708346/original/file-20251212-56-9a18yk.jpg?ixlib=rb-4.1.0&amp;q=30&amp;auto=format&amp;w=600&amp;h=844&amp;fit=crop&amp;dpr=2 1200w, https://images.theconversation.com/files/708346/original/file-20251212-56-9a18yk.jpg?ixlib=rb-4.1.0&amp;q=15&amp;auto=format&amp;w=600&amp;h=844&amp;fit=crop&amp;dpr=3 1800w, https://images.theconversation.com/files/708346/original/file-20251212-56-9a18yk.jpg?ixlib=rb-4.1.0&amp;q=45&amp;auto=format&amp;w=754&amp;h=1060&amp;fit=crop&amp;dpr=1 754w, https://images.theconversation.com/files/708346/original/file-20251212-56-9a18yk.jpg?ixlib=rb-4.1.0&amp;q=30&amp;auto=format&amp;w=754&amp;h=1060&amp;fit=crop&amp;dpr=2 1508w, https://images.theconversation.com/files/708346/original/file-20251212-56-9a18yk.jpg?ixlib=rb-4.1.0&amp;q=15&amp;auto=format&amp;w=754&amp;h=1060&amp;fit=crop&amp;dpr=3 2262w" sizes="(min-width: 1466px) 754px, (max-width: 599px) 100vw, (min-width: 600px) 600px, 237px"></a> <figcaption> <span class="caption">Lukisan <em>Christ Discovered in the Temple</em> karya Simone Martini(1342).</span> <span class="attribution"><a class="source" href="https://commons.wikimedia.org/wiki/File:Simone_Martini_-_Christ_Discovered_in_the_Temple_-_Google_Art_Project.jpg">Google Cultural Institute/Walker Art Gallery via Wikimedia Commons</a></span> </figcaption> </figure> <p>Alkitab hanya memuat satu kisah terkenal dari masa remaja Yesus. Kisah tersebut menggambarkan Yesus yang berusia 12 tahun dan <a href="https://www.biblegateway.com/passage/?search=Luke%202&amp;version=KJV">tertinggal di Bait Suci di Yerusalem</a> tanpa diketahui orang tuanya. </p> <p>Setelah mencari dengan cemas, mereka menemukan Yesus tengah berbincang dengan para pengajar agama. Di sana, Yesus terlihat mengajukan beberapa pertanyaan dan mengejutkan para pengajar agama dengan jawaban-jawaban yang kemudian keluar dari dirinya sendiri.</p> <p>Dalam lukisan abad ke-14 karya Simone Martini berjudul <em>Christ Discovered in the Temple</em>, Yesus digambarkan berdiri dengan tangan yang menyilang di depan orang tuanya. Yesus terlihat sebagai anak muda keras kepala yang tidak merasa bersalah karena telah membuat orang tuanya cemas berhari-hari. </p> <p>Teks apokrif, sementara itu, mengisahkan masa kecil Yesus yang lain. Misalnya cerita mengenai tahun-tahun ketika Yesus masih kecil yang terdapat pada <a href="https://wipfandstock.com/9781532637131/the-gospel-of-pseudo-matthew-and-the-nativity-of-mary/">Injil apokrif Pseudo-Matius</a>. Injil tersebut mengambil materinya dari injil <a href="https://www.tonyburke.ca/infancy-gospel-of-thomas/">apokrif yang lebih awal seperti Injil Kanak-Kanak Thomas</a>.</p> <p>Seperti kisah bait suci, Injil apokrif mengisahkan Yesus sebagai anak yang kadang menyulitkan tetapi memiliki kebijaksanaan yang mengagumkan. Bahkan, kebijaksanaan tersebut kadang sampai menyinggung calon gurunya. </p> <p>Dengan lebih dramatis, cerita dalam teks apokrif ini juga menggambarkan Yesus sebagai anak kecil yang telah menunjukkan kuasa ilahi sejak usia dini. </p> <figure class="align-left zoomable"> <a href="https://images.theconversation.com/files/708323/original/file-20251212-56-fvpgyb.jpeg?ixlib=rb-4.1.0&amp;q=45&amp;auto=format&amp;w=1000&amp;fit=clip"><img alt="Sebuah ilustrasi kecil berwarna-warni dengan latar belakang emas menunjukkan dua orang dewasa dan seorang anak yang memiliki _nimbus_ sedang menatap ke dalam gua yang berisi naga-naga kecil berwarna biru dan hijau " src="https://images.theconversation.com/files/708323/original/file-20251212-56-fvpgyb.jpeg?ixlib=rb-4.1.0&amp;q=45&amp;auto=format&amp;w=237&amp;fit=clip" srcset="https://images.theconversation.com/files/708323/original/file-20251212-56-fvpgyb.jpeg?ixlib=rb-4.1.0&amp;q=45&amp;auto=format&amp;w=600&amp;h=654&amp;fit=crop&amp;dpr=1 600w, https://images.theconversation.com/files/708323/original/file-20251212-56-fvpgyb.jpeg?ixlib=rb-4.1.0&amp;q=30&amp;auto=format&amp;w=600&amp;h=654&amp;fit=crop&amp;dpr=2 1200w, https://images.theconversation.com/files/708323/original/file-20251212-56-fvpgyb.jpeg?ixlib=rb-4.1.0&amp;q=15&amp;auto=format&amp;w=600&amp;h=654&amp;fit=crop&amp;dpr=3 1800w, https://images.theconversation.com/files/708323/original/file-20251212-56-fvpgyb.jpeg?ixlib=rb-4.1.0&amp;q=45&amp;auto=format&amp;w=754&amp;h=822&amp;fit=crop&amp;dpr=1 754w, https://images.theconversation.com/files/708323/original/file-20251212-56-fvpgyb.jpeg?ixlib=rb-4.1.0&amp;q=30&amp;auto=format&amp;w=754&amp;h=822&amp;fit=crop&amp;dpr=2 1508w, https://images.theconversation.com/files/708323/original/file-20251212-56-fvpgyb.jpeg?ixlib=rb-4.1.0&amp;q=15&amp;auto=format&amp;w=754&amp;h=822&amp;fit=crop&amp;dpr=3 2262w" sizes="(min-width: 1466px) 754px, (max-width: 599px) 100vw, (min-width: 600px) 600px, 237px"></a> <figcaption> <span class="caption">Sebuah manuskrip Italia abad ke-14 memperlihatkan Yesus menepis naga untuk melindungi orangtuanya.</span> <span class="attribution"><a class="source" href="https://digital.bodleian.ox.ac.uk/objects/217de342-7b9b-4cbb-942e-a719dff3fb1d/surfaces/1d83c373-bc63-40a5-98a2-0004bf319f7f/">© Perpustakaan Bodleian, Universitas Oxford</a>, <a class="license" href="http://creativecommons.org/licenses/by-nc/4.0/">CC BY-NC</a></span> </figcaption> </figure> <p>Sama seperti kisah Yesus dewasa dalam Injil Perjanjian Baru, teks apokrif menggambarkan Yesus anak-anak sering melakukan keajaiban untuk menolong orang-orang yang membutuhkan. </p> <p>Sebagai contoh, Injil Matius mengisahkan Bunda Maria dan Yusuf membawa bayi Yesus ke Mesir. Tindakan ini dilakukan setelah <a href="https://www.biblegateway.com/passage/?search=Matthew%202&amp;version=KJV">malaikat memberitahu bahwa Herodes, raja dari Judea, akan membunuh bayi tersebut</a>. </p> <p>Injil Pseudo-Matius kemudian menceritakan, saat Yesus belum berusia dua tahun, dengan berani ia berdiri dengan kakinya sebelum naga-naga keluar dari sebuah gua tempat keluarganya berhenti untuk istirahat. </p> <p>Naga-naga yang mengerikan itu kemudian malah <a href="https://wipfandstock.com/9781532637131/the-gospel-of-pseudo-matthew-and-the-nativity-of-mary/">menyembahnya dan memutuskan untuk pergi</a>. Sementara itu, Yesus meyakinkan orang-orang di sekelilingnya, bahwa ia adalah “manusia sempurna” yang bisa “menaklukan segala jenis binatang buas”. </p> <p>Yesus kemudian memerintahkan pohon kurma untuk merunduk agar Bunda Maria yang kelelahan dapat memetik buahnya. Selain itu, secara ajaib Yesus juga memperpendek perjalanan mereka saat berada di padang pasir. </p> <p>Sebenarnya, terkadang dalam kisah-kisah ini Yesus justru dipersalahkan oleh orang-orang di sekitarnya. </p> <p>Misalnya, pengggambaran dalam <a href="https://www.britishmuseum.org/collection/object/H_1922-0412-1-CR">panel keramik Tring Tiles</a> sejak abad ke-14. Panel yang berada di British Museum tersebut menggambarkan teman Yesus yang sedang ditahan oleh ayahnya di sebuah menara. Yesus berupaya menarik temannya keluar melalui sebuah celah kecil layaknya seorang ksatria abad pertengahan ketika menyelamatkan perempuan dari bahaya. </p> <p>Ayah dari teman Yesus rupanya berusaha untuk menghindarkan putranya dari pengaruh Yesus. Sikap ini sebenarnya sangat dapat dipahami, mengingat banyak kisah menceritakan bagaimana Yesus menyebabkan kematian bagi teman-teman atau anak-anak lain di sekitar yang menyinggung perasaannya.</p> <p>Dalam <a href="https://wipfandstock.com/9781532637131/the-gospel-of-pseudo-matthew-and-the-nativity-of-mary/">kisah lainnya,</a> yang dinamai oleh seorang peneliti sebagai <a href="https://www.proquest.com/openview/e140dfbe65fe81c5e2f7b86d16bff5fb/1?pq-origsite=gscholar&amp;cbl=1816657">“kematian akibat senggolan”</a>, mengisahkan bahwa seorang anak laki-laki menabrak Yesus. Hal itu membuat Yesus mengutuk anak tersebut hingga si anak meninggal di tempat. Setelah itu, Yesus menghidupkan kembali anak tersebut karena mendapat teguran singkat dari Yusuf.</p> <figure class="align-center zoomable"> <a href="https://images.theconversation.com/files/708324/original/file-20251212-63-23vf7o.jpg?ixlib=rb-4.1.0&amp;q=45&amp;auto=format&amp;w=1000&amp;fit=clip"><img alt="Sebuah ubin berwarna merah atau cokelat dengan ukiran yang lebih terang. Terdapat adegan seorang laki-laki berdiri di samping sebuah menara tempat seorang anak berdiri di atasnya. Anak itu kemudian keluar dari menara sementara sosok lain dengan _nimbus_ mengamati" src="https://images.theconversation.com/files/708324/original/file-20251212-63-23vf7o.jpg?ixlib=rb-4.1.0&amp;q=45&amp;auto=format&amp;w=754&amp;fit=clip" srcset="https://images.theconversation.com/files/708324/original/file-20251212-63-23vf7o.jpg?ixlib=rb-4.1.0&amp;q=45&amp;auto=format&amp;w=600&amp;h=296&amp;fit=crop&amp;dpr=1 600w, https://images.theconversation.com/files/708324/original/file-20251212-63-23vf7o.jpg?ixlib=rb-4.1.0&amp;q=30&amp;auto=format&amp;w=600&amp;h=296&amp;fit=crop&amp;dpr=2 1200w, https://images.theconversation.com/files/708324/original/file-20251212-63-23vf7o.jpg?ixlib=rb-4.1.0&amp;q=15&amp;auto=format&amp;w=600&amp;h=296&amp;fit=crop&amp;dpr=3 1800w, https://images.theconversation.com/files/708324/original/file-20251212-63-23vf7o.jpg?ixlib=rb-4.1.0&amp;q=45&amp;auto=format&amp;w=754&amp;h=372&amp;fit=crop&amp;dpr=1 754w, https://images.theconversation.com/files/708324/original/file-20251212-63-23vf7o.jpg?ixlib=rb-4.1.0&amp;q=30&amp;auto=format&amp;w=754&amp;h=372&amp;fit=crop&amp;dpr=2 1508w, https://images.theconversation.com/files/708324/original/file-20251212-63-23vf7o.jpg?ixlib=rb-4.1.0&amp;q=15&amp;auto=format&amp;w=754&amp;h=372&amp;fit=crop&amp;dpr=3 2262w" sizes="(min-width: 1466px) 754px, (max-width: 599px) 100vw, (min-width: 600px) 600px, 237px"></a> <figcaption> <span class="caption">Salah satu keramik dekoratif Tring yang dibuat pada abad ke-14. Keramik ini menampilkan Yesus yang menolong temannya keluar dari sebuah menara.</span> <span class="attribution"><a class="source" href="https://www.britishmuseum.org/collection/image/31633001">© The Trustees of the British Museum</a>, <a class="license" href="http://creativecommons.org/licenses/by-nc-sa/4.0/">CC BY-NC-SA</a></span> </figcaption> </figure> <p>Dalam kisah lain yang terdapat lewat manuskrip bergambar dalam <a href="https://frenchofengland.ace.fordham.edu/piety-and-persecution-in-the-french-of-england/">narasi Anglo-Norman</a>, Yesus diceritakan melepas jubah dan meletakan jubah tersebut di atas sinar matahari. </p> <p>Yesus kemudian duduk di atasnya dan membuat anak-anak lain yang melihatnya, “berpikir ingin melakukan hal yang sama. Akan tetapi, anak-anak tersebut terlalu terburu-buru. Mereka akhirnya terjatuh bersamaan. Satu persatu dari mereka melompat terlalu cepat ke atas sinar matahari dan mereka pun akhirnya berakhir buruk. Satu persatu dari leher mereka kemudian patah.” </p> <p>Yesus kemudian mengobati anak-anak tersebut atas permintaan dari orang tuanya.</p> <p>Yusuf kemudian mengakui kepada tetangga bahwa Yesus “memang terlalu liar”. Oleh karena itu ia memutuskan untuk mengirim Yesus untuk pergi. Yesus yang berusia tujuh tahun kemudian menjadi murid seorang ahli pewarna kain. </p> <p>Ahli tersebut memberikannya petunjuk terperinci soal pewarnaan tiga kain di tiga wadah yang berbeda. Namun, saat gurunya pergi, Yesus mengabaikan perintahnya dan melempar semua kain kedalam satu wadah yang sama. Meski begitu, Yesus tetap berhasil mencapai hasil yang diinginkan. </p> <p>Ketika sang guru kembali, ia sempat berfikir dirinya “dirusak oleh anak kecil nakal ini”. Namun, ia kemudian tersadar bahwa sebuah keajaiban telah terjadi.</p> <figure class="align-center zoomable"> <a href="https://images.theconversation.com/files/708332/original/file-20251212-56-epd7ep.jpeg?ixlib=rb-4.1.0&amp;q=45&amp;auto=format&amp;w=1000&amp;fit=clip"><img alt="Sebuah ilutrasi dengan latar belakang berwarna merah menggambarkan beberapa anak laki-laki menggunakan tunik sedang bermain di atas bangunan besar berbentuk seluncuran" src="https://images.theconversation.com/files/708332/original/file-20251212-56-epd7ep.jpeg?ixlib=rb-4.1.0&amp;q=45&amp;auto=format&amp;w=754&amp;fit=clip" srcset="https://images.theconversation.com/files/708332/original/file-20251212-56-epd7ep.jpeg?ixlib=rb-4.1.0&amp;q=45&amp;auto=format&amp;w=600&amp;h=219&amp;fit=crop&amp;dpr=1 600w, https://images.theconversation.com/files/708332/original/file-20251212-56-epd7ep.jpeg?ixlib=rb-4.1.0&amp;q=30&amp;auto=format&amp;w=600&amp;h=219&amp;fit=crop&amp;dpr=2 1200w, https://images.theconversation.com/files/708332/original/file-20251212-56-epd7ep.jpeg?ixlib=rb-4.1.0&amp;q=15&amp;auto=format&amp;w=600&amp;h=219&amp;fit=crop&amp;dpr=3 1800w, https://images.theconversation.com/files/708332/original/file-20251212-56-epd7ep.jpeg?ixlib=rb-4.1.0&amp;q=45&amp;auto=format&amp;w=754&amp;h=275&amp;fit=crop&amp;dpr=1 754w, https://images.theconversation.com/files/708332/original/file-20251212-56-epd7ep.jpeg?ixlib=rb-4.1.0&amp;q=30&amp;auto=format&amp;w=754&amp;h=275&amp;fit=crop&amp;dpr=2 1508w, https://images.theconversation.com/files/708332/original/file-20251212-56-epd7ep.jpeg?ixlib=rb-4.1.0&amp;q=15&amp;auto=format&amp;w=754&amp;h=275&amp;fit=crop&amp;dpr=3 2262w" sizes="(min-width: 1466px) 754px, (max-width: 599px) 100vw, (min-width: 600px) 600px, 237px"></a> <figcaption> <span class="caption">Yesus duduk di atas sinar matahari, sementara anak laki-laki lain berusaha untuk melakukan hal yang sama. Terdapat dalam miniature dari manuskrip <em>Seldren Supra 28</em> yang dibuat pada awal abad ke-14.</span> <span class="attribution"><a class="source" href="https://digital.bodleian.ox.ac.uk/objects/7f58f54d-c08b-4c60-af08-81537f0f484b/surfaces/84593374-63d5-4809-bb8a-2210ea213e9e/">© Perpustakaan Bodleian, Universitas Oxford</a>, <a class="license" href="http://creativecommons.org/licenses/by-nc-sa/4.0/">CC BY-NC-SA</a></span> </figcaption> </figure> <h2>Ikatan dengan hewan</h2> <p>Legenda-legenda apokrif juga menunjukkan bagaimana Yesus yang masih anak-anak <a href="https://wipfandstock.com/9781532637131/the-gospel-of-pseudo-matthew-and-the-nativity-of-mary/">memiliki kuasa</a> <a href="https://theconversation.com/birds-worms-rabbits-francis-of-assisi-was-said-to-have-loved-them-all-but-todays-pet-blessings-on-his-feast-day-might-have-seemed-strange-to-the-13th-century-saint-211865">atas dunia hewan</a>. </p> <p>Misalnya, ketika Yesus memasuki gua singa yang amat ditakuti. Di gua itu, “anak-anak singa berlarian di kakinya, membelai, dan bermain dengannya. Sementara itu "singa-singa dewasa berdiri dari kejauhan dan menyembahnya, mereka mengibas-ngibaskan ekor di hadapan Yesus”. </p> <p>Yesus mengatakan kepada orang-orang yang menyaksikan, bahwa binatang-binatang tersebut lebih baik daripada mereka. Hewan-hewan ini lebih baik karena mereka “mengenali dan memuliakan Tuhan mereka”</p> <p>Kisah-kisah ini memang menggambarkan Yesus sebagai anak yang agak angkuh. Menyadari akan keilahian-Nya, Yesus tidak senang diperlakukan hanya sebagai anak biasa saja. </p> <p>Namun, pada saat yang bersamaan, kisah-kisah tersebut juga menggambarkan Yesus sebagai anak kecil sungguhan yang senang bermain. Yesus kecil tampak keanak-anakan dengan caranya yang kerap bertindak spontan serta tidak terlalu memedulikan nasihat orang-orang yang lebih tua.</p> <figure class="align-center zoomable"> <a href="https://images.theconversation.com/files/708179/original/file-20251211-62-fngdfo.jpg?ixlib=rb-4.1.0&amp;q=45&amp;auto=format&amp;w=1000&amp;fit=clip"><img alt="Sebuah ilimunasi menampilkan segerombol singa menatap seorang anak laki-laki dengan _nimbus_ yang sedang membelai anak singa di luar gua" src="https://images.theconversation.com/files/708179/original/file-20251211-62-fngdfo.jpg?ixlib=rb-4.1.0&amp;q=45&amp;auto=format&amp;w=754&amp;fit=clip" srcset="https://images.theconversation.com/files/708179/original/file-20251211-62-fngdfo.jpg?ixlib=rb-4.1.0&amp;q=45&amp;auto=format&amp;w=600&amp;h=203&amp;fit=crop&amp;dpr=1 600w, https://images.theconversation.com/files/708179/original/file-20251211-62-fngdfo.jpg?ixlib=rb-4.1.0&amp;q=30&amp;auto=format&amp;w=600&amp;h=203&amp;fit=crop&amp;dpr=2 1200w, https://images.theconversation.com/files/708179/original/file-20251211-62-fngdfo.jpg?ixlib=rb-4.1.0&amp;q=15&amp;auto=format&amp;w=600&amp;h=203&amp;fit=crop&amp;dpr=3 1800w, https://images.theconversation.com/files/708179/original/file-20251211-62-fngdfo.jpg?ixlib=rb-4.1.0&amp;q=45&amp;auto=format&amp;w=754&amp;h=255&amp;fit=crop&amp;dpr=1 754w, https://images.theconversation.com/files/708179/original/file-20251211-62-fngdfo.jpg?ixlib=rb-4.1.0&amp;q=30&amp;auto=format&amp;w=754&amp;h=255&amp;fit=crop&amp;dpr=2 1508w, https://images.theconversation.com/files/708179/original/file-20251211-62-fngdfo.jpg?ixlib=rb-4.1.0&amp;q=15&amp;auto=format&amp;w=754&amp;h=255&amp;fit=crop&amp;dpr=3 2262w" sizes="(min-width: 1466px) 754px, (max-width: 599px) 100vw, (min-width: 600px) 600px, 237px"></a> <figcaption> <span class="caption">Manuskrip abad ke-14, <em>the Klosterneuburger Evangelienwerk</em> menunjukkan Yesus kecil bermain dengan singa.</span> <span class="attribution"><a class="source" href="https://commons.wikimedia.org/wiki/File:Sbs-0008_027v_Jesus_spielt_mit_L%C3%B6wen.TIF?page=1">Perpustakaan Kota Schaffhausen via Wikimedia Commons</a></span> </figcaption> </figure> <p>Kedekatan Yesus pada hewan juga membuatnya tampak keanak-anakan. Menariknya, hewan-hewan di teks-teks apokrif juga dimulai dengan kehadiran lembu dan keledai yang menyadari bahwa Yesus bukanlah anak kecil biasa. Mereka menyadari hal ini bahkan sebelum tokoh manusia menyadarinya.</p> <p>Sebenarnya, terdapat sisipan licik pada legenda-legenda yang hadir terkait hubungan Yesus dan hewan ini. Legenda ini menyiratkan bahwa banyak orang Yahudi di sekitar Yesus tidak sepeka hewan-hewan di sekitarnya. </p> <p>Narasi ini merupakan bagian dari produk antisemitisme yang meluas di Eropa abad pertengahan. Dalam <a href="https://www.brepols.net/products/IS-9782503006017-1">sebuah khotbah pada abad ke-5</a>, <a href="https://dacb.org/stories/tunisia/quodvultdeus/">Quodvultdeus, Uskup Kartago</a>, mempertanyakan kenapa pengakuan hewan-hewan terhadap Yesus saat ia bebaring di bak jerami tidak menjadi tanda-tanda yang cukup bagi orang-orang Yahudi.</p> <figure class="align-center zoomable"> <a href="https://images.theconversation.com/files/708327/original/file-20251212-56-ih4eh6.jpg?ixlib=rb-4.1.0&amp;q=45&amp;auto=format&amp;w=1000&amp;fit=clip"><img alt="Ilustasi dari manuskrip yang memudar menunjukkan seorang anak laki-laki yang sama tengah mengambil air, menyalakan api, dan bekerja di meja. Sementara itu, seorang pria dan wanita mengamati." src="https://images.theconversation.com/files/708327/original/file-20251212-56-ih4eh6.jpg?ixlib=rb-4.1.0&amp;q=45&amp;auto=format&amp;w=754&amp;fit=clip" srcset="https://images.theconversation.com/files/708327/original/file-20251212-56-ih4eh6.jpg?ixlib=rb-4.1.0&amp;q=45&amp;auto=format&amp;w=600&amp;h=348&amp;fit=crop&amp;dpr=1 600w, https://images.theconversation.com/files/708327/original/file-20251212-56-ih4eh6.jpg?ixlib=rb-4.1.0&amp;q=30&amp;auto=format&amp;w=600&amp;h=348&amp;fit=crop&amp;dpr=2 1200w, https://images.theconversation.com/files/708327/original/file-20251212-56-ih4eh6.jpg?ixlib=rb-4.1.0&amp;q=15&amp;auto=format&amp;w=600&amp;h=348&amp;fit=crop&amp;dpr=3 1800w, https://images.theconversation.com/files/708327/original/file-20251212-56-ih4eh6.jpg?ixlib=rb-4.1.0&amp;q=45&amp;auto=format&amp;w=754&amp;h=438&amp;fit=crop&amp;dpr=1 754w, https://images.theconversation.com/files/708327/original/file-20251212-56-ih4eh6.jpg?ixlib=rb-4.1.0&amp;q=30&amp;auto=format&amp;w=754&amp;h=438&amp;fit=crop&amp;dpr=2 1508w, https://images.theconversation.com/files/708327/original/file-20251212-56-ih4eh6.jpg?ixlib=rb-4.1.0&amp;q=15&amp;auto=format&amp;w=754&amp;h=438&amp;fit=crop&amp;dpr=3 2262w" sizes="(min-width: 1466px) 754px, (max-width: 599px) 100vw, (min-width: 600px) 600px, 237px"></a> <figcaption> <span class="caption">Buku gambar Alkitab Holkham abad ke-14 menggambarkan Yesus melakukan tugas-tugas domestik di rumah (London, British Library, tambahan MS 47682, fol. 18).</span> <span class="attribution"><a class="source" href="https://www.imagesonline.bl.uk/search/?searchQuery=holkham+bible">Courtesy British Library</a></span> </figcaption> </figure> <p>Dalam Alkitab pun, Yesus diceritakan <a href="https://www.biblegateway.com/passage/?search=John%202&amp;version=KJV">melakukan mukjizat pertamanya sebagai orang dewasa</a> dalam sebuah pesta pernikahan di Kana. Meskipun begitu, kisah-kisah apokrif menghadirkan gagasan bahwa sosok Tuhan yang menjelma menjadi manusia ini sudah menunjukkan kuasanya sejak dini. </p> <p>Legenda-legenda ini menyiratkan, bahwa sifat keanak-anakan Kristus mendistraksi banyak orang di sekelilingnya. Hal tersebut membuat mereka tidak menyimpulkan bahwa Kritstus merupakan Sang Mesiah. </p> <p>Di satu sisi, hal ini membuat teks-teks apokrif menjadi tidak bertentangan dengan referensi Alkitab yang menyebut Yesus sebagai <a href="https://www.biblegateway.com/passage/?search=Matthew%2013&amp;version=KJV">“anak tukang kayu” saja</a>, sesuatu yang berkebalikan dari seorang anak yang berkmukjizat.</p> <p>Setiap Natal, umat Kristen modern di dunia Barat merayakan kelahiran Yesus. Namun, di tengah-tengah perayaan tersebut, dengan cepatnya mereka melupakan tema tentang Yesus sebagai anak-anak. </p> <p>Sebaliknya, umat Kristen di abad pertengahan <a href="https://www.pennpress.org/9780812248845/the-quest-for-the-christ-child-in-the-later-middle-ages/">terpersona oleh kisah-kisah tentang Sang Anak Allah yang tumbuh dewasa</a>. </p> <p>Meskipun berperan sebagai penjinak naga, tabib, maupun pesulap, sebagian besar peran Yesus dalam teks-teks apokrif ini seakan tak menonjol, karena keilahian Yesus seperti diselimuti dengan sifat-sifat keanak-anakan ala “anak nakal”.</p> <p><em>Adinda Ghinashalsabila Salman menerjemahkan artikel ini dari Bahasa Inggris.</em></p><img src="https://counter.theconversation.com/content/272275/count.gif" alt="The Conversation" width="1" height="1" /> <p class="fine-print"><em><span>Mary Dzon tidak bekerja, menjadi konsultan, memiliki saham, atau menerima dana dari perusahaan atau organisasi mana pun yang akan mengambil untung dari artikel ini, dan telah mengungkapkan bahwa ia tidak memiliki afiliasi selain yang telah disebut di atas.</span></em></p> Legenda mengenai masa-masa awal kehidupan Yesus yang tersebar di Eropa Abad pertengahan seringkali berangkat dari teks-teks apokrif yang beredar. Mary Dzon, Associate Professor of English, University of Tennessee Licensed as Creative Commons – attribution, no derivatives. tag:theconversation.com,2011:article/272450 2025-12-24T02:59:29Z 2025-12-24T02:59:29Z Apa yang membuat sebuah lagu terdengar “bernuansa Natal”? Ini penjelasan musikolog <figure><img src="https://images.theconversation.com/files/709841/original/file-20251204-56-e445lb.jpg?ixlib=rb-4.1.0&amp;rect=0%2C1%2C9504%2C6336&amp;q=45&amp;auto=format&amp;w=1050&amp;h=700&amp;fit=crop" /><figcaption><span class="caption"></span> <span class="attribution"><a class="source" href="https://www.shutterstock.com/image-photo/african-american-woman-listening-music-sitting-2221788929?trackingId=31134643-714e-4ab6-b8ff-e86b79771d67">Shutterstock/Krakenimages.com</a></span></figcaption></figure><p>Ketika nada-nada pembuka dari banyak lagu Natal klasik terdengar, kita langsung terbawa ke suasana perayaan. Mengapa justru karya-karya musik inilah yang membuat kita spontan teringat pada musim liburan?</p> <p>Dalam bukunya <a href="https://tagg.org/mmmsp/NonMusoInfo.htm"><em>Music’s Meanings</em></a>, peneliti musik populer Philip Tagg mengulas cara pendengar memaknai musik yang mereka dengar. </p> <p>Tagg menerapkan pendekatan semiotika—kajian tentang bagaimana manusia menafsirkan tanda-tanda di sekitarnya—ke dalam musik. Tanda-tanda ini dapat dipahami secara berbeda oleh tiap orang dan maknanya pun dapat berubah seiring waktu.</p> <p>Untuk menjelaskan konsep ini, Tagg mencontohkan gitar <em>lap steel</em> (yang cara memainkannya sambil dipangku). Instrumen ini awalnya berasal dari tradisi musik Hawaii dan identik dengan kepulauan tersebut. </p> <p>Seiring waktu, instrumen ini masuk ke dalam musik country dan digunakan begitu luas. Alhasil, menurut Tagg, kini kita cenderung mengidentikannya dengan musik country—tanpa memikirkan Hawaii sama sekali.</p> <p>Sebagaimana gitar <em>lap steel</em> langsung membuat pendengar masuk ke dalam dunia musik country, ada satu instrumen yang memiliki efek serupa untuk Natal: lonceng kereta salju.</p> <h2>Lonceng kereta salju</h2> <p>Mulai dari karya orkestra ringan, seperti <a href="https://www.youtube.com/watch?v=7GUzJ7fQBtg"><em>Troika</em></a> (1933) ciptaan Prokofiev hingga lagu pop modern <a href="https://www.youtube.com/watch?v=nlR0MkrRklg"><em>Santa Tell Me</em></a> (2014) milik Ariana Grande, lonceng kereta salju telah lama menjadi penanda praktis bagi para komposer untuk memberi isyarat kepada pendengar bahwa karya mereka termasuk dalam repertoar Natal.</p> <p>Keterkaitan ini berakar dari dunia di luar musik. </p> <p>Di Barat, Natal kerap diasosiasikan dengan musim dingin dan cuaca bersalju. Kereta salju, yang digunakan sebagai alat transportasi khusus cuaca tersebut, kemudian menciptakan hubungan asosiatif yang kuat dengan Natal. Dampaknya, lonceng yang dipasang di kereta salju untuk memperingatkan pejalan kaki pun ikut melekat pada perayaan ini. </p> <p>Seperti gitar <em>lap steel</em>, kita kini langsung menghubungkan lonceng kereta salju dengan Natal, tanpa memikirkan perantaranya yaitu kereta salju.</p> <figure> <iframe width="440" height="260" src="https://www.youtube.com/embed/nlR0MkrRklg?wmode=transparent&amp;start=0" frameborder="0" allowfullscreen=""></iframe> <figcaption><span class="caption">Lagu ‘Santa Tell Me’ menggunakan lonceng kereta salju untuk menghadirkan nuansa khas Natal.</span></figcaption> </figure> <p>Selain itu, terdapat pula keterkaitan dengan instrumen lonceng lainnya. Dengan adanya tradisi gereja membunyikan lonceng—terutama untuk merayakan kelahiran Kristus—lonceng berukuran besar turut membangun suasana khas. Ini tak hanya terjadi dalam musik Natal, tetapi juga dalam dekorasi dan karya seni bertema Natal.</p> <p>Tahun lalu, UK Official Charts Company (perusahaan yang menentukan tangga lagu di Inggris) merilis daftar <a href="https://www.officialcharts.com/chart-news/official-most-streamed-christmas-songs/">“40 lagu Natal paling banyak diputar secara ‘<em>streaming</em>’”</a>. Jika menelusuri daftar tersebut, pendengar akan menemukan bunyi menyerupai lonceng dalam sebagian besar lagu—mulai dari pembuka bernuansa perkusi pada <a href="https://www.youtube.com/watch?v=yXQViqx6GMY"><em>All I Want for Christmas Is You</em></a>(1994) milik Mariah Carey hingga denting lonceng menara dalam <a href="https://meganlavengood.com/2016/12/23/what-makes-it-sound-like-christmas/"><em>Do They Know It’s Christmas</em></a> (1984) dari Band Aid.</p> <hr> <p> <em> <strong> Baca juga: <a href="https://theconversation.com/band-aid-at-40-how-the-problematic-christmas-hit-changed-the-charity-sector-241649">Band Aid at 40: how the problematic Christmas hit changed the charity sector</a> </strong> </em> </p> <hr> <p>Ada pula unsur musik lain yang turut menyebarkan semangat Natal, mulai dari melodi yang liris hingga permainan instrumen tiup dari logam. Namun, sebagian besar unsur ini memiliki satu kesamaan, tetapi bukan bunyi modern atau elemen yang lazim dalam musik pop kontemporer, melainkan ingatan akan masa lalu.</p> <h2>Nostalgia Natal</h2> <p>Natal merupakan perayaan yang sarat nuansa nostalgia dalam berbagai pengertian. Kata “nostalgia” awalnya merujuk pada sejenis kerinduan akan rumah, bukan sekadar kenangan manis akan masa lalu yang samar, seperti pemahaman yang lazim saat ini. </p> <p>Kedua makna tersebut sama-sama dapat digunakan untuk menggambarkan perasaan yang kerap kita kaitkan dengan Natal.</p> <hr> <p> <em> <strong> Baca juga: <a href="https://theconversation.com/mengapa-orang-tetap-mudik-lebaran-meski-harga-tiket-mahal-251230">Mengapa orang tetap mudik Lebaran meski harga tiket mahal?</a> </strong> </em> </p> <hr> <p>Ini adalah masa ketika banyak orang pulang ke rumah dan berkumpul bersama keluarga—melakukan perjalanan bukan hanya secara geografis, tetapi juga melintasi waktu. Mereka kemudian membenamkan diri dalam dunia tradisi yang akrab dan telah lama dijalani, saat ritme kehidupan sehari-hari seolah tak lagi berlaku.</p> <p>Para musisi memahami hal ini, memupuk nostalgia pendengar melalui musik, lirik, dan visual yang membangkitkan kesan masa lalu. Barangkali inilah mengapa sebagian besar album Natal berisi interpretasi ulang lagu-lagu klasik, alih-alih materi orisinal. </p> <p>Pendekatan ini secara langsung menyasar rasa akrab dan nostalgia. Ketika sebuah lagu sudah dikenal, pendengar lebih mudah terhubung dengan versi rekaman yang baru.</p> <p>Namun, sejumlah musisi melangkah lebih jauh dalam perjalanan nostalgia tersebut. Mereka meniru gaya yang kerap dianggap sebagai puncak estetika musik Natal: kidung lembut yang enak didengar.</p> <p>Baik itu Bing Crosby maupun Nat King Cole, kehangatan suara kidung yang berpadu dengan instrumen orkestra ringan telah identik dengan Natal. Suara inijarang terdengar di luar musim perayaan, kecuali kamu secara pribadi tertarik pada genre tersebut.</p> <figure> <iframe width="440" height="260" src="https://www.youtube.com/embed/6wGcOo7TzcQ?wmode=transparent&amp;start=0" frameborder="0" allowfullscreen=""></iframe> <figcaption><span class="caption">Billie Eilish membawakan ‘Have Yourself A Merry Little Christmas’ pada 2023.</span></figcaption> </figure> <p>Ini menjelaskan mengapa Billie Eilish mengabaikan suara khasnya dan memilih aransemen tradisional berupa piano, drum, dan <em>upright bass</em>, dengan vokal yang lembut dan hangat ketika membawakan versi <em>Have Yourself a Merry Little Christmas</em> di <em>Saturday Night Live</em> pada 2023. Semua elemen ini membangkitkan kesan masa lalu yang sederhana dan ideal.</p> <p>Terakhir, kita bisa kembali menyoroti daftar lagu Natal paling banyak diputar. </p> <p>Kali ini ada seorang penyanyi, dengan dua lagu dalam satu album sekaligus, yang berhasil masuk top 20. Dia adalah Michael Bublé, melalui album <em>Christmas</em> (2011). </p> <p>Album ini menunjukkan keselarasan sempurna dari unsur-unsur musik Natal: seluruh lagu dibawakan dengan gaya kidung, menampilkan versi orkestra ringan dari lagu-lagu klasik, dan tentu saja menghadirkan lonceng kereta salju. </p> <p>Sulit membayangkan ada yang lebih bernuansa Natal daripada ini.</p><img src="https://counter.theconversation.com/content/272450/count.gif" alt="The Conversation" width="1" height="1" /> <p class="fine-print"><em><span>Samuel J Bennett tidak bekerja, menjadi konsultan, memiliki saham, atau menerima dana dari perusahaan atau organisasi mana pun yang akan mengambil untung dari artikel ini, dan telah mengungkapkan bahwa ia tidak memiliki afiliasi selain yang telah disebut di atas.</span></em></p> Sejak lama, lonceng kereta salju berfungsi sebagai penanda yang efektif bagi para komposer untuk memberi tahu pendengar bahwa sebuah karya termasuk dalam repertoar Natal. Samuel J Bennett, Senior Lecturer in Music Production, Nottingham Trent University Licensed as Creative Commons – attribution, no derivatives. tag:theconversation.com,2011:article/272182 2025-12-23T04:30:38Z 2025-12-23T04:30:38Z Popularitas lagu ‘Gus Dur (Pendekar Rakyat)’: Cap pahlawan tidak harus datang dari negara <blockquote> <p>● Dangdut koplo merupakan medium ekspresi politik kelas bawah yang egaliter, dan merepresentasikan identitas kaum pinggiran.</p> <p>● Lagu dangdut ‘Gus Dur (Pendekar Rakyat)’ adalah contoh legitimasi kultural yang lahir dari rakyat, bukan negara. </p> <p>● Melalui budaya partisipatoris di media sosial, lagu ini berfungsi sebagai kritik politik terselubung.</p> </blockquote> <hr> <p>Selain media hiburan, musik merupakan arena ekspresi politik. Di Indonesia, kita mengenal band (post) punk <a href="https://www.instagram.com/sukatani.band/?hl=en">Sukatani</a>. Liriknya lantang mengungkap betapa korupnya aparatus negara (misal, lagu <em>Bayar, Bayar, Bayar</em>; atau <em>Gelap Gempita</em>), bahkan meledak-ledak jika menyangkut isu ekologi (misal, lagu <em>Alas Wirasaba</em>; <em>Realitas Konsumerisme</em>).</p> <hr> <p> <em> <strong> Baca juga: <a href="https://theconversation.com/bayar-bayar-bayar-bagaimana-musik-dapat-membentuk-identitas-sosial-dan-mendorong-aksi-kolektif-251273">“Bayar, bayar, bayar”: Bagaimana musik dapat membentuk identitas sosial dan mendorong aksi kolektif</a> </strong> </em> </p> <hr> <p>Di pentas global, Indonesia juga punya <a href="https://voiceofbaceprot.com/">Voice of Baceprot</a>. Band metal dengan tiga personel perempuan muda ini kental nuansa perlawanan terhadap stereotip dan ketidakadilan yang selama ini merugikan perempuan. Misal, dalam lagu <em>God, Allow Me (Please) to Play Music</em>, <em>School of Revolution</em> atau <em>Rumah Tanah Tak Dijual</em>. </p> <p>Selain punk dan metal, dangdut koplo sebagai <a href="https://dangdutstudies.com/skripsi-nindyo-budi-kumoro-dangdut-koplo-perlawanan-kaum-pinggiran/">musik kaum pinggiran</a>, ternyata juga punya kekuatan serupa. Contohnya adalah lagu <em>Gus Dur (Pendekar Rakyat)</em> karya Dhalang Poer. Lagu ini bukan saja merangkum protes terselubung, tapi juga menjelaskan kiprah seorang presiden yang dekat dengan rakyat.</p> <p>Dengan kata lain, lagu <em>Gus Dur (Pendekar Rakyat)</em> adalah bentuk representasi politik kelas bawah yang menegaskan bahwa cap pahlawan sebagai legitimasi kultural bisa muncul secara organik tanpa perlu embel-embel surat keterangan dari negara.</p> <figure> <iframe width="440" height="260" src="https://www.youtube.com/embed/P1ZN4cnTrbM?wmode=transparent&amp;start=0" frameborder="0" allowfullscreen=""></iframe> </figure> <h2>Dangdut arus utama vs dangdut koplo</h2> <p>Musik adalah persoalan selera. Menurut sosiolog Prancis, Pierre Bourdieu, <a href="https://www.mit.edu/%7Eallanmc/bourdieu1.pdf">selera bukanlah perkara netral</a>. Ia berkaitan dengan <a href="https://monoskop.org/images/8/88/Bourdieu_Pierre_The_Logic_of_Practice_1990.pdf">habitus</a>, atau tindakan naluriah yang menentukan kelas sosial.</p> <p>Sebagai aliran musik, punk dan metal sangat tersegmentasi. Ia <a href="https://gigsplay.com/mengapa-musik-keras-disukai-dan-manfaat-mendengarkannya/">dinikmati oleh kalangan tertentu</a>, umumnya anak muda yang melawan status quo.</p> <p>Sementara dangdut bukan berasal dari rahim budaya adiluhung (<em>high culture</em>). Ia lebih dekat dengan <a href="https://ecommons.cornell.edu/items/60bc292b-3dd0-4744-a1af-bb6c30981958">produk budaya populer</a>.</p> <hr> <p> <em> <strong> Baca juga: <a href="https://theconversation.com/konser-dangdut-koplo-wadah-nostalgia-kaum-urban-jawa-242602">Konser dangdut koplo: Wadah nostalgia kaum urban Jawa</a> </strong> </em> </p> <hr> <p>Namun, realitas dangdut tak pernah tunggal. Rhoma Irama, umpamanya, menawarkan dangdut yang ‘naik kelas’ dengan <a href="https://books.google.co.id/books?id=VP1P_SQ5jj0C&amp;printsec=copyright&amp;hl=id#v=onepage&amp;q&amp;f=false">lirik dakwah dan moralitas yang ketat</a>. Kendati dangdut jenis ini <a href="https://ecommons.cornell.edu/items/60bc292b-3dd0-4744-a1af-bb6c30981958">cenderung konservatif</a>, Rhoma menjadi “raja dangdut” justru ketika ia meregulasi aspek performatif dangdut agar “sopan” dan diterima <a href="https://books.google.co.id/books?id=xMhWm38KQcsC&amp;printsec=copyright&amp;hl=id#v=onepage&amp;q&amp;f=false">rezim budaya nasional</a>.</p> <p></p> <p>Kontras dengan itu, dangdut koplo lahir dari rahim Pantai Utara (Pantura) dan kultur Jawa Timuran. Secara politis, fungsinya lebih sebagai <a href="https://www.kompas.id/artikel/pertarungan-irama-dangdut-rhoma-vs-dangdut-koplo">antitesis rezim musik arus utama</a>. <a href="https://etd.repository.ugm.ac.id/penelitian/detail/116582">Irama koplo</a> dikenal lebih cepat (<em>up-tempo</em>), interaksinya egaliter, dan estetikanya cenderung kasar (<em>raw</em>), bahkan vulgar.</p> <p>Secara ringkas, dangdut (khususnya varian koplo) adalah <a href="https://mojokstore.com/product/irama-orang-orang-menolak-kalah/">strategi politik identitas kelas tertindas.</a></p> <p>Jika dangdut ala Rhoma menawarkan wacana moralitas performatif dari atas panggung (<em>top-down</em>), dangdut koplo menyediakan panggung rakyat, tempat masyarakat bisa merasakan kesetaraan. </p> <p>Selain itu, dangdut koplo bergerak dari bawah lewat <a href="https://www.youtube.com/watch?v=1aSuMq7oEek&amp;list=RD1aSuMq7oEek&amp;start_radio=1">panggung kenduri, tasyakuran, hingga tujuh belasan dengan orkes Jawa Timuran yang khas</a>. Inilah mengapa koplo tak ubahnya <a href="https://www.youtube.com/watch?v=84depWskwu0">medan representasi</a> suara akar rumput.</p> <h2>Dangdut koplo sebagai suara rakyat pinggiran</h2> <p>Sosok Gus Dur yang nyentrik, egaliter, dan anti-protokoler menemukan jodoh kulturalnya pada dangdut koplo yang nakal dan bebas di lagu <em>Gus Dur (Pendekar Rakyat)</em>.</p> <p>Dalam konteks ini, dangdut koplo bekerja sebagai medium resistensi yang <em>subtle</em>: tegas, lugas, sekaligus tangkas. Ia mampu menyusup ke ruang-ruang yang luput dari sensor negara justru karena dianggap musik pinggiran.</p> <p>Layaknya dangdut koplo pada umumnya, lagu <em>Gus Dur (Pendekar Rakyat)</em> berbeda orbit dengan lirik lagu ala Rhoma Irama. Ia tidak beredar untuk menggurui masyarakat, tetapi justru merawat ingatan publik tentang pemimpin yang tidak berjarak dengan rakyatnya.</p> <p>Aransemen kendang jaipong-koplonya berpadu dengan lirik bahasa sehari-hari:</p> <blockquote> <blockquote> <p>Dadi lawan politik orde baru (Jadi oposisi Orde Baru)</p> <p>Dadi korban ambisi reformis palsu (Jadi korban ambisi reformis palsu) </p> <p>Nadyan cacat netramu nanging ngerti batinmu (Meski cacat pengelihatanmu tapi mata batinmu mengerti) </p> <p>Ngendi kucing ngendi asu ( Mana kucing mana anjing)</p> </blockquote> </blockquote> <p>Lirik ini jelas sangat politis. Pilihan katanya bahkan menggambarkan realitas elite politik secara vulgar. Seperti koplo yang menawarkan otentisitas, publik merindukan Gus Dur karena sosoknya yang apa adanya, kadang semrawut, tapi jujur dan menghibur.</p> <h2>Budaya partisipatoris dalam dangdut</h2> <p>Kekuatan lagu <em>Gus Dur (Pendekar Rakyat)</em> memuncak karena adanya <em><a href="https://direct.mit.edu/books/oa-monograph/3204/Confronting-the-Challenges-of-Participatory">participatory culture</a></em>. Dalam skema tradisional, audiens hanya mendengarkan musik secara pasif. Namun, budaya partisipatoris memungkinkan publik menjadi <em>prosumer</em> (produsen sekaligus konsumen). </p> <p></p> <p>Di <a href="https://www.tiktok.com/discover/agomo-ngayomi-jagat-royo">platform Tiktok</a>, misalnya, lagu ini lebih dikenal dengan kata kunci lagu “<em>Agomo Ngayomi Jagat Royo</em>”, yang membuatnya masuk dalam kategori <a href="https://tekno.kompas.com/read/2021/08/26/10410017/apa-itu-fyp-di-tiktok-dan-bagaimana-cara-kerjanya-"><em>FYP</em></a>.</p> <p>Penggemar membuat video, melakukan <em>remix</em>, atau bahkan mengkreasi lagu secara sporadis dengan daya jelajah yang sering kali lebih viral daripada rilisan resminya.</p> <p>Di YouTube, ceritanya sedikit berbeda. <em>Gus Dur (Pendekar Rakyat)</em> secara lebih serius dinyanyikan ulang (<em>cover</em>) oleh banyak musisi, biduan, hingga seniman dangdut (koplo) Jawa Timuran. Tiga yang paling mencolok adalah <a href="https://www.youtube.com/watch?v=xL0jReMjgAU&amp;list=RDxL0jReMjgAU&amp;start_radio=1">Eny Sagita</a>, <a href="https://www.youtube.com/watch?v=jlsDi91kGco&amp;list=RDjlsDi91kGco&amp;start_radio=1">Abah Lala</a>, dan <a href="https://www.youtube.com/watch?v=P1ZN4cnTrbM&amp;list=RDP1ZN4cnTrbM&amp;start_radio=1">Denny Caknan</a>.</p> <p>Menariknya, kolom komentar di YouTube bermetamorfosis menjadi bilik suara alternatif. Pembacaan etnografi digital pada video <em>Gus Dur (Pendekar Rakyat)</em> menunjukkan pola komentar yang seragam. Ribuan netizen tidak hanya menyanjung aspek musikalitasnya, tetapi melontarkan kerinduan sosok pemimpin ideal di tengah krisis keteladanan elite politik.</p> <p>Misalnya: “<em>Alfatihah untuk Gus Dur</em>”; “<em>Moga-moga Indonesia punya pemimpin seperti Gus Dur yang mikirin rakyatnya</em>”; “<em>Tragedi Gus Dur adalah bukti nyata bahwa Indonesia tidak butuh orang jujur</em>”; dan sebagainya.</p> <p>Komentar-komentar netizen adalah <a href="https://monoskop.org/images/0/0f/Scott_James_C_Domination_and_the_Arts_of_Resistance_Hidden_Transcripts_1990.pdf">kritik komparatif</a>. Rakyat mungkin takut mengkritik penguasa hari ini secara terbuka karena ancaman pasal karet UU ITE atau serangan <a href="https://www.kompas.id/artikel/panggung-pendengung"><em>buzzer</em> istana</a>.</p> <p>Sebaliknya, dengan memuji Gus Dur setinggi langit di kolom komentar, mereka pada dasarnya sedang meluapkan sindiran halus terhadap kondisi politik nasional yang saat ini terjadi.</p> <p>Sampai artikel ini ditulis, belum ada Presiden Indonesia kecuali Gus Dur yang sosoknya terus dirayakan hingga ke panggung dangdut paling pinggiran, bahkan jauh sebelum negara memberinya <a href="https://www.kompas.id/artikel/udar-rasa-pahlawan">gelar Pahlawan Nasional</a>. Ini bukti kalau cap pahlawan tidak selalu memerlukan SK Presiden.</p> <p>Resistensi politik juga tidak melulu harus berwajah garang ala punk. Terkadang, ia datang lewat <a href="https://dangdutstudies.com/tesis-michael-haryo-bagus-raditya-esensi-senggakan-pada-dangdut-koplo-sebagai-identitas-musikal/">senggakan koplo</a> yang jenaka tapi tetap menohok: <em>Icik, icik, asolole!!</em></p> <hr> <iframe src="https://tally.so/embed/2EBvGM?alignLeft=1&amp;hideTitle=1&amp;transparentBackground=1&amp;dynamicHeight=1" width="100%" height="321" frameborder="0" marginheight="0" marginwidth="0" title="Survey Form"> </iframe><img src="https://counter.theconversation.com/content/272182/count.gif" alt="The Conversation" width="1" height="1" /> <p class="fine-print"><em><span>Anwar Kurniawan tidak bekerja, menjadi konsultan, memiliki saham, atau menerima dana dari perusahaan atau organisasi mana pun yang akan mengambil untung dari artikel ini, dan telah mengungkapkan bahwa ia tidak memiliki afiliasi selain yang telah disebut di atas.</span></em></p> Lagu dangdut koplo adalah bentuk representasi politik kelas bawah yang menegaskan bahwa legitimasi kultural, seperti gelar pahlawan, bisa muncul secara organik. Anwar Kurniawan, Lecturer, Institut Seni Indonesia Surakarta Licensed as Creative Commons – attribution, no derivatives. tag:theconversation.com,2011:article/271761 2025-12-22T04:58:18Z 2025-12-22T04:58:18Z Akuisisi Netflix-Warner akan menghadirkan pola tiga raksasa pada industri ‘streaming’ <figure><img src="https://images.theconversation.com/files/707681/original/file-20251207-56-nm5183.jpg?ixlib=rb-4.1.0&amp;rect=0%2C0%2C5019%2C3346&amp;q=45&amp;auto=format&amp;w=1050&amp;h=700&amp;fit=crop" /><figcaption><span class="caption">Netflix&#39;s Hollywood studio offices at Sunset Bronson Studios in Los Angeles.</span> <span class="attribution"><a class="source" href="https://www.gettyimages.com/detail/news-photo/this-aerial-picture-taken-on-december-5-shows-the-netflix-news-photo/2249478580?adppopup=true">Patrick T. Fallon / AFP via Getty Images</a></span></figcaption></figure><p>Percaya tidak percaya, angka tiga memiliki mistisnya sendiri jika membicarakan industri-industri besar Amerika Serikat (AS) dari zaman ke zaman.</p> <p>Industri otomotif lama didominasi oleh tiga kekuatan besar: <a href="https://www.porchlightbooks.com/products/once-upon-a-car-bill-vlasic-9780061845635">Chrysler, Ford, dan General Motors</a>, yang pada satu masa menguasai lebih dari 60% pasar mobil AS.</p> <p>Pola trio raksasa serupa juga muncul di beragam sektor lain, mulai dari <a href="https://web.stanford.edu/class/e297a/U.S.%20Defense%20Industry%20and%20Arms%20Sales.htm">industri pertahanan AS</a> yang dikuasai Lockheed Martin, Boeing, dan Northrop Grumman, hingga penyedia layanan seluler seperti <a href="https://www.statista.com/statistics/201048/total-operating-revenues-of-us-telecommunication-providers/#:%7E:text=Verizon%20had%20the%20highest%20total,%2C%20and%20T%2DMobile%20US.">AT&amp;T, T-Mobile, dan Verizon</a>.</p> <p>Tidak ketinggalan trio American Airlines, Delta, dan United yang terbang jauh meninggalkan kompetitor lainnya.</p> <p>Logika tiga kekuatan besar ini juga berlaku untuk tontonan. Pada masa keemasan televisi, layar kaca didominasi oleh <a href="https://www.ebsco.com/research-starters/history/decline-big-three-networks">tiga raksasa jaringan penyiaran</a>: ABC, CBS, dan NBC.</p> <p>Kini, di era digital, kita akan menyaksikan terbentuknya dominasi tiga kekuatan baru dalam layanan <em>streaming</em>. Mereka adalah Netflix, Amazon, dan Disney.</p> <p>Langkah terbaru dalam proses tersebut adalah <a href="https://variety.com/2025/tv/news/netflix-to-acquire-warner-bros-82-7-billion-deal-1236601034/">rencana Netflix mengakuisisi Warner Bros</a> senilai US$72 miliar (sekitar Rp1.300 triliun). Jika disetujui, langkah ini akan semakin mengukuhkan posisi Netflix sebagai platform <em>streaming</em> nomor wahid sedunia.</p> <h2>Caplok-mencaplok layanan penyedia ‘streaming’</h2> <p>Sebelum bertransformasi menjadi <a href="https://qz.com/887010/netflix-nflx-launched-streaming-video-10-years-ago-and-changed-the-way-we-watch-everything">platform layanan <em>streaming</em> film dan serial televisi 2007 silam</a>, Netflix hanyalah <a href="https://variety.com/2025/film/news/netflix-history-killed-blockbuster-dominated-hollywood-1236342853/">layanan penyewaan DVD lewat pos</a>. Titik transformasi tersebut menjadikan Netflix salah satu pelopor di ranah <em>streaming</em>.</p> <p>Sebagai pelopor, Netflix memperoleh keunggulan dalam mengembangkan teknologi pendukung sekaligus memanfaatkan data pelanggan untuk menciptakan konten baru.</p> <p>Tak ayal, Netflix menjelma menjadi pemimpin pasar, dengan laba kuartalan yang kini jauh <a href="https://www.hollywoodreporter.com/business/business-news/streaming-profit-report-netflix-disney-warners-paramount-nbcu-1235868631/">melampaui para pesaingnya</a>, yang justru kerap melaporkan kerugian.</p> <p>Bahkan, tanpa akuisisi Warner Bros, Netflix tetap mendominasi pasar global dengan <a href="https://ir.netflix.net/ir-overview/profile/default.aspx">lebih dari 300 juta pelanggan</a>. Amazon Prime menyusul di posisi kedua dengan <a href="https://www.thestreet.com/technology/amazon-introduces-new-time-saving-feature-customers-will-love">sekitar 220 juta pelanggan</a>. </p> <p>Sementara Disney—mencakup Disney+ dan Hulu—berada di peringkat ketiga dengan sekitar <a href="https://senalnews.com/en/data/disney-nears-200-million-streaming-subscribers-amid-strategic-shift#:%7E:text=The%20Walt%20Disney%20Company%20closed,also%20contributed%20to%20this%20growth.">196 juta pelanggan</a>.</p> <p>Artinya, ketiga perusahaan ini secara bersama-sama menguasai <a href="https://evoca.tv/streaming-service-market-share/">lebih dari 60% pasar layanan <em>streaming</em> dunia.</a></p> <p>Kesepakatan dengan Warner Bros membuat Netflix akan memperoleh kepemilikan atas HBO Max—anak usaha Warner—yang saat ini menjadi layanan streaming terbesar keempat di AS <a href="https://cordcuttersnews.com/hbo-max-added-2-3-million-subscribers-globally-in-q3-2025/">dengan total gabungan sekitar 128 juta pelanggan</a>. </p> <p>Meski diprediksi bakal tumpang tindih pelanggan, Netflix tetap berpeluang menambah sekaligus mempertahankan pelanggan dengan pilihan konten yang semakin luas.</p> <p><iframe id="YKfD7" class="tc-infographic-datawrapper" src="https://datawrapper.dwcdn.net/YKfD7/4/" height="400px" width="100%" style="border: 0;" scrolling="no" frameborder="0"></iframe></p> <p>Langkah Netflix untuk mengakuisisi Warner Bros juga mengikuti tren konsolidasi sebelumnya di industri hiburan. Ini didorong oleh upaya menguasai konten demi mempertahankan pelanggan layanan <em>streaming</em>.</p> <p>Pada 2019, Disney <a href="https://www.npr.org/2019/03/20/705009029/disney-officially-owns-21st-century-fox">mengakuisisi 21st Century Fox</a> dengan nilai transaksi US$71,3 miliar (sekitar Rp1,3 kuadriliun). Tiga tahun kemudian, Amazon <a href="https://variety.com/2022/tv/news/amazon-mgm-merger-close-1235207852/">mengambil alih Metro-Goldwyn-Mayer (MGM)</a> melalui akuisisi senilai US$8,5 miliar (Rp133 triliun).</p> <p>Tren konsolidasi industri <em>streaming</em> akan berlanjut jika kesepakatan Netflix ini gol. Pada saat bersamaan, tercipta juga jarak yang semakin lebar terhadap pemain streaming non tiga besar seperti Paramount+ dengan <a href="https://www.hollywoodreporter.com/business/business-news/paramount-subscribers-streaming-loss-1236211289">79 juta pelanggan</a> serta Apple TV+ yang memiliki sekitar <a href="https://variety.com/2025/digital/news/apple-tv-plus-streaming-losses-1-billion-per-year-1236344052/">45 juta pelanggan</a>.</p> <p>Sementara itu, pada 8 Desember 2025, Paramount mengumumkan upaya pengambilalihan terhadap Warner Bros melalui rencana <a href="https://www.reuters.com/legal/transactional/paramount-makes-1084-billion-bid-warner-bros-discovery-2025-12-08/">kesepakatan senilai US$108,4 miliar</a>. Kesepakatan ini berbeda dengan rencana Netflix karena mencakup akusisi anak usaha Warner Bros. yaitu Discovery+.</p> <h2>Ada apa dengan angka 3?</h2> <p>Mengapa industri kerap mengerucut pada segelintir perusahaan saja?</p> <p>Sebagai <a href="https://business.fsu.edu/person/david-r-king">pakar merger</a>, saya memahami bahwa jawabannya terletak pada kekuatan pasar terkait persaingan, yang cenderung mendorong konsolidasi suatu industri hingga hanya tersisa tiga sampai lima perusahaan.</p> <p>Dari sudut pandang konsumen, adanya pilihan lain ketimbang dipaksa menerima opsi tunggal tetap penting. Pilihan yang beragam mencegah praktik monopoli yang dapat mendorong harga dipatok lebih tinggi. </p> <p>Selain itu, persaingan lebih dari satu pemain besar juga menjadi insentif kuat bagi lahirnya inovasi, guna meningkatkan kualitas produk maupun layanan.</p> <p>Atas alasan tersebut, pemerintah—baik di <a href="https://www.justice.gov/atr/antitrust-sites-worldwide">AS maupun di lebih dari 100 negara lainnya</a>—menerapkan undang-undang dan praktik antimonopoli untuk mencegah terbentuknya industri dengan tingkat persaingan yang terbatas.</p> <p>Namun, ketika sebuah industri semakin mapan, laju pertumbuhan cenderung melambat. Perusahaan-perusahaan yang tersisa terpaksa bersaing memperebutkan stagnansi pasar. Jika hal tersebut terjadi, para pemimpin menikmati stabilitas yang lebih besar serta keuntungan yang lebih dapat diprediksi. </p> <p>Di pihak lain, para pemain yang tertinggal kesulitan mempertahankan profitabilitas. Mereka kerap memilih bergabung untuk memperbesar pangsa pasar sekaligus menekan biaya.</p> <p>Pertimbangannya adalah satu atau dua pemain berisiko jatuh pada jebakan monopoli atau duopoli. Sementara adanya lebih dari tiga pemain akan membuat pemainnya <a href="https://www.jstor.org/stable/1807049?seq=3">sering kesulitan meraih keuntungan di industri yang telah matang</a>.</p> <h2>Nasib para pemain kecil</h2> <p>Keberadaan tiga raksasa akan kian mendominasi pasar. Sementara perusahaan yang lebih kecil akan bernasib menerima tantangan bertubi-tubi.</p> <p>Salah satu solusi sementara bagi layanan <em>streaming</em> kecil adalah harus berani membakar uang melalui promosi yang kemudian dinaikkan—memanfaatkan celah pelanggan yang lupa membatalkan langganan. Pada saat bersamaan, perusahaan perlu terus menyiapkan langkah yang lebih permanen. </p> <p>Namun, para kurcaci ini juga akan menghadapi tekanan yang kian besar untuk keluar dari bisnis <em>streaming</em>—baik dengan melisensikan konten kepada <em>platform</em> terdepan, menghentikan operasional, maupun menjual layanan dan aset kontennya.</p> <p>Tidak jarang juga, mereka tergoda mengakuisisi layanan yang lebih kecil demi mempertahankan pangsa pasar.</p> <p>Bahkan, rumor tentang Paramount—yang juga menjadi penawar pesaing dalam perebutan Warner Bros—<a href="https://www.indiewire.com/features/general/paramount-plus-with-showtime-buy-starz-lionsgate-spinoff-1234809754/">sedang berupaya mengakuisisi Starz</a> atau membentuk usaha patungan dengan Universal, pemilik layanan <em>streaming</em> Peacock.</p> <p>Apple sejauh ini memang belum menunjukkan rencana untuk menghentikan Apple TV+. Tapi hal tersebut bisa saja terjadi tergantung oleh tingkat profitabilitas perusahaan yang tinggi serta arus kas kuat yang mengurangi tekanan untuk menutup layanan <em>streaming</em> tersebut.</p> <p>Meski demikian, jika kesepakatan Netflix–Warner Bros benar-benar gol, nilainya diperkirakan akan turut mengerek valuasi layanan <em>streaming</em> lain yang tertinggal.</p> <p>Pembatasan persaingan yang menghambat tiga pemain utama untuk terus membesar justru membuat penggabungan layanan <em>streaming</em> yang lebih kecil menjadi semakin bernilai, seiring makin langkanya konten bernilai dan basis pelanggan.</p> <p>Hal ini semakin diperkuat oleh ekspektasi para pemegang saham akan premi yang setara atau bahkan lebih tinggi dibandingkan kesepakatan sebelumnya. Ini mendorong kebutuhan membayar harga yang kian mahal atas semakin sedikitnya aset yang masih tersedia.</p> <h2>Pelanggan menanggung harganya</h2> <p>Jadi apa artinya ini semua bagi pelanggan?</p> <p>Stabilitas pasar dalam industri <em>streaming</em> melalui konsolidasi ke dalam model tiga pemain utama justru semakin menegaskan kemunduran televisi kabel tradisional.</p> <p>Satu hal yang pasti, cara masyarakat mengakses konten akan terus bergeser menjauhi televisi kabel dan bioskop.</p> <p>Saya meyakini, dalam hal biaya hiburan secara keseluruhan, konsumen tidak terlalu terdampak. Sebab, tekanan inflasi pada kebutuhan pokok seperti <a href="https://www.cbsnews.com/news/affordability-2025-inflation-food-prices-housing-child-care-health-costs/">pangan dan perumahan</a> akan membatasi alokasi pendapatan mereka untuk layanan <em>streaming</em>.</p> <p>Alasan Netflix mengakuisisi Warner Bros kemungkinan untuk memungkinkan perusahaan menawarkan layanan <em>streaming</em> dengan harga lebih murah dibandingkan total biaya langganan terpisah, meski tetap lebih tinggi daripada harga langganan Netflix saja. Hal ini dapat diwujudkan melalui penambahan tingkatan langganan bagi pelanggan Netflix yang ingin mengakses konten HBO Max. </p> <p>Di luar persaingan dengan sesama anggota “tiga besar”, ada alasan lain mengapa kecil kemungkinannya Netflix menaikkan harga secara signifikan: perusahaan berkomitmen untuk menahan kenaikan harga demi memperoleh persetujuan atas merger tersebut.</p> <p>Tujuan Netflix adalah memastikan posisinya sebagai pilihan utama konsumen untuk menonton serial televisi dan film secara <em>streaming</em>. Karena itu, meskipun industri <em>streaming</em> kian mengerucut menjadi arena tiga pemain besar, strategi Netflix jelas: tetap berada di puncak segitiga.</p><img src="https://counter.theconversation.com/content/271761/count.gif" alt="The Conversation" width="1" height="1" /> <p class="fine-print"><em><span>David R. King tidak bekerja, menjadi konsultan, memiliki saham, atau menerima dana dari perusahaan atau organisasi mana pun yang akan mengambil untung dari artikel ini, dan telah mengungkapkan bahwa ia tidak memiliki afiliasi selain yang telah disebut di atas.</span></em></p> Secara tradisional, industri di Amerika Serikat cenderung terkonsolidasi menjadi tiga pemain utama. Dalam sektor layanan streaming, Netflix, Amazon Prime, dan Disney adalah raksasanya. David R. King, Higdon Professor of Management, Florida State University Licensed as Creative Commons – attribution, no derivatives. tag:theconversation.com,2011:article/271749 2025-12-20T09:04:11Z 2025-12-20T09:04:11Z Tip menahan diri dari belanja berlebihan saat Natal <figure><img src="https://images.theconversation.com/files/707647/original/file-20251204-56-774nwf.jpg?ixlib=rb-4.1.0&amp;rect=0%2C0%2C5759%2C3840&amp;q=45&amp;auto=format&amp;w=1050&amp;h=700&amp;fit=crop" /><figcaption><span class="caption"></span> <span class="attribution"><a class="source" href="https://www.shutterstock.com/image-photo/santa-claus-supermarket-he-showing-mini-1498857905?trackingId=cb7b4244-13f1-4725-8d72-cbf6ed9c1177">Eterna Images/Shutterstock</a></span></figcaption></figure><p>Natal dan Tahun Baru adalah musimnya berbelanja. Di Indonesia, Survei Penjualan Eceran (SPE) Bank Indonesia memproyeksikan kenaikan penjualan eceran menjelang Natal—<a href="https://www.cnbcindonesia.com/news/20251210105050-4-692802/penjualan-eceran-meningkat-jelang-nataru-barang-ini-jadi-incaran">tumbuh 5,9% lebih tinggi pada November dari 4,3% pada Oktober.</a></p> <p><a href="https://www.neuronsinc.com/neuromarketing">Neuromarketing</a>—bidang ilmu saraf yang mempelajari bagaimana otak merespons produk—dapat membantu kita memahami dorongan konsumsi dan mencegah diri dari kecenderungan untuk berbelanja berlebihan di akhir tahun.</p> <p>Alasan kita impulsif berbelanja saat Natal dipicu oleh sifat <a href="https://neurolaunch.com/psychology-of-buying-things/">di bawah alam sadar dan dorongan emosional</a>. Otak manusia secara alami berusaha menghindari <a href="https://www.psypost.org/the-neuroscience-of-rejection-the-surprising-way-your-brain-learns-from-being-left-out/">rasa terasing/ketinggalan</a> (FOMO).</p> <p>Fomo merupakan bentuk ikatan sosial penting bagi kelangsungan hidup sejak zaman nenek moyang kita. Ketika orang lain terlihat berbelanja dan bersenang-senang saat Natal, dorongan evolusioner membuat kita terdorong untuk ikut serta.</p> <p>Keinginan kita terhadap barang baru—bahkan ketika <a href="https://www.nature.com/articles/s41583-023-00784-9">tidak memiliki nilai intrinsik</a>—juga berakar pada evolusi. Sebab, mendapatkan hal baru memberi rasa aman seolah kita mengurangi ketidakpastian masa depan. </p> <p>Akibatnya, ketika sebuah produk dipasarkan sebagai versi “terbaru”, otak kita cenderung menganggapnya lebih menarik dan sulit ditolak.</p> <hr> <p> <em> <strong> Baca juga: <a href="https://theconversation.com/christmas-consumption-what-would-the-great-economic-philosophers-think-219069">Christmas consumption – what would the great economic philosophers think?</a> </strong> </em> </p> <hr> <p>Sinyal-sinyal otak (neurotransmitter) juga memengaruhi perilaku belanja kita: dopamin <a href="https://exploringyourmind.com/christmas-changes-the-brain-according-to-science/">mendorong motivasi</a> dan impuls mencari hadiah, oksitosin meningkatkan rasa kebersamaan yang bisa muncul saat membeli barang serupa dengan teman, sementara kadar kortisol dapat naik ketika kita merasa takut ketinggalan sehingga membuat kita lebih rentan membeli sesuatu.</p> <figure class="align-center "> <img alt="Seorang perempuan tampak berbaring di lantai ruang tamu sambil menggunakan laptop dan memegang kartu bank, dengan pohon Natal di latar belakang" src="https://images.theconversation.com/files/706369/original/file-20251204-56-duzmx2.jpg?ixlib=rb-4.1.0&amp;q=45&amp;auto=format&amp;w=754&amp;fit=clip" srcset="https://images.theconversation.com/files/706369/original/file-20251204-56-duzmx2.jpg?ixlib=rb-4.1.0&amp;q=45&amp;auto=format&amp;w=600&amp;h=400&amp;fit=crop&amp;dpr=1 600w, https://images.theconversation.com/files/706369/original/file-20251204-56-duzmx2.jpg?ixlib=rb-4.1.0&amp;q=30&amp;auto=format&amp;w=600&amp;h=400&amp;fit=crop&amp;dpr=2 1200w, https://images.theconversation.com/files/706369/original/file-20251204-56-duzmx2.jpg?ixlib=rb-4.1.0&amp;q=15&amp;auto=format&amp;w=600&amp;h=400&amp;fit=crop&amp;dpr=3 1800w, https://images.theconversation.com/files/706369/original/file-20251204-56-duzmx2.jpg?ixlib=rb-4.1.0&amp;q=45&amp;auto=format&amp;w=754&amp;h=503&amp;fit=crop&amp;dpr=1 754w, https://images.theconversation.com/files/706369/original/file-20251204-56-duzmx2.jpg?ixlib=rb-4.1.0&amp;q=30&amp;auto=format&amp;w=754&amp;h=503&amp;fit=crop&amp;dpr=2 1508w, https://images.theconversation.com/files/706369/original/file-20251204-56-duzmx2.jpg?ixlib=rb-4.1.0&amp;q=15&amp;auto=format&amp;w=754&amp;h=503&amp;fit=crop&amp;dpr=3 2262w" sizes="(min-width: 1466px) 754px, (max-width: 599px) 100vw, (min-width: 600px) 600px, 237px"> <figcaption> <span class="caption">Apakah ia akan tetap berpegang pada anggaran belanja Natalnya?</span> <span class="attribution"><a class="source" href="https://www.shutterstock.com/image-photo/young-woman-online-shopping-on-laptop-2376864989?trackingId=a1324cf6-a26c-44b0-809b-27ba9642a192">Geber86/Shutterstock</a></span> </figcaption> </figure> <p>Neurotransmiter ini mengarahkan fokus mata kita saat melihat iklan, mengunci perhatian, lalu memicu keinginan untuk merasakan “hadiah” dari membeli. Pada Juli 2025, peneliti menganalisis <a href="https://homeofdirectcommerce.com/news/three-years-of-aggregated-eye-tracking-data-reveals-winning-formula-for-christmas-ads/">tiga tahun data pelacakan mata</a> terhadap peserta studi yang menonton 50 iklan Natal paling menarik. </p> <p>Hasilnya menunjukkan bahwa cerita yang menguras emosi sangat efektif menarik perhatian, sehingga membuat kita lebih terdorong membeli produk. Gambar dengan ikon emosional—seperti selebritas populer atau karakter kartun yang menggemaskan—juga mudah mengalihkan perhatian kita. </p> <p>Padahal, <a href="https://pubmed.ncbi.nlm.nih.gov/26158943/">distraksi diketahui menghambat kita memikirkan tujuan masa depan</a>, termasuk rencana menghemat uang.</p> <h2>Mengapa tekadmu bisa menguap?</h2> <p>Awalnya, <a href="https://www.simplypsychology.org/marshmallow-test.html">tes <em>marshmallow</em> tahun 1970</a> yang dikembangkan psikolog Walter Mischel menunjukkan bahwa anak-anak yang mampu menahan diri untuk tidak memakan <em>marshmallow</em> saat peneliti meninggalkan ruangan cenderung memiliki disiplin lebih baik ketika dewasa. Otak mereka dinilai memiliki kontrol diri yang lebih kuat.</p> <p>Namun, <a href="https://journals.sagepub.com/doi/abs/10.1177/0956797618761661">replikasi studi pada 2018</a> menemukan bahwa latar belakang keluarga dan kondisi ekonomi justru menjadi faktor utama yang menentukan. Apakah seorang anak—dan kelak sebagai orang dewasa—mampu menunda kepuasan dan mengendalikan impuls (tidak memakan <em>marshmallow</em>)?</p> <p>Karena itu, ketika keluarga sedang tidak harmonis atau keuangan sedang seret saat Natal, kondisi tersebut dapat memicu keputusan yang lebih cepat dan impulsif. Akhirnya, kita berbelanja berlebihan untuk barang-barang yang sebenarnya tidak kita butuhkan atau inginkan.</p> <p>Riset psikologi menunjukkan bahwa kondisi yang membuat kemauan diri kita <a href="https://www.apa.org/topics/willpower-limited.pdf">paling mudah terkuras</a> terjadi ketika kita lelah, terlalu banyak memikirkan berbagai hal, atau berada dalam kondisi membutuhkan sesuatu. Situasinya mirip otot yang dipaksa bekerja terlalu keras dan membutuhkan pasokan energi terus-menerus.</p> <p>Inilah formula sempurna saat Natal. Kita memikirkan daftar keluarga dan teman yang harus dibelikan hadiah, lalu mencari pelarian lewat barang-barang atau pengalaman menyenangkan khas Natal. Di Indonesia, ini pun terjadi saat <a href="https://theconversation.com/paradoks-perilaku-konsumsi-ramadan-impulsif-belanja-setelah-menahan-lapar-seharian-251240">Ramadan dan Idulfitri</a>.</p> <p>Semua ini <a href="https://pmc.ncbi.nlm.nih.gov/articles/PMC8617292/">membebani sistem kontrol kognitif di korteks prefrontal</a>—bagian depan otak yang berfungsi mengendalikan perilaku dengan mempertimbangkan tujuan jangka panjang. </p> <p>Korteks prefrontal terhubung langsung dengan pusat penghargaan di otak; jadi ketika bagian ini kewalahan, respons cepat dan impulsif yang digerakkan dopamin lebih mudah mengambil alih.</p> <p>Berpikir cepat dan impulsif serta berpikir lambat dan terukur <a href="https://www.brainsugar.co/article/book-review-thinking-fast-and-slow-by-daniel-kahneman-a-masterclass-in-behavioural-economics-and-human-decision-making">sama-sama merupakan bagian alami dari kerja otak</a>. Namun, belanja Natal kerap memicu pola pikir cepat dan spontan ini—mulai dari penawaran terbatas hingga rasa “cemas” ketika anak atau orang terdekat berpotensi tidak mendapatkan hadiah yang sangat mereka inginkan.</p> <figure class="align-center "> <img alt="Seorang perempuan tampak kelelahan membawa kotak-kotak hadiah berbungkus kertas." src="https://images.theconversation.com/files/706371/original/file-20251204-66-g5wk75.jpg?ixlib=rb-4.1.0&amp;q=45&amp;auto=format&amp;w=754&amp;fit=clip" srcset="https://images.theconversation.com/files/706371/original/file-20251204-66-g5wk75.jpg?ixlib=rb-4.1.0&amp;q=45&amp;auto=format&amp;w=600&amp;h=400&amp;fit=crop&amp;dpr=1 600w, https://images.theconversation.com/files/706371/original/file-20251204-66-g5wk75.jpg?ixlib=rb-4.1.0&amp;q=30&amp;auto=format&amp;w=600&amp;h=400&amp;fit=crop&amp;dpr=2 1200w, https://images.theconversation.com/files/706371/original/file-20251204-66-g5wk75.jpg?ixlib=rb-4.1.0&amp;q=15&amp;auto=format&amp;w=600&amp;h=400&amp;fit=crop&amp;dpr=3 1800w, https://images.theconversation.com/files/706371/original/file-20251204-66-g5wk75.jpg?ixlib=rb-4.1.0&amp;q=45&amp;auto=format&amp;w=754&amp;h=503&amp;fit=crop&amp;dpr=1 754w, https://images.theconversation.com/files/706371/original/file-20251204-66-g5wk75.jpg?ixlib=rb-4.1.0&amp;q=30&amp;auto=format&amp;w=754&amp;h=503&amp;fit=crop&amp;dpr=2 1508w, https://images.theconversation.com/files/706371/original/file-20251204-66-g5wk75.jpg?ixlib=rb-4.1.0&amp;q=15&amp;auto=format&amp;w=754&amp;h=503&amp;fit=crop&amp;dpr=3 2262w" sizes="(min-width: 1466px) 754px, (max-width: 599px) 100vw, (min-width: 600px) 600px, 237px"> <figcaption> <span class="caption">Jeda dibuutuhkan sebelum korteks prefrontal kewalahan.</span> <span class="attribution"><a class="source" href="https://www.shutterstock.com/image-photo/tired-christmas-woman-shopping-extensively-last-2521088859?trackingId=cb7b4244-13f1-4725-8d72-cbf6ed9c1177">Nicoleta Ionescu/Shutterstock</a></span> </figcaption> </figure> <h2>Latih otakmu</h2> <p>Ada cara untuk memperkuat kemauan diri agar bisa menikmati musim liburan secara seimbang dan sehat. Kuncinya adalah menyadari emosi dan tindakan kita. </p> <p><a href="https://www.ourmental.health/impulsivity/effective-strategies-for-managing-impulsivity">Semakin sadar kita memperhatikan kecenderungan impulsif</a>, semakin baik pula kemampuan kita mengendalikannya di kemudian hari.</p> <p>Kamu bisa mulai sekarang dengan mencatat setiap pembelian impulsif dalam sepekan atau sebulan terakhir. Dan pada kesempatan berikutnya, saat hendak membeli sesuatu, tanyakan pada diri sendiri: apakah kamu sedang menggunakan pola pikir yang lambat dan terukur, atau justru cepat dan impulsif?</p> <p>Seperti otot, sistem korteks prefrontal bisa dilatih agar lebih kuat. Karena itulah latihan kognitif menjelang Natal ataupun hari-hari besar lainnya dapat membantu memperkuat pengendalian diri. </p> <p>Misalnya dengan <a href="https://www.sciencedirect.com/science/article/pii/S3050642525000326">bermain catur daring</a>, mengerjakan <a href="https://pmc.ncbi.nlm.nih.gov/articles/PMC7718610/">sudoku</a>, atau membaca buku hadiah Natal tahun lalu yang belum sempat dibuka. </p> <p>Aktivitas seperti teka-teki, membaca, hingga <a href="https://pmc.ncbi.nlm.nih.gov/articles/PMC11591838/">meditasi yang menenangkan pikiran</a> juga dapat memperkuat sirkuit otak—dan mungkin membantumu menjadi lebih sedikit impulsif tahun ini.</p> <p>Lalu bagaimana jika kamu membaca artikel ini saat duduk di kafe, beristirahat sejenak dari hiruk-pikuk belanja? Kamu bisa meninjau kembali daftar belanja (atau menyusunnya sebelum berangkat) dan meneguhkan rencanamu. Ingatkan diri untuk tetap berpegang pada daftar dan anggaran apa pun godaannya. </p> <p>Riset menunjukkan bahwa perencanaan dan penetapan niat membantu <a href="https://psycnet.apa.org/record/2007-19538-002">mencegah respons impulsif</a>, terutama jika kita sejak awal sudah menyiapkan langkah antisipasi ketika menemukan barang diskon yang terlihat menggoda.</p> <p>Ingat, jika kamu mampu menahan hasrat berbelanja impulsif saat Natal, dirimu di masa depan akan berterima kasih atas keputusan itu.</p><img src="https://counter.theconversation.com/content/271749/count.gif" alt="The Conversation" width="1" height="1" /> <p class="fine-print"><em><span>Samantha Brooks menerima pendanaan dari Universitas Liverpool John Moores.</span></em></p> Konsumerisme saat Natal—dengan musik meriah dan iklan yang menyentuh—cenderung membuat orang lebih mudah terbawa suasana dan berbelanja lebih banyak dari biasanya. Samantha Brooks, Associate Professor of Cognitive Neuroscience, Liverpool John Moores University Licensed as Creative Commons – attribution, no derivatives.