tag:theconversation.com,2011:/id/kesehatan/articles Kesehatan – The Conversation 2026-02-02T04:57:03Z tag:theconversation.com,2011:article/273900 2026-02-02T04:57:03Z 2026-02-02T04:57:03Z Alih fungsi RS kusta jadi museum bisa hilangkan stigma, tapi mengapa sulit diterapkan di Indonesia? <blockquote> <p>● Kuatnya stereotip negatif masyarakat maupun tenaga kesehatan, menghambat upaya pemberantasan kusta di Tanah Air.</p> <p>● Alih fungsi RS kusta menjadi museum bisa meningkatkan upaya menghilangkan stigma, contohnya di Malaysia dan Korea Selatan.</p> <p>● Sayangnya, pendekatan ini sulit diadaptasi di Indonesia karena keterbatasan dana rumah sakit kusta dan birokrasi yang rumit.</p> </blockquote> <hr> <p>Akhir tahun 2025 lalu, kemunculan kasus kusta (lepra) baru yang dialami <a href="https://nasional.kompas.com/read/2025/12/18/20510551/2-wni-kusta-di-rumania-kemenkes-telusuri-keluarganya-di-indonesia">dua pekerja migran asal Indonesia</a> menggemparkan Rumania. Ini merupakan kasus kusta pertama di negara tersebut setelah terakhir kali terdeteksi 44 tahun silam. </p> <p>Hasil pemeriksaan International Health Regulations National Focal Point Rumania (organisasi penghubung sebuah negara dengan WHO), menunjukkan bahwa salah satu pasien tertular kusta <a href="https://nasional.kompas.com/read/2025/12/18/20510551/2-wni-kusta-di-rumania-kemenkes-telusuri-keluarganya-di-indonesia">setelah merawat ibunya yang memiliki penyakit serupa</a> di Indonesia.</p> <p>Kasus kusta di Tanah Air masih menjadi momok penyakit menular yang terabaikan. Padahal, jumlah kasus kusta baru di negara kita tertinggi ketiga secara global (dengan <a href="https://www.kompas.id/artikel/dua-kasus-kusta-dilaporkan-di-romania-setelah-40-tahun-keduanya-wni">10.450 kasus baru pada 2025</a>), setelah India dan Brasil. </p> <p><a href="https://theconversation.com/mengapa-kusta-di-indonesia-belum-juga-hilang-210639">Masih kuatnya stereotip negatif</a>, baik dari masyarakat maupun tenaga kesehatan, menghambat upaya pemberantasan kusta di Indonesia. Selain itu, penanganan penyakit yang belum optimal dan keterlambatan diagnosis membuat penyakit ini sulit dihilangkan.</p> <p>Stigma ini bahkan masih dirasakan oleh para penyintas yang sudah sembuh usai mendapatkan perawatan di rumah sakit khusus kusta (leprosarium). Banyak penyintas kusta yang tetap memilih tinggal di sekitar leprosarium karena takut ditolak di kampung asal mereka. </p> <p>Tidak mengherankan bila <a href="https://theconversation.com/seabad-lebih-kongres-kusta-pertama-pengidap-kusta-di-indonesia-masih-banyak-dan-didiskriminasi-175341">kampung-kampung kusta</a>—di mana para penyintas hidup berdampingan—lazim ditemukan sampai saat ini. Misalnya, di sekitar RS Kusta Donorojo di Jepara, Jawa Tengah (berdiri tahun 1916) dan RS Sumberglagah di Mojokerto, Jawa Timur (berdiri tahun 1952).</p> <p>Untuk menghilangkan stigma kusta secara perlahan, pemerintah perlu melakukan pendekatan baru dalam mengubah pandangan masyarakat. Salah satunya lewat pendekatan sejarah.</p> <h2>Menghilangkan stigma lewat pendekatan sejarah</h2> <p>Di banyak negara, pembangunan leprosarium dilakukan secara masif pada awal <a href="https://prcno.org/revisiting-louisianas-medical-legacy-national-leprosarium-carville/">abad ke-20</a>. Tujuan awalnya adalah sebagai tempat perawatan khusus bagi orang dengan kusta guna mencegah penularan. </p> <p>Namun, lambat laun keberadaanya identik sebagai <a href="https://academic.oup.com/shm/article/34/2/611/5681883">simbol pengucilan</a>—tempat untuk mengisolasi mereka yang dianggap terkena penyakit berbahaya. Ironisnya, <a href="https://kathmandupost.com/health/2025/03/28/leprosy-survivors-in-achham-say-life-has-improved-but-stigma-lingers">stigma semacam ini masih terus mengakar</a>, bahkan hingga saat ini. </p> <hr> <p> <em> <strong> Baca juga: <a href="https://theconversation.com/seabad-lebih-kongres-kusta-pertama-pengidap-kusta-di-indonesia-masih-banyak-dan-didiskriminasi-175341">Seabad lebih Kongres Kusta pertama, pengidap kusta di Indonesia masih banyak dan didiskriminasi</a> </strong> </em> </p> <hr> <p>Di sejumlah negara (seperti <a href="https://journals.sagepub.com/doi/pdf/10.1177/17506980231215011">Malaysia, Korea Selatan, dan Taiwan</a>) bekas leprosarium kemudian diubah menjadi monumen dan sarana edukasi. Inisiatif ini umumnya diprakarsai oleh para penyintas dan juga aktivis. </p> <p><a href="https://journals.sagepub.com/doi/pdf/10.1177/17506980231215011">Penelitian tahun 2024 di tiga negara tersebut</a> melaporkan bagaimana alih fungsi RS kusta menjadi museum berhasil mendorong dialog antara penyintas, pengunjung, dan petugas kesehatan. </p> <p>Museum ini mengangkat sejarah kelam warisan kolonial dalam penanganan kusta, serta <a href="https://journals.sagepub.com/doi/pdf/10.1177/17506980231215011">menyuarakan pengalaman pasien</a>. Inisiatif ini efektif dalam memanusiakan penyintas, mengurangi stereotip negatif, dan menumbuhkan rasa ingin tahu masyarakat umum mengenai penyakit kusta.</p> <p></p> <h2>Menakar dampaknya ke penyintas</h2> <p>Meski menjanjikan, menjadikan RS kusta sebagai destinasi wisata bersejarah perlu mempertimbangkan dampak jangka panjang terhadap kehidupan sosial penyintas yang masih tinggal di sana.</p> <p>Contohnya, pembukaan <a href="https://www.mdpi.com/2071-1050/12/17/6834#:%7E:text=Consequently%2C%20the%20number%20of%20visitors,Hansen%E2%80%99s%20disease%20patients%20have%20mainly">Pulau Sorokdo di Korea Selatan</a> pada 2009 sebagai destinasi wisata edukatif, dahulunya adalah leprosarium. </p> <p>Meski efektif mengakhiri isolasi pasien kusta dan menjadi wahana edukasi masyarakat, <a href="https://koreajoongangdaily.joins.com/news/2025-12-09/national/socialAffairs/Sorok-Island-residents-recall-Korean-leper-colonys-history-of-internment-and-isolation/2469865">gelombang masif wisatawan</a> justru mengganggu rutinitas harian para penyintas lansia. Apalagi banyak di antaranya telah menghuni Pulau Sorokdo seumur hidup. </p> <p>Beberapa pengunjung bersikap layaknya sedang berwisata biasa, mengambil foto tanpa izin, atau memperlakukan penyintas kusta sebagai objek eksotis, bukan sebagai manusia yang layak dihormati. Hingga akhirnya <a href="https://koreajoongangdaily.joins.com/news/2025-12-09/national/socialAffairs/Sorok-Island-residents-recall-Korean-leper-colonys-history-of-internment-and-isolation/2469865">pemerintah Korea Selatan membatasi aktivitas wisata</a> di pulau tersebut.</p> <p>Untuk itu, pembangunan museum kusta idealnya memerlukan pendekatan yang tidak hanya fokus pada edukasi publik, tetapi juga menjunjung tinggi martabat, privasi, dan hak otonomi para penyintas.</p> <h2>Tantangan di Indonesia</h2> <p><a href="https://heritage.yonsei.ac.kr/project/3">Kolaborasi penelitian kami pada 2025-2026</a> mencoba mencari tahu apakah inisiatif serupa bisa diadaptasi di Indonesia. Kami melakukan observasi dan wawancara awal di RS Kusta Donorojo dan RS Sumberglagah. </p> <p>Dari kunjungan awal, kami mendapati bahwa kedua rumah sakit telah mengembangkan gagasan untuk melestarikan warisan sejarah mereka. Tujuannya demi menjaga ingatan kolektif masyarakat mengenai bahaya kusta, serta mendukung kehidupan para penyintas yang masih tinggal di sekitar rumah sakit. </p> <hr> <p> <em> <strong> Baca juga: <a href="https://theconversation.com/kusta-penyakit-terabaikan-sebuah-kisah-mengapa-begitu-sulit-dihapus-di-indonesia-198411">Kusta, penyakit terabaikan, sebuah kisah mengapa begitu sulit dihapus di Indonesia</a> </strong> </em> </p> <hr> <p>RS Sumberglagah bahkan telah menerima <a href="https://unusa.ac.id/2023/03/25/unusa-akan-jadikan-rs-sumberglagah-sebagai-rs-pendidikan-satelit-fk/.">siswa sekolah hingga mahasiswa</a> untuk mempelajari sejarah, dampak sosial, hingga realitas medis kusta hari ini. </p> <p>Namun, ternyata pengalihfungsian RS kusta menjadi museum di Indonesia memiliki banyak tantangan.</p> <p><em>Pertama</em>, program pengentasan kusta tidak termasuk program kesehatan prioritas <a href="https://kemkes.go.id/id/strategi-quick-win-tbc-identifikasi-dini-notifikasi-kasus-dan-pengobatan-menyeluruh">seperti TB</a>. Karena itu, kegiatan edukasi dan pencegahan—termasuk dengan mendirikan museum—akan sangat bergantung pada sumber dana di luar kas negara (APBN). </p> <p>Terlebih sumber pendanaan program kusta di Indonesia dalam proses transformasi secara bertahap ke <a href="https://nlrindonesia.or.id/wp-content/uploads/2025/01/RAN-Eliminasi-Kusta-2023-2027-1.pdf">pemerintah daerah</a>. </p> <p><em>Kedua</em>, status RS Kusta saat ini masih aktif. Bahkan untuk tetap bisa bertahan, mereka kini telah menambahkan akses layanan unggulan berpendapatan cepat, seperti <a href="https://data.jatengprov.go.id/dataset/43fdb87b-af1a-4f12-b639-98e961a1bd3b/resource/01773100-1e41-403a-9a8d-09a94b555a2c/download/rsb-rsud-dr.-rehatta-th-2024-2026.pdf#:%7E:text=mengalami%20peningkatan%20sekitar%204,000">layanan kanker dan cuci darah</a>. Rumah sakit yang masih aktif sangat sulit untuk dialihfungsikan menjadi museum. <a href="https://journals.sagepub.com/doi/pdf/10.1177/17506980231215011">Di negara lain</a> pun pengalihfungsian leprosarium menjadi museum hanya bisa dilakukan ketika RS khusus kusta sudah tidak lagi aktif. </p> <p><em>Ketiga</em>, RS Kusta menjadi salah satu sumber pendapatan daerah yang lebih menguntungkan daripada museum, sehingga pengalihfungsian bangunan menjadi museum berpotensi mendapatkan penolakan dari pemerintah daerah.</p> <p><em>Keempat</em>, meskipun keberadaan museum di dalam rumah sakit disetujui, tata kelola operasionalnya akan memerlukan kesepakatan antar-kementerian: Kemenkes sebagai pembina fasilitas kesehatan dan Kemendikbudristek sebagai pembina museum. </p> <p>Tanpa penetapan <em>leading sector</em> atau nota kesepahaman yang jelas, potensi tumpang tindih kewenangan (misalnya dalam kurasi konten edukasi kesehatan versus pelestarian warisan budaya) dapat menghambat keberlanjutan museum.</p> <h2>Pendekatan sejarah lainnya</h2> <p>Pendekatan yang lebih mungkin saat ini adalah mengembangkan tur sejarah di dalam RS Kusta yang masih beroperasi, seperti yang diterapkan <a href="https://www.valleyofhope.my/appointment?">RS Sungai Buloh, Malaysia</a> dan <a href="https://setouchi-artfest.jp/en/place/oshima">Oshima Seishoen Sanatorium</a>, Jepang.</p> <p><a href="https://pmc.ncbi.nlm.nih.gov/articles/PMC11340997/">Kajian sistematis</a> menunjukkan edukasi berbasis komunitas efektif mengurangi stigma kusta di masyarakat. Selain itu, model tur sejarah dapat menghindari hambatan birokrasi dan pembagian wewenang yang rumit—karena kewenangannya tetap berada di bawah Kemenkes.</p> <p>Saat ini, kami sedang mempersiapkan riset kolaborasi partisipatif bersama penyintas kusta, tenaga kesehatan, penggiat tur sejarah, dan pembuat kebijakan setempat di RS Donorojo dan Sumberglagah. Pendekatan ini diharapkan dapat memanfaatkan nilai edukatif warisan sejarah tanpa mengorbankan fungsi pelayanan kesehatan yang masih dibutuhkan masyarakat.</p> <hr> <iframe src="https://tally.so/r/MeEOLk?alignLeft=1&amp;hideTitle=1&amp;transparentBackground=1&amp;dynamicHeight=1" width="100%" height="321" frameborder="0" marginheight="0" marginwidth="0" title="Survey Form"> </iframe><img src="https://counter.theconversation.com/content/273900/count.gif" alt="The Conversation" width="1" height="1" /> <p class="fine-print"><em><span>Grace menerima dukungan dana penelitian terkait dengan topik artikel ini dari Arts Campus Mobility Scheme, Faculty of Arts, Monash University, Australia</span></em></p><p class="fine-print"><em><span>Ravando menerima dukungan dana penelitian dari Arts Campus Mobility Scheme, Faculty of Arts, Monash University, Australia</span></em></p> Alih fungsi kusta jadi museum bisa meningkatkan upaya menghilangkan stigma, Tapi pendekatannya sulit diadaptasi Indonesia karena keterbatasan dana RS dan birokrasi. Grace Wangge, Associate Proffesor, Monash University Ravando, Research Fellow, Monash University Licensed as Creative Commons – attribution, no derivatives. tag:theconversation.com,2011:article/274311 2026-01-28T00:18:41Z 2026-01-28T00:18:41Z Bahaya ‘gas tertawa’ bisa merusak otak dan picu kematian mendadak: Mengapa masih dijual bebas? <figure><img src="https://images.theconversation.com/files/714350/original/file-20250502-56-hc5ouz.jpg?ixlib=rb-4.1.0&amp;rect=110%2C0%2C4390%2C2925&amp;q=45&amp;auto=format&amp;w=1050&amp;h=700&amp;fit=crop" /><figcaption><span class="caption">Penyalahgunaan dinitrogen oksida atau gas tertawa berisiko merusak otak dan picu kematian.</span> <span class="attribution"><a class="source" href="https://www.gettyimages.com/detail/news-photo/man-inhales-from-a-balloon-at-a-summer-festival-on-june-25-news-photo/1480521272?adppopup=true">Matt Cardy/Getty Images News</a></span></figcaption></figure><p><a href="https://www.fda.gov/food/alerts-advisories-safety-information/fda-advises-consumers-not-inhale-nitrous-oxide-products">Badan Pengawas Obat dan Makanan Amerika Serikat (FDA)</a> memperingatkan warganya mengenai bahaya penyalahgunaan produk gas <em>nitrous oxide</em> (dinitrogen oksida) atau dikenal sebagai <em>laughing gas</em>/<em>happy gas</em> (gas tertawa) untuk tujuan hiburan. </p> <p>Dalam dunia medis, dokter biasa menggunakan dinitrogen oksida sebagai <a href="https://emedicine.medscape.com/article/1413427-overview?form=fpf">campuran pereda nyeri/anestesi</a> (misalnya setelah cabut gigi) ataupun oksigen tambahan dengan dosis terukur. Selain itu, ada jenis dinitrogen oksida yang memenuhi standar keamanan pangan (<em>food grade</em>) dan aman digunakan untuk menghasilkan <em>whipped cream</em> (krim kocok). </p> <p>Karena itu, <a href="https://www.bbc.com/indonesia/articles/ckglxr9rgn2o">produk dinitrogen oksida legal diperjualbelikan</a>, termasuk <a href="https://kumparan.com/kumparannews/penjelasan-bnn-soal-n2o-atau-gas-tertawa-yang-sedang-marak-di-media-sosial-26iGdxcsvi8/full">di Indonesia</a>. Sayangnya, <a href="https://theconversation.com/nangs-are-popular-with-young-people-but-are-they-aware-of-the-serious-harms-of-nitrous-oxide-250654?utm_medium=article_native_share&amp;utm_source=theconversation.com">banyak anak muda</a> menyalahgunakan dinitrogen oksida untuk dihirup (ngebalon) agar menimbulkan efek mabuk dan halusinasi yang cepat, padahal berisiko sangat mematikan. </p> <p></p> <p>Di AS, dinitrogen oksida dipasarkan dalam berbagai merek, seperti “Galaxy Gas” dan “Miami Magic”. Gas ini sering dijual dalam kartrid baja yang dikenal sebagai <a href="https://www.euda.europa.eu/spotlights/spotlight-recreational-use-nitrous-oxide-laughing-gas_en"><em>whippets</em></a>. </p> <p>Produk-produk tersebut <a href="https://assets.senate.mn/committees/2025-2026/3118_Committee_on_Commerce_and_Consumer_Protection/SF1215Handout2.pdf">dijual murah dan mudah didapatkan</a>, seperti di toko serba ada, toko rokok, hingga toko retail besar macam Walmart. Produk ini juga dijual daring. </p> <p>Sebagai <a href="https://olemiss.edu/profiles/rayocke1.php">asisten profesor kesehatan masyarakat</a> yang <a href="https://olemiss.edu/news/2025/4/nitrous-oxide-abuse-study/index.html">mempelajari produk sejenis ini</a>, saya menyadari betapa berbahayanya penyalahgunaan dinitrogen oksida—apalagi dalam jangka panjang bisa menyebabkan berbagai masalah kesehatan serius, bahkan dalam beberapa kasus memicu <a href="https://www.clickorlando.com/news/local/2025/02/07/family-files-lawsuit-to-stop-sales-of-nitrous-oxide-in-smoke-shops-after-lake-county-womans-death/">kematian</a>.</p> <h2>Bahaya kesehatan gas tertawa</h2> <p><a href="https://doi.org/10.1111/ajad.12372">Penyalahgunaan jangka panjang dinitrogen oksida</a> bisa menimbulkan berbagai <a href="https://respiratory-therapy.com/products-treatment/industry-regulatory-news/recalls-advisories/fda-do-not-inhale-nitrous-oxide-products/#">efek samping serius</a>, termasuk mengganggu kemampuan berpikir dan mengingat, memicu halusinasi, sakit kepala, pusing, gangguan suasana hati, dan pembekuan darah.</p> <p>Dampak kesehatan lainnya bisa menyebabkan anggota tubuh melemah, kesulitan berjalan, serta neuropati perifer (nyeri, mati rasa, dan kesemutan akibat kerusakan sistem saraf tepi). </p> <p>Pada kasus yang parah, efek samping dinitrogen oksida bisa mengganggu fungsi usus atau kandung kemih, hingga merusak sumsum tulang belakang dan otak secara permanen. Pasalnya, pengguna gas tertawa umumnya mengalami <a href="https://doi.org/10.1111/ajad.12372">kekurangan vitamin B12</a> yang bisa <a href="https://doi.org/10.1007/s00415-021-10748-7">menyebabkan kerusakan saraf dan otak</a>.</p> <p>Selama lima tahun terakhir (2019 - 2023), penyalahgunaan dinitrogen oksida di AS membuat jumlah pasien unit gawat darurat meningkat <a href="https://www.drugsandalcohol.ie/37760/">sebesar 32%</a>. Bahkan kematian akibat penggunaannya <a href="https://datac.ca/nitrous-oxide-abuse-and-deaths-on-the-rise-in-the-u-s/">melonjak lebih dari 100%</a> di negara itu. </p> <p>Hingga tahun 2023, lebih dari 13 juta warga AS <a href="https://www.samhsa.gov/data/report/2023-nsduh-detailed-tables">pernah menyalahgunakan dinitrogen oksida</a>, setidaknya sekali dalam seumur hidup mereka. Ironisnya, anak-anak juga termasuk dalam angka ini. </p> <p>Pada 2024, lebih dari 4% siswa kelas delapan (2 SMP) dan 2% siswa kelas 12 (3 SMA) <a href="https://monitoringthefuture.org/data/bx-by/drug-prevalence/#drug=%22Inhalants%22">mengaku telah mencoba inhalan</a> alias zat kimia rumah tangga yang aromanya dihirup untuk menimbulkan efek mabuk (termasuk lem dan bensin). </p> <p>Dinitrogen oksida merupakan jenis inhalan yang paling banyak disalahgunakan karena harganya murah, mudah dibeli, dan punya daya tarik komersial (salah satu produk gas ini disebut memiliki rasa “permen karet merah muda”).</p> <figure> <iframe width="440" height="260" src="https://www.youtube.com/embed/B_deV29ZaWQ?wmode=transparent&amp;start=0" frameborder="0" allowfullscreen=""></iframe> <figcaption><span class="caption">Menghirup dinitrogen oksida murni bisa menimbulkan sensasi mabuk yang cepat, tetapi dapat berakibat fatal.</span></figcaption> </figure> <h2>Mengapa gas tertawa masih dijual bebas?</h2> <p>Celah hukum dalam <a href="https://www.sciencedirect.com/science/article/pii/S2949916X25000143">Undang-Undang FDA (<em>Food and Drug Administration Act</em>)</a>, berupa ketiadaan aturan ketat yang melarang peredaran dinitrogen oksida untuk tujuan hiburan (di luar kebutuhan medis dan kuliner) menyebabkan banyak orang di AS bisa bebas membeli produk ini.</p> <p>Sementara di <a href="https://www.bbc.com/indonesia/articles/ckglxr9rgn2o">negara lain</a>, seperti Inggris, Belanda, Vietnam, dan Autralia, penggunaan dinitrogen oksida untuk kebutuhan hiburan sudah dilarang.</p> <p>Di Indonesia, aturannya masih longgar. <a href="https://kumparan.com/kumparannews/penjelasan-bnn-soal-n2o-atau-gas-tertawa-yang-sedang-marak-di-media-sosial-26iGdxcsvi8/full">Badan Narkotika Nasional</a> (BNN) menganggap bahwa senyawa kimia ini sah dan legal digunakan untuk keperluan medis dan industri. BNN pun <a href="https://kumparan.com/kumparannews/penjelasan-bnn-soal-n2o-atau-gas-tertawa-yang-sedang-marak-di-media-sosial-26iGdxcsvi8/full">tidak menggolongkannya sebagai narkotika</a>.</p> <p>Tren global mengenai larangan peredaran dinitrogen oksida untuk tujuan hiburan harusnya menjadi alarm untuk pengetatan regulasi di Indonesia maupun AS.</p> <p>Penelitian di AS mengenai risiko penyalahgunaan dinitrogen oksida masih sangat sedikit. Beberapa alasannya karena masyarakat masih <a href="https://doi.org/10.1097/00002826-199208000-00004">menganggap zat tersebut tidak berbahaya</a>, terutama jika <a href="https://doi.org/10.1016/S0140-6736(07)60464-4">dibandingkan dengan alkohol</a>.</p> <p>Penelitian soal bahaya penyalahgunaan dinitrogen oksida di negeri Paman Sam pun sebagian besar masih terbatas cakupannya, dengan studi kasus pada satu pasien. Namun, <a href="https://doi.org/10.48101/ujms.v128.10281">laporan-laporan tersebut mengkhawatirkan</a>.</p> <p>Studi yang lebih mendalam tersedia di Inggris Raya dan Eropa—dua kawasan dengan permintaan pasar dinitrogen oksida lebih besar. Misalnya, selama periode 20 tahun, 56 orang meninggal di Inggris dan Wales <a href="https://www.ons.gov.uk/peoplepopulationandcommunity/birthsdeathsandmarriages/deaths/articles/deathsrelatedtovolatilesubstancesheliumandnitrogeninenglandandwales/2001to2020registrations">akibat penggunaan gas tertawa</a>. </p> <p>Biasanya, kematian terjadi akibat hipoksia, yaitu kekurangan <a href="https://doi.org/10.1016/j.ntt.2021.106999">oksigen ke otak</a>. Penyebab kematian lainnya adalah <a href="https://www.bbc.com/news/articles/c99xmzey88vo">kecelakaan saat sedang mabuk gas tertawa</a>, seperti kecelakaan mobil atau terjatuh.</p> <p>Orang AS telah mengetahui efek negatif dinitrogen oksida selama berabad-abad. Sebelum menjadi <a href="https://doi.org/10.2344/0003-3006(2007)54%5B9:AIUTAO%5D2.0.CO;2">alat bantu pengobatan</a>, dinitrogen oksida populer digunakan <a href="https://www.abc.net.au/news/2019-02-20/laughing-gas-parties-discovery-of-anaesthesia/10811060">dalam pesta “gas tertawa”</a> pada akhir 1700-an.</p> <p>Para dokter mulai menggunakannya di AS sekitar pertengahan abad ke-19. Bermula dari temuan seorang dokter gigi bernama Horace Wells. Kala itu Wells menghadiri panggung pertunjukan “<em>Laughing Gas Entertainment</em>”. Dia melihat efek mati rasa akibat dinitrogen oksida dialami para penonton yang jadi sukarelawan. </p> <p>Secara kebetulan, Wells akan menjalani pencabutan gigi bungsu keesokan harinya, jadi dia <a href="https://todayincthistory.com/2019/12/10/december-10-horace-wells-discovers-anesthesia-2/">mencoba gas tersebut selama menjalani prosedur</a>. Dinitrogen oksida berhasil membuat Wells tidak merasakan sakit apa pun. Setelah itu, penggunaan gas tersebut sebagai alat bantu pengobatan diterima secara bertahap.</p> <p>Dinitrogen oksida saat ini sering digunakan di klinik gigi. Penggunaannya aman di bawah pengawasan dokter sebagai obat penenang ringan, pereda nyeri, dan <a href="https://emedicine.medscape.com/article/1413427-overview">memberi efek mati rasa pada pasien</a> agar tidak merasakan sakit selama menjalani prosedur. </p> <p>Dinitrogen oksida juga bermanfaat bagi pasien dengan gangguan mental berat, termasuk <a href="https://doi.org/10.1016/j.biopsych.2014.11.016">depresi yang kebal terhadap pengobatan</a> dan <a href="https://doi.org/10.1016/j.conctc.2020.100600">gangguan bipolar</a> (masalah mental berupa perubahan suasana hati ekstrem). </p> <p>Selain itu, dinitrogen oksida juga dapat membantu mengatasi <a href="https://www.cda-adc.ca/JCDA/vol-73/issue-8/711.pdf">kecemasan dan manajemen nyeri</a>.</p> <h2>Apakah kita bisa mencegah dampak buruknya?</h2> <p>Kendati pemerintah AS <a href="https://wlos.com/news/nation-world/drug-abuse-nitrous-oxide-laughing-gas-fda-warning-colorful-container-galaxy-cosmic-galaxygas-cosmicgas-flavored-flavors-culinary-baking-cooking-pass-out-unconscious-loss-of-consciousness-huff-huffing?">tidak menerapkan</a> larangan pembatasan usia, <a href="https://www.azleg.gov/ars/13/03403-01.htm">beberapa negara bagian</a> menerapkan <a href="https://agriculture.ny.gov/news/new-york-state-department-agriculture-and-markets-clarifies-new-law-regulating-sale-nitrous">kebijakan ini</a>.</p> <p>Per Mei 2025, empat negara bagian AS—<a href="https://www.fox8live.com/2024/05/28/supplying-high-louisiana-becomes-first-state-ban-retail-sale-nitrous-oxide/">Louisiana</a>, <a href="https://www.clickondetroit.com/news/local/2024/03/16/why-michigan-is-banning-whippets-sold-for-recreational-use/">Michigan</a>, <a href="https://www.wsfa.com/2025/02/08/bill-banning-recreational-nitrous-oxide-passes-alabama-senate/">Alabama</a>, dan <a href="https://fullertonobserver.com/2025/03/31/orange-county-becomes-first-county-in-california-to-ban-recreational-sale-of-nitrous-oxide/#">California</a>—telah melarang penggunaan dinitrogen oksida untuk tujuan hiburan. </p> <p>Sementara itu, lebih dari 30 negara bagian sedang mengupayakan undang-undang <a href="https://mostpolicyinitiative.org/science-note/nitrous-oxide/">untuk melarang atau setidaknya membatasi</a> penjualan produk tersebut. Ada banyak pula gugatan yang dilayangkan masyarakat AS terhadap produsen dinitrogen oksida yang <a href="https://www.aboutlawsuits.com/nitrous-oxide-lawsuit/galaxy-gas-dismissal-lawsuit-nitrous-oxide-death/">sedang diproses di pengadilan</a>.</p> <p>Penelitian menunjukkan bahwa program edukasi pencegahan di sekolah membantu <a href="https://monitoringthefuture.org/wp-content/uploads/2023/01/mtfoverview2022.pdf">mencegah anak-anak menggunakan produk-produk inhalan, termasuk dinitrogen oksida</a>. Pemeriksaan dini dari para dokter dan psikiater juga berpengaruh terhadap kesehatan anak. Semakin cepat pemeriksaan dilakukan, semakin besar kemungkinan anak berhasil terhindar dari kecanduan zat adiktif dan menjalani <a href="https://doi.org/10.1542/peds.2016-1211">terapi berkelanjutan</a>.</p> <p>Kita bisa mencegah penyalahgunaan gas tertawa melalui penegakan hukum, pendidikan, dan tindakan medis yang tepat. Jika tidak, produk ini akan terus mengancam anak-anak kita, apalagi dengan ragam kemasan dan iklannya yang menarik dan menyamarkan bahaya tersembunyi di baliknya.</p><img src="https://counter.theconversation.com/content/274311/count.gif" alt="The Conversation" width="1" height="1" /> <p class="fine-print"><em><span>Andrew Yockey tidak bekerja, menjadi konsultan, memiliki saham, atau menerima dana dari perusahaan atau organisasi mana pun yang akan mengambil untung dari artikel ini, dan telah mengungkapkan bahwa ia tidak memiliki afiliasi selain yang telah disebut di atas.</span></em></p> Dinitrogen oksida alias gas tertawa tidak boleh dihirup karena bisa merusak otak dan memicu kematian. Andrew Yockey, Assistant Professor of Public Health, University of Mississippi Licensed as Creative Commons – attribution, no derivatives. tag:theconversation.com,2011:article/272715 2026-01-27T04:57:39Z 2026-01-27T04:57:39Z Ancaman cacingan strongyloidiasis di Kalimantan Selatan: Kebiasaan warga bisa picu penyakit <blockquote> <p>● Infeksi cacing gelang Strongyloides stercoralis picu strongyloidiasis yang menyebabkan gangguan pencernaan, hingga kematian.</p> <p>● Selain strongyloidiasis, peneliti menemukan kasus cacingan lain di Kalimantan Selatan.</p> <p>● Kondisi sosial dan lingkungan setempat memperbesar risiko masyarakat terkena cacingan.</p> </blockquote> <hr> <p>Cacingan bukanlah <a href="https://www.tiktok.com/@everestmediaid/video/7573974181478452487?q=banyak%20orang%20indonesia%20masih%20sepelekan%20cacingan&amp;t=1768804871198">masalah sepele</a>. Tanpa disadari, infeksi cacing parasit tertentu bisa merusak organ tubuh anak maupun dewasa, bahkan berisiko <a href="https://theconversation.com/cacingan-picu-kematian-balita-di-sukabumi-birokrasi-rumit-anak-miskin-terabaikan-265578">memicu kematian</a>. </p> <p>Salah satu yang berbahaya adalah infeksi cacing gelang <em>Strongyloides stercoralis</em> yang menyebabkan <a href="https://www.cdc.gov/strongyloides/hcp/clinical-overview/index.html">strongyloidiasis</a>. Meski sering kali tidak menimbulkan gejala, <a href="https://www.sciencedirect.com/science/article/pii/S1684118224001208">dalam beberapa kasus</a> jenis penyakit infeksi parasit ini bisa menyebabkan penyintas mengalami sakit perut, diare, sesak napas, dan muntah. </p> <p>Saat jumlah cacing <em>S. stercoralis</em> dalam tubuh makin banyak dan tidak terkendali, <a href="https://www.cdc.gov/strongyloides/hcp/clinical-overview/index.html">hiperinfeksi</a> bisa terjadi. Kondisi ini dapat menyebabkan komplikasi serius, seperti malabsorbsi (gangguan penyerapan nutrisi di usus), pneumonia (radang paru), hingga meningitis (radang selaput otak dan saraf tulang belakang).</p> <p></p> <p>Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit (CDC) Amerika Serikat, mengatakan bahwa <a href="https://www.cdc.gov/strongyloides/hcp/clinical-overview/index.htm">90% kasus hiperinfeksi strongyloidiasis</a> bisa berujung kematian.</p> <p><a href="https://pmc.ncbi.nlm.nih.gov/articles/PMC7850468/">Hingga tahun 2021</a>, strongyloidiasis telah menyerang lebih dari 100 juta orang di seluruh dunia. Sayangnya, kasus cacingan ini belum tercatat dengan baik di Indonesia. Namun, <a href="https://narraj.org/main/article/view/2515/883">penelitian kami tahun 2024</a> menemukan empat kasus strongyloidiasis pada orang usia 40-70 tahun di Kalimantan Selatan (Kalsel)—setelah laporan terakhir pada periode 1970-an.</p> <h2>Kondisi sosial dan lingkungan berpengaruh</h2> <p><a href="https://www.researchgate.net/publication/348828926_High_Prevalence_and_Risk_Factors_for_Hookworm_and_Strongyloides_Stercoralis_Infections_in_Rural_East_Kalimantan_Indonesia">Kondisi alam Kalimantan Selatan</a>—yang dikelilingi sungai, didominasi rawa, tanah gembur, serta curah hujan dan kelembapan tinggi—sangat ideal bagi pertumbuhan cacing seperti <em>S. stercoralis</em>. </p> <p>Kami menyelidiki kasus cacingan di kawasan ini dengan meneliti tinja 244 warga berusia 5-80 tahun di Desa Tambak Danau, Kalsel. </p> <p>Selain mendapati kasus infeksi cacing gelang <em>S. stercoralis</em>, kami menemukan sembilan warga terinfeksi cacing gelang <em>Ascaris lumbricoides</em>, empat orang terinfeksi cacing tambang, dan satu orang terinfeksi cacing cambuk <em>Trichuris trichiura</em>.</p> <p>Infeksi keempat cacing parasit tersebut bisa membahayakan kesehatan, terutama kelompok rentan dengan kekebalan rendah, seperti anak-anak dan lansia. </p> <p>Infeksi <em>Ascaris lumbricoides</em>, misalnya, menyebabkan kakak-adik balita asal Seluma, Bengkulu mengalami <a href="https://www.kompas.id/artikel/dua-balita-cacingan-parah-di-bengkulu-bukti-kurangnya-perhatian-pemerintah">cacingan parah hingga sesak napas</a>. Kasus serupa bahkan memicu kematian seorang balita di Sukabumi, Jawa Barat pada Agustus 2025 lalu.</p> <hr> <p> <em> <strong> Baca juga: <a href="https://theconversation.com/cacingan-picu-kematian-balita-di-sukabumi-birokrasi-rumit-anak-miskin-terabaikan-265578">Cacingan picu kematian balita di Sukabumi: Birokrasi rumit, anak miskin terabaikan</a> </strong> </em> </p> <hr> <p>Risiko cacingan di Desa Tambak Danau dan perdesaan Kalsel sangat tinggi karena sebagian besar warga bekerja sebagai petani yang sering bersentuhan langsung dengan tanah lembap. </p> <p>Kebiasaan menginjak tanah tanpa alas kaki, misalnya, bisa meningkatkan risiko menyentuh cacing <em>S. stercoralis</em>. Ketika permukaan kulit kaki menyentuh cacing, filariform (larva cacing penyebab infeksi) akan menembus lapisan kulit. </p> <p>Larva kemudian bergerak melalui aliran darah, memasuki paru-paru, melewati kerongkongan hingga ke dalam mulut, lalu tertelan masuk ke dalam perut.</p> <p>Selanjutnya, larva cacing memasuki usus halus hingga tumbuh dewasa, bertelur, dan melahirkan larva baru yang menginfeksi tubuh kembali (autoinfeksi). Cacing pun dapat bertahan hidup dan terus menginfeksi inangnya <a href="https://www.mdpi.com/2414-6366/3/2/53">selama beberapa dekade</a>.</p> <p>Hasil pemeriksaan menunjukkan bahwa <a href="https://narraj.org/main/article/view/2515/883">keempat warga yang mengalami strongyloidiasis</a> berprofesi sebagai petani yang terbiasa bertelanjang kaki ketika ke sawah. Mereka juga mengalami gejala yang mirip selama lebih dari sebulan, seperti sering merasakan sakit perut, kulit gatal, kembung, mudah lelah, mengeluarkan tinja lembek, serta kesemutan di kaki dan leher.</p> <h2>BAB sembarangan perbesar risiko penularan</h2> <p>Penemuan kasus cacingan di Desa Tambak Danau menjadi alarm yang harus diwaspadai oleh pemerintah setempat. Dengan kondisi lingkungan dan sosial masyarakat lokal, bukan tidak mungkin kasus serupa terjadi di wilayah lain.</p> <p>Terlebih, masyarakat di beberapa wilayah Kalsel umumnya memiliki rumah di atas aliran sungai. <a href="https://www.cambridge.org/core/journals/parasitology/article/prevalence-and-risk-factors-of-strongyloides-stercoralis-infection-among-orang-asli-schoolchildren-new-insights-into-the-epidemiology-transmission-and-diagnosis-of-strongyloidiasis-in-malaysia/53A17C268C37359C7AFEF365FA5A85D3">Kebiasaan buang air besar</a> (BAB) di ruang terbuka ataupun <em>lanting</em> (jamban apung) turut memperbesar risiko terinfeksi cacing yang mengontaminasi air, seperti cacing pipih <em>Schistosoma</em>.</p> <p>Sementara itu, tinja dari orang yang terinfeksi cacing di tanah lembap seperti strongyloidiasis, bisa mengandung larva yang terbawa air, hingga mencemari tanah di pinggiran sungai. Siklus penularan pun bisa berulang, dengan cacing berkembangbiak, kemudian terinjak, dan kembali menginfeksi manusia lainnya. </p> <p><a href="https://diskominfomc.kalselprov.go.id/2019/03/14/pembongkaran-jamban-terapung/">Sejak 2016</a>, pemerintah setempat sebenarnya telah berupaya meningkatkan layanan sanitasi dengan membuat instalasi pengolahan air limbah, membangun toilet dan tangki septik umum, serta membongkar jamban apung di wilayah bantaran sungai.</p> <p>Tujuannya, untuk membuat sistem pengolahan limbah terpadu lewat jamban sehat, sehingga kotoran tidak bocor ke sungai dan rawa. Namun, pendekatan ini ternyata tidak cukup untuk membendung kasus cacingan.</p> <h2>Mengubah kebiasaan masyarakat</h2> <p>Pemerintah berperan sangat krusial dalam memastikan layanan sanitasi yang baik untuk memenuhi kebutuhan masyarakat. Namun, pencegahan penyakit infeksi memerlukan kerja sama semua pihak, termasuk masyarakat sendiri dalam mengubah pola hidup mereka.</p> <p>Misalnya dalam mengubah kebiasaan BAB sembarangan, <a href="https://www.jkc.puskadokesa.com/index.php/jkc/article/download/32/23">penelitian tahun 2019 di Simeulue Barat, Aceh</a>, mengungkapkan bahwa pengetahuan masyarakat, kepemilikan jamban sehat, peran kepala keluarga, serta tenaga kesehatan sangat berpengaruh. </p> <hr> <p> <em> <strong> Baca juga: <a href="https://theconversation.com/isu-terlupakan-dalam-setahun-prabowo-sanitasi-buruk-lebih-memicu-stunting-264877">Isu terlupakan dalam setahun Prabowo: Sanitasi buruk lebih memicu ‘stunting’</a> </strong> </em> </p> <hr> <p>Selain membangun infrastruktur jamban sehat, pemerintah bisa memberikan secara gratis sepatu bot dan sarung tangan kepada para petani agar bisa bekerja lebih aman. </p> <p>Gencarkan pula program pemeriksaan “jemput bola”, dengan tenaga kesehatan puskesmas mendatangi secara langsung kawasan rawan cacingan. Pastikan stok alat pemeriksaan infeksi cacingan tersedia, seperti tes darah, kultur darah, antigen, dan pemeriksaan feses.</p> <p>Warga yang terkena cacingan juga perlu mendapatkan pengobatan gratis, misalnya <a href="https://www.cdc.gov/strongyloides/hcp/clinical-overview/index.html">ivermectin</a> yang berfungsi membunuh cacing <em>S. stercoralis</em> dewasa. Tenaga kesehatan juga perlu mengedukasi secara langsung kepala keluarga sehingga kebiasaan pola hidup sehat dari rumah bisa terwujud.</p> <p>Sementara itu, akademisi dan peneliti perlu terus memetakan sebaran penyakit, sehingga bisa memahami karakteristik cacing parasit dengan baik. </p> <p>Keja sama lintas sektor ini diharapkan bisa mencegah penularan kasus infeksi cacing di masa mendatang.</p> <hr> <iframe src="https://tally.so/r/OD77aM?alignLeft=1&amp;hideTitle=1&amp;transparentBackground=1&amp;dynamicHeight=1" width="100%" height="321" frameborder="0" marginheight="0" marginwidth="0" title="Survey Form"> </iframe><img src="https://counter.theconversation.com/content/272715/count.gif" alt="The Conversation" width="1" height="1" /> <p class="fine-print"><em><span>Dian Nurmansyah tidak bekerja, menjadi konsultan, memiliki saham, atau menerima dana dari perusahaan atau organisasi mana pun yang akan mengambil untung dari artikel ini, dan telah mengungkapkan bahwa ia tidak memiliki afiliasi selain yang telah disebut di atas.</span></em></p> Selain strongyloidiasis, peneliti menemukan kasus cacingan lain di Kalimantan Selatan. Kondisi sosial dan lingkungan perbesar risiko warga terkena cacingan. Dian Nurmansyah, Dosen dan Mahasiswa Program Doktor, Universitas Gadjah Mada Licensed as Creative Commons – attribution, no derivatives. tag:theconversation.com,2011:article/272804 2026-01-26T09:05:07Z 2026-01-26T09:05:07Z Riset: Ganja diduga bisa perlambat penurunan kemampuan berpikir pasien Alzheimer <p>Seiring bertambahnya populasi lanjut usia (lansia) di dunia, jumlah orang yang hidup dengan demensia (penurunan fungsi otak) seperti penyakit Alzheimer kian meningkat. </p> <p>Kurangnya terapi penyembuhan, serta terbatasnya efektivitas obat-obatan yang ada, meningkatkan minat para peneliti untuk mencoba metode pengobatan baru. Salah satunya dengan menggunakan kanabinoid (senyawa kimia dari tanaman ganja). </p> <p>Sebuah studi baru berskala kecil dari Brasil dalam <a href="https://doi.org/10.1177/13872877251389608"><em>Journal of Alzheimer’s Disease</em></a> mengkaji dampak pemberian ekstrak ganja berdosis sangat rendah pada pasien Alzheimer stadium ringan. Hasil penelitian menunjukkan efek yang positif, tanpa disertai efek mabuk (sensasi euforia pada pengguna) yang dikhawatirkan banyak pasien dan dokter.</p> <h2>Bagaimana dosis kecil ganja bekerja?</h2> <p>Penelitian ini dipimpin oleh Professor Francisney Nascimento bersama timnya dari <a href="https://portal.unila.edu.br/">Federal University of Latin American Integration (UNILA)</a>, Brasil. Studinya melibatkan 24 pasien lansia berusia 60-80 tahun yang didiagnosis mengalami Alzheimer stadium ringan. </p> <p>Mereka meneliti dampak penggunaan harian dari minyak berbahan ekstrak kanabinoid ganja tetrahidrokanabinol (THC) dan kanabidiol (CBD) dengan dosis sangat rendah, masing-masing 0,3 mg. Dosis di bawah ambang psikoaktif (ketika zat kimia bisa memengaruhi kesadaran) ini tidak membahayakan kesehatan dan tidak menimbulkan sensasi mabuk yang umum dikaitkan dengan penggunaan ganja untuk tujuan hiburan.</p> <p>Ekstrak ganja yang digunakan dalam penelitian ini disumbangkan oleh <a href="https://abraceesperanca.org.br/">ABRACE</a>, sebuah organisasi pasien terbesar di Brasil. Tidak ada kontribusi dari perusahaan ganja maupun sumber pendanaan lain dalam risetnya.</p> <p>Dosis kanabinoid di bawah 1 mg sebenarnya jarang dilaporkan dalam penelitian klinis. Meski begitu, keputusan para peneliti dalam menggunakan ganja berdosis sangat kecil bukan tanpa dasar. </p> <p>Pada 2017, penelitian yang dipimpin <a href="https://en.wikipedia.org/wiki/Andreas_Zimmer">Andreas Zimmer</a> dan <a href="https://www.researchgate.net/profile/Andras-Bilkei-Gorzo">Andras Bilkei-Gorzo</a> menunjukkan bahwa THC dengan dosis sangat kecil dapat memulihkan fungsi kognitif (kemampuan berpikir) tikus tua. </p> <p>Zat ini mampu mengembalikan aktivitas gen dan hubungan antarsel saraf di hipokampus, yaitu bagian kecil otak yang berperan dalam mengingat informasi baru. Peremajaan gen dan saraf otak ini layaknya memperbaiki jalan raya yang rusak sehingga distribusi informasi ke otak tikus tua menjadi lancar kembali menyerupai kondisi otak tikus muda.</p> <p><a href="https://pubmed.ncbi.nlm.nih.gov/35820856/">Sistem endokanabinoid</a> pada otak hewan (yang menjaga agar tubuh tetap stabil dan saraf bekerja dengan fleksibel) juga dimiliki manusia. Sistem ini mengalami penurunan alami seiring bertambahnya usia.</p> <p>Terinspirasi oleh temuan tersebut, tim peneliti kemudian menguji pemberian esktrak ganja dalam dosis sangat rendah pada seorang pasien Alzheimer <a href="https://pubmed.ncbi.nlm.nih.gov/35820856/">selama 22 bulan</a>. Hasilnya, pasien mengalami peningkatan kognitif setelah dinilai menggunakan skala ADAS-Cog, yakni serangkaian tes (seperti mengingat kata dan objek) untuk mengukur kemampuan kognitif pasien. </p> <p>Karena terbukti berhasil, mereka memutuskan untuk melanjutkan penelitian lewat <a href="https://pubmed.ncbi.nlm.nih.gov/41160460/">uji klinis</a>.</p> <p>Uji klinis tersebut melibatkan dua kelompok pasien yang menerima obat asli dan plasebo (tanpa bahan aktif obat) secara acak. Baik pasien dan peneliti sama-sama tidak mengetahui siapa yang menerima obat asli dan plasebo.</p> <h2>Temuan kami</h2> <p>Sejumlah skala klinis (alat pengukur kemampuan fisik dan mental pasien yang terstandardisasi) digunakan untuk mengevaluasi secara objektif dampak dari terapi ganja. Perbaikan kognitif pasien terlihat dalam salah satu tes, yaitu <a href="https://muhc.ca/sites/default/files/micro/m-PT-OT/OT/Mini-Mental-State-Exam-%28MMSE%29.pdf"><em>mini-mental state exam</em> (MMSE)</a>. </p> <p>MMSE sendiri merupakan tes yang banyak digunakan untuk menilai fungsi kognitif orang dengan demensia. Tes ini berupa serangkaian pertanyaan terstandardisasi yang diajukan kepada pasien, dengan pendampingan orang terdekat (seperti anggota keluarga atau perawat).</p> <p>Setelah 24 minggu pengobatan, kelompok pengguna ekstrak ganja menunjukan skor kemampuan kognitif yang stabil. Sebaliknya, kelompok pengguna plasebo mengalami penurunan kognitif, termasuk memburuknya gejala Alzheimer. </p> <p>Dampak yang ada memang tidak besar, tapi tetap relevan dan signifikan secara statistik. Pasien pengguna ganja dosis sangat rendah mencatat skor 2-3 poin lebih tinggi dibanding kelompok plasebo. </p> <p>Pada pasien dengan fungsi kognitif yang masih relatif terjaga atau hanya mengalami gangguan ringan hingga sedang, mungkin tidak realistis untuk mengharapkan perubahan besar dalam kurun beberapa pekan.</p> <p>Selain itu, ekstrak ganja tidak memperbaiki gejala non-kognitif lainnya, seperti depresi, kesehatan secara umum, maupun kualitas hidup secara menyeluruh. Di sisi lain, tidak ditemukan perbedaan efek samping yang merugikan pada semua peserta. Hal ini mungkin karena dosis yang digunakan sangat kecil.</p> <p>Temuan ini sejalan dengan <a href="https://doi.org/10.1038/s41398-022-02208-1">hasil studi saya pada tahun 2022</a>. Kami menemukan bahwa tanpa perlindungan kanabinoid, sinyal endokanabinoid dalam tubuh menurun dan membuat otak rentan mengalami penurunan kognitif seiring bertambahnya usia. Salah satu cara kanabinoid membantu fungsi kognitif adalah dengan menekan proses peradangan di otak. </p> <h2>Ganja ‘tak selalu’ bikin mabuk</h2> <p>Sayangnya, ganja medis untuk mengobati penuaan otak sulit diterima bukan karena alasan ilmiah, melainkan faktor budaya.</p> <p>Di banyak negara, ketakutan megenai efek samping mabuk membuat banyak pasien, bahkan tenaga kesehatan, enggan mempertimbangkan ganja sebagai pilihan pengobatan. Namun, studi kami menunjukkan bahwa hambatan tersebut dapat teratasi dengan penggunaan dosis yang sangat kecil. </p> <p>Riset ini membuktikan bahwa dosis rendah ganja bisa memperbaiki sistem peradangan dan otak, tanpa mengganggu kesadaran penggunanya.</p> <p>Pemberian ganja dalam dosis sangat kecil dapat menghindari kemungkinan kanabinoid memengaruhi kesadaran dan tetap memberikan manfaat. Pendekatan ini juga berpotensi membuka jalan bagi pengembangan formulasi baru yang berfokus pada pencegahan (khususnya pada kelompok lebih rentan), seperti lansia dengan gangguan kognitif ringan atau mereka yang memiliki riwayat keluarga demensia. </p> <h2>Bagaimana ke depannya?</h2> <p>Meski potensial, penelitian ini memiliki sejumlah keterbatasan penting. Jumlah partisipannya masih kecil dan efek yang diamati pun masih terbatas pada wilayah kognitif saja. </p> <p>Namun, ini merupakan uji klinis pertama yang berhasil menggunakan pendekatan ganja berdosis sangat rendah pada pasien Alzheimer. </p> <p>Temuan dalam studi ini menawarkan cara baru dalam memanfaatkan tanaman tersebut untuk menangani penyakit-penyakit serius.</p> <p>Ke depannya, kita memerlukan studi lanjutan dengan jumlah partisipan lebih banyak, periode pemantauan lebih panjang, serta penggunaan penanda biologis, seperti pencitraan otak dan <em>biomarker</em> (zat-zat dalam tubuh untuk mengukur peradangan). </p> <p>Hanya dengan pendekatan tersebut, kita bisa menjawab pertanyaaan mendasar mengenai “apakah ganja benar-benar mampu memperlambat perkembangan penyakit Alzheimer?” Saat ini, pertanyaan tersebut masih belum terjawab, tetapi kita telah mengambil langkah penting untuk lebih memahaminya.</p> <p><em>Adinda Ghinashalsabila Salman menerjemahkan artikel ini dari Bahasa Inggris</em>.</p><img src="https://counter.theconversation.com/content/272804/count.gif" alt="The Conversation" width="1" height="1" /> <p class="fine-print"><em><span>Fabricio Pamplona tidak bekerja, menjadi konsultan, memiliki saham, atau menerima dana dari perusahaan atau organisasi mana pun yang akan mengambil untung dari artikel ini, dan telah mengungkapkan bahwa ia tidak memiliki afiliasi selain yang telah disebut di atas.</span></em></p> Penelitian asal Brasil mengungkap bahwa dosis kecil ekstrak ganja dapat menghentikan penurunan kemampuan berpkir pasien Alzheimer stadium ringan. Fabricio Pamplona, Doutor em Farmacologia, Universidade Federal de Santa Catarina (UFSC) Licensed as Creative Commons – attribution, no derivatives. tag:theconversation.com,2011:article/272565 2026-01-16T05:49:46Z 2026-01-16T05:49:46Z Bagaimana mendampingi anak melewati peristiwa traumatis? <p><strong><em>PERINGATAN: Artikel ini memuat konten yang berkaitan dengan bunuh diri, melukai diri sendiri, dan kekerasan terhadap orang lain.</em></strong></p> <hr> <blockquote> <p>● Peristiwa traumatis yang dialami langsung maupun didengar lewat media dapat mengganggu kesehatan mental anak.</p> <p>● Dukungan kesehatan mental dan psikososial diperlukan agar anak merasa aman dan dapat beraktivitas normal kembali. </p> <p>● Pendekatan ini dilakukan dengan menyampaikan informasi secara jujur hingga memvalidasi emosi anak. </p> </blockquote> <hr> <p>Sepanjang akhir 2025, kita menyaksikan rentetan tragedi kekerasan yang melibatkan anak. Mulai dari <a href="https://nasional.kompas.com/read/2025/11/12/06595141/kala-ledakan-sman-72-didalangi-siswa-sendiri-bagaimana-hukum-perlakukan-anak">ledakan bom di SMAN 72 Jakarta</a>, penembakan massal di <a href="https://theconversation.com/bondi-beach-shooting-how-it-happened-272051">Bondi Beach, Australia</a>, hingga <a href="https://edition.cnn.com/us/live-news/brown-university-shooting-suspect-12-18-25">Brown University, Amerika Serikat</a>.</p> <p>Selain dapat <a href="https://www.apa.org/topics/trauma">menimbulkan trauma</a>, menerima paparan informasi soal tragedi tersebut secara intens bisa mengganggu <a href="https://pmc.ncbi.nlm.nih.gov/articles/PMC12592584/">kesehatan mental anak dan remaja</a>.</p> <p>Untuk mencegah anak mengalami masalah psikologis, mereka yang mengalami dan mendengar peristiwa traumatis secara berulang (seperti kekerasan, bencana, kecelakaan, dan kematian) perlu mendapatkan dukungan kesehatan mental dan psikososial atau <a href="https://interagencystandingcommittee.org/sites/default/files/migrated/2020-11/IASC%20Guidelines%20on%20Mental%20Health%20and%20Psychosocial%20Support%20in%20Emergency%20Settings%20%28English%29.pdf"><em>mental health and psychosocial support</em> (MHPSS)</a>.</p> <p>Orang dewasa di sekitar anak (terutama orang tua) bisa memberikan dukungan psikososial secara langsung. </p> <p>Fokus pendekatan ini bukan hanya mencegah anak mengalami gangguan mental pascatrauma, tapi juga memulihkan rasa aman agar anak bisa beraktivitas normal dan kembali beradaptasi di lingkungan sosial.</p> <h2>Kenali tanda anak mengalami trauma</h2> <p><a href="https://link.springer.com/rwe/10.1007/978-1-4419-1005-9_215">Cara anak menilai sebuah ancaman</a> sangat memengaruhi reaksi emosional mereka terhadap suatu peristiwa traumatis. Kehadiran dan dukungan orang tua pun berpengaruh besar.</p> <p>Anak bisa memunculkan <a href="https://www.nimh.nih.gov/sites/default/files/documents/health/publications/helping-children-and-adolescents-cope-with-disasters-and-other-traumatic-events/helping-children-and-adolescents-cope-with-traumatic-events.pdf">respons emosional yang beragam</a>. <a href="https://www.nimh.nih.gov/sites/default/files/documents/health/publications/helping-children-and-adolescents-cope-with-disasters-and-other-traumatic-events/helping-children-and-adolescents-cope-with-traumatic-events.pdf">Anak usia dini</a> cenderung mengekspresikan reaksi emosional seperti mengalami regresi perkembangan (kehilangan keterampilan yang sebelumnya dikuasai), tantrum, kecemasan berpisah, dan gangguan tidur. </p> <hr> <p> <em> <strong> Baca juga: <a href="https://theconversation.com/rentan-terabaikan-anak-perlu-dukungan-psikologis-sejak-dini-dalam-situasi-bencana-271104">Rentan terabaikan, anak perlu dukungan psikologis sejak dini dalam situasi bencana</a> </strong> </em> </p> <hr> <p>Adapun <a href="https://www.nimh.nih.gov/sites/default/files/documents/health/publications/helping-children-and-adolescents-cope-with-disasters-and-other-traumatic-events/helping-children-and-adolescents-cope-with-traumatic-events.pdf">anak usia sekolah dan remaja</a> lebih sering menunjukkan reaksi emosional berupa sulit konsentrasi dalam belajar, perubahan suasana hati, menarik diri dari lingkungan sosial, serta perilaku menyakiti diri sendiri.</p> <p>Meski sangat mengganggu, sebagian besar reaksi ini dapat dikelola dan <a href="https://interagencystandingcommittee.org/sites/default/files/migrated/2020-11/IASC%20Guidelines%20on%20Mental%20Health%20and%20Psychosocial%20Support%20in%20Emergency%20Settings%20%28English%29.pdf">bisa membaik seiring waktu</a>. Namun, pada sebagian anak, reaksi tersebut dapat menetap dan mengganggu fungsi sehari-hari. Oleh karena itu, <a href="https://knowledge.unicef.org/child-protection/resource/mental-health-and-psychosocial-support-mhpss-children-and-families-immediate-onset-crisis">pendampingan dan dukungan psikososial bagi anak sangatlah penting</a>. </p> <p></p> <h2>Dukungan psikososial bagi anak</h2> <p>Pendekatan <a href="https://interagencystandingcommittee.org/sites/default/files/migrated/2020-11/IASC%20Guidelines%20on%20Mental%20Health%20and%20Psychosocial%20Support%20in%20Emergency%20Settings%20%28English%29.pdf">MHPSS</a> menekankan bantuan secara bertahap, dengan memprioritaskan dukungan psikososial dasar dari orang tua.</p> <p><a href="https://psychology.org.au/getmedia/a61fcf9d-dc4c-40f3-b94d-65995c85995b/helping-children-affected-tragic-events.pdf">Prinsip-prinsip utama dukungan kesehatan mental dan psikososial</a> meliputi: </p> <p><strong>1. Membangun rasa aman</strong></p> <p>Kita perlu meyakinkan anak bahwa mereka aman dan terjaga. Persepsi aman membantu menurunkan respons stres berlebihan pada anak. Misalnya, katakanlah bahwa mereka tidak sendirian.</p> <p>Pastikan pula kita selalu ada saat anak merasa tidak nyaman dengan membangun percakapan yang empatik.</p> <blockquote> <p>“Kejadian seperti ini jarang terjadi. Kalau kamu merasa takut, pegang tangan ibu ya. Ibu akan terus menjagamu sampai kamu merasa tenang kembali.”</p> </blockquote> <p>Kehadiran emosional orang tua dan informasi yang menenangkan membantu anak merasa kembali memiliki kendali. </p> <p><strong>2. Sampaikan informasi dengan jujur</strong></p> <p>Anak butuh penjelasan masuk akal untuk mengurangi kecemasan akibat ketidakpastian. Informasi sederhana, jujur, realistis, dan tidak berlebihan dapat membantu <a href="https://www.thelancet.com/journals/lanchi/article/PIIS2352-4642(20)30097-3/fulltext">mengurangi pikiran negatif anak</a>. </p> <p>Misalnya, ketika anak bertanya kenapa kakeknya yang terbaring di rumah sakit harus dipasangi banyak selang infus.</p> <blockquote> <p>“Selang-selang itu membantu kakek bernapas dan memasukkan obat ke tubuhnya. Karena tubuh kakek saat ini sedang sangat lemah untuk melakukannya sendiri. Ayah belum tahu kapan kakek akan sembuh, tapi dokter sedang berusaha terus untuk membantu kakek.”</p> </blockquote> <p>Penjelasan yang jujur dan realistis membantu anak memahami situasi tanpa menambah rasa takut. </p> <p><strong>3. Validasi emosi anak</strong> </p> <p>Anak perlu dibantu untuk mengenali dan mengekspresikan emosi mereka. Hindari melarang mereka dalam mengekspresikan amarah, ketakutan, atau kesedihan. </p> <p>Sebaliknya, validasi emosi anak dengan menerima perasaan mereka tanpa menghakimi, sehingga mereka merasa didengarkan dan dipahami.</p> <blockquote> <p>“Wajar banget kalau kamu merasa takut dengar berita itu. Ibu juga merasakannya. Kalau kamu mau menangis karena takut, enggak apa-apa kok.”</p> </blockquote> <p>Anak mungkin baru mau bercerita beberapa hari setelahnya. Jadi, cobalah untuk tetap terbuka dengan memberitahukan bahwa mereka boleh bercerita kapan pun mereka siap dan kita selalu ada untuk mereka. </p> <p><strong>4. Bermain bersama</strong></p> <p>Anak terkadang lebih mudah mengekspresikan perasaan melalui bermain daripada berbicara. Karena itu, luangkan waktu untuk bermain bersama mereka. </p> <p><strong>5. Batasi paparan media</strong></p> <p>Pembatasan dan pendampingan akses media membantu mencegah trauma, terutama pada anak usia dini. </p> <p>Anak usia dini sebaiknya dilindungi dari paparan media. Sementara anak yang lebih besar sebaiknya mengakses berita dengan pendampingan orang dewasa. </p> <p>Menonton atau membaca bersama, lalu membicarakan isinya membantu anak memahami informasi tanpa merasa kewalahan.</p> <hr> <p> <em> <strong> Baca juga: <a href="https://theconversation.com/anakmu-kecanduan-game-memperbaiki-pola-asuh-dan-relasi-bisa-jadi-solusi-256350">Anakmu kecanduan ‘game’? Memperbaiki pola asuh dan relasi bisa jadi solusi</a> </strong> </em> </p> <hr> <p><strong>6. Lakukan kembali rutinitas harian</strong></p> <p>Doronglah anak untuk melakukan kegiatan yang dahulu mereka senangi. Pertahankan rutinitas harian tersebut. Misalnya, libatkan anak kembali ke dalam aktivitas sekolah, bermain, dan berinteraksi dengan teman-temannya.</p> <p>Kegiatan yang teratur di rumah dan sekolah sangat menenangkan bagi anak dan remaja karena memberi mereka rasa aman, kendali, dan kontrol atas hidup mereka.</p> <p><strong>7. Melihat sisi lain tragedi secara positif</strong></p> <p>Membantu anak melihat sisi baik dari sebuah kejadian buruk sangat penting untuk memulihkan mental mereka dalam jangka panjang. Ajak anak untuk melihat banyak orang yang saling membantu dalam melewati sebuah tragedi, misalnya tenaga medis dan pemadam kebakaran.</p> <p>Perspektif ini akan membantu anak merasakan bahwa dunia merupakan tempat yang aman dan penuh kasih sayang, sehingga mereka tidak tumbuh menjadi pribadi yang diliputi rasa takut.</p> <p><strong>8. Beri contoh nyata</strong> </p> <p>Anak mudah menangkap kecemasan orang dewasa dan meniru cara kita bereaksi. </p> <p>Karena itu, saat berbagi perasaan dengan anak, tunjukkan pada mereka bahwa emosi tersebut dapat dikelola. Ini membuat anak belajar cara menghadapi situasi sulit secara sehat.</p> <h2>Kapan dukungan profesional diperlukan?</h2> <p><a href="https://interagencystandingcommittee.org/sites/default/files/migrated/2020-11/IASC%20Guidelines%20on%20Mental%20Health%20and%20Psychosocial%20Support%20in%20Emergency%20Settings%20%28English%29.pdf">Bantuan dari tenaga profesional</a> (seperti psikolog, konselor, dan psikiater) dalam memberikan dukungan psikososial, dibutuhkan ketika reaksi emosional anak tidak kunjung hilang, makin parah, hingga mengganggu kegiatan sehari-hari.</p> <p>Sebab, hal yang paling utama dan dibutuhkan anak untuk melewati peristiwa traumatis adalah dukungan dan kasih sayang dari keluarga dan orang-orang terdekatnya. </p> <hr> <p><em>Noridha Weningsari, Tenaga Ahli Psikolog Klinis, Pusat Perlindungan Perempuan dan Anak Provinsi DKI Jakarta, turut berkontribusi dalam tulisan ini.</em></p> <hr> <p><em>Jika artikel ini membuatmu khawatir, atau jika kamu khawatir tentang seseorang yang kamu kenal, bicarakanlah dengan orang tepercaya atau profesional kesehatan.</em></p> <hr> <iframe src="https://tally.so/r/jaoMzJ?alignLeft=1&amp;hideTitle=1&amp;transparentBackground=1&amp;dynamicHeight=1" width="100%" height="321" frameborder="0" marginheight="0" marginwidth="0" title="Survey Form"> </iframe><img src="https://counter.theconversation.com/content/272565/count.gif" alt="The Conversation" width="1" height="1" /> <p class="fine-print"><em><span>Reneta Kristiani tidak bekerja, menjadi konsultan, memiliki saham, atau menerima dana dari perusahaan atau organisasi mana pun yang akan mengambil untung dari artikel ini, dan telah mengungkapkan bahwa ia tidak memiliki afiliasi selain yang telah disebut di atas.</span></em></p> Peristiwa traumatis yang dialami langsung maupun didengar lewat media dapat mengganggu kesehatan mental anak. Ini cara mendampingi mereka untuk melewati masa sulit. Reneta Kristiani, PhD Candidate in Early Childhood Education Monash University, Psikolog Klinis di Konsultan Psikologi Pelangi dan Kancil, Dosen di Fakultas Psikologi UNIKA Atma Jaya Jakarta, Monash University Licensed as Creative Commons – attribution, no derivatives. tag:theconversation.com,2011:article/273025 2026-01-10T00:09:09Z 2026-01-10T00:09:09Z ‘Superflu’ ditemukan di Indonesia: Pahami karakter dan penyebarannya agar tidak panik <blockquote> <p>● ‘Superflu’ bukan istilah medis resmi, melainkan julukan dari media asing untuk Influenza A (H3N2) subclade K.</p> <p>● Varian Influenza ini masuk kategori virus penyebab flu musiman yang umumnya bisa disembuhkan.</p> <p>● Penularan virus ini bisa dicegah dengan vaksinasi Influenza serta rutin menjaga kebersihan diri.</p> </blockquote> <hr> <p>Istilah “<em>superflu</em>” belakangan ramai dibicarakan. Banyak orang langsung khawatir, seolah-olah ini adalah virus baru yang jauh lebih berbahaya.</p> <p>Padahal <em>superflu</em> <a href="https://theconversation.com/what-is-super-flu-and-other-questions-answered-271959">bukan istilah medis resmi</a>, melainkan julukan yang disematkan <a href="https://www.kompas.id/artikel/superflu-yang-mendunia">media asing</a> untuk menyebut varian Influenza A (H3N2) subclade K atau dikenal sebagai <a href="https://health.detik.com/berita-detikhealth/d-8285299/kemenkes-laporkan-super-flu-subclade-k-sudah-ditemukan-di-ri-sejak-25-desember">clade 3C.2a1b.2a.2a.3a.1</a>.</p> <p>Virus ini sudah menyebar di <a href="https://www.who.int/emergencies/disease-outbreak-news/item/2025-DON586">lebih dari 34 negara</a>, termasuk <a href="https://www.kompas.id/artikel/62-kasus-super-flu-telah-ditemukan-di-indonesia-kemenkes-kondisi-masih-terkendali">Indonesia</a> sejak Agustus 2025 lalu.</p> <p>Di Eropa, sekitar musim dingin di akhir tahun lalu, sejumlah ilmuwan bahkan sudah <a href="https://theconversation.com/what-is-super-flu-and-other-questions-answered-271959">memprediksi virus Influenza A (H3N2) subclade K akan mewabah</a>. </p> <p>Influenza A (H3N2) subclade K masih berada dalam <a href="https://www.who.int/emergencies/disease-outbreak-news/item/2025-DON586">kelompok Influenza penyebab flu musiman</a> yang sudah lama kita kenal. Jadi, bukan virus baru ataupun penyakit misterius.</p> <p></p> <h2>Apakah Influenza A (H3N2) berbahaya?</h2> <p>Virus influenza memang berubah secara alami dari waktu ke waktu. Sejak ditemukan pada 1968, Influenza A (H3N2) sudah <a href="https://pmc.ncbi.nlm.nih.gov/articles/PMC7144439/">bermutasi lusinan kali</a>.</p> <p>Akan tetapi, hingga saat ini <a href="https://www.who.int/emergencies/disease-outbreak-news/item/2025-DON586">tidak ada bukti</a> bahwa flu yang disebabkan oleh Influenza A (H3N2) subclade K lebih berbahaya dibanding flu biasa. Gejala utamanya relatif sama, yaitu demam, batuk, pilek, nyeri tenggorokan, dan badan terasa lemas.</p> <hr> <p> <em> <strong> Baca juga: <a href="https://theconversation.com/ispa-merebak-karena-influenza-a-kondisi-udara-yang-buruk-akibat-asap-memperparah-penularan-270300">ISPA merebak karena Influenza A: Kondisi udara yang buruk akibat asap memperparah penularan</a> </strong> </em> </p> <hr> <p><a href="https://www.bbc.com/indonesia/articles/c5yd0v4kx8xo">Beberapa pakar</a> menyebut gejala infeksi Influenza A (H3N2) subclade K bisa menimbulkan sakit kepala, nyeri otot, dan demam tinggi 39-41 derajat Celcius. Namun umumnya, flu akibat varian ini <a href="https://www.bbc.com/indonesia/articles/c5yd0v4kx8xo">bisa disembuhkan</a>.</p> <p>Temuan ini masih sejalan dengan penelitian tahun 2018 yang menunjukkan bahwa mutasi virus Influenza A (H3N2) <a href="https://pmc.ncbi.nlm.nih.gov/articles/PMC6149781/pdf/khvi-14-08-1462639.pdf">tidak selalu membuat penyakit flu menjadi lebih berat</a>. Evolusi virus hanya meningkatkan kemampuan adaptasinya dalam <a href="https://theconversation.com/what-is-super-flu-and-other-questions-answered-271959">menghindari sistem kekebalan tubuh</a>, sehingga bisa berulang kali menginfeksi kita.</p> <h2>Sistem pemantauan dini lebih sigap</h2> <p>Di Indonesia, varian Influenza A (H3N2) subclade K berhasil terdeteksi dini berkat sistem pemantauan (surveilans) Influenza yang baik.</p> <p>Lebih dari satu dekade, Indonesia telah menjalankan sistem pengambilan sampel tenggorokan pasien bergejala flu atau infeksi napas berat secara rutin bernama <em><a href="https://kemkes.go.id/id/layanan/informasi-surveilans-sentinel-influenza-like-illness-ili-dan-severe-acute-respiratory-infection-sari">Influenza-Like Illness</a></em> (ILI) dan <em><a href="https://kemkes.go.id/id/layanan/informasi-surveilans-sentinel-influenza-like-illness-ili-dan-severe-acute-respiratory-infection-sari">Severe Acute Respiratory Infection</a></em> (SARI).</p> <p>Sistem pemantauan ILI-SARI melibatkan <a href="https://kemkes.go.id/id/layanan/informasi-surveilans-sentinel-influenza-like-illness-ili-dan-severe-acute-respiratory-infection-sari">puskesmas, rumah sakit, dan laboratorium kesehatan masyarakat (labkesmas)</a>.</p> <p>Spesimen pasien positif Influenza akan dirujuk ke Balai Besar Laboratorium Biologi Kesehatan (BBLBK) untuk dipelajari susunan genetiknya, hingga akhirnya diketahui ada <a href="https://www.kompas.id/artikel/62-kasus-super-flu-telah-ditemukan-di-indonesia-kemenkes-kondisi-masih-terkendali">62 sampel</a> yang mengandung Influenza A (H3N2) subclade K di Indonesia.</p> <p>Bersama ratusan laboratorium di seluruh dunia, BBLBK masuk ke dalam <a href="https://cdn.who.int/media/docs/default-source/influenza/national-influenza-centers-files/list-of-national-influenza-centres/gisrslaboratories_update_20250811.pdf?sfvrsn=3afb0132_24">jaringan pemantauan influenza global</a> (NICs) milik Organisasi Kesehatan Dunia (WHO). Jaringan global ini membantu WHO memantau perubahan bentuk virus, kemunculan varian baru, dan pola penyebarannya.</p> <p>Informasi tersebut sangat penting untuk menentukan formula vaksin flu yang diperbarui setiap tahun agar tetap efektif dalam menghadapi perkembangan virus.</p> <p>Selain itu, jaringan ini berfungsi sebagai sistem peringatan dini dari WHO untuk memperingatkan negara lain jika terjadi lonjakan kasus flu yang tidak biasa.</p> <h2>Flu berbeda dengan COVID-19</h2> <p>Di sisi lain, diagnosis laboratorium yang cepat dan tepat juga bantu mengetahui apakah pasien mengalami flu atau COVID-19. </p> <p>Ini sangat penting untuk mencegah penyebaran lebih lanjut, terutama pada kelompok rentan yang berisiko tinggi mengalami gejala serius.</p> <p></p> <p>Flu dan COVID-19 disebabkan oleh virus yang berbeda. Namun, <a href="https://www.mims.com/indonesia/news-updates/topic/update-on-influenza-and-covid-19-co-infection">pola penyebaran keduanya sangat mirip</a>, karena sama-sama melalui <em>droplet</em> (air liur) dan udara.</p> <p>Aktivitas masyarakat yang kembali normal, mobilitas tinggi, serta interaksi di ruang tertutup membuat keduanya bisa beredar bersamaan. </p> <hr> <p> <em> <strong> Baca juga: <a href="https://theconversation.com/tanpa-aturan-yang-jelas-pasar-hewan-indonesia-berisiko-memicu-pandemi-berikutnya-260814">Tanpa aturan yang jelas, pasar hewan Indonesia berisiko memicu pandemi berikutnya</a> </strong> </em> </p> <hr> <h2>Waspada, tapi tidak perlu panik</h2> <p><a href="https://journals.plos.org/plosbiology/article?id=10.1371/journal.pbio.3002864">Studi di Cina tahun 2024</a> menunjukkan bahwa setiap orang umumnya akan terinfeksi Influenza A (H3N2) sekali dalam lima tahun.</p> <p>Kendati <a href="https://theconversation.com/what-is-super-flu-and-other-questions-answered-271959">sebagian besar kasus bisa sembuh sendiri</a>, kelompok rentan dengan kekebalan tubuh lemah (bayi, anak-anak, lansia, dan orang dengan penyakit penyerta) tetap harus waspada jika mengalami gejala infeksi.</p> <p>Jika mulai merasakan gejala seperti demam dan batuk, segera beristirahat di rumah, jaga jarak dari orang lain, dan lakukan pemeriksaan medis guna memperoleh diagnosis dan pengobatan yang tepat.</p> <p><a href="https://www.who.int/emergencies/disease-outbreak-news/item/2025-DON586">Untuk mencegah penularan virus Influenza</a>, WHO menyarankan kita untuk tetap disiplin dalam menjaga kebersihan diri, seperti rutin mencuci tangan dan menerapkan etika batuk atau bersin yang benar. </p> <p>Gunakanlah masker, terutama ketika sakit dan berada di ruang tertutup yang ramai.</p> <p>Lakukan pula vaksinasi influenza tahunan yang tetap menjadi perlindungan paling efektif untuk mencegah gejala berat. </p> <p>Badan Keamanan Kesehatan Inggris (UK Health Security Agency) menyebut bahwa <a href="https://ukhsa.blog.gov.uk/2025/11/11/how-well-will-i-be-protected-from-flu-this-year-with-the-current-uk-influenza-vaccines/">vaksin influenza efektif</a> mengurangi sekitar 70-75% risiko anak yang terinfeksi dirawat di rumah sakit. Sementara, pada orang dewasa risikonya menurun 30-40%.</p> <p>Jadi, selalu waspada itu penting, tapi tidak perlu takut berlebihan dalam menghadapi <em>superflu</em>.</p> <hr> <iframe src="https://tally.so/r/XxJP64?alignLeft=1&amp;hideTitle=1&amp;transparentBackground=1&amp;dynamicHeight=1" width="100%" height="321" frameborder="0" marginheight="0" marginwidth="0" title="Survey Form"> </iframe><img src="https://counter.theconversation.com/content/273025/count.gif" alt="The Conversation" width="1" height="1" /> <p class="fine-print"><em><span>Para penulis tidak bekerja, menjadi konsultan, memiliki saham atau menerima dana dari perusahaan atau organisasi mana pun yang akan mengambil untung dari artikel ini, dan telah mengungkapkan bahwa ia tidak memiliki afiliasi di luar afiliasi akademis yang telah disebut di atas.</span></em></p> ‘Superflu’ alias Influenza A (H3N2) subclade K sebenarnya sama seperti flu biasa yang umumnya bisa disembuhkan. Panduan ini akan membantu kita menghadapinya. Kambang Sariadji, Researcher and Policy Analysis in Public Health Laboratory, Ministry of Health Indonesia, Badan Kebijakan Pembangunan Kesehatan Kementerian Kesehatan Hana Apsari Pawestri, Senior scientist, National Institute of Health Research and Development (NIHRD), Ministry of Health Indonesia Subangkit, Peneliti, Badan Kebijakan Pembangunan Kesehatan Kementerian Kesehatan Licensed as Creative Commons – attribution, no derivatives. tag:theconversation.com,2011:article/272707 2026-01-09T01:56:19Z 2026-01-09T01:56:19Z Logika keliru penundaan cukai minuman manis: Cegah penyakit tak bisa tunggu ekonomi tumbuh <blockquote> <p>● Pemahaman cukai minuman berpemanis sebagai instrumen penerimaan negara melemahkan urgensi penerapannya.</p> <p>● Cukai minuman manis seharusnya dipahami sebagai bagian dari paket kebijakan kesehatan yang lebih luas. </p> <p>● Penerapan kebijakan ini harus disertai dengan label peringatan depan kemasan hingga aturan pangan tinggi gula.</p> </blockquote> <hr> <p>Pemerintah kembali menunda penerapan cukai minuman berpemanis dalam kemasan (MBDK) yang semula direncanakan pada 2025, <a href="https://money.kompas.com/read/2025/12/08/164608326/purbaya-tunda-penerapan-cukai-minuman-berpemanis-tunggu-ekonomi-6-persen">mundur menjadi 2026</a>. </p> <p>Padahal, kebijakan ini telah dibahas selama bertahun-tahun sejak resmi dimasukkan dalam rencana pengenaan pajak baru oleh Kementerian Keuangan (Kemenkeu) pada 2016. </p> <p>Rencana penerapannya pun berulang kali masuk ke dalam dokumen kas negara (APBN), tetapi <a href="https://cisdi.org/siaran-pers/cukai-mbdk-ditunda">selalu ditunda</a>. </p> <p>Penyebabnya bukan karena ketiadaan bukti ilmiah maupun kesiapan teknis, melainkan karena cukai minuman berpemanis terus dipahami secara sempit sebagai instrumen penerimaan negara—bukan sebagai bagian dari strategi kesehatan nasional. </p> <p>Pemerintah kali ini mengaitkan penundaan penerapan cukai MBDK dengan syarat <a href="https://money.kompas.com/read/2025/12/08/164608326/purbaya-tunda-penerapan-cukai-minuman-berpemanis-tunggu-ekonomi-6-persen">pertumbuhan ekonomi sekitar 6%</a>. </p> <p>Cara pandang inilah yang membuat penundaan tampak rasional secara politik, kendati <a href="https://cisdi.org/artikel/tarif-cukai-minuman-berpemanis">dampaknya secara sosial dan ekonomi</a> jauh lebih mahal.</p> <h2>Logika keliru pemerintah</h2> <p>Dalam berbagai pernyataan resmi, pemerintah kerap membahas pengenaan cukai MBDK dengan mempertimbangkan <a href="https://news.ddtc.co.id/berita/nasional/1815766/mbdk-bisa-dikenai-cukai-di-semester-ii2026-asalkan-ekonomi-tumbuh-6">kemampuan daya beli dan konsumsi rumah tangga</a>. </p> <p>Selain itu, pemerintah melihat cukai MBDK sebagai sumber pemasukan baru dalam agenda ekstensifikasi cukai (penambahan daftar barang kena cukai), yang mencapai <a href="https://money.kompas.com/read/2025/12/08/164608326/purbaya-tunda-penerapan-cukai-minuman-berpemanis-tunggu-ekonomi-6-persen">Rp7 triliun dalam kas negara 2026</a>. </p> <p>Aspek penerimaan negara kemudian cenderung menonjol dalam perdebatan mengenai kebijakan ini. Logika tersebut bermasalah sejak awal. </p> <p>Jika tujuan utamanya adalah kesehatan masyarakat, maka keberhasilan kebijakan seharusnya tidak direduksi pada besarnya penerimaan, melainkan pada seberapa jauh ia mampu mencegah penyakit dan menekan biaya kesehatan jangka panjang. </p> <p>Dari sudut pandang ekonomi, konsumsi gula berlebih menimbulkan biaya yang jauh melampaui potensi penerimaan cukai. Ini tercermin dari <a href="https://money.kompas.com/read/2025/08/18/200900026/simak-daftar-8-penyakit-dengan-biaya-mahal-yang-ditanggung-bpjs-kesehatan">meningkatnya beban pembiayaan BPJS Kesehatan</a> hingga <a href="https://cisdi.org/siaran-pers/cukai-mbdk-kembali-ditunda">hilangnya produktivitas akibat berbagai penyakit</a>, seperti diabetes, <a href="https://www.bloodpressureuk.org/your-blood-pressure/how-to-lower-your-blood-pressure/healthy-eating/sugar-and-your-blood-pressure/">hipertensi</a>, obesitas, dan <a href="https://www.ahajournals.org/doi/10.1161/JAHA.124.035978">penyakit jantung</a>.</p> <hr> <p> <em> <strong> Baca juga: <a href="https://theconversation.com/ini-alasan-penerapan-label-peringatan-and-cukai-makanan-tinggi-gula-garam-tidak-bisa-ditunda-263719">Ini alasan penerapan label peringatan &amp; cukai makanan tinggi gula-garam tidak bisa ditunda</a> </strong> </em> </p> <hr> <p>Mengaitkan kebijakan kesehatan dengan target pertumbuhan ekonomi tertentu juga menimbulkan pertanyaan mendasar mengenai konsistensi kebijakan publik. </p> <p>Jika pencegahan penyakit harus menunggu ekonomi tumbuh lebih cepat, logika yang sama seharusnya berlaku untuk berbagai intervensi kesehatan lainnya. </p> <p>Namun, dalam praktiknya negara tidak pernah menunda imunisasi, pengendalian tembakau, atau intervensi gizi hanya karena pertumbuhan belum mencapai angka tertentu.</p> <p>Menjadikan pertumbuhan ekonomi sebagai prasyarat justru menunjukkan bahwa cukai MBDK belum benar-benar diposisikan sebagai kebijakan kesehatan.</p> <h2>Alasan ekonomi yang perlu dipertanyakan</h2> <p>Alasan ekonomi juga kerap digunakan untuk membenarkan penundaan. Pemerintah mengkhawatirkan penerapan cukai di tengah kondisi ekonomi yang belum sepenuhnya pulih akan menekan konsumsi dan memperlambat pertumbuhan. Namun, kekhawatiran ini patut dipertanyakan. </p> <p>Minuman manis bukanlah kebutuhan pokok, sehingga kenaikan harganya tidak akan menggerus konsumsi esensial rumah tangga. Indonesia pun selama ini tetap menaikkan cukai rokok dalam berbagai kondisi ekonomi, terutama dengan alasan kesehatan publik. </p> <p>Jika cukai rokok dapat dipertahankan sebagai kebijakan kesehatan meski berdampak pada konsumsi, sulit untuk memahami mengapa cukai minuman manis justru harus menunggu kondisi ekonomi yang dianggap ideal.</p> <p>Di sisi lain, ekspektasi terhadap dampak cukai MBDK juga perlu ditempatkan secara realistis. Secara empiris, kebijakan ini memang <a href="https://www.globalfoodresearchprogram.org/wp-content/uploads/2023/04/GFRP_FactSheet_SugaryDrinkTaxes_2022_11_corrected.pdf">tidak akan mengubah perilaku konsumsi secara drastis jika diterapkan sendiri</a>, terutama bila tarifnya relatif rendah. </p> <p>Apalagi, cakupan MBDK terbatas pada minuman berpemanis dalam kemasan dan tidak menjangkau banyak minuman tinggi gula di luar kategori tersebut. Dalam kondisi ini, konsumen berpotensi beralih ke produk lain yang tidak dikenai cukai, sehingga dampak kesehatan yang diharapkan menjadi terbatas.</p> <p>Namun, keterbatasan tersebut tidak dapat dijadikan alasan untuk terus menunda. Justru sebaliknya, hal ini menunjukkan bahwa masalah utama bukan pada ide cukainya, melainkan pada cara kebijakan tersebut dirancang dan ditempatkan. </p> <p>Selama cukai MBDK diperlakukan sebagai kebijakan yang berdiri sendiri dan dipersempit sebagai agenda Kemenkeu untuk “cari uang buat negara”, aturan ini akan selalu lemah secara politik dan mudah ditunda. Dampaknya relatif kecil, tetapi resistansinya besar.</p> <p>Artinya, akan ada pihak-pihak yang dengan mudah menggugatnya dengan dalih kebijakan ini hanya membebani rakyat ataupun mengganggu stabilitas ekonomi.</p> <p></p> <h2>Cukai minuman manis tak bisa berdiri sendiri</h2> <p>Pengalaman berbagai negara, seperti <a href="https://fingertips.phe.org.uk/static-reports/obesity-physical-activity-nutrition/sugar-reduction-drinks-2015-2024.html">Inggris</a>, <a href="https://www.wider.unu.edu/sites/default/files/Publications/Working-paper/PDF/wp2025-21-impacts-South-Africas-health-promotion-levy-sugar-sweetened-beverages.pdf">Afrika Selatan</a>, <a href="https://www.obesityevidencehub.org.au/collections/prevention/countries-that-have-implemented-taxes-on-sugar-sweetened-beverages-ssbs">Meksiko, dan Chili</a>, menunjukkan bahwa cukai minuman manis bekerja paling efektif ketika menjadi bagian dari paket kebijakan kesehatan yang lebih luas. </p> <p>Cukai berfungsi sebagai sinyal harga, sementara kebijakan lain memperkuat perubahan perilaku. <a href="https://theconversation.com/ini-alasan-penerapan-label-peringatan-and-cukai-makanan-tinggi-gula-garam-tidak-bisa-ditunda-263719">Label peringatan depan kemasan</a>, misalnya, membantu konsumen <a href="https://iris.who.int/server/api/core/bitstreams/b460707a-d518-475d-9d9d-682d1648aa98/content#page=5">memahami kandungan gula secara cepat</a>. </p> <p><a href="https://iris.who.int/server/api/core/bitstreams/83384c03-84a0-4db8-b1eb-cedc626257a6/content">Regulasi makanan dan minuman</a> membatasi konsumsi gula berlebihan, terutama bagi anak-anak dan remaja. Sementara edukasi publik membentuk kesadaran jangka panjang. </p> <p>Tanpa kombinasi tersebut, cukai MBDK akan terasa ramai secara politik, tetapi sunyi dampaknya bagi kesehatan.</p> <p>Sayangnya, fokus perdebatan selama ini hampir selalu tertuju pada biaya penerapan cukai, baik bagi industri maupun konsumen. sementara biaya penundaan nyaris tidak pernah dihitung. </p> <p>Setiap tahun penundaan berarti hilangnya kesempatan untuk mencegah dampaknya. Penyakit terkait konsumsi gula tetap meningkat. Beban sistem kesehatan terus bertambah. Dan <a href="https://www.paho.org/en/topics/economics-ncds">tekanan fiskal jangka panjang justru makin besar</a>. </p> <p>Dalam konteks ini, menunda bukanlah posisi netral tanpa konsekuensi, melainkan sebuah keputusan kebijakan berdampak nyata.</p> <hr> <p> <em> <strong> Baca juga: <a href="https://theconversation.com/terlalu-manis-untuk-dibiarkan-pentingnya-cukai-minuman-bergula-untuk-meredam-kasus-diabetes-indonesia-230405">Terlalu manis untuk dibiarkan: pentingnya cukai minuman bergula untuk meredam kasus diabetes Indonesia</a> </strong> </em> </p> <hr> <p>Karena itu, perdebatan tentang cukai minuman berpemanis perlu digeser dari soal “siap atau tidak siap” menuju pertanyaan yang lebih mendasar, yaitu “di mana posisi kebijakan ini dalam agenda nasional?” </p> <p>Cukai minuman manis seharusnya tidak diperlakukan sebagai kebijakan tunggal Kemenkeu, melainkan sebagai bagian dari <a href="https://www.unicef.org/indonesia/id/media/16691/file/ringkasan-pemangku-kebijakan-analisis-lanskap-kelebihan-berat-badan-obesitas-Indonesia.pdf#page=12">paket kebijakan kesehatan yang lebih luas</a>, bersama pelabelan gizi di depan kemasan, regulasi makanan dan minuman tinggi gula, serta edukasi publik. </p> <p>Tanpa perubahan cara pandang ini, penundaan akan terus berulang dan masyarakat akan terus membayar dampak kesehatannya.</p> <hr> <iframe src="https://tally.so/r/KY5BJX?alignLeft=1&amp;hideTitle=1&amp;transparentBackground=1&amp;dynamicHeight=1" width="100%" height="321" frameborder="0" marginheight="0" marginwidth="0" title="Survey Form"> </iframe><img src="https://counter.theconversation.com/content/272707/count.gif" alt="The Conversation" width="1" height="1" /> <p class="fine-print"><em><span>Febri menerima dana dari Pemerintah Australia (Australia Awards) untuk studi doktoral. </span></em></p> Cukai minuman manis seharusnya tidak diperlakukan sebagai kebijakan tunggal Kemenkeu, melainkan sebagai bagian dari paket kebijakan kesehatan yang lebih luas. Febri Pangestu, PhD Scholar, Griffith University Licensed as Creative Commons – attribution, no derivatives. tag:theconversation.com,2011:article/271740 2026-01-01T07:13:38Z 2026-01-01T07:13:38Z Mindfulness sebenarnya soal ‘mengingat’: latihan untuk kembali ke momen saat ini <figure><img src="https://images.theconversation.com/files/707607/original/file-20241211-15-oemngu.jpg?ixlib=rb-4.1.0&amp;rect=0%2C9%2C2005%2C1336&amp;q=45&amp;auto=format&amp;w=1050&amp;h=700&amp;fit=crop" /><figcaption><span class="caption">Mindfullness menjadi praktik meditasi paling populer di dunia.</span> <span class="attribution"><a class="source" href="https://www.gettyimages.ch/detail/foto/maintaining-mental-balance-at-work-lizenzfreies-bild/2180950902?phrase=meditieren&amp;searchscope=image%2Cfilm&amp;adppopup=true">skynesher/ E+ via Getty Images</a></span></figcaption></figure><p>Bagi banyak orang, Tahun Baru menghadirkan peluang untuk memulai hal baru.</p> <p>Belakangan, semakin banyak orang menyambut tahun baru dengan resolusi untuk <a href="https://www.psychologytoday.com/us/blog/play-your-way-sane/202012/the-ultimate-new-year-s-resolution-mindfulness">mempraktikkan <em>mindfulness</em></a> sebagai salah satu tipe meditasi. Banyak yang meyakini bahwa praktik <em>mindfulness</em> akan membuat lebih rileks, mengurangi stres dan kecemasan, <a href="https://www.penguinrandomhouse.com/books/89149/full-catastrophe-living-revised-edition-by-jon-kabat-zinn-preface-by-thich-nhat-hanh-foreword-by-joan-borysenko/">serta meredakan nyeri kronis</a>. </p> <p>Sebuah <a href="https://theconversation.com/how-effective-is-mindfulness-for-treating-mental-ill-health-and-what-about-the-apps-182436">penelitian</a> bahkan mengungkapkan bahwa <em>mindfulness</em> dapat meningkatkan kualitas hidup secara umum.</p> <p>Dalam 40 tahun terakhir, <a href="https://global.oup.com/academic/product/rethinking-meditation-9780197661741?cc=us&amp;lang=en&amp;"><em>mindfulness</em> sudah berkembang menjadi praktik meditasi yang populer di seluruh dunia</a>. Awalnya, latihan ini berakar pada tradisi Buddha untuk meredakan penderitaan. </p> <p>Namun saat ini, praktik tersebut sudah dipisahkan dari konteks keagamaannya dan dibingkai sebagai <a href="https://global.oup.com/academic/product/the-making-of-buddhist-modernism-9780195183276?cc=us&amp;lang=en&amp;">pendekatan ilmiah modern</a> yang <a href="https://wisdomexperience.org/product/whats-wrong-mindfulness/">tidak terlalu mengaitkan</a> <a href="https://www.shambhala.com/the-buddha-s-gift-to-the-world.html?srsltid=AfmBOorZu00UppyHoBMjWM8Ns3p9FSV6UwEzKRO3YNQDQ1lRNlY2alPy">pada akar Budhhisme</a>.</p> <p>Berbagai penelitian di universitas menunjukkan <a href="https://www.penguinrandomhouse.com/books/533719/altered-traits-by-daniel-goleman-and-richard-j-davidson/">manfaat</a> meditasi <em>mindfulness</em>. Belakangan, meditasi ini pun kerap dipraktikkan di <a href="https://www.npr.org/sections/health-shots/2024/01/26/1227056527/to-help-these-school-kids-deal-with-trauma-mindfulness-lessons-over-the-loudspea">sekolah</a>, <a href="https://www.garrisoninstitute.org/mindfulness-and-politics/">kantor pemerintahan</a>, <a href="https://www.sciencenews.org/article/athlete-mental-health-mindfulness-psychology-elite-olympics">olahraga profesional</a>, <a href="https://pmc.ncbi.nlm.nih.gov/articles/PMC6745607/">penjara</a>, <a href="https://cops.usdoj.gov/html/dispatch/05-2021/mindfulness_training.html">kepolisian</a>, bahkan dunia <a href="https://www.nytimes.com/2019/04/05/health/military-mindfulness-training.html">militer</a>. </p> <p>Berbagai aplikasi populer seperti Headspace, Calm, dan Insight Timer juga memberikan kemudahan bagi siapapun untuk mengakses meditasi terpandu dengan mudah. </p> <p>Perusahaan juga melihat adanya tren meditasi tersebut dan <a href="https://davidgelles.com/mindfulwork">kerap menganjurkan</a> karyawan untuk mempraktikkan <em>mindfulness</em> agar lebih produktif dalam pekerjaan. Praktik <em>mindfulness</em> pun kini berubah menjadi sangat ramah bisnis hingga dijuluki sebagai <a href="https://www.youtube.com/watch?v=Q_ulQymN-gc">“spiritualitas kapitalis”</a>.</p> <p>Saya merupakan seorang <a href="https://yogaprof.substack.com/">peneliti yang mempelajari <em>mindfulness</em>, komunikasi, dan etika</a>. Saya juga sudah lama menjadi pengajar meditasi. </p> <p>Bagi siapapun yang tahun ini ingin mulai berlatih <em>mindfulness</em>, saya ingin mengajak untuk kembali mempraktikkan meditasi tersebut pada akar Budhhisnya. Hal ini dilakukan untuk menyoroti satu hal yang mungkin akan mengejutkan, bahwa <em>mindfulness</em> sebenarnya memiliki arti “mengingat”.</p> <h2>Menjaga diri tetap hadir saat ini</h2> <p>Seorang master Zen asal Vietnam yang juga biksu, penyair, dan aktivis perdamaian, yakni <a href="https://plumvillage.org/about/thich-nhat-hanh/biography">Thich Nhat Hanh</a>, menyebutkan bahwa <em>mindfulness</em> adalah <a href="https://www.penguinrandomhouse.com/books/74750/the-heart-of-the-buddhas-teaching-by-thich-nhat-hanh/">“inti”</a> dari ajaran Buddha.</p> <p>Ia mendefinisikan <em>mindfulness</em> sebagai latihan untuk <a href="https://www.parallax.org/product/the-miracle-of-mindfulness/">“menjaga kesadaran seseorang agar tetap hidup pada kenyataan yang terjadi saat ini”</a>. Masa lalu sudah berlalu dan masa depan belum terjadi. Hanya pada masa kini <a href="https://theconversation.com/when-each-pandemic-day-feels-the-same-phil-the-weatherman-in-groundhog-day-can-offer-a-lesson-in-embracing-life-mindfully-153605">kita memiliki kendali dan kebebasan</a>.</p> <p>Dalam bahasa Pali Kuno, <a href="https://doi.org/10.1080/14639947.2011.564843">kata yang diterjemahkan sebagai “<em>mindfulness</em>” adalah “<em>sati</em>”</a>. Kata ini berkaitan erat dengan verba <a href="https://www.windhorsepublications.com/product/satipatthana-the-direct-path-to-realization/"><em>sarati</em></a>, yang berarti “mengingat”. </p> <p>Namun, “mengingat” di sini bukan berarti mengulang-ngulang masa lalu atau terjebak pada peristiwa yang sudah lewat. Sebaliknya, ia bermakna <a href="https://www.penguinrandomhouse.com/books/74750/the-heart-of-the-buddhas-teaching-by-thich-nhat-hanh/">“mengingat untuk kembali pada momen sekarang”</a>.</p> <p>Peneliti <a href="https://www.jennyodell.com/index.html">Jenny Odell</a> menyebut bahwa <a href="https://www.penguinrandomhouse.com/books/600671/how-to-do-nothing-by-jenny-odell/">“ekonomi perhatian”</a> pada budaya kita, telah mengubah perhatian individu menjadi komoditas yang bisa dibeli dan dijual.</p> <p>Sebagian besar kehidupan modern dirancang untuk mengalihkan kita dari apa yang terjadi di sini dan saat ini. Hal ini amat benar, terutama dunia sosial media yang dalam bentuk terburuknya membanjiri kita dengan konten yang mengganggu dan membingungkan. Setiap hari, kita terus menerus digoda untuk hadir dan larut dalam layar. </p> <p>Terkadang, <a href="https://www.penguinrandomhouse.com/books/348402/buddhism-without-beliefs-by-stephen-batchelor/">hal yang paling sulit diingat</a> adalah untuk hadir pada momen saat ini. Karena itu, <em>mindfulness</em> merupakan latihan untuk “mengingat pulang” ke saat ini, ketika begitu banyak gangguan dan dorongan yang membuat kita lupa.</p> <h2>Mengingat alasan kita berlatih</h2> <p>Dalam tradisi Budhhis, <em>mindfulness</em> juga bermakna untuk mengingat kembali alasan awal kenapa kita melakukan meditasi itu sendiri. </p> <p>Awalnya, <em>mindfulness</em> merupakan 1 dari 8 praktik yang Buddha ajarkan untuk menghadapi penderitaan. Delapan praktik tersebut saat ini dikenal sebagai <a href="https://www.penguinrandomhouse.com/books/74750/the-heart-of-the-buddhas-teaching-by-thich-nhat-hanh/">jalan mulia berunsur delapan</a>. Hal yang termuat di dalamnya termasuk meliputi segala sesuatu yang benar mengenai cara pandang, pikiran, ucapan, tindakan, kesungguhan, konsentrasi, perhatian, serta penghidupan seseorang.</p> <figure class="align-center zoomable"> <a href="https://images.theconversation.com/files/637965/original/file-20241211-17-6jhg2b.jpg?ixlib=rb-4.1.0&amp;q=45&amp;auto=format&amp;w=1000&amp;fit=clip"><img alt="Para biksu dengan jubah berwarna marun berdiri berbaris mengelilingi anak-anak sekolah." src="https://images.theconversation.com/files/637965/original/file-20241211-17-6jhg2b.jpg?ixlib=rb-4.1.0&amp;q=45&amp;auto=format&amp;w=754&amp;fit=clip" srcset="https://images.theconversation.com/files/637965/original/file-20241211-17-6jhg2b.jpg?ixlib=rb-4.1.0&amp;q=45&amp;auto=format&amp;w=600&amp;h=399&amp;fit=crop&amp;dpr=1 600w, https://images.theconversation.com/files/637965/original/file-20241211-17-6jhg2b.jpg?ixlib=rb-4.1.0&amp;q=30&amp;auto=format&amp;w=600&amp;h=399&amp;fit=crop&amp;dpr=2 1200w, https://images.theconversation.com/files/637965/original/file-20241211-17-6jhg2b.jpg?ixlib=rb-4.1.0&amp;q=15&amp;auto=format&amp;w=600&amp;h=399&amp;fit=crop&amp;dpr=3 1800w, https://images.theconversation.com/files/637965/original/file-20241211-17-6jhg2b.jpg?ixlib=rb-4.1.0&amp;q=45&amp;auto=format&amp;w=754&amp;h=501&amp;fit=crop&amp;dpr=1 754w, https://images.theconversation.com/files/637965/original/file-20241211-17-6jhg2b.jpg?ixlib=rb-4.1.0&amp;q=30&amp;auto=format&amp;w=754&amp;h=501&amp;fit=crop&amp;dpr=2 1508w, https://images.theconversation.com/files/637965/original/file-20241211-17-6jhg2b.jpg?ixlib=rb-4.1.0&amp;q=15&amp;auto=format&amp;w=754&amp;h=501&amp;fit=crop&amp;dpr=3 2262w" sizes="(min-width: 1466px) 754px, (max-width: 599px) 100vw, (min-width: 600px) 600px, 237px"></a> <figcaption> <span class="caption">Mendiang master Zen Thich Nhat Hanh memimpin meditasi berjalan di Hongong Institute of Education, Hongkong.</span> <span class="attribution"><a class="source" href="https://www.gettyimages.ch/detail/nachrichtenfoto/pupil-cheng-ka-ki-looks-surprised-as-zen-master-thich-nachrichtenfoto/1125032761?adppopup=true">Steve Cray/South China Morning Post via Getty Images</a></span> </figcaption> </figure> <p>Meskipun <em>mindfulness</em> secara tradisional berada di urutan ketujuh, <a href="https://www.parallax.org/product/good-citizens/">Nhat Hanh mengusulkan</a> agar praktik ini dapat ditempatkan di urutan pertama. Menurutnya, hal ini dikarenakan setiap langkah dalam jalan tersebut pertama-tama membutuhkan <em>mindfulness</em>. </p> <p>Secara keseluruhan, kedelapan praktik ini dirancang untuk membantu seseorang menghadapi penderitaan, mengubahnya, serta menemukan kebahagiaan dalam hidup.</p> <p>Menurut para guru Budhhis, alasan untuk melakukan latihan <em>mindfulness</em> adalah untuk <a href="https://www.penguinrandomhouse.com/books/74750/the-heart-of-the-buddhas-teaching-by-thich-nhat-hanh/">mengatasi penderitaan dalam diri kita sendiri</a>. Tujuan dari <em>mindfulness</em> bukan untuk membuat kita sekadar lebih produktif di tempat kerja, pun untuk relaksasi semata.</p> <p>Sebaliknya, <em>mindfulness</em> adalah upaya transformasi diri. Dengan menumbuhkan perhatian yang dalam, stabil, jujur, dan terbuka, kita bisa melihat secara mendalam penderitaan yang ada serta memahami apa penyebabnya. </p> <p>Saat penyebab dan kondisi penderitaan tersebut kita sadari, barulah kita bisa memperbaikinya agar beban yang kita rasakan menjadi berkurang. Semakin sedikit menderita, semakin mudah bagi kita menghadapi momen saat ini. Semakin mudah juga bagi kita untuk menghadapi hidup sendiri tanpa menambahkan penderitaan lain di dunia. </p> <p>Mungkin, dengan tekad yang cukup kita juga bisa ikut <a href="https://plumvillage.org/articles/how-to-be-engaged-without-becoming-entangled">meringankan penderitaan di dunia</a>.</p> <p><em>Adinda Ghinashalsabila Salman menerjemahkan artikel ini dari Bahasa Inggris.</em></p><img src="https://counter.theconversation.com/content/271740/count.gif" alt="The Conversation" width="1" height="1" /> <p class="fine-print"><em><span>Jeremy David Engels tidak bekerja, menjadi konsultan, memiliki saham, atau menerima dana dari perusahaan atau organisasi mana pun yang akan mengambil untung dari artikel ini, dan telah mengungkapkan bahwa ia tidak memiliki afiliasi selain yang telah disebut di atas.</span></em></p> Mindfulness bukan cuma soal produktif di tempat kerja atau relaksasi semata. Meditasi ini merupakan ruang bagi kita untuk mentransformasikan diri. Jeremy David Engels, Liberal Arts Endowed Professor of Communication, Penn State Licensed as Creative Commons – attribution, no derivatives. tag:theconversation.com,2011:article/271738 2025-12-31T01:27:51Z 2025-12-31T01:27:51Z Tahun baru: Fokuslah pada kesejahteraan alih-alih sekadar turun berat badan <figure><img src="https://images.theconversation.com/files/707606/original/file-20241218-21-4asop.jpg?ixlib=rb-4.1.0&amp;rect=0%2C0%2C6604%2C4406&amp;q=45&amp;auto=format&amp;w=1050&amp;h=700&amp;fit=crop" /><figcaption><span class="caption">Investasi waktu demi peningkatkan kesehatan dan kesejahteraan memang patut diapresiasi, tetapi hal ini akan menjadi kontraproduktif jika hanya angka di timbangan, ukuran celana, atau bentuk otot perut &#39;six-pack&#39; yang menjadi fokus utamanya.</span> <span class="attribution"><span class="source">(Shutterstock)</span></span></figcaption></figure><p>Januari merupakan waktu yang tepat untuk menetapkan rencana resolusi Tahun Baru. Terutama resolusi mengenai pengembangan diri atau <em>self-improvement</em>. </p> <p>Bagi banyak pihak, resolusi ini mungkin berkaitan dengan kesehatan. Mulai dari mengatur pola makan yang lebih baik, memperbaiki pola tidur, mengurangi konsumsi alkohol, berolahraga lebih banyak, hingga menurunkan berat badan. </p> <p>Nilai - nilai yang ada dalam budaya diet saat ini begitu menyebar luas. Salah satunya adalah pemujaan terhadap penurunan berat badan hingga dorongan untuk mengubah bentuk tubuh. </p> <p>Akibatnya, seringkali muncul tekanan untuk menyesuaikan diri pada standar yang tidak realistis. Ini pun memunculkan asumsi bahwa tubuh yang kurus selalu berarti tubuh yang sehat. </p> <p>Akibatnya, resolusi tahun baru seputar kesehatan sering kali <a href="https://theconversation.com/the-resolve-to-be-thinner-and-fitter-this-year-wont-lead-to-salvation-107956">terseret nilai yang dibentuk oleh budaya diet</a>. Meskipun upaya untuk meningkatkan kesehatan dan kesejahteraan diri ini patut diapresiasi, rasanya sangat sayang apabila tolok ukur keberhasilan kita diukur oleh sekadar ukuran celana atau perut yang berotot saja. </p> <p>Oleh karena itu, dalam tahun baru ini, kita sebaiknya mempertimbangkan resolusi <em>weight-neutral</em> dan <em>body-neutral</em>. Resolusi ini bertujuan untuk memprioritaskan bagaimana kita merasa dan berfungsi, baik secara fisik maupun mental, serta melihat kesehatan dengan cara yang lebih holistik.</p> <p>Pendekatan <em>weight-neutral</em> sendiri memiliki fokus pada perilaku sehat yang bisa kita kendalikan. Antara lain seperti menjaga hubungan positif dengan aktivitas fisik dan pola makan, <a href="https://theconversation.com/how-weight-bias-is-harming-us-all-107352">serta melawan stigma negatif terhadap orang yang bertubuh besar</a>.</p> <figure> <iframe src="https://player.vimeo.com/video/834898640" width="500" height="281" frameborder="0" webkitallowfullscreen="" mozallowfullscreen="" allowfullscreen=""></iframe> <figcaption><span class="caption">Sebuah cuplikan dari Lab Riset Citra Tubuh Universitas Calgary tentang perubahan berat badan.</span></figcaption> </figure> <h2>Resolusi untuk menurunkan berat badan</h2> <p><a href="https://werklund.ucalgary.ca/research/body-image-lab">Sebagai peneliti <em>body image</em></a> yang juga pernah dirugikan oleh budaya diet, kami cenderung menghindari resolusi tahun baru karena asosiasinya yang kurang baik. Tapi sepertinya, hal ini justru membuat budaya diet yang ada malah semakin merajalela. </p> <p>Oleh karena itu, kami percaya pasti ada cara baru untuk menyikapi resolusi ini. Alih-alih melihat resolusi sekadar pencapaian fisik, orang-orang bisa lebih berfokus pada tujuan merawat diri dan menargetkan kesejahteraan diri yang lebih holistik. </p> <p>Pertama, penting bagi siapapun yang pernah kecewa karena gagal menurukan berat badan untuk melatih <a href="https://doi.org/10.1016/j.bodyim.2016.03.003"><em>self-compassion</em></a> atau belas kasih. Penting pula untuk memberikan ruang untuk memaafkan diri. Meskipun sebenarnya sangat dapat dimengerti, bahwa resolusi ini merupakan respon terhadap pesan-pesan yang hanya berfokus pada berat badan dalam budaya kita. </p> <p>Kedua, sangat wajar dan bahkan dapat diprediksi apabila resolusi semacam ini tidak menghasilkan perubahan yang bertahan lama. <a href="https://doi.org/10.1111/j.1467-789X.2009.00611.x">Penelitian menunjukkan</a> bahwa berat badan, ukuran tubuh, dan definisi atas otot dipengaruhi oleh banyak faktor yang sebenarnya <a href="https://theconversation.com/are-we-over-weight-yet-new-guidelines-aim-to-reduce-obesity-stigma-in-health-care-130060">tidak sepenuhnya berada di bawah kendali kita</a>.</p> <p>Ketiga, terlalu berfokus pada penampilan dan ukuran tubuh justru dapat menyebabkan obsesi yang tidak sehat bagi sebagian orang. Bagi sebagian lainnya, hal ini juga bisa menjadi sumber frustrasi hingga membuat mereka meninggalkan perilaku sehat yang sebenarnya memberikan banyak manfaat.</p> <p>Berusaha menurunkan berat badan dengan cara seperti ini akibatnya kerap merusak hubungan kita dengan makanan dalam jangka panjang. Selain itu, “diet yoyo” atau diet yang berfokus pada sekadar naik-turun berat badan ini, juga menimbulkan berbagai dampak resiko bagi fisik dan psikologis kita. </p> <p>Berat badan bukanlah sebuah bentuk perilaku, sehingga tidak tepat rasanya jika dijadikan target untuk perubahan perilaku.</p> <h2>Pendekatan netral atas berat tubuh</h2> <p>Pendekatan yang netral terhadap berat tubuh atau <em>weight-netural</em> berkaitan dengan gerakan <a href="https://theconversation.com/body-neutrality-what-it-is-and-how-it-can-help-lead-to-more-positive-body-image-191799"><em>body-neutral</em></a>. </p> <p>Pendekatan ini berusaha mendorong pandangan holistik atau menyeluruh atas diri kita. Termasuk di dalamnya adalah cara pandang terhadap hubungan sosial, talenta, serta minat yang kita miliki. Selain itu, gerakan ini juga mendorong kita untuk mengurangi fokus yang sempit atas penampilan fisik semata.</p> <p>Pendekatan yang bepusat pada berat tubuh atau <em>weight-centric</em> biasanya memiliki fokus utama yang menargetkan berat badan dan penampilan tertentu. Sebaliknya, praktik <em>weight-neutral</em> berangkat dari pengalaman internal kita atas tubuh sendiri. </p> <p>Pendekatan ini bisa berupa menambahkan aktivitas fisik untuk meningkatkan fungsi tubuh dan kesenangan pada hidup, serta mengatur pola makan yang baik agar lebih ternutrisi dan terpuaskan. Penelitian membuktikan, <a href="https://doi.org/10.1155/2014/983495">kerangka berpikir seperti ini dapat menghasilkan dampak positif bagi kesejahteraan kita secara menyeluruh</a>. </p> <p>Ketika kita berfokus meningkatkan kesehatan alih-alih sekadar menurunkan berat badan, peluang untuk melakukan aktivitas fisik dalam jangka panjang menjadi lebih besar. Hal ini juga tentunya dapat berpengaruh secara positif pada beberapa indikator kesehatan kita, seperti tekanan darah, kadar kolestrol, serta gula darah.</p> <p>Selain itu, pendekatan <em>weight-neutral</em> juga dapat <a href="https://doi.org/10.1002/eat.23509">meningkatkan kesehatan mental</a>, termasuk di antaranya adalah <em>self compassion</em> (belas kasih) dan <em>self esteem</em> (kepercayaan diri) yang lebih baik. </p> <p>Pendekatan <em>body-neutral</em> di sisi lain juga menawarkan kita cara pandang yang lebih luas terhadap kesejahteraan diri. Pendekatan ini menghadirkan berbagai dimensi kesehatan di luar aspek fisik saja. </p> <p>Sebagai contoh, pendekatan ini turut mempertimbangkan aspek sosial, emosional, finansial, intelektual, spiritual, dan bahkan profesional kita. Pendekatan ini bisa menjadi solusi bagi mereka yang sebelumnya sempat kesulitan akibat pendekatan <em>weight-centric</em> di masa lalu.</p> <figure class="align-center zoomable"> <a href="https://images.theconversation.com/files/639306/original/file-20241218-15-ck2sj5.jpg?ixlib=rb-4.1.0&amp;q=45&amp;auto=format&amp;w=1000&amp;fit=clip"><img alt="orang-orang dengan tongkat trekking dan ransel menyusurui sebuah jalur di area hutan" src="https://images.theconversation.com/files/639306/original/file-20241218-15-ck2sj5.jpg?ixlib=rb-4.1.0&amp;q=45&amp;auto=format&amp;w=754&amp;fit=clip" srcset="https://images.theconversation.com/files/639306/original/file-20241218-15-ck2sj5.jpg?ixlib=rb-4.1.0&amp;q=45&amp;auto=format&amp;w=600&amp;h=400&amp;fit=crop&amp;dpr=1 600w, https://images.theconversation.com/files/639306/original/file-20241218-15-ck2sj5.jpg?ixlib=rb-4.1.0&amp;q=30&amp;auto=format&amp;w=600&amp;h=400&amp;fit=crop&amp;dpr=2 1200w, https://images.theconversation.com/files/639306/original/file-20241218-15-ck2sj5.jpg?ixlib=rb-4.1.0&amp;q=15&amp;auto=format&amp;w=600&amp;h=400&amp;fit=crop&amp;dpr=3 1800w, https://images.theconversation.com/files/639306/original/file-20241218-15-ck2sj5.jpg?ixlib=rb-4.1.0&amp;q=45&amp;auto=format&amp;w=754&amp;h=503&amp;fit=crop&amp;dpr=1 754w, https://images.theconversation.com/files/639306/original/file-20241218-15-ck2sj5.jpg?ixlib=rb-4.1.0&amp;q=30&amp;auto=format&amp;w=754&amp;h=503&amp;fit=crop&amp;dpr=2 1508w, https://images.theconversation.com/files/639306/original/file-20241218-15-ck2sj5.jpg?ixlib=rb-4.1.0&amp;q=15&amp;auto=format&amp;w=754&amp;h=503&amp;fit=crop&amp;dpr=3 2262w" sizes="(min-width: 1466px) 754px, (max-width: 599px) 100vw, (min-width: 600px) 600px, 237px"></a> <figcaption> <span class="caption">Resolusi ‘weight-neutral’ misalnya bisa berupa berjalan lebih sering agar dapat menikmati pendakian gunung pada musim panas bersama keluarga dan teman-teman.</span> <span class="attribution"><span class="source">(Shutterstock)</span></span> </figcaption> </figure> <h2>Resolusi yang bisa dipertimbangkan</h2> <p>Salah satu resolusi <em>weight-neutral</em> bisa berupa target untuk berjalan lebih sering agar kita mampu menikmati pendakian gunung bersama keluarga dan teman saat musim panas. </p> <p>Contoh lainnya seperti memprioritaskan tidur, mempelajari lebih jauh terkait kebersihan sebelum tidur, serta mencoba strategi <em>mindfulness</em> sebagai bagian dari rutinitas tidur. </p> <p>Selain itu, target <em>body-neutral</em> bisa berbentuk upaya untuk lebih aktif secara sosial dengan lingkungan sekitar. Hal ini dapat dilakukan dengan mulai berkomitmen untuk lebih sering menemui teman lama, ataupun mengikuti kelas maupun komunitas untuk menemukan teman baru. Menjadi relawan di sebuah lembaga yang memberikan tujuan yang lebih besar dalam hidup bisa juga menjadi salah satu caranya. </p> <p>Budaya diet kerap membuat kita menyerahkan keputusan pada panduan dan “ahli” yang datangnya berasal dari luar diri kita sendiri sendiri. Hal ini menjelma menjadi angka grafik, rencana makan tertentu, jadwal olahraga, atau pun berbentuk aplikasi. </p> <p>Tahun ini, mari lebih fokus untuk merebut kembali diri dalam proses <em>self improvement</em>. Tentukan apa yang membuatmu benar-benar tertarik daripada sekadar mengikuti skrip dan target yang ditawarkan oleh budaya diet yang ada. </p> <p>Ketika kita memperluas prespektif lebih dari sekadar penampilan dan mempertimbangkan apa yang kita rasakan dan paling penting dalam hidup, di masa depan mungkin saja resolusi tahun baru kita justru bisa menjadi sumber energi dan antusiasme. </p> <p>Jadi, berikan sedikit hadiah pada diri sendiri. Rawatlah diri secara menyeluruh untuk setahun penuh ke depan. Inilah target kita untuk tahun ini.</p> <p><em>Adinda Ghinashalsabila Salman menerjemahkan artikel ini dari Bahasa Inggris.</em></p><img src="https://counter.theconversation.com/content/271738/count.gif" alt="The Conversation" width="1" height="1" /> <p class="fine-print"><em><span>Para penulis tidak bekerja, menjadi konsultan, memiliki saham atau menerima dana dari perusahaan atau organisasi mana pun yang akan mengambil untung dari artikel ini, dan telah mengungkapkan bahwa ia tidak memiliki afiliasi di luar afiliasi akademis yang telah disebut di atas.</span></em></p> Tahun ini pilihlah resolusi diet yang lebih ramah pada tubuh. Ambil cara pandang kesehatan yang lebih holistik dan utamakan bagaimana tubuh serta pikiran kita bekerja dari dalam. Shelly Russell-Mayhew, Professor and Registered Psychologist, Werklund School of Education, University of Calgary Elizabeth Tingle, Coordinator for the Body Image Research Lab; Lecturer at the Werklund School of Education, University of Calgary Licensed as Creative Commons – attribution, no derivatives. tag:theconversation.com,2011:article/271622 2025-12-29T11:13:28Z 2025-12-29T11:13:28Z Nyeri endometriosis sering disepelekan, padahal bisa picu disabilitas hingga sulit punya anak <blockquote> <p>● Endometriosis adalah jaringan di luar rahim yang memicu peradangan sistemik dalam jangka panjang.</p> <p>● Gejalanya menimbulkan nyeri panggul berkepanjangan, perdarahan banyak, sulit punya anak, hingga disabilitas. </p> <p>● Rata-rata penyintas membutuhkan 6-8 tahun sejak gejala pertama muncul hingga didiagnosis dengan tepat.</p> </blockquote> <hr> <p>Setiap bulan, banyak perempuan tumbuh besar dengan pesan yang sama: </p> <blockquote> <p>“Kalau sedang haid dan sakit, ya ditahan saja. Memang begitu, perempuan harus kuat.” </p> </blockquote> <p>Namun, bagaimana jika <a href="https://pmc.ncbi.nlm.nih.gov/articles/PMC8951218/">rasa sakit</a> itu begitu hebat sampai membuat perempuan sulit berjalan, tidak bisa tidur, tidak mampu bekerja atau belajar, hingga mengganggu hubungan dengan pasangan dan keluarga? </p> <p>Itulah realitas yang dihadapi penyintas <a href="https://www.who.int/news-room/fact-sheets/detail/endometriosis">endometriosis</a>, penyakit kronis ketika jaringan mirip dinding rahim tumbuh di luar rahim dan memicu <a href="https://academic.oup.com/hropen/article/2021/4/hoab029/6406627?login=false">peradangan sistemik</a> dalam jangka panjang. <a href="https://academic.oup.com/hropen/article/2021/4/hoab029/6406627?login=false">Nyeri menstruasi hebat</a> adalah keluhan paling sering, tapi bukan satu-satunya. </p> <p>Gejala endometriosis lainnya menimbulkan perdarahan banyak, <a href="https://obgyn.onlinelibrary.wiley.com/doi/10.1002/ijgo.15142">nyeri panggul nonmenstruasi</a>, nyeri saat berhubungan seksual, gangguan saluran cerna dan kemih berulang, hingga infertilitas (kesulitan memiliki anak). Penyakit ini dapat memengaruhi perempuan remaja sampai usia lanjut, terutama di usia reproduktif.</p> <p></p> <p>Endometriosis bukan penyakit langka, melainkan masalah kesehatan global yang luas. Sekitar <a href="https://obgyn.onlinelibrary.wiley.com/doi/10.1002/ijgo.15142">10% perempuan usia subur</a> diperkirakan mengalami endometriosis. </p> <p>Hal yang memprihatinkan, rata-rata penyintas membutuhkan <a href="https://obgyn.onlinelibrary.wiley.com/doi/10.1002/ijgo.15142">6-8 tahun</a> sejak gejala pertama muncul hingga akhirnya <a href="https://obgyn.onlinelibrary.wiley.com/doi/10.1002/ijgo.15142">mendapatkan diagnosis yang tepat</a>.</p> <p>Selama periode panjang ini, banyak perempuan tetap harus “berfungsi normal” meski hidup dengan rasa sakit yang membatasi gerak dan memicu disabilitas. Dari luar tampak baik-baik saja, tapi sebenarnya mereka menjalani bulan demi bulan dengan kualitas hidup yang kian terkikis.</p> <h2>Nyeri tak terlihat yang ganggu kualitas hidup</h2> <p><a href="https://obgyn.onlinelibrary.wiley.com/doi/10.1002/ijgo.15142">Riset tahun 2023 di Asia-Pasifik</a> menunjukkan endometriosis membawa beban fisik, psikologis, sosial, dan ekonomi yang besar. Nyeri berulang membuat perempuan sulit produktif, yang kemudian memunculkan rasa bersalah karena sering izin atau menurunnya performa kerja. </p> <p>Ketidakpastian tentang kesuburan menambah kecemasan. Nyeri saat berhubungan seksual menimbulkan ketegangan dalam hubungan. </p> <p>Sebagian penyintas lantas menarik diri dari pergaulan sosial karena tubuh mereka tidak selalu bisa diajak “mengikuti ritme” orang lain.</p> <p>Depresi, kecemasan, gangguan tidur, dan penurunan rasa percaya diri tercatat secara signifikan lebih banyak terjadi pada <a href="https://pubmed.ncbi.nlm.nih.gov/32610665/">perempuan dengan endometriosis</a> dibandingkan perempuan tanpa kondisi tersebut. </p> <p>Semua ini bukan semata karena rasa sakit fisik, tetapi karena situasi berulang: tubuh yang terus mengirim sinyal bahaya, sementara lingkungan justru menuntut semuanya terlihat normal.</p> <h2>Gejala endometriosis sering dianggap biasa</h2> <p><a href="https://obgyn.onlinelibrary.wiley.com/doi/10.1002/ijgo.15142">Konsensus Asia-Pasifik 2023</a> mengungkap bahwa keterlambatan diagnosis endometriosis bukan hanya soal akses ke fasilitas kesehatan. Anggapan masyarakat mengenai nyeri haid sebagai hal normal juga berperan besar. </p> <p>Faktor lainnya, tabunya pembicaraan soal menstruasi, ketidaknyamanan orang tua membawa remaja perempuan ke dokter kandungan, serta penggunaan obat pereda nyeri atau pil KB yang justru menumpulkan gejala tanpa mengatasi penyebab.</p> <p>Selain itu, kecenderungan penyintas “pindah-pindah dokter” karena merasa tak didengar juga bisa memperlambat diagnosis endometriosis.</p> <hr> <p> <em> <strong> Baca juga: <a href="https://theconversation.com/benarkah-kb-spiral-picu-kanker-payudara-ini-fakta-ilmiah-yang-perlu-kamu-tahu-242202">Benarkah KB spiral picu kanker payudara? Ini fakta ilmiah yang perlu kamu tahu</a> </strong> </em> </p> <hr> <p>Dari sisi tenaga kesehatan, sebagian dokter masih berpegang pada paradigma lama bahwa endometriosis hanya bisa dipastikan lewat <a href="https://pmc.ncbi.nlm.nih.gov/articles/PMC8428328/">operasi laparoskopi</a> alias teknik bedah dengan sayatan kecil untuk mengobati organ di dalam perut dan panggul. </p> <p>Padahal, kini <a href="https://obgyn.onlinelibrary.wiley.com/doi/10.1002/ijgo.15142">para ahli obgyn Asia-Pasifik</a> menekankan bahwa diagnosis klinis harus menjadi titik awal, bukan pembedahan. Diagnosis ini dapat diperoleh melalui pendekatan klinis: pemeriksaan <a href="https://obgyn.onlinelibrary.wiley.com/doi/10.1002/ijgo.15142">gejala dan riwayat menstruasi</a>, disertai pemeriksaan ginekologi dan pencitraan (terutama USG transvaginal atau transrektal).</p> <p>Cara ini jauh lebih aman dan lebih cepat dalam mengarahkan pasien ke penanganan, dibandingkan melalui operasi.</p> <p>Pendekatan klinis pun penting bukan hanya untuk mengurangi risiko operasi, tetapi juga karena beberapa temuan penyakit tidak selalu sejalan dengan beratnya nyeri. </p> <p>Artinya, perempuan yang tidak tampak memiliki kelainan jaringan sekalipun bisa mengalami penderitaan luar biasa, sehingga mereka tetap berhak mendapatkan perawatan sesegera mungkin.</p> <h2>Diagnosis dini bisa pertahankan kualitas hidup</h2> <p><a href="https://obgyn.onlinelibrary.wiley.com/doi/10.1002/ijgo.15142">Diagnosis dini</a> endometriosis membawa banyak dampak positif. Validasi medis hadir sebagai titik awal, saat penyintas akhirnya merasa keluhannya diakui, bukan lagi dianggap berlebihan ataupun bayangan semata. </p> <p>Setelah diagnosis, terapi endometriosis dapat dimulai untuk mengelola nyeri, mengurangi peradangan, menekan perkembangan penyakit, serta mengurangi risiko komplikasi jangka panjang. </p> <hr> <p> <em> <strong> Baca juga: <a href="https://theconversation.com/riset-polusi-udara-dan-suara-berisiko-pengaruhi-kemampuan-reproduksi-239325">Riset: polusi udara dan suara berisiko pengaruhi kemampuan reproduksi</a> </strong> </em> </p> <hr> <p>Pendekatan ini juga dapat mengurangi jumlah dan kerumitan operasi karena pengobatan tidak tertunda bertahun-tahun.</p> <p>Bagi perempuan yang ingin hamil, diagnosis dini memberi ruang untuk merencanakan masa depan reproduksi, termasuk mempertimbangkan opsi seperti pelestarian kesuburan jika diperlukan.</p> <h2>Saatnya mengubah cara pandang kita</h2> <p>Konsensus Asia-Pasifik menyimpulkan bahwa <a href="https://obgyn.onlinelibrary.wiley.com/doi/10.1002/ijgo.15142">peningkatan kesadaran publik</a> dan pelatihan tenaga kesehatan untuk mengenali endometriosis sejak dini adalah kunci mengatasi kesenjangan diagnosis. </p> <p>Negara-negara di kawasan ini perlu memperbarui pedoman klinis, memperkuat jalur rujukan, meningkatkan pendidikan kesehatan menstruasi di sekolah, melibatkan platform digital untuk edukasi publik, dan menghilangkan stigma terhadap nyeri haid.</p> <p>Di Indonesia, Himpunan Endokrinologi Reproduksi dan Fertilitas Indonesia <a href="https://www.pogi.or.id/r/12/hot-news">(HIFERI)</a> telah menyusun pedoman klinis untuk mendiagnosis dan menangani endometriosis, termasuk nyeri kronis yang ditimbulkannya.</p> <p>Kementerian Kesehatan melalui tenaga kesehatan di puskesmas juga perlu meningkatkan promosi kesehatan dan kampanye terkait endometriosis. Penyebaran informasi dan ajakan untuk memeriksakan diri terkait keluhan-keluhan yang dirasakan pasien akan membantu diagnosis dini dan mempercepat penangan penyakit secara menyeluruh. </p> <p>Contohnya yang dilakukan <a href="https://endometriosis-indonesia.id/">Komunitas Endometriosis Indonesia</a> dalam membantu edukasi dan mengadvokasi para penyintas.</p> <p>Ini bukan sekadar soal memahami penyakit, tetapi mengubah budaya dari “nyeri haid itu wajar dan harus diterima” menjadi “nyeri haid yang mengganggu hidup harus diperiksa secara medis.”</p> <p>Pada akhirnya, membicarakan endometriosis secara terbuka adalah bentuk solidaritas. Mengakui rasa sakit perempuan adalah langkah awal untuk menghentikan penderitaan yang tidak terlihat ini. </p> <p>Para penyintas tidak sedang “terlalu sensitif” atau “tidak kuat”, mereka hidup dengan penyakit kronis yang nyata dan layak mendapat perhatian sama seriusnya dengan penyakit kronis lainnya.</p> <hr> <iframe src="https://tally.so/r/A7z0Qz?alignLeft=1&amp;hideTitle=1&amp;transparentBackground=1&amp;dynamicHeight=1" width="100%" height="321" frameborder="0" marginheight="0" marginwidth="0" title="Survey Form"> </iframe><img src="https://counter.theconversation.com/content/271622/count.gif" alt="The Conversation" width="1" height="1" /> <p class="fine-print"><em><span>Para penulis tidak bekerja, menjadi konsultan, memiliki saham atau menerima dana dari perusahaan atau organisasi mana pun yang akan mengambil untung dari artikel ini, dan telah mengungkapkan bahwa ia tidak memiliki afiliasi di luar afiliasi akademis yang telah disebut di atas.</span></em></p> Endometriosis kerap telat didiagnosis karena masyarakat menyepelekan gejalanya. Padahal, penyakit ini bisa picu disabilitas hingga sulit punya keturunan. Mutiara Riani, Dosen Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan, Universitas Katolik Indonesia Atma Jaya William William, Staff Pengajar Departemen Biologi Kedokteran, Universitas Katolik Indonesia Atma Jaya Licensed as Creative Commons – attribution, no derivatives. tag:theconversation.com,2011:article/272257 2025-12-23T02:00:41Z 2025-12-23T02:00:41Z Saat faskes lumpuh: Masjid bisa jadi pusat layanan kesehatan darurat pascabencana <blockquote> <p>● Masyarakat Aceh lebih memilih masjid sebagai tempat berlindung utama saat bencana, ketimbang gedung evakuasi khusus.</p> <p>● Masjid bisa dimanfaatkan sebagai pos layanan kesehatan darurat ketika faskes lumpuh.</p> <p>● Pemerintah perlu membangun infrastruktur kesehatan yang lebih tangguh terhadap bencana di Sumatra. </p> </blockquote> <hr> <p>Per 17 Desember 2025, <a href="https://gis.bnpb.go.id/bansorsumatera2025/">Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB)</a> melaporkan sekitar 219 fasilitas kesehatan rusak akibat banjir Sumatra. Ini termasuk <a href="https://nasional.kompas.com/read/2025/12/16/09323251/menkes-sebut-41-rs-terdampak-bencana-di-sumatera-sudah-beroperasi-kembali">41 rumah sakit</a> yang lumpuh total dan lebih dari 156 puskesmas rusak parah.</p> <p>Kerusakan fasilitas kesehatan secara langsung menghambat berbagai jenis pelayanan. Kondisi ini sangat ironis karena kebutuhan masyarakat terhadap layanan kesehatan meningkat drastis di masa bencana. Terlebih penyintas banjir <a href="https://www.instagram.com/p/DSAHB7iE-Ay/?img_index=1">rentan mengalami berbagai masalah kesehatan</a>, seperti ISPA, diare, demam, gangguan mental, hingga luka infeksi yang berisiko membahayakan jiwa.</p> <p><a href="https://pmc.ncbi.nlm.nih.gov/articles/PMC12098117/">Studi tahun 2025</a> menunjukkan bahwa layanan rawat inap melonjak sebesar 1,2 kali lipat akibat banjir dan dampaknya dapat bertahan hingga tujuh bulan setelahnya. <a href="https://pmc.ncbi.nlm.nih.gov/articles/PMC12098117/">Penelitian tersebut</a> mengkaji 747 komunitas terdampak bencana selama periode 2000–2019 di Australia, Brasil, Kanada, Chili, Selandia Baru, Taiwan, Thailand, dan Vietnam.</p> <p>Beban kerja tenaga kesehatan pun meningkat. Sayangnya, <a href="https://dinkes.acehprov.go.id/detailpost/rsud-langsa-sempat-lumpuh-total-igd-baru-aktif-dua-hari-setelah-banjir">kerusakan fasilitas kesehatan</a> dan keterbatasan sarana (seperti air bersih, makanan layak, <a href="https://www.ajnn.net/news/listrik-tak-stabil-alat-alat-rsud-muyang-kute-rusak/index.html">gangguan listrik</a>, hingga masih banyaknya <a href="https://www.kompas.id/artikel/masih-54480-warga-terisolasi-gubernur-aceh-sebut-tidak-mungkin-teratasi-cepat?utm_source=link&amp;utm_medium=shared&amp;utm_campaign=tpd_-_android_traffic">akses transportasi yang terisolasi</a>) bisa <a href="https://www.instagram.com/p/DSAHB7iE-Ay/?img_index=1">menghambat layanan kesehatan</a>.</p> <p>Ditambah lagi, proses pemulihan pascabencana di Sumatra terhambat oleh banyak faktor, seperti respons pemerintah yang lamban, <a href="https://data.goodstats.id/statistic/benarkah-anggaran-mbg-lebih-besar-dari-kebencanaan-STpQo#goog_rewarded">minimnya anggaran penanganan bencana</a>, penolakan status bencana nasional, hingga gengsi tinggi pemerintah <a href="https://www.kompas.id/artikel/presiden-prabowo-masih-tolak-bantuan-asing-untuk-bencana-sumatera-bagaimana-aturannya">menolak bantuan internasional</a>.</p> <p>Padahal, mempercepat pemulihan layanan kesehatan pascabencana lewat mitigasi yang tepat bisa <a href="https://www.thelancet.com/journals/lancet/article/PIIS0140-6736(15)60755-3/fulltext">menekan jumlah korban jiwa</a>. Salah satu caranya dengan memanfaatkan rumah ibadah seperti masjid—yang kerap dijadikan titik evakuasi masyarakat.</p> <h2>Masjid jadi pusat layanan kesehatan sementara</h2> <p>Di Aceh, perspektif keagamaan terbukti memengaruhi cara masyarakat merespons bencana. <a href="https://simlitbang.balitbangdiklat.net/assets_front/pdf/16400092222_MITIGASI_BENCANA.pdf">Penelitian tahun 2021</a> menunjukkan bahwa masyarakat Aceh cenderung memilih masjid sebagai tempat berlindung utama saat bencana, ketimbang gedung evakuasi khusus. Fenomena ini mencerminkan kuatnya keyakinan religius dalam membentuk perilaku kolektif masyarakat.</p> <p>Alih-alih mengabaikannya, pemerintah bisa mengintegrasikan pemahaman yang telah mengakar kuat di masyarakat ini dalam strategi pemulihan pelayanan kesehatan pascabencana. </p> <hr> <p> <em> <strong> Baca juga: <a href="https://theconversation.com/tanggap-darurat-atau-gagap-darurat-absennya-kepemimpinan-bencana-banjir-sumatra-271746">Tanggap darurat atau gagap darurat? Absennya kepemimpinan bencana Banjir Sumatra</a> </strong> </em> </p> <hr> <p>Masjid bisa difungsikan sebagai tempat berlindung darurat, pusat penyebaran informasi kesehatan, skrining penyakit, serta penghubung masyarakat dengan layanan kesehatan pascabencana. </p> <p>Tentunya, pelaksanaannya tetap harus memenuhi standar keselamatan dan kesehatan lingkungan agar tidak menimbulkan risiko baru, seperti kepadatan berlebih, keterbatasan sanitasi, maupun meningkatnya potensi penularan penyakit. </p> <p>Misalnya, ada pembagian zonasi khusus untuk ruang bangsal gawat darurat di salah satu area masjid, teras depan untuk pemeriksaan kesehatan. Sementara area belakang bisa diperuntukkan sebagai dapur umum.</p> <p>Kemudian, jendela-jendela masjid perlu dibuka sepanjang hari untuk memperlancar sirkulasi udara. Sementara, toilet dan area wudu dibersihkan dengan disinfektan tiap dua jam sekali.</p> <p>Adapun petugas masjid bisa memanfaatkan pengeras suara untuk mengumumkan jadwal kedatangan dokter, pembagian obat, dan peringatan dini jika terjadi bencana susulan.</p> <p>Pemerintah juga bisa bekerja sama dengan Dewan Masjid Indonesia (DMI) untuk mengedukasi petugas masjid mengenai mitigasi bencana, serta mengalokasikan obat-obatan dan perlengkapan kesehatan di masjid-masjid yang jadi titik evakuasi masyarakat.</p> <h2>Mitigasi dini dari rumah ibadah</h2> <p>Pendekatan berbasis budaya dan keagamaan ini sejalan dengan prinsip pemulihan pascabencana <a href="https://www.sciencedirect.com/science/article/abs/pii/S2212420922002175"><em>Build Back Better</em></a>. Prinsip ini menempatkan pengurangan risiko bencana dan perlindungan kesehatan masyarakat sebagai bagian integral dari pemulihan jangka panjang, tak sekadar mengembalikan kondisinya sebelum bencana.</p> <p>Dalam konteks kesehatan masyarakat, pemerintah perlu meningkatkan kewaspadaan dan kesiapsiagaan masyarakat terhadap bencana hidrometeorologi. Hal ini terutama untuk warga di wilayah hulu dan hilir sungai, serta kawasan permukiman sepanjang aliran sungai yang sangat rentan terkena banjir. </p> <p>Upaya ini harus disertai dengan edukasi kebencanaan yang berkelanjutan dan kontekstual, dengan memanfaatkan nilai-nilai budaya serta struktur sosial yang telah mengakar di masyarakat.</p> <p>Misalnya, edukasi pencegahan bencana bisa memadukan teknologi (media sosial) dan melibatkan tokoh-tokoh lokal (seperti pemuka agama) sebagai agen penyampai informasi mengenai risiko bencana dan mitigasinya.</p> <figure> <iframe width="440" height="260" src="https://www.youtube.com/embed/sMvSY5vs4h4?wmode=transparent&amp;start=0" frameborder="0" allowfullscreen=""></iframe> </figure> <p>Di Aceh, pemuka agama memiliki <a href="http://repository.uinsu.ac.id/1672/1/Muhamaddar.pdf">posisi sangat strategis</a>, karena pesan yang disampaikan melalui mimbar keagamaan umumnya lebih dipercaya oleh masyarakat.</p> <p>Upaya tersebut perlu dipandang sebagai bagian dari strategi pemulihan sektor kesehatan.</p> <hr> <p> <em> <strong> Baca juga: <a href="https://theconversation.com/bukan-sekadar-krisis-alam-banjir-sumatra-mencerminkan-krisis-pendanaan-272324">Bukan sekadar krisis alam, Banjir Sumatra mencerminkan krisis pendanaan</a> </strong> </em> </p> <hr> <p>Apabila ada rumah sakit dan puskesmas yang sudah beroperasi kembali, pemerintah perlu menata ulang alur layanan kesehatan darurat agar pasien tidak menumpuk. Masjid dalam hal ini masih perlu difungsikan sebagai pos kesehatan lapangan.</p> <p>Alurnya berupa cedera ringan diobati di masjid, cedera sedang ditangani di puskesmas, sementara cedera berat dirujuk ke RS.</p> <p></p> <h2>Membangun sistem kesehatan tangguh bencana</h2> <p>Selain memaksimalkan peran masjid, hal yang tak kalah penting dalam penerapan fase pemulihan <a href="https://www.sciencedirect.com/science/article/abs/pii/S2212420922002175"><em>Build Back Better</em></a> adalah pembangunan infrastruktur kesehatan di Sumatra harus lebih tangguh terhadap bencana. </p> <p><strong>1. Fasilitas kesehatan</strong> </p> <p>Fasilitas kesehatan di wilayah rawan banjir/longsor perlu dipindahkan ke dataran yang lebih tinggi dan aman. </p> <p>Jika tidak bisa dipindah, otoritas perlu mendesain ulang bangunan dengan meletakkan genset, instalasi gawat darurat, dan ruang operasi di lantai atas agar aman dari banjir. Sementara lantai dasar sebagai area parkir dan administrasi. </p> <hr> <p> <em> <strong> Baca juga: <a href="https://theconversation.com/cerita-dari-banda-aceh-ketika-warung-kopi-menjadi-ruang-ketahanan-sosial-saat-bencana-271630">Cerita dari Banda Aceh: Ketika warung kopi menjadi ruang ketahanan sosial saat bencana</a> </strong> </em> </p> <hr> <p>Pemerintah juga perlu mengalokasikan dana untuk RS rujukan di Sumatra agar memiliki sumber listrik dan air mandiri yang mampu bertahan 3x24 jam dalam kondisi darurat. Misalnya, dengan penggunaan panel surya dan sumur bor.</p> <p>Selain itu, mengingat kondisi geografis Sumatra yang berbukit, koneksi internet satelit harus disiapkan di faskes utama. Tujuannya untuk membantu dokter spesialis di kota besar dalam membimbing dokter/perawat di kawasan yang terisoliasi.</p> <p><strong>2. Penyaluran nakes dan obat</strong></p> <p>Pemerintah juga perlu menerapkan sistem <em><a href="https://www.pres.eu/education/sister-hospital.html">sister hospital</a></em> dengan memasangkan setiap RS di daerah rawan bencana di Sumatra (seperti Aceh Tamiang) dengan RS di daerah aman (seperti Pekanbaru atau Jakarta).</p> <p>Saat bencana terjadi, RS di zona aman bisa segera mengirimkan tim medis lengkap yang sudah tahu tugasnya, tanpa perlu menunggu birokrasi yang berbelit.</p> <p>Selain itu, jangan pusatkan stok obat di ibu kota provinsi. Persediaan obat (seperti obat luka, antibiotik, infus, alat bedah minor) juga perlu disebar secara proporsional di kawasan rawan bencana.</p> <hr> <iframe src="https://tally.so/r/rjBjdv?alignLeft=1&amp;hideTitle=1&amp;transparentBackground=1&amp;dynamicHeight=1" width="100%" height="321" frameborder="0" marginheight="0" marginwidth="0" title="Survey Form"> </iframe><img src="https://counter.theconversation.com/content/272257/count.gif" alt="The Conversation" width="1" height="1" /> <p class="fine-print"><em><span>Para penulis tidak bekerja, menjadi konsultan, memiliki saham atau menerima dana dari perusahaan atau organisasi mana pun yang akan mengambil untung dari artikel ini, dan telah mengungkapkan bahwa ia tidak memiliki afiliasi di luar afiliasi akademis yang telah disebut di atas.</span></em></p> Masjid bisa dimanfaatkan sebagai pos layanan kesehatan darurat ketika faskes lumpuh. Mochamad Iqbal Nurmansyah, Dosen Kesehatan Masyarakat, Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta Fajar Ariyanti, Associate Professor Mutu Sistem Kesehatan dan Pelayanan Kesehatn, Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta Wardiati Yusuf, Dosen Fakultas Kesehatan Masyarakat, Universitas Muhammadiyah Aceh Licensed as Creative Commons – attribution, no derivatives. tag:theconversation.com,2011:article/269615 2025-12-20T02:06:14Z 2025-12-20T02:06:14Z Gejala depresi bisa menular: Ternyata manusia cenderung bisa meniru emosi orang terdekat <figure><img src="https://images.theconversation.com/files/709019/original/file-20251216-62-zy1kxz.jpg?ixlib=rb-4.1.0&amp;rect=0%2C1%2C6720%2C4480&amp;q=45&amp;auto=format&amp;w=1050&amp;h=700&amp;fit=crop" /><figcaption><span class="caption">Gejala depresi bisa menular karena individu bisa merasakan dan meniru emosi orang lain.</span> <span class="attribution"><a class="source" href="https://www.shutterstock.com/id/image-photo/men-women-who-suffer-stress-when-2592185479?trackingId=f2212488-d26f-42d0-906b-d05549b481b5">buritora / Shutterstock</a></span></figcaption></figure><blockquote> <p>● Gejala depresi bisa menular karena manusia cenderung bisa merasakan dan meniru emosi orang lain.</p> <p>● Salah satu cara penularannya lewat sistem neuron cermin yang bantu kita memahami dan merasakan emosi orang lain.</p> <p>● Karakteristik individu hingga tingkat interaksi dengan penyintas bisa memperbesar risiko penularan.</p> </blockquote> <hr> <p>Ketika menyaksikan pasangan sedang <em>bad mood</em>, apakah suasana hatimu juga ikut terganggu? Jika iya, hal yang kamu rasakan itu wajar dan sangat mungkin terjadi.</p> <p>Penelitian (2022) menemukan bahwa emosi manusia tidak hanya bersifat personal, <a href="https://www.sciencedirect.com/science/article/abs/pii/S0149763421005807">tetapi juga sosial</a>. Seperti virus, emosi dapat menular dari satu individu ke individu lainnya. </p> <p>Fenomena ini disebut sebagai <a href="https://www.sciencedirect.com/science/article/abs/pii/S0149763421005807">penularan emosi</a> (<em>emotional contagion</em>), yaitu kecenderungan seseorang untuk <a href="https://journals.plos.org/plosone/article?id=10.1371%2Fjournal.pone.0302890">merasakan dan meniru emosi orang lain di sekelilingnya</a>. Ini juga yang menyebabkan <a href="https://www.sciencedirect.com/science/article/abs/pii/S0149763421005807">gejala depresi</a> dapat ditularkan melalui interaksi sosial dengan penyintas. </p> <h2>Bagaimana depresi bisa menular?</h2> <p>Penularan emosi terjadi melalui dua mekanisme utama. Pertama adalah <a href="https://www.frontiersin.org/journals/psychology/articles/10.3389/fpsyg.2023.1056535/full">peniruan otomatis</a> (<em>automatic mimicry</em>), yang membuat kita secara tidak sadar meniru ekspresi wajah, nada suara, atau bahasa tubuh orang lain. </p> <p>Saat kita melihat seseorang menunjukkan ekspresi sedih, otot-otot wajah kita dapat secara refleks menyesuaikan diri dengan ekspresi tersebut, yang kemudian menimbulkan resonansi emosional di dalam diri. </p> <p>Proses sederhana ini membentuk dasar dari empati, termasuk menjadi pintu masuk bagi penularan suasana hati negatif, seperti sedih, putus asa, atau kelelahan emosional yang khas pada depresi.</p> <hr> <p> <em> <strong> Baca juga: <a href="https://theconversation.com/galau-sedikit-bilang-depresi-sembarangan-pakai-istilah-kesehatan-mental-bahaya-buat-psikologis-kita-260500">Galau sedikit, bilang depresi: Sembarangan pakai istilah kesehatan mental bahaya buat psikologis kita</a> </strong> </em> </p> <hr> <p>Kedua, otak kita memiliki <a href="https://www.nature.com/articles/d43978-021-00101-x">sistem neuron cermin</a> (<em>mirror neuron system</em>). Sistem ini membantu kita memahami dan merasakan emosi orang lain. </p> <p>Aktivasi sistem neuron cermin memungkinkan kita merasakan kesedihan, ketakutan, atau kegembiraan orang lain. Di sisi lain, hal ini juga menjadikan kita rentan tertular emosi negatif ketika berinteraksi dengan individu yang sedang depresi.</p> <p></p> <h2>Faktor yang meningkatkan risiko ‘tertular’ depresi</h2> <p><a href="https://www.sciencedirect.com/science/article/abs/pii/S0149763421005807">Sejumlah faktor</a> bisa membuat kita cenderung lebih mudah tertular depresi, di antaranya:</p> <ul> <li><p><strong>Karakteristik individu</strong>: Orang dengan empati tinggi, riwayat gangguan suasana hati, atau kebutuhan dukungan sosial yang berlebihan cenderung lebih mudah tertular suasana hati negatif. </p></li> <li><p><strong>Tingkat interaksi</strong>: Struktur jaringan sosial serta hubungan yang dekat dan intens dengan penyintas (seperti pasangan, sahabat, atau rekan kerja) bisa memperbesar peluang penularan. </p></li> <li><p><strong>Konteks sosial</strong>: Masa-masa stres berat atau isolasi sosial (seperti pandemi COVID-19) dapat memperkuat dampak penularan emosi negatif, baik secara langsung maupun melalui media digital.</p></li> </ul> <p>Meski demikian, penularan emosi ini bersifat dua arah. Jadi, sama seperti emosi negatif yang dapat menyebar, <a href="https://journals.plos.org/plosone/article?id=10.1371%2Fjournal.pone.0302890">emosi positif juga bisa menular</a>, seperti semangat, harapan, dan empati positif. </p> <p>Oleh karena itu, komunitas yang hangat, suportif, dan terbuka terhadap percakapan emosional punya peran penting dalam mencegah penyebaran depresi. </p> <p>Ketika kita dikelilingi orang yang peduli dan mau mendengarkan tanpa menghakimi, tubuh kita <a href="https://journals.sagepub.com/doi/pdf/10.3233/RNN-139008">menerima ‘sinyal’ aman yang menenangkan</a>. Hal ini membantu menurunkan stres dan membuat kita merasa lebih terhubung dengan mereka.</p> <hr> <p> <em> <strong> Baca juga: <a href="https://theconversation.com/lansia-rentan-depresi-tapi-banyak-keluarga-tidak-menyadari-stigma-jadi-pemicunya-257340">Lansia rentan depresi, tapi banyak keluarga tidak menyadari: Stigma jadi pemicunya</a> </strong> </em> </p> <hr> <p>Makanya, pencegahan dan penanganan depresi tidak bisa berhenti pada level terapi individual. Perlu pendekatan yang mencakup intervensi berbasis komunitas, yaitu dengan memperkuat dukungan sosial, mengembangkan komunikasi empatik, dan membangun lingkungan emosional yang sehat.</p> <p>Setiap orang memiliki peran dalam menciptakan lingkungan yang penuh empati dan saling mendukung. Karena proses penyembuhan bukan hanya tanggung jawab individu, melainkan juga hasil dari interaksi manusiawi yang saling menguatkan.</p> <hr> <iframe src="https://tally.so/r/Gx68Lp?alignLeft=1&amp;hideTitle=1&amp;transparentBackground=1&amp;dynamicHeight=1" width="100%" height="321" frameborder="0" marginheight="0" marginwidth="0" title="Survey Form"> </iframe><img src="https://counter.theconversation.com/content/269615/count.gif" alt="The Conversation" width="1" height="1" /> <p class="fine-print"><em><span>Jessica Christina Widhigdo tidak bekerja, menjadi konsultan, memiliki saham, atau menerima dana dari perusahaan atau organisasi mana pun yang akan mengambil untung dari artikel ini, dan telah mengungkapkan bahwa ia tidak memiliki afiliasi selain yang telah disebut di atas.</span></em></p> Gejala depresi bisa menular karena individu bisa merasakan dan meniru emosi orang lain. Apa saja faktor yang meningkatkan risiko penularan emosi? Jessica Christina Widhigdo, Dosen School of Psychology, Universitas Ciputra Licensed as Creative Commons – attribution, no derivatives. tag:theconversation.com,2011:article/271962 2025-12-18T05:00:35Z 2025-12-18T05:00:35Z Efek samping Ozempic dapat meningkatkan risiko bunuh diri dan kehamilan tak diinginkan <p><em><strong>PERINGATAN: Artikel ini memuat konten yang berkaitan dengan bunuh diri, melukai diri sendiri, dan kekerasan terhadap orang lain</strong>.</em></p> <hr> <p>Popularitas obat-obatan <em>glucagon-like peptide-1</em> (GLP-1) seperti Ozempic dan Mounjaro meningkat pesat. Sayangnya, obat yang mulanya dikembangkan untuk mengobati diabetes ini semakin populer karena banyak disalahgunakan untuk menurunkan berat badan secara instan.</p> <p>Selain kerap diberitakan dapat mengubah penampilan fisik secara dramatis, laporan terbaru mengungkap bahwa penyalahgunaan obat GLP-1 dapat meningatkan risiko bunuh diri dan mengurangi efektivitas kontrasepsi (alat pencegah kehamilan) yang berujung pada kehamilan tidak diinginkan.</p> <p>Lalu, apa yang perlu kita ketahui ketika menggunakan obat ini agar terhindar dari efek samping yang ditimbulkannya?</p> <h2>Bagaimana cara kerja obat GLP-1?</h2> <p>Obat GLP-1 biasanya diresepkan oleh dokter bersama dengan perbaikan pola makan dan aktivitas fisik untuk mengobati diabetes tipe 2 dan obesitas. Obat ini bekerja dengan menurunkan kadar gula darah dan mengurangi nafsu makan sehingga gula darah dan berat badan menjadi lebih terkontrol.</p> <p>Ada lima jenis merek obat GLP-1 (beserta kandungan bahan aktif) yang telah disetujui untuk digunakan di Australia:</p> <p><em>- Mounjaro (tirzepatida)</em></p> <p><em>- Ozempic (semaglutida)</em></p> <p><em>- Wegovy (semaglutida)</em></p> <p><em>- Saxenda (liraglutida)</em></p> <p><em>- Trulicity (dulaglutida)</em></p> <p>Dari kelima jenis tersebut, Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) Indonesia hanya mengizinkan <a href="https://registrasiobat.pom.go.id/files/assesment-reports/12420800871723426795.pdf">obat GLP-1 Ozempic dan Wegovy jenis semaglituda injeksi (suntik)</a>.</p> <p>Di Australia, obat-obatan GLP-1 telah beredar sejak <a href="https://www.tga.gov.au/resources/artg/217965">dekade terakhir</a>. Popularitasnya kian melonjak dalam beberapa tahun belakangan karena dipopulerkan oleh sejumlah selebritas Hollywood, seperti <a href="https://www.womenshealthmag.com/health/a46408636/sharon-osbourne-weight-loss/">Sharon Osbourne</a>.</p> <p>Umumnya, obat-obatan GLP-1 bisa menimbulkan efek samping yang berkaitan dengan <a href="https://www.ozempic.com/how-to-take/side-effects.html">pencernaan</a>, seperti mual, muntah, diare, gangguan pencernaan, sakit perut, dan sembelit. Efek samping ini cenderung ringan dan akan hilang seiring waktu karena tubuh kian bisa menoleransinya.</p> <p></p> <p>Namun, sejumlah laporan terbaru mengenai efek samping obat GLP-1 yang lebih mengkhawatirkan telah mendorong BPOM Australia (TGA) untuk mengeluarkan <a href="https://www.tga.gov.au/safety/safety-monitoring-and-information/safety-alerts/product-warnings-updated-glp-1-ra-class">peringatan baru pada awal Desember 2025</a>. Efek samping GLP-1 ini berkaitan dengan peningkatan risiko pikiran bunuh diri dan berkurangnya efektivitas kontrasepsi oral.</p> <hr> <p> <em> <strong> Baca juga: <a href="https://theconversation.com/considering-taking-wegovy-to-lose-weight-here-are-the-risks-and-benefits-and-how-it-differs-from-ozempic-237308">Considering taking Wegovy to lose weight? Here are the risks and benefits – and how it differs from Ozempic</a> </strong> </em> </p> <hr> <h2>Berisiko tingkatkan kecenderungan bunuh diri</h2> <p>Dalam 12 bulan hingga November 2025, terdapat 20 kasus niat bunuh diri yang dilaporkan dalam basis data mengenai laporan kejadian buruk di Australia atau <a href="https://www.tga.gov.au/safety/adverse-events/database-adverse-event-notifications-daen">Australian Database of Adverse Events Notifications</a> saat menggunakan obat GLP-1.</p> <p>Temuan ini konsisten dengan data ilmiah yang telah dipublikasikan. Sebuah <a href="https://doi.org/10.1038/s41598-024-75965-2">studi tahun 2024</a> mengungkap hubungan antara obat-obatan GLP-1 dengan peningkatan risiko tindakan bunuh diri sebesar 106%.</p> <p>Analisis data <a href="https://doi.org/10.1001/jamanetworkopen.2024.23385">Organisasi Kesehatan Dunia (WHO)</a> juga menemukan hubungan antara penggunaan <em>semaglutida</em> (bahan aktif dalam Ozempic) dan pikiran bunuh diri.</p> <p>Namun, tidak semua bukti mendukung adanya hubungan antara obat GLP-1 dan pikiran bunuh diri.</p> <p>Sebuah <a href="https://pubmed.ncbi.nlm.nih.gov/38182782/">studi terpisah tahun 2024</a> menganalisis data lebih dari 1,8 juta pasien yang memakai obat-obatan GLP-1 untuk menurunkan berat badan atau diabetes. Studi tersebut menemukan bahwa pasien yang mengonsumsi obat berisiko memiliki pikiran bunuh diri baru ataupun berulang lebih rendah, bukan lebih tinggi, jika dibandingkan dengan pasien yang tidak mengonsumsi GLP-1.</p> <h2>Bagaimana GLP-1 mengurangi efektivitas kontrasepsi?</h2> <p>Kontrasepsi oral (pil KB yang ditelan) mengandung hormon yang bertugas mencegah pelepasan sel telur dari ovarium serta mengentalkan lendir serviks. Peran yang terakhir ini mempersulit sperma untuk mencapai dan membuahi sel telur.</p> <p>Kemanjuran pil KB dalam mencegah kehamilan hanya bisa terjadi ketika kandungan hormon dari kontrasepsi berada pada tingkat yang cukup tinggi saat menyebar di dalam tubuh. Namun, jika obat GLP-1 memengaruhi cara tubuh menyerap hormon dalam pil KB, kadar hormonnya mungkin tidak mencapai konsentrasi yang cukup tinggi untuk mencegah kehamilan.</p> <p>Para peneliti pertama kali mengemukakan risiko obat-obatan GLP-1 dalam memengaruhi efektivitas kontrasepsi oral pada <a href="https://doi.org/10.1016/j.japh.2023.10.037">2003</a>.</p> <p>Kemampuan antarobat GLP-1 dalam memengaruhi kontrasepsi oral pun bisa bervariasi. <a href="https://doi.org/10.1016/j.japh.2023.10.037">Sebuah tinjauan</a> yang meneliti hubungan antara <em>tirzepatida</em> dan kontrasepsi oral menemukan bahwa obat GLP-1 ini berdampak lebih besar pada penyerapan hormon, dibandingkan dengan obat-obatan GLP-1 lainnya.</p> <p>Sebuah studi tentang <em>semaglutida</em> yang diterbitkan pada <a href="https://doi.org/10.1002/jcph.443">2015</a> mengungkapkan bahwa obat tersebut tidak memengaruhi jumlah hormon yang diserap ke dalam tubuh ketika pasien diberi pil kontrasepsi oral yang umum digunakan, seperti <em>etinilestradiol</em> atau <em>levonorgestrel</em>.</p> <p>Namun, sebuah studi yang lebih baru pada <a href="https://doi.org/10.2147/DDDT.S506957">tahun 2025</a> menyimpulkan bahwa baik <em>tirzepatida</em> maupun <em>semaglutida</em> oral mampu memengaruhi kadar hormon kontrasepsi oral.</p> <p>Meski begitu, obat-obatan GLP-1 seharusnya tidak memengaruhi kemanjuran KB spiral (kontrasepsi berbentuk huruf “T” yang dipasang di dalam rahim) ataupun KB implan (kontrasepsi jangka panjang yang disuntikkan di lengan). Sebab, obat-obatan tersebut tidak bergantung pada penyerapan hormon dari lambung. </p> <h2>Yang harus kamu lakukan jika mengonsumsi GLP-1</h2> <p>Jika kamu mengonsumsi obat GLP-1, TGA merekomendasikan agar kamu memberi tahu dokter apabila mengalami gejala depresi ataupun gangguan mental yang kian memburuk, pikiran bunuh diri, perubahan suasana hati, maupun perilaku yang tidak biasa.</p> <p>Bagi perempuan yang mengonsumsi obat GLP-1 <em>tirzepatida</em> dan kontrasepsi oral, TGA menyarankan untuk beralih ke kontrasepsi non-oral (seperti implan). Alternatif lainnya, tambahkan alat kontrasepsi penghalang (seperti kondom) selama empat minggu setelah pertama kali mengonsumsi obat GLP-1, ataupun setiap kali kamu meningkatkan dosis <em>tirzepatida.</em></p> <p>Obat GLP-1 tidak boleh digunakan selama kehamilan karena <a href="https://www.mja.com.au/journal/2025/223/7/incidence-glp-1-receptor-agonist-use-women-reproductive-age-attending-general">dapat mengganggu pertumbuhan janin</a>. Australian Database of Adverse Events Notifications melaporkan adanya kasus keguguran pada perempuan hamil yang juga mengonsumsi <em>semaglutida</em> atau <em>tirzepatida</em>.</p> <hr> <p><em>Jika artikel ini membuatmu khawatir, atau jika kamu khawatir tentang seseorang yang kamu kenal, bicarakanlah dengan orang yang kamu percaya atau profesional kesehatan.</em></p><img src="https://counter.theconversation.com/content/271962/count.gif" alt="The Conversation" width="1" height="1" /> <p class="fine-print"><em><span>Nial Wheate sebelumnya pernah menerima pendanaan dari ACT Cancer Council, Tenovus Scotland, Medical Research Scotland, Scottish Crucible, dan Scottish Universities Life Sciences Alliance. Ia adalah anggota Royal Australian Chemical Institute. Nial adalah kepala petugas ilmiah Vaihea Skincare LLC, direktur SetDose Pty Ltd (perusahaan alat kesehatan), dan sebelumnya merupakan anggota panel Standards Australia mengenai agen tabir surya. Ia adalah anggota Dewan Penasihat Nyeri Haleon Australia Pty Ltd. Nial secara teratur berkonsultasi dengan industri mengenai isu-isu yang berkaitan dengan penilaian risiko obat, manufaktur, desain, dan pengujian.</span></em></p> Obat GLP-1, seperti Ozempic, Wegovy, dan Mounjaro dilaporkan bisa picu pikiran bunuh diri dan mengurangi efektivitas kontrasepsi. Nial Wheate, Professor, School of Natural Sciences, Macquarie University Licensed as Creative Commons – attribution, no derivatives. tag:theconversation.com,2011:article/270062 2025-12-07T04:21:21Z 2025-12-07T04:21:21Z Amankah lari tanpa sepatu: Siapa yang cocok melakukannya dan bagaimana cara memulainya? <figure><img src="https://images.theconversation.com/files/703016/original/file-20221202-22-kredno.jpg?ixlib=rb-4.1.0&amp;rect=835%2C0%2C3552%2C2366&amp;q=45&amp;auto=format&amp;w=1050&amp;h=700&amp;fit=crop" /><figcaption><span class="caption">Ilustrasi lari tanpa sepatu alias &#39;barefoot running&#39;. </span> <span class="attribution"><span class="source">Shutterstock</span></span></figcaption></figure><p>Kamu mungkin pernah mendengar tren lari tanpa sepatu (<em>barefoot running</em>) yang banyak diperbincangkan di media sosial. Beberapa orang menggunakan sandal ataupun sepatu beralas kaki minimalis (sandal/sepatu <em>barefoot</em>), tetapi ada juga yang berlari tanpa alas kaki sama sekali.</p> <p>Banyak pendukung <em>barefoot running</em> yang merasa takjub dan menggambarkan metode ini sebagai cara berlari paling alami. Namun, tidak semua orang menyukainya. </p> <p>Klaim soal sensasi lari tanpa sepatu pun beragam, mulai dari “Ini adalah keputusan terbaik yang saya lakukan” hingga “Saya sudah mencobanya dan merasa sangat kesakitan.”</p> <p>Lantas, apa kata penelitian mengenai fenomena lari tanpa sepatu?</p> <p></p> <p><a href="https://journals.lww.com/acsm-msse/Abstract/9900/Transitioning_to_Barefoot_Running_Using_a.188.aspx">Artikel</a> terbaru kami, yang diterbitkan dalam jurnal <a href="https://www.acsm.org/education-resources/journals/medicine-science-in-sports-exercise">Medicine &amp; Science in Sports &amp; Exercise</a>, menguji cara baru untuk bisa bertransisi dari berlari pakai sepatu lari konvensional ke lari dengan sepatu <em>barefoot</em> maupun bertelanjang kaki. </p> <p>Kami juga menyelidiki mengapa beberapa pelari tidak sanggup lari tanpa sepatu. Hasilnya, kami menemukan dua karakteristik utama pelari yang tidak mampu beralih ke metode <em>barefoot running</em>.</p> <hr> <p> <em> <strong> Baca juga: <a href="https://theconversation.com/children-should-spend-more-time-barefoot-to-encourage-a-healthier-foot-structure-100289">Children should spend more time barefoot to encourage a healthier foot structure</a> </strong> </em> </p> <hr> <h2>Temuan kami</h2> <p>Kami meneliti 76 pelari yang beralih ke lari tanpa sepatu selama 20 minggu. Mereka menggunakan sepatu <em>barefoot</em> sebagai fase peralihan antara berlari pakai sepatu lari konvensional dengan lari tanpa alas kaki.</p> <figure class="align-center zoomable"> <a href="https://images.theconversation.com/files/498628/original/file-20221202-24-haemsi.jpg?ixlib=rb-4.1.0&amp;q=45&amp;auto=format&amp;w=1000&amp;fit=clip"><img alt="Tidak semua orang bisa berlari tanpa alas kaki." src="https://images.theconversation.com/files/498628/original/file-20221202-24-haemsi.jpg?ixlib=rb-4.1.0&amp;q=45&amp;auto=format&amp;w=754&amp;fit=clip" srcset="https://images.theconversation.com/files/498628/original/file-20221202-24-haemsi.jpg?ixlib=rb-4.1.0&amp;q=45&amp;auto=format&amp;w=600&amp;h=264&amp;fit=crop&amp;dpr=1 600w, https://images.theconversation.com/files/498628/original/file-20221202-24-haemsi.jpg?ixlib=rb-4.1.0&amp;q=30&amp;auto=format&amp;w=600&amp;h=264&amp;fit=crop&amp;dpr=2 1200w, https://images.theconversation.com/files/498628/original/file-20221202-24-haemsi.jpg?ixlib=rb-4.1.0&amp;q=15&amp;auto=format&amp;w=600&amp;h=264&amp;fit=crop&amp;dpr=3 1800w, https://images.theconversation.com/files/498628/original/file-20221202-24-haemsi.jpg?ixlib=rb-4.1.0&amp;q=45&amp;auto=format&amp;w=754&amp;h=332&amp;fit=crop&amp;dpr=1 754w, https://images.theconversation.com/files/498628/original/file-20221202-24-haemsi.jpg?ixlib=rb-4.1.0&amp;q=30&amp;auto=format&amp;w=754&amp;h=332&amp;fit=crop&amp;dpr=2 1508w, https://images.theconversation.com/files/498628/original/file-20221202-24-haemsi.jpg?ixlib=rb-4.1.0&amp;q=15&amp;auto=format&amp;w=754&amp;h=332&amp;fit=crop&amp;dpr=3 2262w" sizes="(min-width: 1466px) 754px, (max-width: 599px) 100vw, (min-width: 600px) 600px, 237px"></a> <figcaption> <span class="caption">Tidak semua orang bisa berlari tanpa alas kaki.</span> <span class="attribution"><span class="source">Shutterstock</span></span> </figcaption> </figure> <p>Selama empat minggu pertama, para peserta berlari menggunakan sepatu lari konvensional. Empat minggu berikutnya, mereka meningkatkan durasi lari sebanyak tidak lebih 20% dari total volume lari setiap pekan pakai sepatu <em>barefoot</em>.</p> <p>Mereka kemudian menghabiskan empat minggu berikutnya secara bertahap dengan meningkatkan waktu berlari tanpa alas kaki—tidak lebih dari 20% per minggu.</p> <p>Akhirnya, mereka berlari tanpa alas kaki selama empat minggu berikutnya.</p> <p>Sebelum berlari, kami juga meminta para peserta untuk melakukan peregangan dan latihan kekuatan betis dan kaki, guna membantu otot-otot mereka selama transisi dari penggunan sepatu konvensional ke lari tanpa alas kaki.</p> <p></p> <p>Dengan menggunakan strategi ini, 70% pelari berhasil bertransisi ke lari tanpa alas kaki selama 20 minggu.</p> <p>Pelari sisanya, mengaku tidak sanggup lari tanpa sepatu karena merasakan nyeri pada betis saat berlari dengan sepatu beralas kaki minimalis, serta nyeri pada kaki saat lari bertelanjang kaki.</p> <figure class="align-center zoomable"> <a href="https://images.theconversation.com/files/498633/original/file-20221202-22-plrjho.jpg?ixlib=rb-4.1.0&amp;q=45&amp;auto=format&amp;w=1000&amp;fit=clip"><img alt="Berlari tanpa sepatu cenderung meningkatkan tekanan pada jaringan kaki dan betis." src="https://images.theconversation.com/files/498633/original/file-20221202-22-plrjho.jpg?ixlib=rb-4.1.0&amp;q=45&amp;auto=format&amp;w=754&amp;fit=clip" srcset="https://images.theconversation.com/files/498633/original/file-20221202-22-plrjho.jpg?ixlib=rb-4.1.0&amp;q=45&amp;auto=format&amp;w=600&amp;h=400&amp;fit=crop&amp;dpr=1 600w, https://images.theconversation.com/files/498633/original/file-20221202-22-plrjho.jpg?ixlib=rb-4.1.0&amp;q=30&amp;auto=format&amp;w=600&amp;h=400&amp;fit=crop&amp;dpr=2 1200w, https://images.theconversation.com/files/498633/original/file-20221202-22-plrjho.jpg?ixlib=rb-4.1.0&amp;q=15&amp;auto=format&amp;w=600&amp;h=400&amp;fit=crop&amp;dpr=3 1800w, https://images.theconversation.com/files/498633/original/file-20221202-22-plrjho.jpg?ixlib=rb-4.1.0&amp;q=45&amp;auto=format&amp;w=754&amp;h=503&amp;fit=crop&amp;dpr=1 754w, https://images.theconversation.com/files/498633/original/file-20221202-22-plrjho.jpg?ixlib=rb-4.1.0&amp;q=30&amp;auto=format&amp;w=754&amp;h=503&amp;fit=crop&amp;dpr=2 1508w, https://images.theconversation.com/files/498633/original/file-20221202-22-plrjho.jpg?ixlib=rb-4.1.0&amp;q=15&amp;auto=format&amp;w=754&amp;h=503&amp;fit=crop&amp;dpr=3 2262w" sizes="(min-width: 1466px) 754px, (max-width: 599px) 100vw, (min-width: 600px) 600px, 237px"></a> <figcaption> <span class="caption">Berlari tanpa sepatu cenderung meningkatkan tekanan pada jaringan kaki dan betis.</span> <span class="attribution"><a class="source" href="https://www.pexels.com/photo/an-elderly-man-and-a-woman-jogging-at-thebeach-8637985/">Photo by Kampus Production/Pexels</a>, <a class="license" href="http://creativecommons.org/licenses/by/4.0/">CC BY</a></span> </figcaption> </figure> <h2>Tidak untuk semua orang</h2> <p>Kami mengidentifikasi dua ciri utama pelari yang gagal bertransisi ke lari tanpa alas kaki.</p> <p>Salah satu penyebabnya karena saat berlari, mereka mendaratkan tumit terlebih dahulu ke tanah.</p> <p>Penyebab lainnya adalah hipermobilitas (kondisi ketika sendi sangat fleksibel) pada telapak kaki. Artinya, mereka memiliki lengkungan kaki yang lebih lentur dan fleksibel saat kaki menahan beban. </p> <p>Mengapa bisa begitu? Masih terlalu dini untuk memastikannya, tetapi yang jelas lari tanpa alas kaki cenderung meningkatkan tekanan pada jaringan kaki dan betis.</p> <p>Temuan kami menunjukkan bahwa stres pada jaringan kaki ini tidak dapat ditoleransi dengan baik oleh pelari yang terbiasa mendaratkan tumit terlebih dahulu atau memiliki hipermobilitas telapak kaki saat berlari, baik menggunakan sepatu <em>barefoot</em> maupun bertelanjang kaki. Kedua kondisi ini dapat mengakibatkan rasa sakit hingga berujung cedera. </p> <p><a href="https://bjsm.bmj.com/content/50/8/476">Penelitian</a> <a href="https://journals.sagepub.com/doi/10.3113/FAI.2012.0262">lain </a> <a href="https://bjsm.bmj.com/content/48/16/1257">juga</a> menunjukkan bahwa berlari tanpa alas kaki atau dengan sepatu beralas minimalis akan meningkatkan risiko cedera kaki, seperti nyeri pada tulang kering dan betis, hingga tulang kaki retak atau patah. </p> <p>Sebab, <a href="https://bjsm.bmj.com/content/50/8/476">sepatu lari konvensional</a> biasanya dilengkapi dengan <em>cushion</em> (bantalan sol empuk) yang memberikan lebih banyak dukungan dalam menopang beban kaki saat berlari. </p> <p>Tampaknya, pelari yang terbiasa menyentuh tanah dengan tumitnya saat berlari juga cukup kesulitan untuk lebih sering mendaratkan kaki pakai area tengah kaki atau kaki depan—yang cenderung digunakan saat berlari tanpa alas kaki.</p> <p>Sementara itu, orang yang memiliki sendi kaki yang terlalu lentur mungkin memerlukan otot kaki yang bekerja lebih kuat dan keras saat mendorong kaki dari tanah ketika berlari.</p> <p>Kami menduga pelari membutuhkan periode transisi yang lebih bertahap untuk meminimalkan rasa sakit atau cedera saat berlari pakai sepatu <em>barefoot</em> ataupun bertelanjang kaki. Ini dilakukan dengan meningkatkan frekuensi lari pakai sepatu beralas kaki minimalis ataupun bertelanjang kaki per pekan sebesar 10% (bukan 20%) dalam rentang waktu yang lebih lama, misalnya 40 minggu. </p> <figure class="align-center zoomable"> <a href="https://images.theconversation.com/files/498634/original/file-20221202-19-yz54vc.jpg?ixlib=rb-4.1.0&amp;q=45&amp;auto=format&amp;w=1000&amp;fit=clip"><img alt="Lakukan transisi secara bertahap, jika kamu ingin berlari tanpa sepatu." src="https://images.theconversation.com/files/498634/original/file-20221202-19-yz54vc.jpg?ixlib=rb-4.1.0&amp;q=45&amp;auto=format&amp;w=754&amp;fit=clip" srcset="https://images.theconversation.com/files/498634/original/file-20221202-19-yz54vc.jpg?ixlib=rb-4.1.0&amp;q=45&amp;auto=format&amp;w=600&amp;h=400&amp;fit=crop&amp;dpr=1 600w, https://images.theconversation.com/files/498634/original/file-20221202-19-yz54vc.jpg?ixlib=rb-4.1.0&amp;q=30&amp;auto=format&amp;w=600&amp;h=400&amp;fit=crop&amp;dpr=2 1200w, https://images.theconversation.com/files/498634/original/file-20221202-19-yz54vc.jpg?ixlib=rb-4.1.0&amp;q=15&amp;auto=format&amp;w=600&amp;h=400&amp;fit=crop&amp;dpr=3 1800w, https://images.theconversation.com/files/498634/original/file-20221202-19-yz54vc.jpg?ixlib=rb-4.1.0&amp;q=45&amp;auto=format&amp;w=754&amp;h=503&amp;fit=crop&amp;dpr=1 754w, https://images.theconversation.com/files/498634/original/file-20221202-19-yz54vc.jpg?ixlib=rb-4.1.0&amp;q=30&amp;auto=format&amp;w=754&amp;h=503&amp;fit=crop&amp;dpr=2 1508w, https://images.theconversation.com/files/498634/original/file-20221202-19-yz54vc.jpg?ixlib=rb-4.1.0&amp;q=15&amp;auto=format&amp;w=754&amp;h=503&amp;fit=crop&amp;dpr=3 2262w" sizes="(min-width: 1466px) 754px, (max-width: 599px) 100vw, (min-width: 600px) 600px, 237px"></a> <figcaption> <span class="caption">Lakukan transisi secara bertahap, jika kamu ingin berlari tanpa sepatu.</span> <span class="attribution"><span class="source">Shutterstock</span></span> </figcaption> </figure> <h2>Tips aman berlari tanpa sepatu</h2> <p>Jika kamu tertarik mencoba lari bertelanjang kaki, lakukan sejumlah cara berikut:</p> <ul> <li><p>Lakukan transisi secara bertahap selama minimal 20 minggu. Bila perlu, rentang waktu transisinya lebih lama, misalnya 40 minggu.</p></li> <li><p>Gunakan sepatu <em>barefoot</em> dengan alas kaki minimalis selama periode transisi.</p></li> <li><p>Batasi peningkatan jarak lari dengan sepatu beralas minimalis ataupun bertelanjang kaki hingga tidak lebih dari 20% dari total jarak lari per pekan.</p></li> <li><p>Beristirahatlah dan beri jeda berlari jika mengalami nyeri kaki selama 24 jam.</p></li> <li><p>Konsultasikan kepada fisioterapis atau dokter spesialis ortopedi dan traumatologi jika mengalami nyeri selama masa transisi, terutama jika kamu punya riwayat cedera. </p></li> <li><p>Berkonsultasilah dengan pelatih lari yang tersertifikasi untuk mendukung program larimu. </p></li> <li><p>Saat lari tanpa alas kaki, pilih rute dengan kondisi pencahayaan yang baik. Tujuannya, agar kamu bisa menghindari permukaan yang tajam, terlalu panas ataupun dingin.</p></li> <li><p>Selama masa transisi, jadwalkan penggunaan sepatu dengan berbagai jenis alas kaki secara bergantian. Data riset kami menunjukkan, pelari yang melakukan rotasi sepatu, lebih minim cedera, ketimbang mereka yang lari hanya pakai satu jenis sepatu saja.</p></li> </ul> <p>Lari menggunakan sepatu <em>barefoot</em> ataupun bertelanjang kaki mungkin tidak cocok bagi semua orang. Metode ini juga tidak akan membuat kamu berlari lebih cepat ataupun mengurangi tingkat cedera secara keseluruhan. </p> <p>Selain itu, tidak ada bukti yang menunjukkan bahwa lari tanpa alas kaki dapat membakar lebih banyak kalori, dibandingkan dengan menggunakan sepatu lari konvensional.</p> <p>Namun, jika kamu tertarik mencoba lari tanpa alas kaki, lakukan transisi secara bertahap dengan menggunakan sepatu lari beralas kaki minimalis. Cara ini mungkin akan lebih melancarkan proses transisi sehingga kamu tetap bisa berlari dengan aman. </p> <hr> <p> <em> <strong> Baca juga: <a href="https://theconversation.com/eliud-kipchoge-broke-the-mens-marathon-record-by-30-seconds-how-close-is-the-official-sub-2-hour-barrier-now-191421">Eliud Kipchoge broke the men's marathon record by 30 seconds. How close is the official sub-2 hour barrier now?</a> </strong> </em> </p> <hr> <img src="https://counter.theconversation.com/content/270062/count.gif" alt="The Conversation" width="1" height="1" /> <p class="fine-print"><em><span>Natalie Collins menerima dana dari National Health and Medical Research Council, Medical Research Future Fund, dan Arthritis Australia. New Balance menyediakan semua sepatu yang digunakan dalam studi ini secara gratis melalui New Balance Global Scientific Award. New Balance tidak memberikan masukan apa pun dalam perancangan studi maupun interpretasi hasilnya.</span></em></p><p class="fine-print"><em><span>Bill Vicenzino menerima dana dari New Balance Global Scientific Award.</span></em></p><p class="fine-print"><em><span>Kathryn Mills menerima dukungan in-kind dari New Balance Global Scientific Award. Saat ini, ia bekerja sukarela sebagai ketua International Footwear Biomechanics Group.</span></em></p> Ada sejumlah strategi yang perlu dilakukan jika ingin berlari tanpa sepatu. Penelitian menunjukkan bahwa tidak semua orang cocok dengan ‘barefoot running’. Natalie Collins, Associate Professor in Physiotherapy, The University of Queensland Bill Vicenzino, Professor and Chair in Sports Physiotherapy, The University of Queensland Kathryn Mills, Senior Lecturer, Macquarie University Licensed as Creative Commons – attribution, no derivatives. tag:theconversation.com,2011:article/269506 2025-11-27T03:38:57Z 2025-11-27T03:38:57Z Limbah plastik dari klinik gigi: Kecil di ruang praktik, berdampak besar bagi lingkungan <blockquote> <p>● Klinik gigi turut menyumbang limbah plastik medis dari penggunaan alat sekali pakai.</p> <p>● Jika tak dikelola dengan baik, limbah ini berpotensi mencemari lingkungan.</p> <p>● Pemilahan limbah, desinfeksi, dan alat ulang pakai dapat membantu mengurangi sampah plastik tanpa mengorbankan perlindungan pasien.</p> </blockquote> <hr> <p>Perlengkapan medis kebanyakan dibuat dari bahan plastik, termasuk dalam praktik kedokteran gigi. Mulai dari sarung tangan, celemek pasien, hingga pelindung dental unit di klinik gigi.</p> <p>Semuanya juga hanya boleh dipakai sekali demi menjaga keselamatan pasien dan mencegah <a href="https://ejournal.unsrat.ac.id/v3/index.php/egigi/article/download/23311/23009/47568">infeksi silang</a>. </p> <p>Namun, di balik standar ini, muncul dampak lingkungan serius, terutama jika limbah medis tidak dikelola dengan baik. </p> <h2>Limbah tersembunyi di klinik gigi</h2> <p>Klinik gigi, meskipun kelihatannya skala kecil, turut menyumbang <a href="https://pubs.rsc.org/en/content/articlelanding/2024/su/d3su00364g">limbah plastik dalam jumlah besar</a>.</p> <p>Saat ini, memang belum ada data nasional yang secara khusus mencatat volume limbah plastik dari praktik kedokteran gigi di Indonesia.</p> <p>Namun, studi global hasil kolaborasi National University of Singapore, University of Manchester, dan University of Sao Paulo menunjukkan data yang cukup mencengangkan. </p> <p>Seorang dokter gigi yang melayani 10 pasien per hari bisa menghasilkan sekitar <a href="https://pubs.rsc.org/en/content/articlelanding/2024/su/d3su00364g">400–800 gram plastik per bulan</a> hanya dari alat penyedot air liur (<em>saliva ejector</em>). Angka ini belum termasuk sarung tangan, pelindung dental unit, dan peralatan berbahan plastik lainnya.</p> <p>Di Indonesia, terdapat kurang lebih <a href="https://pdgi.or.id/halaman/statistik">55 ribu dokter gigi</a> yang terdaftar dan diasumsikan semua aktif berpraktik.</p> <p>Jika angka produksi limbah ini diakumulasikan secara nasional, maka sektor pelayanan kesehatan gigi saja diperkirakan menghasilkan sekitar 22-44 ton sampah plastik setiap bulannya.</p> <p>Sebagai perbandingan, studi lokal di Pekanbaru mencatat angka yang lebih tinggi: praktik gigi swasta menghasilkan rata-rata <a href="https://jppipa.unram.ac.id/index.php/jppipa/article/view/2353">330 gram limbah medis padat per dokter per hari</a>. Selama pandemi COVID-19, limbah medis terbukti menjadi <a href="https://link.springer.com/article/10.1007/S10668-020-00956-Y">penyumbang utama sampah plastik</a>. </p> <p>Sebuah studi dengan pemodelan komputer yang melacak <a href="https://www.pnas.org/doi/full/10.1073/pnas.2111530118">pergerakan plastik di lautan</a> memperkirakan dunia menghasilkan sekitar 8,4 juta ton limbah plastik tambahan. </p> <p>Dari jumlah itu, sekitar 25,9 ribu ton akhirnya terbawa ke laut, dan lebih dari dua pertiganya (73%) merupakan limbah medis yang berasal dari rumah sakit dan fasilitas kesehatan. </p> <p>Temuan-temuan ini memperlihatkan bahwa tanpa pengelolaan yang ketat, limbah medis—termasuk dari klinik gigi—berpotensi mencemari darat maupun laut.</p> <p>Apalagi plastik medis umumnya mengandung senyawa yang sulit terurai, seperti <a href="_Per-and%20Polifluoroalkil%20Substances_">PFAS</a>, sejenis “<em>forever chemical</em>” atau bahan kimia yang dapat bertahan lama di lingkungan.</p> <hr> <p> <em> <strong> Baca juga: <a href="https://theconversation.com/nanofiber-inovasi-baru-untuk-alternatif-produk-tanpa-bahan-kimia-berbahaya-251482">Nanofiber: Inovasi baru untuk alternatif produk tanpa bahan kimia berbahaya</a> </strong> </em> </p> <hr> <h2>Limbah medis infeksius</h2> <p>Selain sulit terurai, plastik dari klinik gigi yang terkena air liur atau darah pasien masuk dalam kategori <a href="https://www.mdpi.com/2071-1050/15/22/15953">limbah medis infeksius</a>, sehingga harus diproses secara khusus untuk mencegah penyebaran penyakit.</p> <p>Sesuai <a href="https://peraturan.bpk.go.id/Details/211000/permen-lhk-no-6-tahun-2021">regulasi</a> pengelolaan limbah berbahaya dan beracun di Indonesia, limbah semacam ini tidak bisa didaur ulang dan wajib dimusnahkan, biasanya lewat insinerasi, yaitu pembakaran dengan suhu tinggi. </p> <p>Sayangnya, dalam praktiknya masih banyak limbah medis yang tercampur dengan sampah rumah tangga di tempat pembuangan umum. </p> <h2>Apa yang harus dilakukan?</h2> <p>Untuk mengatasi persoalan limbah medis, terutama di klinik gigi, setidaknya ada beberapa langkah yang bisa dilakukan: </p> <p><strong>1. Memilah limbah dengan teliti</strong></p> <p>Pengelolaan limbah seharusnya dipandang sebagai prioritas operasional, bukan beban tambahan. </p> <p>Fasilitas kesehatan harus memastikan setiap petugas memahami cara memilah limbah dengan benar melalui pelatihan rutin.</p> <p>Pengelolaan limbah medis yang sering bergantung pada pihak ketiga memang membutuhkan biaya. Semakin sering dikirim, semakin besar pengeluaran.</p> <p>Karena itu, perlu alokasi dana khusus untuk pengelolaan limbah yang berkomitmen menjaga keselamatan lingkungan, seperti halnya menjaga keselamatan pasien.</p> <p><strong>2. Gunakan plastik dengan lebih strategis</strong></p> <p>Penggunaan plastik sekali pakai di fasilitas kesehatan gigi dapat dioptimalkan tanpa mengurangi keamanan pasien. </p> <p>Caranya, plastik pelindung hanya digunakan pada area yang sulit dibersihkan, seperti pada <em>handpiece</em> (alat bor gigi) dan pada pasien dengan penyakit menular aktif.</p> <p>Di luar itu, klinik bisa melakukan <a href="https://www.nature.com/articles/s41415-024-7836-3">desinfeksi permukaan</a> pada area yang mudah dibersihkan, seperti kursi atau meja dental unit. Langkah ini lebih hemat dan ramah lingkungan tanpa mengurangi keamanan.</p> <p><strong>3. Beralih ke alat yang dapat digunakan ulang</strong></p> <p>Klinik juga bisa mengganti plastik dengan alternatif yang bisa digunakan kembali, seperti peralatan logam, celemek berbahan handuk, atau alat pelindung diri (APD) yang bisa dicuci ulang. Selain mengurangi sampah, pilihan ini menekan biaya logistik dalam jangka panjang tanpa menurunkan standar kebersihan.</p> <p><strong>4.Kurangi limbah dengan mendorong pencegahan</strong></p> <p>Upaya keberlanjutan tidak berhenti di ruang praktik. Fasilitas kesehatan gigi juga berperan penting dalam mengedukasi pasien. </p> <p>Dengan mendorong masyarakat menjaga kesehatan gigi di rumah, sekaligus memberikan <a href="https://www.fdiworlddental.org/sites/default/files/2022-12/consensus-on-environmentally-sustainable-oral-healthcare.pdf">pelayanan gigi yang berkualitas</a>, frekuensi kunjungan ke klinik bisa berkurang. Dan pada akhirnya, jumlah limbah plastik yang dihasilkan pun ikut menurun.</p> <h2>Butuh kebijakan dan kolaborasi semua pihak</h2> <p>Tanggung jawab pengurangan sampah plastik tidak hanya berada di tangan fasilitas kesehatan. Transisi menuju praktik kesehatan gigi yang berkelanjutan memerlukan dukungan kebijakan dan kolaborasi lintas sektor.</p> <ul> <li><p>Pemerintah dapat mendorong praktik ramah lingkungan dengan membuat kebijakan yang memberikan insentif pada klinik ramah lingkungan, seperti yang dilakukan di <a href="https://commission.europa.eu/strategy-and-policy/priorities-2019-2024/european-green-deal_en">Eropa</a>.</p></li> <li><p>Produsen, tenaga kesehatan, dan masyarakat juga perlu bekerja sama menciptakan sistem yang lebih berkelanjutan. Program seperti <a href="https://www.terracycle.com/en-US/brigades/colgate?srsltid=AfmBOopTCqxUkpGIbzUeoVX8lxPGGkeLdzCRLUv_LSiV-rlZIrJ0JRhy#@37.09024:-95.712891zoom:4">Colgate–TerraCycle</a> yang terdapat di banyak negara maju dapat menjadi contoh nyata bagaimana kolaborasi dapat menghasilkan program daur ulang gratis untuk produk dan kemasan perawatan mulut yang biasanya sulit didaur ulang, termasuk sikat, pasta, dan benang gigi.</p></li> <li><p>Selain itu, nilai keberlanjutan juga perlu dimasukkan ke dalam kurikulum pendidikan kedokteran gigi, agar tenaga kesehatan masa depan memahami dampak lingkungan dari praktik mereka.</p></li> <li><p>Edukasi kepada masyarakat juga penting, misalnya melalui kampanye memilah limbah dan memperkenalkan alternatif ramah lingkungan, seperti sikat gigi bambu atau <a href="https://ijppr.humanjournals.com/wp-content/uploads/2022/04/15.Mirza-Prince-Gopinath-E.pdf">pasta gigi tablet</a>.</p></li> </ul> <p>Keselamatan pasien tetap menjadi prioritas utama. Namun, kini saatnya sektor kesehatan gigi juga mengambil bagian dalam menjaga kelestarian bumi. Dengan langkah kecil di klinik gigi hari ini, kita memastikan bumi tetap layak huni bagi generasi mendatang.</p> <hr> <iframe src="https://tally.so/r/444yJr?alignLeft=1&amp;hideTitle=1&amp;transparentBackground=1&amp;dynamicHeight=1" width="100%" height="321" frameborder="0" marginheight="0" marginwidth="0" title="Survey Form"> </iframe><img src="https://counter.theconversation.com/content/269506/count.gif" alt="The Conversation" width="1" height="1" /> <p class="fine-print"><em><span>Para penulis tidak bekerja, menjadi konsultan, memiliki saham atau menerima dana dari perusahaan atau organisasi mana pun yang akan mengambil untung dari artikel ini, dan telah mengungkapkan bahwa ia tidak memiliki afiliasi di luar afiliasi akademis yang telah disebut di atas.</span></em></p> Diam-diam, klinik gigi bisa memicu penumpukan limbah medis yang berbahaya bagi lingkungan. Stephani Dwiyanti, Assistant Professor, Universitas Katolik Indonesia Atma Jaya Watumesa A. Tan, Associate Professor in Biotechnology, Universitas Katolik Indonesia Atma Jaya Licensed as Creative Commons – attribution, no derivatives. tag:theconversation.com,2011:article/269518 2025-11-19T01:57:38Z 2025-11-19T01:57:38Z Meningkatnya cemaran antibiotik di perairan dunia bisa membuat bakteri makin kebal <figure><img src="https://images.theconversation.com/files/701650/original/file-20251013-56-em6k9n.jpg?ixlib=rb-4.1.0&amp;rect=0%2C0%2C6000%2C4000&amp;q=45&amp;auto=format&amp;w=1050&amp;h=700&amp;fit=crop" /><figcaption><span class="caption">Antibiotik dan obat lainnya yang mencemari lingkungan bisa menyebabkan bakteri lebih kebal terhadap efek pengobatan.</span> <span class="attribution"><a class="source" href="https://www.shutterstock.com/image-photo/closeup-researcher-hands-wears-blue-gloves-2263501231">tawanroong/Shutterstock</a></span></figcaption></figure><p><em>Artikel ini diterjemahkan dari bahasa Inggris untuk memperingati Pekan Kesadaran Resistansi Antimikroba Sedunia (World Antimicrobial Awareness), 18-24 November.</em></p> <hr> <p>Para ilmuwan telah lama mengkhawatirkan bahaya penumpukan antibiotik yang mencemari lingkungan. Dalam penelitian terbaru yang saya pimpin, kami mencari tahu apa yang terjadi ketika bakteri di lingkungan terpapar <a href="https://theconversation.com/topics/antibiotic-resistance-6035">antibiotik</a> dan jenis obat lain dalam konsentrasi rendah.</p> <p>Sebanyak 90% obat yang kita konsumsi <a href="https://www.sciencedirect.com/science/article/pii/S0045653520305440?casa_token=xz7cHwHaDX4AAAAA:kbuIwuJp_vFTqZW4QvNOP9DpVk6We7rYEUxU8zZEGY_mSvmuavZdR-Rc_3wm25vGMRNMEztcs44#bib50">langsung melewati tubuh</a>. Sebagian besarnya pun tidak bisa tersaring melalui <a href="https://www.sciencedirect.com/science/article/pii/S0043135417310242?casa_token=snQ25qW2A7kAAAAA:UTS2iJbdlVi-wVzdsiEH77S3UqEWw3lFWC3ZI5001ghe7bpMtSRL9YteoHB3Y2v9mvXlRIdSD-Y#sec5">instalasi pengolahan air limbah</a>. </p> <p>Residu obat ini pada akhirnya mengalir di sungai, danau, dan ekosistem air tawar lainnya. Faktanya, <a href="https://academic.oup.com/etc/article-abstract/35/4/823/7742012?redirectedFrom=fulltext&amp;login=false">jejak obat kini telah terdeteksi di setiap benua</a>, dengan konsentrasi yang bervariasi di setiap tempat.</p> <p>Contohnya di Jakarta, Indonesia, material <em>acetaminophen</em> atau <a href="https://doi.org/10.1016/j.marpolbul.2021.112558">parasetamol</a> sekitar 420-610 nanogram per liter (ng/L) mencemari Pantai Ancol dan Sungai Angke. Sungai ini juga tercemar oleh <a href="https://theconversation.com/setelah-temuan-parasetamol-di-teluk-jakarta-riset-temukan-obat-diabetes-terdeteksi-di-sungai-ibu-kota-269194">obat diabetes metformin</a> sebesar <a href="https://link.springer.com/article/10.1007/s44274-024-00114-5/figures/2">27-414 ng/L</a>. </p> <hr> <p> <em> <strong> Baca juga: <a href="https://theconversation.com/environmental-antibiotic-resistance-unevenly-addressed-despite-growing-global-risk-study-finds-262819">Environmental antibiotic resistance unevenly addressed despite growing global risk, study finds</a> </strong> </em> </p> <hr> <p>Cemaran antibiotik dalam jumlah kecil dapat membantu bakteri mengembangkan sistem pertahanan yang membuat mereka lebih sulit dibasmi. </p> <p>Bakteri menjadi lebih tangguh, adaptif, dan kebal terhadap dosis obat yang sebelumnya cukup efektif untuk menyembuhkan infeksi pada manusia. Fenomena ini disebut <a href="https://theconversation.com/topics/resistansi-antibiotik-47530">resistansi antibiotik</a>, sebuah ancaman besar bagi kesehatan global. </p> <p>Saat ini, <a href="https://www.thelancet.com/journals/lancet/article/PIIS0140-6736(24)01867-1/fulltext">lebih dari satu juta orang meninggal setiap tahunnya</a> akibat infeksi bakteri yang kebal terhadap pengobatan antibiotik. Jumlah tersebut diperkirakan akan terus meningkat.</p> <figure> <iframe width="440" height="260" src="https://www.youtube.com/embed/yDrI8q98YpU?wmode=transparent&amp;start=0" frameborder="0" allowfullscreen=""></iframe> </figure> <p>Yang belum banyak diketahui adalah <a href="https://www.nature.com/articles/s44259-024-00026-7">cemaran obat lain</a> (termasuk obat diabetes, depresi, dan pereda nyeri) ternyata juga bisa membuat bakteri kebal terhadap antibiotik.</p> <p>Sebelumnya, sebagian besar penelitian hanya berfokus pada obat tunggal secara terpisah. Misalnya, peneliti menguji bagaimana satu antidepresan memengaruhi kekebalan bakteri terhadap antibiotik. Uji coba ini biasanya menggunakan dosis yang jauh lebih tinggi daripada yang ditemukan di lingkungan.</p> <p>Namun kenyataannya, cemaran obat-obatan di lingkungan saling membaur menjadi campuran kompleks berkadar rendah. Dampak dari kombinasi obat-obatan tersebut masih belum banyak kita ketahui. </p> <p>Dalam penelitian terbaru, kami menguji apakah sebuah komunitas bakteri akan menjadi lebih kebal terhadap antibiotik setelah <a href="https://academic.oup.com/ismecommun/advance-article/doi/10.1093/ismeco/ycaf169/8263557?login=false">terpapar campuran obat</a>. </p> <p>Campuran ini mencakup <em>ciprofloxacin</em>, yaitu antibiotik untuk mengatasi infeksi pneumonia hingga gonore dan cemarannya sering ditemukan di perairan. Antibiotik tersebut kemudian dikombinasikan dengan salah satu dari tiga obat lain, yaitu diklofenak (obat pereda nyeri), metformin (obat diabetes), atau hormon estrogen yang digunakan dalam terapi penggantian hormon. </p> <p>Ternyata, ketiga kombinasi antibiotik dengan obat lainnya terbukti mengubah perilaku bakteri.</p> <p>Kami kemudian menganalisis bagaimana komunitas bakteri berubah: spesies mana yang menurun, mana yang berkembang, dan gen resistansi apa yang menjadi lebih umum.</p> <p>Kami menemukan bahwa campuran obat membuat komunitas bakteri kurang mampu tumbuh secara menyeluruh. Namun di sisi lain, bakteri juga lebih mungkin memiliki gen yang membuat mereka lebih kebal terhadap berbagai antibiotik—bukan hanya <em>ciprofloxacin</em>, tetapi juga antibiotik lain yang secara kimiawi berbeda. </p> <p>Kemampuan reproduksi bakteri juga berubah: kombinasi obat membuat spesies baru berkembang biak. Padahal, mereka tidak bereproduksi ketika terpapar antibiotik saja.</p> <figure> <iframe width="440" height="260" src="https://www.youtube.com/embed/DynGSDu2wS0?wmode=transparent&amp;start=0" frameborder="0" allowfullscreen=""></iframe> </figure> <p>Saya pun telah menguji masing-masing obat non-antibiotik yang sama secara terpisah dalam <a href="https://www.sciencedirect.com/science/article/pii/S0160412025002417">studi sebelumnya</a>. Kami menggunakan bakteri dan kondisi eksperimen serupa. </p> <p>Secara terpisah, tidak ada obat non-antibiotik yang meningkatkan resistansi bakteri. Namun, ketika dikombinasikan dengan antibiotik, ceritanya berubah.</p> <p>Secara keseluruhan, studi-studi ini mengungkapkan sesuatu yang penting: obat-obatan yang tampak tidak berbahaya jika digunakan sendiri, dapat memperkuat efek satu sama lain ketika dicampur. </p> <p>Temuan ini penting, karena para ilmuwan sering menguji obat satu per satu. Apabila satu obat tidak menunjukkan efek yang jelas, efek tersebut biasanya diabaikan. </p> <p>Temuan kami justru menunjukkan bahwa kita tidak boleh terburu-buru mengabaikannya.</p> <p>Di lingkungan—tempat berbagai obat dan bahan kimia hidup berdampingan—campuran ini mungkin diam-diam membentuk evolusi bakteri yang kebal terhadap antibiotik. Memahami interaksi tersembunyi ini sangat penting untuk melindungi kesehatan dan ekosistem kita di masa mendatang.</p><img src="https://counter.theconversation.com/content/269518/count.gif" alt="The Conversation" width="1" height="1" /> <p class="fine-print"><em><span>Penelitian PhD April Hayes didanai oleh NERC dengan dukungan CASE dari AstraZeneca.</span></em></p> Percampuran limbah antibiotik dengan obat-obatan lain di lingkungan bisa membuat bakteri lebih kebal terhadap obat. Alarm bagi sungai di Jakarta yang tercemar parasetamol dan metformin. April Hayes, Microbiologist, Public Health and Sport Sciences, University of Exeter Licensed as Creative Commons – attribution, no derivatives. tag:theconversation.com,2011:article/267442 2025-10-26T02:58:42Z 2025-10-26T02:58:42Z Apakah detoks dopamin masuk akal untuk dilakukan? <figure><img src="https://images.theconversation.com/files/696113/original/file-20251007-56-cq0flz.jpg?ixlib=rb-4.1.0&amp;rect=0%2C1%2C8256%2C5504&amp;q=45&amp;auto=format&amp;w=1050&amp;h=700&amp;fit=crop" /><figcaption><span class="caption"></span> <span class="attribution"><a class="source" href="https://www.gettyimages.com.au/detail/photo/high-angle-shot-of-young-asian-woman-texting-on-her-royalty-free-image/2226152649?phrase=looking%20at%20smartphone%20in%20bed&amp;searchscope=image%2Cfilm&amp;adppopup=true">d3sign/Getty Images</a></span></figcaption></figure><p>Media sosial saat ini dibanjiri dengan tip mengurangi asupan dopamin. Mulai dari <a href="https://theconversation.com/libur-akhir-tahun-manfaatkanlah-waktu-dengan-detoks-digital-173670">“detoks digital”</a>, “<em>dopamine detox</em>”, sampai “<em>dopamine reset</em>,” istilah-istilah ini sering disebut sebagai solusi menangani kecanduan gawai yang menurunkan kesehatan mental. Para <a href="https://www.tiktok.com/tag/dopaminedetox?lang=en"><em>influencer</em> TikTok</a> mengklaim bahwa tindakan tersebut mampu “mereset” otak mereka.</p> <p></p> <p>Di era modern ini, otak kita memang dibombardir dengan stimulasi tak terbatas. Kita dengan mudah terstimulasi dari <em>scrolling</em> media sosial, bermain gim, notifikasi surel, sampai <a href="https://doi.org/10.1016/j.neuroscience.2005.04.043">camilan manis</a>.</p> <p>Semua hal yang menyenangkan seakan berada dalam genggaman. Akhirnya, otak kita <a href="https://doi.org/10.1177/17579139251331914">senantiasa menerima dopamin</a>.</p> <p>Asupan dopamin yang konstan ini lama-kelamaan membuat kita <a href="https://research.vu.nl/ws/portalfiles/portal/152952838/Korthouwer2021_Chapter_DesensitizationDueToOverstimulation.pdf">tak lagi sensitif</a> dengan stimulasi.</p> <p>Akhirnya, kita terus melakukan kegiatan-kegiatan yang memunculkan stimulasi, seakan kegiatan itu sudah menjadi bagian dari diri kita.</p> <p><em>Scrolling</em> media sosial kapan pun terasa biasa saja. Berjam-jam bermain gim terasa normal. Hidup jadi terasa hambar.</p> <p>Tak heran, kini makin banyak orang yang berupaya melakukan detoks dopamin untuk berhenti melakukan aktivitas-aktivitas yang kian menjemukan itu. Namun, benarkah detoks dopamin memang efektif?</p> <h2>Apakah kita benar-benar bisa mendetoks dopamin?</h2> <p>Jawaban singkatnya: Tidak.</p> <p>Kita tidak bisa mendetoksifikasi dopamin dari diri kita. Proses detoks mengharuskan kita menghilangkan secara total suatu zat kimia dari tubuh.</p> <p>Misalnya kita melakukan detoks alkohol. Kita berhenti minum alkohol dan membiarkan tubuh kita membuang segala racun yang berkaitan dengan alkohol.</p> <hr> <p> <em> <strong> Baca juga: <a href="https://theconversation.com/cara-menghindari-konten-mengerikan-di-media-sosial-agar-tak-terbayang-bayang-265778">Cara menghindari konten mengerikan di media sosial agar tak terbayang-bayang</a> </strong> </em> </p> <hr> <p>Dalam konteks dopamin, kita tidak bisa melakukan detoks. Dopamin muncul secara alami dan berperan penting dalam fungsi tubuh kita. </p> <p>Dopamin <a href="https://doi.org/10.1016/j.neuroscience.2022.07.008">berkaitan erat dengan</a> dari pusat kesenangan dan kepuasan di otak. Motivasi, pergerakan, gairah, sampai hal sesederhana tidur—dipengaruhi oleh dopamin.</p> <p>Jika kita melakukan detoks dopamin, kita tidak akan bisa berfungsi sebagai manusia. Kita tidak akan bisa hidup.</p> <p></p> <h2>Istilah “detoks dopamin” yang jadi tren</h2> <p>Pada dasarnya, “detoks dopamin” yang banyak dibahas di media sosial hanyalah tindakan menghindari aktivitas yang memunculkan dopamin secara instan.</p> <p>Misalnya gim, media sosial, makanan manis, atau belanja daring. Tindakan “detoks kenikmatan” ini biasanya dilakukan dalam jangka waktu singkat, sekitar 24 jam.</p> <p>“Detoks dopamin” selama 24 jam bisa terasa amat berat. Selama <a href="https://pmc.ncbi.nlm.nih.gov/articles/PMC3354400/">proses menahan diri</a>, individu yang melakukannya terkadang merasakan dorongan dan keinginan yang intens, kelelahan hebat, kecemasan, atau merasa lebih sensitif secara emosional. Rasa ketidaknyamanan ini dipercaya sebagai tanda bahwa “reset dopamin” memang berhasil.</p> <hr> <p> <em> <strong> Baca juga: <a href="https://theconversation.com/hati-hati-tergoda-diskon-kenali-trik-psikologis-yang-mengelabui-otak-dan-memicu-perilaku-belanja-impulsif-245478">Hati-hati tergoda diskon, kenali trik psikologis yang mengelabui otak dan memicu perilaku belanja impulsif</a> </strong> </em> </p> <hr> <p>Proses menahan diri ini mungkin terasa intens, tetapi sayangnya efek proses ini umumnya tak bertahan lama, hanya satu sampai dua hari. Soalnya, dopamin adalah proses yang kompleks dan dipengaruhi beragam faktor. Reset selama 24 jam tak akan langsung mengubah sistem kompleks tersebut.</p> <p>Penelitian menunjukkan bahwa setelah beberapa lama melakukan pantang tertentu, <a href="https://doi.org/10.7759/cureus.61643">kebiasaan buruk rawan kembali muncul</a>. Kecuali jika orang tersebut aktif membangun kebiasaan positif baru yang membuat mereka mendapatkan kesenangan dengan cara yang lebih sehat.</p> <h2>Apa yang dapat dilakukan?</h2> <p>Jika kita ingin memperbaiki perilaku yang erat dengan dopamin instan atau ingin lepas dari zat tertentu, kita perlu menjalani proses panjang. Ini pastinya memakan waktu lebih dari 24 jam.</p> <p>Menggantikan perasaan senang dari “dopamin instan” dengan aktivitas “dopamin sehat” dapat mengembalikan sensitivitas otak kita terhadap kenikmatan. Dengan sensitivitas ini, hidup kita akan terasa lebih menyenangkan.</p> <p>Aktivitas “dopamin sehat” adalah aktivitas yang memerlukan lebih banyak usaha dan kesabaran. Misalnya membuat kerajinan tangan, <a href="https://doi.org/10.3389/fpubh.2023.1257629">olahraga</a>, atau <a href="https://doi.org/10.1007/978-3-319-95780-7_13">mempelajari sesuatu yang baru</a>.</p> <p>Aktivitas menjalin <a href="https://www.cell.com/neuron/fulltext/S0896-6273(23)00699-2?fbclid=IwAR2b8Lrr4uij5oW9x3nG_IYs3-JkuDi-JxknB-l-vB66E1q2GxaVNNjtG2c">hubungan dengan orang lain</a> secara tatap muka atau <a href="https://doi.org/10.1073/pnas.1811878116">mendengarkan musik</a> yang kita suka juga terhitung sebagai aktivitas yang lebih sehat dibanding aktivitas “dopamin instan”.</p> <hr> <p> <em> <strong> Baca juga: <a href="https://theconversation.com/konten-brain-rot-lumpuhkan-kemampuan-kita-bercerita-penuh-makna-251151">Konten brain rot lumpuhkan kemampuan kita bercerita penuh makna</a> </strong> </em> </p> <hr> <p>Aktivitas-aktivitas tersebut mampu menghidupkan alur dopamin otak, sekaligus melepaskan neurotransmiter lain seperti oksitosin dan serotonin. Kedua hormon tersebut memunculkan suasana hati yang positif.</p> <p>Tren “detoks dopamin” menunjukkan bahwa makin banyak individu yang ingin merasa lebih berarti, menumbuhkan kembali motivasi, dan menikmati hal-hal sederhana di tengah dunia yang penuh dengan stimulasi.</p> <p>Tak ada tombol reset untuk sistem dopamin di otak kita. Namun, kita bisa selalu mengarahkan diri pada kesenangan yang lebih jangka panjang melalui olahraga, musik, hubungan yang bermakna, dan eksplorasi hal-hal yang tak pernah kita ketahui sebelumnya.</p> <hr> <p><em>Kezia Kevina Harmoko berkontribusi dalam penerjemahan artikel ini.</em></p><img src="https://counter.theconversation.com/content/267442/count.gif" alt="The Conversation" width="1" height="1" /> <p class="fine-print"><em><span>Anastasia Hronis adalah penulis dari The Dopamine Brain.</span></em></p> Detoks dopamin yang dielu-elukan di media sosial bukanlah solusi ideal untuk meningkatkan kesehatan mental. Anastasia Hronis, Clinical Psychologist, Lecturer and Research Supervisor, Graduate School of Health, University of Technology Sydney Licensed as Creative Commons – attribution, no derivatives. tag:theconversation.com,2011:article/266905 2025-10-07T08:45:07Z 2025-10-07T08:45:07Z Hadiah Nobel Kedokteran diberikan kepada penemu ‘penjaga keamanan’ sistem kekebalan tubuh kita <figure><img src="https://images.theconversation.com/files/694759/original/file-20251006-56-lz2wl6.jpg?ixlib=rb-4.1.0&amp;rect=0%2C0%2C2999%2C1999&amp;q=45&amp;auto=format&amp;w=1050&amp;h=700&amp;fit=crop" /><figcaption><span class="caption"></span> <span class="attribution"><a class="source" href="https://nobelprize.qbank.se/mb/?h=1dbb005ef977c88253f8acdcc863a6c8"> Ill. Niklas Elmehed © Nobel Prize Outreach </a></span></figcaption></figure><p>Penghargaan Nobel Fisiologi atau Kedokteran 2025 diberikan kepada tiga orang ilmuwan yang berhasil menemukan cara tubuh menghentikan sistem kekebalan agar tidak menyerang dirinya sendiri (autoimun).</p> <p>Ketiganya adalah Shimon Sakaguchi dari Osaka University di Jepang, Mary E. Brunkow dari Institute for System Biology di Amerika Serikat (AS), serta Fred Ramsdell dari Sonoma Biotherapeutics di AS. Mereka menemukan sel-sel “penjaga keamanan” khusus yang bertugas memastikan sistem kekebalan tubuh kita agar tetap terkendali. </p> <p><a href="https://www.nobelprize.org/prizes/medicine/2025/popular-information/">Penemuan ini</a> sangat penting untuk memahami cara mengobati dan mencegah kondisi autoimun.</p> <p>Para peraih Nobel ini akan berbagi hadiah sebesar 11 juta Kronor Swedia (£870 ribu atau Rp16,8 miliar).</p> <p>Sistem kekebalan (imun) yang efektif sangatlah penting. Ia berperan membentuk jaringan tubuh seiring pertumbuhannya, serta membersihkan sel-sel tua maupun sel sisa yang sudah mati (debris). </p> <p>Selain itu, sistem imun juga bertugas membasmi virus, bakteri, dan jamur berbahaya, agar kita bisa tetap sehat. </p> <p>Meski begitu, tantangan yang dihadapi sistem kekebalan tubuh sangatlah berat.</p> <p>Setiap hari, sistem imun harus melawan ribuan mikroba penyerang yang berbeda. Banyak di antaranya telah berevolusi hingga tampak sangat mirip dengan sel-sel kita. Karena itu, sistem imun harus sangat hati-hati agar tidak salah mengira jaringan tubuh kita sebagai musuh dan menyerangnya.</p> <p>Lalu, bagaimana sistem imun bisa mengetahui mana sel yang harus diserang dan tidak?</p> <p>Para ahli imunologi telah mempelajari hal ini selama beberapa dekade. Namun, riset inovatif ketiga peraih Nobel inilah yang berhasil menemukan sel imun khusus bernama sel T regulator. </p> <p>Sel T regulator bertugas mencegah sel imun menyerang tubuh kita sendiri, serta menjaga sistem imun tetap berfungsi sebagaimana mestinya.</p> <p>Selama bertahun-tahun, para ahli imunologi terus menyelidiki penyebab mengapa beberapa sel imun bisa berfungsi dengan seimbang, dan mengapa sebagian lainnya bisa menjadi liar dan menyerang jaringan tubuh sendiri, hingga mengakibatkan kondisi autoimun (seperti diabetes tipe 1, artritis reumatoid, dan sklerosis multipel).</p> <p>Selama ini, para ilmuwan meyakini bahwa timus (kelenjar kecil di dada) sebagai satu-satunya organ yang bertanggung jawab atas toleransi imun (kondisi sistem kekebalan berfungsi normal, tidak bereaksi berlebihan terhadap zat asing dari luar maupun sel tubuh sendiri).</p> <p>Ada anggapan bahwa timus, sejak awal kehidupan kita telah mengeliminasi sel-sel imun (khususnya limfosit T) yang punya kecenderungan kuat akan menyerang protein tubuh sendiri. Sel-sel imun dengan reaktivitas ringan dibiarkan hidup, lalu dilepaskan ke dalam aliran darah untuk berpatroli di dalam tubuh.</p> <figure> <iframe width="440" height="260" src="https://www.youtube.com/embed/vUut_3YYD6s?wmode=transparent&amp;start=0" frameborder="0" allowfullscreen=""></iframe> </figure> <p>Namun, penelitian yang dilakukan pada tahun 1980-an dan 1990-an oleh Sakaguchi menunjukkan bahwa kemampuan tubuh dalam menekan respons imun dan mencegah sistem kekebalan menyerang jaringan tubuh sendiri berasal dari peran sel T imun dengan kelas khusus.</p> <p>Dalam eksperimen pertamanya, Sakaguchi mengangkat organ timus dari beberapa tikus yang baru lahir. Lalu, dia menyuntikkan sel T (dari tikus yang secara genetik serupa) ke dalam tikus uji tersebut. </p> <p>Karena timusnya diangkat, Sakaguchi menduga bahwa tikus-tikus tersebut akan memiliki sistem kekebalan lebih lemah, serta menghasilkan lebih sedikit sel T. Namun sebaliknya, dia menemukan keberadaan sel T yang diduga melindungi tikus dari perkembangan penyakit autoimun.</p> <p>Dekade berikutnya, Sakaguchi berupaya mengungkap apakah ada berbagai jenis sel T yang berperan berbeda dalam respons imun. </p> <p>Pada 1995, Sakaguchi menerbitkan makalah yang merinci <a href="https://pubmed.ncbi.nlm.nih.gov/7636184">kelas baru sel T</a>, yang dia sebut sebagai “sel T regulator”. Makalah tersebut menunjukkan bahwa sel T—yang membawa jenis protein spesifik di permukaannya—justru melenyapkan sel T yang berbahaya.</p> <p>Awalnya, para ilmuwan skeptis mengenai keberadaan sel T regulator ini. Namun, penelitian Brunkow dan Ramsdell yang diterbitkan pada tahun 1990-an dan awal 2000-an, berhasil menunjukkan cara kerja sel T regulator.</p> <p>Penelitian Brunkow dan Ramsdell menunjukkan bahwa <a href="https://doi.org/10.1038/83707">sel T regulator</a> mencegah sel imun menyerang tubuh dengan mengeluarkan protein peredam imun atau dengan langsung memberikan sinyal antiperadangan.</p> <p>Mereka juga menemukan <a href="https://doi.org/10.1038/83713">protein khusus</a> bernama FoxP3 yang bisa digunakan untuk mengenali sel-sel T regulator. Protein ini membantu para ilmuwan untuk mengetahui kapan sebuah sel berperan sebagai pengatur sistem imun. Mereka kemudian memisahkan protein ini untuk diteliti lebih lanjut.</p> <p>Penemuan ketiga ilmuwan ini menunjukkan bahwa sel T regulator (disebut pula sebagai T-reg) berperan penting dalam mengendalikan sel-sel imun agar tidak menimbulkan peradangan berlebihan dalam tubuh.</p> <p>Penelitian mereka juga membuka wawasan baru di dunia imunologi. Ini bukan cuma soal memahami cara tubuh menoleransi zat asing, tetapi juga bagaimana sistem imun aktif mengatur keseimbangan antara melawan penyakit dan mencegah kerusakan tubuh sendiri.</p> <p>Penemuan mereka menginspirasi banyak penelitian baru mengenai penyakit peradangan, baik yang disebabkan oleh infeksi, alergen, polutan lingkungan, maupun autoimunitas. </p> <p>Dari studi mereka pula, berbagai ide riset baru lahir untuk memahami cara mencegah kasus penolakan transplantasi (jaringan tubuh yang ditransplantasi ditolak oleh sistem imun penerima), serta memperkuat respons imun kita terhadap pengobatan kanker dan vaksin.</p><img src="https://counter.theconversation.com/content/266905/count.gif" alt="The Conversation" width="1" height="1" /> <p class="fine-print"><em><span>Tracy Hussell terafiliasi dengan British Society of Immunology sebagai Presiden.</span></em></p> Penghargaan Nobel Kedokteran 2025 diberikan kepada tiga ilmuwan atas temuan mereka soal cara tubuh menghentikan sistem imun agar tidak menyerang diri sendiri. Tracy Hussell, Director of the Lydia Becker Institute of Immunology and Inflammation, University of Manchester Licensed as Creative Commons – attribution, no derivatives. tag:theconversation.com,2011:article/260814 2025-10-03T03:54:11Z 2025-10-03T03:54:11Z Tanpa aturan yang jelas, pasar hewan Indonesia berisiko memicu pandemi berikutnya <blockquote> <p>● Pasar hewan liar di Indonesia berisiko memicu pandemi baru.</p> <p>● Sanitasi buruk dan perdagangan hewan zoonosis berisiko tinggi menjadi penyebabnya.</p> <p>● Untuk mencegah ledakan wabah, perlu deteksi dini, perbaikan sanitasi, hingga sistem mitigasi dari sekarang.</p> </blockquote> <hr> <p>Kendati <a href="https://theconversation.com/covid-19-makin-terkendali-bagaimana-peran-teknologi-genomik-dalam-pencarian-nenek-moyang-sars-cov-2-195918">pandemi COVID-19</a> sudah berlalu, ancaman wabah penyakit masih bisa muncul kapan saja, termasuk dari <a href="https://www.nature.com/articles/d41586-025-01690-z">pasar hewan yang menjual satwa liar di Indonesia</a>.</p> <p>Misalnya, <a href="https://www.rri.co.id/hukum/1099772/pasar-hewan-jatinegara-diduga-perjualbelikan-satwa-dilindungi">Pasar Jatinegara di DKI Jakarta</a> hingga <a href="https://mongabay.co.id/2018/02/28/begini-nasib-satwa-satwa-ini-di-pasar-ekstrem/">Pasar Tomohon dan Langowan di Sulawesi Utara</a>. Kawasan ini bisa menjadi “rumah” bagi penyebaran berbagai virus karena satwa liar adalah inang potensial bagi mereka. </p> <p>Layaknya dapur tempat berbagai bahan tercampur sebelum menjadi masakan, pasar menjadi <a href="https://onlinelibrary.wiley.com/doi/10.1002/wmh3.348">laboratorium alami</a> di mana virus-virus zoonosis baru bisa bermutasi dan “siap melompat” ke manusia. </p> <h2>Pasar biang penularan penyakit dari hewan</h2> <p><a href="https://bnrc.springeropen.com/articles/10.1186/s42269-021-00657-0">Pandemi COVID-19</a> memberikan pelajaran penting mengenai peran pasar dalam penyebaran <a href="https://www.bbc.com/news/science-environment-53086024">virus zoonosis baru</a>.</p> <p>Penelitian (2021-2022) menunjukkan bahwa <a href="https://www.science.org/doi/10.1126/science.abp8715">pusat awal penyebaran SARS-CoV-2</a> berasal dari Pasar Huanan di Wuhan, Cina—yang terkonsentrasi di <a href="https://www.cell.com/cell/fulltext/S0092-8674(21)00991-0">area penjualan hewan liar hidup</a>. </p> <p>Sampel lingkungan dari lokasi tersebut mengandung virus corona. Sampel juga memiliki <a href="https://www.cell.com/cell/fulltext/S0092-8674%2824%2900901-2?utm_source">DNA berbagai hewan liar</a> yang diidentifikasi sebagai inang perantara potensial, seperti kelelawar, musang, dan anjing rakun.</p> <p>Penemuan dua garis keturunan virus yang berbeda <a href="http://www.nature.com/articles/s41591-020-0820-9">(<em>Lineage</em> A dan B)</a>, juga menunjukkan bahwa virus menular dari hewan ke manusia lebih dari satu kali dalam kesempatan yang berbeda. </p> <p>Temuan ini menegaskan bahwa pasar—sebagai lokasi “titik temu” manusia, hewan, dan virus—sangat rentan melahirkan mutasi baru.</p> <figure> <iframe width="440" height="260" src="https://www.youtube.com/embed/kQwd6seYg9Y?wmode=transparent&amp;start=0" frameborder="0" allowfullscreen=""></iframe> <figcaption><span class="caption">Pasar merupakan area potensial bagi penularan penyakit zoonosis.</span></figcaption> </figure> <h2>Ancaman virus dari pasar hewan Indonesia</h2> <p>Di Pasar Tomohon dan Langowan, satwa liar (seperti ular, kelelawar, tikus hutan, babi hutan, dan biawak) diperjualbelikan, dan bahkan disembelih di tempat. </p> <p>Hewan-hewan liar yang dibawa ke pasar rentan mengalami stres berat, sehingga daya tahan tubuh mereka menurun. Akibatnya, hewan lebih mudah sakit dan virus dalam tubuh mereka meningkat. </p> <p>Studi di Vietnam (2020) mengungkap bahwa <a href="https://journals.plos.org/plosone/article?id=10.1371%2Fjournal.pone.0237129">jumlah virus corona pada tikus sawah meningkat 10 kali lipat</a> setelah tiba di pasar, dibandingkan saat masih berada di habitat alami mereka.</p> <p>Hal ini diperparah oleh <a href="https://www.nature.com/articles/d41586-025-01690-z">kondisi sanitasi pasar hewan Indonesia yang jauh dari ideal</a>. </p> <p>Misalnya, <a href="https://onehealthjournal.org/Vol.11/No.1/16.php">kelelawar</a>, musang, dan ular ditumpuk dalam kandang sempit, sementara burung-burung liar bercampur dalam ruang terbatas. </p> <p>Darah dan urine hewan juga dibiarkan tergenang di lantai. Sementara <a href="https://iris.who.int/bitstream/handle/10665/69792/WHO_HSE_EPR_2008.2_ind.pdf?sequence=3">ventilasi pasar buruk</a>, alat pelindung diri (seperti masker atau sarung tangan) jarang digunakan oleh pedagang dan pelanggan.</p> <p>Sederet kondisi tersebut menciptakan lingkungan ideal bagi perkembangan virus baru. </p> <h2>Butuh kolaborasi ilmuwan dan masyarakat</h2> <p>Meski risikonya tinggi, penelitian soal potensi penyebaran virus <a href="https://wwwnc.cdc.gov/eid/article/31/4/24-1872_article">akibat perdagangan satwa liar</a> di Indonesia masih minim. </p> <p>Ketergantungan pada dana riset luar negeri merupakan salah satu tantangannya. Ketika Amerika Serikat menghentikan <a href="https://www.science.org/content/article/u-s-cancels-program-aimed-identifying-potential-pandemic-viruses">program DEEP VZN</a> (yang mendanai penelitian patogen zoonosis di negara berkembang) pada 2023, banyak inisiatif lokal terhambat. Padahal, pemantauan dini sangat bergantung pada riset jangka panjang yang konsisten.</p> <p>Di lapangan, peneliti menghadapi tantangan lain dalam membangun kepercayaan. Banyak orang enggan diwawancarai atau diambil sampelnya karena khawatir dijadikan “kambing hitam”. </p> <p>Namun, pendekatan kolaboratif tetap memiliki harapan. <a href="https://smujo.id/biodiv/article/view/16604">Tim peneliti dari Universitas Sam Ratulangi</a>, misalnya, berhasil bekerja sama dengan pemburu kelelawar dengan pendekatan humanis dan berbasis kepercayaan. </p> <p>Ini menunjukkan bahwa dengan komunikasi yang tepat, kolaborasi antara ilmuwan dan masyarakat bisa terjalin.</p> <h2>Pentingnya deteksi dini dan perbaikan sanitasi</h2> <p>Agar kejadian COVID-19 tidak terulang, kita tidak boleh membiarkan pasar hewan di Tanah Air beroperasi <a href="https://wwwnc.cdc.gov/eid/article/31/4/24-1872_article">tanpa pengawasan dan perbaikan</a>. </p> <p>Pemerintah perlu melakukan sejumlah langkah di bawah ini.</p> <p><strong>1. Bangun sistem deteksi dini</strong></p> <p><a href="https://www.sciencedirect.com/science/article/pii/S2667038022000710">Teknologi deteksi murah</a> seperti <em>polymerase chain reaction</em> (PCR) dan <em>loop-mediated isothermal amplification</em> (LAMP) dapat digunakan di laboratorium lokal untuk mendeteksi puluhan jenis patogen sekaligus. </p> <p>Tes PCR juga bisa dilakukan di pasar secara berkala (1-2 kali setahun) untuk memantau risiko perkembangan patogen.</p> <p>Sementara itu, <a href="https://onlinelibrary.wiley.com/doi/10.1111/1348-0421.13231">pengurutan genom langsung</a> di lapangan kini bisa menggunakan alat portabel, seperti <a href="https://theconversation.com/klad-virus-flu-burung-di-kamboja-begitu-cepat-terindetifikasi-kenapa-bisa-begitu-201684">Oxford Nanopore</a>—yang memberikan fleksibilitas tinggi dalam pengawasan patogen.</p> <p>Tak kalah penting, sistem deteksi dini berbasis komunitas perlu dibangun dengan melatih pedagang dan konsumen mengenali tanda-tanda awal wabah, seperti kematian hewan mendadak atau perilaku tak biasa. Mereka bisa menjadi alarm pertama bagi sistem kesehatan masyarakat.</p> <p><strong>2. Batasi penjualan hewan berisiko tinggi</strong></p> <p>Pemerintah perlu membuat aturan berbasis sains dengan pendekatan <a href="https://journals.asm.org/doi/10.1128/jcm.01610-22"><em>one health</em></a>, yang mengintegrasikan kesehatan manusia, hewan, dan lingkungan sebagai suatu kesatuan yang saling terkait.</p> <p>Dalam hal ini, pemerintah perlu mengawasi kesehatan hewan dan manusia secara bersamaan, mengatur perdagangan hewan, rutin menguji sampel hewan, serta mengembangkan vaksin khusus untuk hewan.</p> <hr> <p> <em> <strong> Baca juga: <a href="https://theconversation.com/pembabatan-hutan-picu-penyakit-pemerintah-jangan-abai-245566">Pembabatan hutan picu penyakit: Pemerintah jangan abai</a> </strong> </em> </p> <hr> <p>Lewat regulasi perdagangan hewan, misalnya, spesies hewan yang terbukti sering membawa penyakit berbahaya ke manusia (seperti kelelawar, musang, tenggiling, dan anjing) bisa dibatasi atau bahkan dilarang untuk diperjualbelikan.</p> <p>Sementara itu, spesies dengan risiko rendah bisa tetap diperjualbelikan dengan sistem sertifikasi kesehatan yang ketat. Jenis hewan yang diperdagangkan pun harus didata dengan baik.</p> <p>Pemerintah bersama dinas kesehatan dan kepolisian setempat, kemudian bisa melakukan sidak berkala untuk memantau jenis hewan yang diperjualbelikan. </p> <p><strong>3. Wajib perbaiki sanitasi</strong> </p> <p>Risiko mutasi virus dapat dikurangi secara signifikan <a href="https://unair.ac.id/post_fetcher/sekolah-ilmu-kesehatan-ilmu-alam-melihat-kualitas-lingkungan-pasar-tradisional-banyuwangi-dengan-kacamata-permenkes-no-17-tahun-2020/">dengan memperbaiki sanitasi di pasar tradisional</a>. </p> <p>Misalnya, pemerintah daerah bersama otoritas pasar menyediakan ventilasi yang baik, saluran pembuangan yang bersih, dan alat pelindung diri untuk pedagang. </p> <p>Bila perlu, bikin aturan tegas agar konsumen wajib menggunakan masker dan sarung tangan sebelum masuk ke pasar hewan.</p> <p>Hal tak kalah penting, tegakkan aturan soal pedagang wajib memerhatikan kebersihan dan kesejahteraan hewan di pasar.</p> <p><strong>4. Teknologi surveilans terintegrasi</strong></p> <p>Kita perlu <a href="https://biologi.ugm.ac.id/2025/04/14/fakultas-biologi-ugm-didukung-oleh-yayasan-satriabudi-dharma-setia-lakukan-instalasi-dan-pelatihan-alat-sequencer-revio-dari-pacbio-untuk-mendukung-akselerasi-teknologi-genomik/">menyiapkan teknologi terbaru</a> untuk memantau, mencegah wabah penyakit, serta menemukan pengobatan secara lebih cepat dan tepat. </p> <p>Caranya, dengan menggabungkan data biologis berskala besar (seperti gen, protein, dan cara kerja virus) <a href="https://pubmed.ncbi.nlm.nih.gov/40567963/">lewat integrasi</a> bioinformatika, <em>big data</em>, serta teknologi kecerdasan buatan (AI).</p> <h2>Jika pandemi terjadi lagi</h2> <p>Pemerintah juga perlu mempersiapkan rencana mitigasi apabila wabah muncul dari pasar hewan di Tanah Air.</p> <p>Langkah penanganan harus dilakukan dengan cepat. Pemerintah daerah harus segera <a href="https://lipsus.kompas.com/elnino/read/2020/03/19/17244681/dibanding-lockdown-sterilisasi-block-to-block-dianggap-lebih-cocok-untuk">menutup pasar sumber wabah</a>, melakukan sterilisasi total, hingga pelacakan kontak ke pembeli terakhir. </p> <p>Sampel lingkungan dan hewan harus dikumpulkan dan dianalisis untuk mengetahui jenis patogen dan potensi penyebarannya. Sementara itu, zona sekitar pasar perlu diberlakukan <em>lockdown</em> mikro. </p> <p>Agar masyarakat tidak panik, berikan informasi secara transparan dan lugas.</p> <hr> <p> <em> <strong> Baca juga: <a href="https://theconversation.com/belajar-dari-australia-indonesia-perlu-serius-mencegah-penyebaran-wabah-penyakit-menular-242117">Belajar dari Australia: Indonesia perlu serius mencegah penyebaran wabah penyakit menular</a> </strong> </em> </p> <hr> <p>Mencegah pandemi bukan hanya tugas pemerintah atau ilmuwan. Ini tanggung jawab kolektif yang dimulai dari kesadaran bersama.</p> <p>Bagaimanapun, kita tidak bisa terus-menerus berasumsi bahwa pandemi datang dari luar negeri. Karena wabah berikutnya bisa saja berasal dari pasar hewan, yang jaraknya hanya beberapa kilometer dari rumah kita. </p> <p>Namun, seperti halnya rumah tahan gempa yang dibangun dengan struktur yang tepat, ketahanan terhadap wabah penyakit hanya bisa dicapai jika kita sudah membangun sistem sebelum krisis datang. </p> <hr> <iframe src="https://tally.so/r/w5PJLv?alignLeft=1&amp;hideTitle=1&amp;transparentBackground=1&amp;dynamicHeight=1" width="100%" height="321" frameborder="0" marginheight="0" marginwidth="0" title="Survey Form"> </iframe><img src="https://counter.theconversation.com/content/260814/count.gif" alt="The Conversation" width="1" height="1" /> <p class="fine-print"><em><span>Arif Nur Muhammad Ansori kini menerima Beasiswa dari Pemerintah Jepang (Monbukagakusho/MEXT) untuk menempuh pendidikan jenjang Doktor dalam bidang Ilmu Kedokteran di Graduate School of Medical Sciences, Kumamoto University, Jepang, serta melakukan penelitian di Division of Genomics and Transcriptomics, Joint Research Center for Human Retrovirus Infection, Kumamoto University, Jepang.</span></em></p><p class="fine-print"><em><span>Arli Aditya Parikesit terafiliasi dengan Indonesia International Institute for Life Sciences sebagai Professor of Bioinformatics Streaming. Pernah menerima Hibah Penelitian dasar dari Dirjen DIKTI mengenai pengembangan kandidat lead compounds bahan alam untuk SARS-CoV-2 dari tahun 2020 sampai 2022. </span></em></p><p class="fine-print"><em><span>Yudhi Nugraha terafiliasi dengan Pusat Riset Biologi Molekuler Eijkman. Yudhi Nugraha saat ini menerima pendanaan dari Kementerian Riset Italia untuk mengembangkan bidang biologi struktur menggunakan Cryo-EM di Universitas Pavia periode 2024-2025 dan RIIM Kompetisi Gelombang VII untuk penelitian Jembrana Virus Disease (2025-2026). Sebelumnya ia menerima pendanaan dari BBVA foundation untuk penelitian X-ray Crystallography di CNIO Madrid (2021-2023), dan Manbukagahusho Jepang (2015-2018)</span></em></p><p class="fine-print"><em><span>Ronny Soviandhi tidak bekerja, menjadi konsultan, memiliki saham, atau menerima dana dari perusahaan atau organisasi mana pun yang akan mengambil untung dari artikel ini, dan telah mengungkapkan bahwa ia tidak memiliki afiliasi selain yang telah disebut di atas.</span></em></p> Pasar hewan liar di Indonesia berisiko memicu pandemi baru. Sanitasi buruk dan perdagangan hewan liar berisiko tinggi zoonosis menjadi penyebabnya. Arif Nur Muhammad Ansori, Peneliti, Sekolah Pascasarjana, Universitas Airlangga Arli Aditya Parikesit, Professor of Bioinformatics, Indonesia International Institute for Life Sciences, Indonesia International Institute for Life Sciences Ronny Soviandhi, Assistant researcher, Center for Tropical Medicine, Universitas Gadjah Mada Yudhi Nugraha, Peneliti di Pusat Riset Biologi Molekular Eijkman, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Licensed as Creative Commons – attribution, no derivatives. tag:theconversation.com,2011:article/264492 2025-09-14T02:04:38Z 2025-09-14T02:04:38Z Kapan kita harus ke psikolog? Sadari ciri diri butuh konseling <figure><img src="https://images.theconversation.com/files/688891/original/file-20240711-19-kshccm.jpg?ixlib=rb-4.1.0&amp;rect=233%2C0%2C1500%2C1000&amp;q=45&amp;auto=format&amp;w=1050&amp;h=700&amp;fit=crop" /><figcaption><span class="caption">Konsultasi dengan psikolog dapat membantu kita memahami akar pikiran, perasaan, dan tingkah laku kita.</span> <span class="attribution"><a class="source" href="https://pixabay.com/vectors/doctor-mental-health-anxiety-8532177/">(Mohamed_hassan/Pixabay)</a></span></figcaption></figure><p>Ada banyak alasan mengapa seseorang berkonsultasi dengan psikolog. Mulai dari ujian hidup yang berat, trauma, emosi yang tak stabil, hubungan yang bermasalah, sampai kondisi <em>well-being</em> yang butuh ditingkatkan.</p> <p>Meski bermanfaat di banyak aspek kehidupan, kita sering kali masih ragu: apakah kita benar-benar membutuhkan konsultasi ke psikolog? </p> <p>Untuk kamu yang sedang membaca artikel ini: bisa jadi saat ini juga adalah waktu yang paling tepat untuk berkonsultasi.</p> <p>Ketika kita mempertimbangkan untuk mendapatkan bantuan profesional, kemungkinan ada sesuatu yang mengganggu sehingga kita membutuhkan pertolongan. Kondisi ini sudah cukup untuk jadi alasan mencari bantuan.</p> <p>Jika kamu masih ragu harus ke psikolog atau tidak, lanjutkan membaca.</p> <h2>Kenapa kita harus ke psikolog?</h2> <p>Ada kalanya isi kepala kita terlalu ramai untuk dikendalikan.</p> <p>Berkonsultasi ke psikolog dapat membantu kita menemukan dasar dari pikiran, perasaan, dan tingkah laku diri sendiri. Kita juga dapat belajar untuk berpikir, merasa, dan bertindak secara lebih sehat.</p> <p>Melalui konsultasi, kita bisa:</p> <ol> <li><p>mengenali dan menghadapi masalah dalam diri,</p></li> <li><p>mengevaluasi pola pikir atau keyakinan yang menghambat,</p></li> <li><p>meningkatkan kesejahteraan mental,</p></li> <li><p>mengatasi masalah kesehatan mental, serta</p></li> <li><p>membangun pola hidup yang lebih sehat dan seimbang.</p></li> </ol> <h2>Apa bedanya <em>mental health</em> dan <em>mental illness</em>?</h2> <p>Kita sering mendengar istilah “<em>mental health</em>” dan “<em>mental illness</em>” digunakan ketika membahas soal kondisi mental dan emosional. Namun, terkadang istilah ini disalahartikan.</p> <p><a href="https://cmha.ca/news/mental-health-what-is-it-really/"><em>Mental health</em></a> artinya kesehatan mental yaitu kondisi batin diri yang memampukan kita menghadapi segala naik dan turun kehidupan.</p> <p><a href="https://dictionary.apa.org/mental-health">Kesehatan mental</a> kita baik jika kita dapat menikmati hidup, punya hubungan yang kuat dengan orang lain, dapat menghadapi stres dengan sehat, punya tujuan hidup, dan mengenali diri sendiri.</p> <p>Sementara <a href="https://www.canada.ca/en/public-health/services/about-mental-illness.html"><em>Mental illness</em></a> artinya gangguan mental yaitu kondisi terganggunya pikiran, perasaan, dan persepsi yang mengganggu keseharian kita.</p> <p>Terdapat <a href="https://cmha.ca/brochure/mental-illnesses/">berbagai jenis</a> gangguan mental yang dibedakan berdasarkan pikiran, perasaan, dan perilaku yang muncul.</p> <p>Perbedaan keduanya dapat dipahami seperti ini. Setiap orang pasti pernah merasakan perasaan negatif di tengah situasi sulit, misalnya sedih karena putus dari pacar atau cemas menjelang perubahan besar. </p> <p>Namun, perasaan negatif tersebut belum tentu berarti kita punya gangguan mental, tetapi jelas berdampak pada kesehatan mental kita.</p> <hr> <p> <em> <strong> Baca juga: <a href="https://theconversation.com/galau-sedikit-bilang-depresi-sembarangan-pakai-istilah-kesehatan-mental-bahaya-buat-psikologis-kita-260500">Galau sedikit, bilang depresi: Sembarangan pakai istilah kesehatan mental bahaya buat psikologis kita</a> </strong> </em> </p> <hr> <p>Perasaan negatif ini jadi tak sehat ketika kesehatan mental kita <a href="https://www.canada.ca/en/public-health/services/about-mental-health.html">signifikan terdampak</a>. Ketika kondisi kesehatan mental kita tak baik-baik saja, kita jadi sulit pulih dari kondisi kehilangan atau duka.</p> <p>Maka dari itu, konsultasi akan membantu kita meningkatkan kesehatan mental, mengembangkan ketahanan diri, dan menjaga kesejahteraan mental kita.</p> <p>Lalu, bagaimana dengan gangguan mental? Ciri yang muncul dari gangguan mental adalah sebagai berikut.</p> <p><strong>1. Putus asa:</strong> Merasa <em>stuck</em>, kehilangan semangat, atau tak berdaya.</p> <p><strong>2. Apatis:</strong> Tak lagi tertarik dengan hal-hal yang sebelumnya membuat kita senang atau membawa kepuasan.</p> <p><strong>3. Marah:</strong> Merasakan kemarahan dan kebencian yang terlalu sering atau tak sesuai proporsi ideal.</p> <p><strong>4. Stres:</strong> Mengalami kewalahan, merasa tak mampu mengerjakan sesuatu, tak bisa beristirahat, atau merasa segala hal sangat sulit meski hal sederhana sekali pun.</p> <p><strong>5. Bersalah:</strong> Merasa malu akan diri sendiri, tak pantas mendapatkan hal baik, dan hanya pantas menerima hal buruk.</p> <p><strong>6. Cemas:</strong> Mengkhawatirkan terlalu banyak hal atau memiliki pikiran menyeramkan yang amat mengganggu.</p> <p><strong>7. Kelelahan:</strong> Tidur lebih lama dari biasanya, sulit bangkit dari tempat tidur, atau merasa tak berenergi sepanjang hari.</p> <p><a href="https://doi.org/10.1016/S2215-0366(20)30136-X"><strong>8. Insomnia:</strong></a> Sulit tidur atau mengalami gangguan saat tidur.</p> <h2>Lalu, kapan kita butuh ke psikolog?</h2> <p>Berkonsultasi pada psikolog tak perlu menunggu sampai di tahap gangguan mental. Ketika kita merasa kondisi kesehatan mental kita kurang baik, ini adalah alasan yang cukup untuk berkonsultasi.</p> <p><strong>Coba tanya pada diri sendiri:</strong> apakah saya kesulitan menghadapi masalah hidup?</p> <p>Jika jawabannya iya, tak ada salahnya untuk berkonsultasi.</p> <figure class="align-center zoomable"> <a href="https://images.theconversation.com/files/608022/original/file-20240718-19-t7l7kp.jpg?ixlib=rb-4.1.0&amp;q=45&amp;auto=format&amp;w=1000&amp;fit=clip"><img alt="Seorang perempuan duduk dan berbicara dengan perempuan lain yang duduk di seberangnya." src="https://images.theconversation.com/files/608022/original/file-20240718-19-t7l7kp.jpg?ixlib=rb-4.1.0&amp;q=45&amp;auto=format&amp;w=754&amp;fit=clip" srcset="https://images.theconversation.com/files/608022/original/file-20240718-19-t7l7kp.jpg?ixlib=rb-4.1.0&amp;q=45&amp;auto=format&amp;w=600&amp;h=400&amp;fit=crop&amp;dpr=1 600w, https://images.theconversation.com/files/608022/original/file-20240718-19-t7l7kp.jpg?ixlib=rb-4.1.0&amp;q=30&amp;auto=format&amp;w=600&amp;h=400&amp;fit=crop&amp;dpr=2 1200w, https://images.theconversation.com/files/608022/original/file-20240718-19-t7l7kp.jpg?ixlib=rb-4.1.0&amp;q=15&amp;auto=format&amp;w=600&amp;h=400&amp;fit=crop&amp;dpr=3 1800w, https://images.theconversation.com/files/608022/original/file-20240718-19-t7l7kp.jpg?ixlib=rb-4.1.0&amp;q=45&amp;auto=format&amp;w=754&amp;h=503&amp;fit=crop&amp;dpr=1 754w, https://images.theconversation.com/files/608022/original/file-20240718-19-t7l7kp.jpg?ixlib=rb-4.1.0&amp;q=30&amp;auto=format&amp;w=754&amp;h=503&amp;fit=crop&amp;dpr=2 1508w, https://images.theconversation.com/files/608022/original/file-20240718-19-t7l7kp.jpg?ixlib=rb-4.1.0&amp;q=15&amp;auto=format&amp;w=754&amp;h=503&amp;fit=crop&amp;dpr=3 2262w" sizes="(min-width: 1466px) 754px, (max-width: 599px) 100vw, (min-width: 600px) 600px, 237px"></a> <figcaption> <span class="caption">Proses mendapatkan bantuan profesional memerlukan waktu, usaha, dan psikolog yang sesuai. Jangan biarkan stigma kesehatan mental menjauhkan kita dari pertolongan yang seharusnya kita dapatkan.</span> <span class="attribution"><span class="source">(Shutterstock)</span></span> </figcaption> </figure> <p>Setiap orang memiliki cara tersendiri dalam menghadapi perasaan mereka.</p> <p>Di momen tertentu, sebagian orang mengalami <a href="https://www.nami.org/wp-content/uploads/2023/11/NAMI-Warning-Signs-FINAL.pdf">kenaikan berat badan, sebagian lainnya justru kebalikannya</a>. Ada pula yang melakukan mekanisme koping yang kurang sehat seperti menjalani hubungan toksik, melakukan aktivitas yang membahayakan nyawa, atau menumbuhkan kebiasaan menunda. </p> <p>Sebagian lain menarik diri dari teman atau keluarga. Ada pula yang secara tak sadar <a href="https://pubmed.ncbi.nlm.nih.gov/22468242">membesar-besarkan pengalaman kurang mengenakan</a> yang dirasakan.</p> <p>Entah apa pun bentuknya, <a href="https://namica.org/what-is-mental-illness/">gangguan mental</a> dapat semakin serius jika tak ditangani. Gangguan ini berdampak pada berbagai aspek kehidupan: menurunkan produktivitas kerja, merenggangkan hubungan, dan melemahkan kesehatan fisik. Dalam kasus tertentu, bahkan bisa berujung pada bunuh diri.</p> <p>Coba tanyakan pada diri sendiri: apakah saya merasakan beban mental yang memengaruhi keseharian dan kesejahteraan diri?</p> <p>Jika jawabannya iya, tak ada salahnya untuk berkonsultasi.</p> <h2>Bagaimana jika konsultasi tidak bermanfaat?</h2> <p>Sebagian orang berpikir bahwa masalah yang mereka hadapi tak seserius itu sampai butuh konsultasi ke psikolog.</p> <p>Namun, sebenarnya kita tak butuh alasan yang besar dan mendalam untuk konsultasi.</p> <p>Kita bisa berkonsultasi ke psikolog untuk mengenal diri kita lebih dalam. Bisa juga untuk melatih kemampuan tertentu, memperbaiki kualitas hubungan, atau meningkatkan produktivitas.</p> <p>Ada pula sebagian orang yang berkonsultasi untuk membantu mereka menggapai target tertentu atau mereka merasa hampa tanpa alasan.</p> <p>Apa pun alasannya, meski tak terkesan sebagai sebuah “masalah”, kita boleh berkonsultasi ke psikolog. Kita bisa berkonsultasi sekadar untuk membahas sesuatu tentang diri kita yang ingin kita eksplorasi.</p> <p>Konsultasi adalah sebuah proses. Efektivitasnya dipengaruhi oleh berbagai faktor mulai dari alokasi waktu sampai kecocokan dengan psikolog.</p> <hr> <p> <em> <strong> Baca juga: <a href="https://theconversation.com/ai-bisa-salah-diagnosis-dan-diskriminatif-konsultasi-kesehatan-mental-tetap-harus-ke-profesional-260094">AI bisa salah diagnosis dan diskriminatif: Konsultasi kesehatan mental tetap harus ke profesional</a> </strong> </em> </p> <hr> <p>Yang jelas, tak ada solusi instan untuk kesehatan mental. Perkembangan bisa memakan waktu beberapa minggu, bulan, bahkan tahun. Meski terkesan berat, berilah waktu untuk proses konsultasi bisa berdampak bagi kita.</p> <p>Sebagian orang berkonsultasi pada psikolog dengan perasaan skeptis atau tak terima. Hal ini perlu dihindari karena konsultasi tak akan membawa manfaat jika kita tidak benar-benar terlibat dalam prosesnya.</p> <p>Konsultasi psikologis merupakan proses penuh kerentanan. Maka dari itu, penting untuk menemukan psikolog yang dapat dipercaya dan sefrekuensi dengan kita. Psikolog juga memiliki berbagai spesialisasi dan pendekatan, jadi kita perlu memilih yang paling pas untuk kita.</p> <figure class="align-center zoomable"> <a href="https://images.theconversation.com/files/608021/original/file-20240718-19-pie6ae.jpg?ixlib=rb-4.1.0&amp;q=45&amp;auto=format&amp;w=1000&amp;fit=clip"><img alt="Seorang laki-laki duduk dan berbicara pada perempuan yang duduk di kursi yang bersebelahan" src="https://images.theconversation.com/files/608021/original/file-20240718-19-pie6ae.jpg?ixlib=rb-4.1.0&amp;q=45&amp;auto=format&amp;w=754&amp;fit=clip" srcset="https://images.theconversation.com/files/608021/original/file-20240718-19-pie6ae.jpg?ixlib=rb-4.1.0&amp;q=45&amp;auto=format&amp;w=600&amp;h=400&amp;fit=crop&amp;dpr=1 600w, https://images.theconversation.com/files/608021/original/file-20240718-19-pie6ae.jpg?ixlib=rb-4.1.0&amp;q=30&amp;auto=format&amp;w=600&amp;h=400&amp;fit=crop&amp;dpr=2 1200w, https://images.theconversation.com/files/608021/original/file-20240718-19-pie6ae.jpg?ixlib=rb-4.1.0&amp;q=15&amp;auto=format&amp;w=600&amp;h=400&amp;fit=crop&amp;dpr=3 1800w, https://images.theconversation.com/files/608021/original/file-20240718-19-pie6ae.jpg?ixlib=rb-4.1.0&amp;q=45&amp;auto=format&amp;w=754&amp;h=503&amp;fit=crop&amp;dpr=1 754w, https://images.theconversation.com/files/608021/original/file-20240718-19-pie6ae.jpg?ixlib=rb-4.1.0&amp;q=30&amp;auto=format&amp;w=754&amp;h=503&amp;fit=crop&amp;dpr=2 1508w, https://images.theconversation.com/files/608021/original/file-20240718-19-pie6ae.jpg?ixlib=rb-4.1.0&amp;q=15&amp;auto=format&amp;w=754&amp;h=503&amp;fit=crop&amp;dpr=3 2262w" sizes="(min-width: 1466px) 754px, (max-width: 599px) 100vw, (min-width: 600px) 600px, 237px"></a> <figcaption> <span class="caption">Kamu tak memerlukan alasan besar dan mendalam untuk pergi ke psikolog. Kamu bisa konsultasi dengan alasan sesederhana ingin mengeksplorasi atau mengubah sesuatu dari hidup kita.</span> <span class="attribution"><span class="source">(Shutterstock)</span></span> </figcaption> </figure> <h2>Bagaimana jika kita belum siap?</h2> <p>Terdapat beberapa alasan pula untuk menunda konsultasi psikologis.</p> <p>Mungkin kita belum memiliki dana yang cukup. Mungkin ada prioritas lain, atau kita takut harus membuka kembali trauma yang tersimpan. Semua alasan ini valid.</p> <p>Konsultasi pada tenaga profesional dapat memakan banyak biaya dan upaya. Namun, manfaatnya tetap ada. Mungkin sekarang belum waktunya, tetapi bukan berarti tak akan ada waktu yang tepat.</p> <p>Jika kita masih ragu untuk berkonsultasi pada psikolog, tidak masalah kok. Kita dapat menelusuri terlebih dahulu alasan kita enggan untuk melakukannya.</p> <p>Mungkin kita enggan konsultasi karena mengkhawatirkan pandangan orang lain. Jika begitu, ingat bahwa terkadang orang lain bisa <a href="https://www.camh.ca/en/driving-change/the-crisis-is-real/mental-health-statistics">sangat pengertian</a>, melebihi dari ekspektasi kita, dan tak ada salahnya untuk berinvestasi pada kesehatan dan kebahagiaan kita sendiri.</p> <p>Perlu diingat pula bahwa ketika kita merasa tidak baik-baik saja, kita tak sendirian. Isu kesehatan mental dirasakan oleh banyak orang. Memiliki masalah kesehatan mental atau berkonsultasi pada psikolog bukan berarti kita “gila”.</p> <p>Gangguan mental dialami oleh <a href="https://www.who.int/news-room/fact-sheets/detail/mental-disorders">970 juta orang</a> di dunia dan menjadi penyebab utama seseorang mengalami keterbatasan fungsi dalam kehidupan sehari-hari.</p> <hr> <p> <em> <strong> Baca juga: <a href="https://theconversation.com/1-dari-3-kaum-muda-rentan-kena-gangguan-mental-tapi-kenapa-sedikit-yang-ke-psikolog-255502">1 dari 3 kaum muda rentan kena gangguan mental, tapi kenapa sedikit yang ke psikolog?</a> </strong> </em> </p> <hr> <p><a href="https://www.camh.ca/en/driving-change/the-crisis-is-real/mental-health-statistics">Satu dari lima</a> <a href="https://www.nami.org/about-mental-illness/mental-health-by-the-numbers/">orang dewasa</a> dan lebih dari <a href="https://doi.org/10.1001/jamapsychiatry.2023.5051">satu dari sepuluh anak serta remaja</a> memiliki gangguan mental.</p> <p>Di Indonesia, satu dari tiga anak muda di Indonesia <a href="https://theconversation.com/1-dari-3-kaum-muda-rentan-kena-gangguan-mental-tapi-kenapa-sedikit-yang-ke-psikolog-255502">rentan mengalami gangguan mental</a>. Gangguan mental yang umum dirasakan adalah gangguan kecemasan, gangguan perhatian, hiperaktivitas, dan depresi.</p> <p>Jangan biarkan stigma akan kesehatan mental menghambat kita mengembangkan diri. Setiap orang berhak untuk sehat dan memiliki hidup yang bermakna. Konsultasi dapat membantu kita meraihnya.</p> <hr> <p><em>Kezia Kevina Harmoko berkontribusi dalam penerjemahan artikel ini.</em></p><img src="https://counter.theconversation.com/content/264492/count.gif" alt="The Conversation" width="1" height="1" /> <p class="fine-print"><em><span>Simon Sherry menerima dana dari Social Sciences and Humanities Research Council of Canada. Ia juga memiliki praktik psikologi bernama CRUX Psychology.</span></em></p> Konsultasi ke psikolog terkadang membutuhkan banyak pertimbangan. Tanyakan pada diri sendiri apa kebutuhan kita. Simon Sherry, Clinical Psychologist and Professor in the Department of Psychology and Neuroscience, Dalhousie University Licensed as Creative Commons – attribution, no derivatives. tag:theconversation.com,2011:article/264263 2025-09-08T09:43:18Z 2025-09-08T09:43:18Z Gejala chikungunya sulit dikenali: Seberapa siap sistem kesehatan kita? <blockquote> <p>● Suspek chikungunya di Indonesia pada 2025 meningkat drastis menjadi lebih dari 14 ribu kasus.</p> <p>● Chikungunya merebak karena kombinasi perubahan iklim hingga berkembangnya kemampuan adaptasi virus.</p> <p>● Kapasitas diagnostik dan surveilans chikungunya masih jadi PR besar sistem kesehatan Indonesia.</p> </blockquote> <hr> <p>Wabah chikungunya melanda <a href="https://cdn.who.int/media/docs/default-source/documents/epp/ezh/chikungunya-epidemiology-update_11june2025.pdf">119 negara</a>, termasuk Indonesia. Hingga Juli 2025, Pusat Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Eropa (ECDC) melaporkan sekitar <a href="https://www.ecdc.europa.eu/en/chikungunya-monthly">240 ribu kasus chikungunya</a> dengan 90 kematian di 16 negara dunia.</p> <p>Chikungunya merupakan penyakit yang disebabkan oleh <a href="https://pubmed.ncbi.nlm.nih.gov/30599050/">infeksi virus chikungunya (CHIKV)</a>. Virus ini ditularkan melalui gigitan nyamuk <em>Aedes aegypti</em> (yang lebih dikenal sebagai nyamuk penyebab demam berdarah) dan <em>Aedes Albopictus</em>. </p> <p>Di Indonesia sendiri, pada 2023, terdapat <a href="https://kemkes.go.id/id/profil-kesehatan-indonesia-2023">6.049 kasus chikungunya</a> yang dilaporkan oleh Kementerian Kesehatan (Kemenkes), dengan Nusa Tenggara Barat (NTB) mencatat jumlah tertinggi sebanyak 1.552 kasus.</p> <p>Kendati laporan kematian sepanjang tahun ini belum ditemukan, Indonesia mencatatkan peningkatan drastis kasus suspek chikungunya (individu bergejala/kontak dekat dengan pengidap, tapi belum menjalani pemeriksaan) dibandingkan dua tahun sebelumnya. </p> <p>Hingga Agustus tahun ini, kasus suspek chikungunya tertinggi di empat provinsi sudah mencapai lebih dari 14 ribu. Suspek terbanyak di Jawa Barat bahkan mencapai <a href="https://www.cnnindonesia.com/gaya-hidup/20250813160243-255-1262050/kemenkes-imbau-waspada-chikungunya-jabar-paling-tinggi">6.674 kasus</a>.</p> <p>Peningkatan kasus chikungunya menjadi alarm bagi pemerintah untuk segera mencegah wabah agar tidak meluas dan menyebabkan korban jiwa. Pertanyaannya, seberapa siap sistem kesehatan kita menghadapi wabah chikungunya?</p> <h2>Jangan anggap remeh chikungunya</h2> <p>Infeksi chikungunya umumnya memicu gejala berupa demam, ruam kemerahan, hingga nyeri otot dan sendi mendadak yang dapat melumpuhkan. </p> <p>Gejalanya muncul sekitar 4 - 8 hari setelah tergigit nyamuk pembawa virus. Biasanya orang dengan chikungunya bisa pulih selama 1 - 2 minggu. </p> <p>Pada beberapa kasus, infeksi CHIKV tidak menimbulkan gejala apa pun. </p> <hr> <p> <em> <strong> Baca juga: <a href="https://theconversation.com/bagaimana-suhu-dan-polusi-yang-lebih-tinggi-mempengaruhi-nyamuk-penular-malaria-203919">Bagaimana suhu dan polusi yang lebih tinggi mempengaruhi nyamuk penular malaria</a> </strong> </em> </p> <hr> <p>Meskipun jarang berakibat fatal hingga menyebabkan kematian, dampak chikungunya tidak boleh dianggap remeh. Sebagian orang bisa mengalami nyeri sendi <a href="https://pubmed.ncbi.nlm.nih.gov/26601450">selama berbulan-bulan bahkan tahunan</a> setelah demam chikungunya mereda. Kondisi ini dikenal masyarakat sebagai flu tulang atau demam tulang.</p> <p>Pada kasus yang jarang terjadi, penyakit chikungunya bisa menyebabkan komplikasi berupa gangguan retina yang berujung <a href="https://pmc.ncbi.nlm.nih.gov/articles/PMC9028588/">hilangnya penglihatan</a>.</p> <h2>Bagaimana wabah chikungunya merebak?</h2> <p>Wabah chikungunya merebak karena kombinasi faktor lingkungan dan kemampuan virus beradaptasi secara efisien. </p> <p>Salah satu pendorong utamanya adalah eksistensi nyamuk Aedes yang tersebar luas, setelah berkembang biak pada genangan air bersih di pemukiman.</p> <p>Perubahan iklim juga memperluas jangkauan geografis nyamuk penular chikungunya. Penelitian tahun 2024 oleh Lake Forest College, mengungkapkan banyak kasus chikungunya baru ditemukan di <a href="https://www.lakeforest.edu/Public/Eukaryon/volume_20/048_Megan%20Tanquilut.pdf">wilayah lebih sejuk</a>. </p> <p>Menurut Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), <a href="https://cdn.who.int/media/docs/default-source/documents/epp/ezh/chikungunya-epidemiology-update_11june2025.pdf">evolusi virus</a> juga memegang peranan kunci dalam penyebaran chikungunya global.</p> <p>Penularan penyakit ini kemudian dipercepat oleh <a href="https://www.sciencedirect.com/science/article/abs/pii/S0001706X2500227X">tingginya mobilitas manusia</a> dan kemudahan perjalanan internasional. Faktor ini menjadi jalan pintas penyebaran virus ke area-area baru. </p> <p>Selain itu, studi tahun 2025 dalam <em>Acta Tropica</em> menemukan wabah chikungunya merebak akibat <a href="https://www.sciencedirect.com/science/article/abs/pii/S0001706X2500227X">masifnya urbanisasi</a> yang tidak terencana. Kondisi ini menciptakan lingkungan yang padat penduduk disertai sanitasi yang tidak memadai. </p> <p>Pesatnya perkembangbiakan nyamuk penular chikungunya maupun manusia menjadi kombinasi sempurna merebaknya wabah virus secara eksplosif.</p> <h2>Gejala chikungunya sulit dikenali</h2> <p>Kapasitas diagnostik dan surveilans merupakan tantangan utama sistem kesehatan Indonesia dalam memahami besaran masalah chikungunya yang sebenarnya.</p> <p>Chikungunya sering kali didiagnosis sebagai demam berdarah atau penyakit lain, seperti demam tipes (tifoid) dan leptospirosis. Bahkan nyeri sendi yang dialami pasien chikungunya pun tidak dapat menjadi pembeda yang jelas. </p> <p>Hasil uji laboratorium <a href="https://health-policy-systems.biomedcentral.com/articles/10.1186/s12961-015-0024-9">INA-RESPOND</a>, mengungkapkan bahwa <a href="https://journals.plos.org/plosntds/article?id=10.1371/journal.pntd.0008355">40 dari 1.089 sampel darah pasien terkonfirmasi positif chikungunya</a> mulanya menerima diagnosis keliru dari tenaga kesehatan. </p> <p>Situasi ini menunjukkan bahwa alat penunjang diagnostik yang memadai sangat diperlukan. Ketidakakuratan pelaporan kasus berisiko menghambat perencanaan dan alokasi sumber daya kesehatan dalam meredam kasus chikungunya.</p> <p>Meski kendala diagnostik tidak dapat dihindarkan, pemerintah telah berupaya menjalankan mekanisme respons. Salah satunya melalui penyusunan dokumen <a href="https://repository.kemkes.go.id/book/1342">Pedoman Pencegahan dan Pengendalian Demam Chikungunya di Indonesia</a> sebagai acuan teknis di lapangan. </p> <p>Peningkatan kapasitas tenaga kesehatan melalui sosialisasi dan webinar juga dilakukan sebagai upaya mendeteksi dini, tata laksana, serta <a href="https://lms.kemkes.go.id/courses/5d2590ce-5627-4c66-928a-991444ed17b4">surveilans chikungunya</a>.</p> <hr> <p> <em> <strong> Baca juga: <a href="https://theconversation.com/sulitnya-memberantas-malaria-di-tanah-papua-apa-masalahnya-254933">Sulitnya memberantas malaria di Tanah Papua, apa masalahnya?</a> </strong> </em> </p> <hr> <p>Lalu, bagaimana dengan pengobatan chikungunya?</p> <p>Hingga saat ini <a href="https://www.sciencedirect.com/science/article/pii/S0264410X24011654">belum ada antivirus khusus</a> untuk mengobati infeksi virus chikungunya. </p> <p>Selain dianggap sebagai <a href="https://www.siloamhospitals.com/informasi-siloam/artikel/apa-itu-chikungunya">penyakit yang akan hilang dengan sendirinya</a>, penanganan chikungunya sejauh ini adalah dengan menghilangkan gejalanya disertai <a href="https://ayosehat.kemkes.go.id/gejala-dan-pencegahan-chikungunya">pemberian obat-obatan pereda nyeri sendi</a>.</p> <h2>Upaya pemerintah mengejar ketertinggalan</h2> <p>Pemerintah Indonesia perlu menyusun strategi yang menyeluruh serta proaktif, guna mengejar ketertinggalan dalam pengendalian chikungunya. </p> <p>Pemerintah perlu mengembangkan sistem surveilans epidemiologi berupa data kasus yang terintegrasi secara <em>real-time</em>, dari level puskesmas hingga pusat. Cara ini diharapkan bisa menjadi sistem peringatan dini yang aktif bukan hanya sekadar pencatatan pasif. </p> <p>Selain itu, pemerintah perlu berinvestasi dalam meningkatkan akses dan kapasitas tes diagnostik. Tujuannya agar bisa membedakan chikungunya dengan penyakit lainnya, baik di tingkat puskesmas maupun laboratorium kabupaten/kota. </p> <p>Kemajuan teknologi penginderaan jarak jauh dan kecerdasan buatan (AI) dapat dimanfaatkan pula untuk mendeteksi wilayah dan waktu yang rentan terhadap penularan chikungunya, sehingga surveilans dan pencegahan bisa lebih terarah.</p> <hr> <p> <em> <strong> Baca juga: <a href="https://theconversation.com/wolbachia-pelengkap-pengendalian-dbd-dua-misinformasi-perlu-diluruskan-221322">Wolbachia pelengkap pengendalian DBD: dua misinformasi perlu diluruskan</a> </strong> </em> </p> <hr> <p>Pemerintah juga perlu melibatkan masyarakat (terutama di wilayah dengan risiko penularan tinggi) agar berpartisipasi aktif menerapkan program <a href="https://ayosehat.kemkes.go.id/pemberantasan-sarang-nyamuk-dengan-3m-plus">Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN) 3M</a> secara berkesinambungan. </p> <p>Caranya dengan menguras tempat penampungan air, menutup rapat tempat penyimpanan air, serta mendaur ulang barang bekas yang menampung air.</p> <p>Keterlibatan masyarakat dapat ditingkatkan melalui edukasi hingga lingkungan rukun warga (RW) mengenai risiko dan cara penularan, serta dampak jangka panjang penyakit chikungunya. </p> <p>Lebih dari itu, kerja sama riset untuk adopsi inovasi pengendalian nyamuk penular akan menjadi pintu gerbang dalam upaya pemerintah mengejar ketertinggalan. </p> <p>Contohnya, pemanfaatan <a href="https://tdr.who.int/activities/vector-borne-diseases-and-the-environment-(southeast-asia)">teknologi Wolbachia</a>, yaitu bakteri yang dimasukkan ke dalam tubuh nyamuk Aedes untuk <a href="https://www.alodokter.com/nyamuk-wolbachia-teknologi-pengendalian-demam-berdarah">melumpuhkan virus chikungunya</a>.</p> <p>Kerja sama lintas sektor antara pemerintah dengan ilmuwan lintas disiplin menjadi kunci dalam memperkuat kapasitas diagnostik, surveilans, pemetaan risiko, serta inovasi penanggulangan penularan chikungunya di masa yang akan datang.</p> <hr> <iframe src="https://tally.so/r/n98jvX?alignLeft=1&amp;hideTitle=1&amp;transparentBackground=1&amp;dynamicHeight=1" width="100%" height="321" frameborder="0" marginheight="0" marginwidth="0" title="Survey Form"> </iframe><img src="https://counter.theconversation.com/content/264263/count.gif" alt="The Conversation" width="1" height="1" /> <p class="fine-print"><em><span>Para penulis tidak bekerja, menjadi konsultan, memiliki saham atau menerima dana dari perusahaan atau organisasi mana pun yang akan mengambil untung dari artikel ini, dan telah mengungkapkan bahwa ia tidak memiliki afiliasi di luar afiliasi akademis yang telah disebut di atas.</span></em></p> Kapasitas diagnostik dan surveilans chikungunya masih jadi PR besar sistem kesehatan Indonesia. Apa yang harus dilakukan pemerintah? Alfa Nugraha Pradana, PhD Student in Public Health, Monash University Henry Surendra, Associate Professor of Public Health, Monash University Licensed as Creative Commons – attribution, no derivatives. tag:theconversation.com,2011:article/262331 2025-09-07T02:02:06Z 2025-09-07T02:02:06Z Perlukah pasangan mengetahui fantasi seksual kita? <figure><img src="https://images.theconversation.com/files/683393/original/file-20250801-56-nar9ws.jpg?ixlib=rb-4.1.0&amp;rect=16%2C0%2C5984%2C3987&amp;q=45&amp;auto=format&amp;w=1050&amp;h=700&amp;fit=crop" /><figcaption><span class="caption"></span> <span class="attribution"><a class="source" href="https://www.shutterstock.com/image-photo/young-couple-spending-time-their-beautiful-2259846523">oneinchpunch/Shuttershock</a></span></figcaption></figure><p>Aktor serial <em>X-Files</em> Gillian Anderson, baru saja merilis buku tentang fantasi seksual. Buku berjudul <a href="https://www.nytimes.com/2024/09/19/books/review/gillian-anderson-by-the-book-want.html"><em>Want</em></a> tersebut merangkum berbagai fantasi seksual para perempuan dari seluruh dunia.</p> <p>Anderson bukanlah penulis yang pertama kali mengeksplorasi topik tersebut. </p> <p>Pada tahun 1973, penulis asal Amerika Serikat Nancy Friday merilis buku berjudul <em><a href="https://www.theguardian.com/lifeandstyle/2023/feb/01/the-fantasies-are-vivid-even-lush-the-radical-sexuality-of-nancy-fridays-my-secret-garden">My Secret Garden</a></em>. Setiap cerita dalam buku ini menyajikan potret menarik soal hubungan perempuan dengan seksualitas mereka dari zaman ke zaman.</p> <p>Buku karya Nancy sempat memicu kontroversi pada masanya, tetapi kini dianggap berperan penting dalam mendorong pandangan yang lebih terbuka dan sehat terhadap seksualitas.</p> <p>Meski cara pandang, penggunaan bahasa, serta bentuk fantasi seksual antara zaman dulu dan sekarang banyak berubah, kedua buku tersebut memiliki beberapa kesamaan.</p> <p>Kesamaan pertama: fantasi bertema hubungan asmara di dunia kerja masih punya daya tarik yang tak lekang oleh waktu. Kesamaan kedua: perempuan masih cenderung malu akan fantasi seksualnya sendiri.</p> <p>Riset terdahulu menemukan bahwa mayoritas orang dewasa (tanpa memandang gender) <a href="https://www.sciencedirect.com/science/article/abs/pii/0191886987900195">memiliki fantasi seksual</a>. Temuan ini juga mengindikasikan banyak orang yang bimbang menceritakan fantasi seks mereka kepada pasangan.</p> <p>Selama empat tahun terakhir, kami meneliti apa saja yang memengaruhi keputusan seseorang dalam mengungkapkan fantasi seksual mereka—dan seperti apa reaksi yang mereka terima.</p> <h2>Berbagai fantasi mempererat hubungan</h2> <p>Para perempuan yang muncul di buku <em>My Secret Garden</em> dan <em>Want</em> punya sikap berbeda soal fantasi seksual mereka. </p> <p>Bagi mereka yang terbuka soal fantasi seks, keterbukaan membuat hubungan mereka semakin bergairah. Namun, ada juga yang memilih menyimpannya rapat-rapat.</p> <p>Kami mencari tahu penyebab perbedaan tersebut lewat penelitian yang dirilis tahun 2025 dalam <a href="https://www.tandfonline.com/doi/abs/10.1080/00224499.2024.2310085">Journal of Sex Research</a>. Kami meminta 287 orang untuk merefleksikan fantasi seksual baru-baru ini ataupun yang sudah lama mereka miliki.</p> <p>Kami menemukan bahwa lebih dari 69% partisipan pernah mengungkapkan fantasi seksual mereka kepada pasangan. Lebih dari 80% di antara mereka, mendapatkan pengalaman positif karena keterbukaan tersebut.</p> <p>Alasan utama para peserta mengungkapkan fantasi seksual mereka adalah demi memenuhi hasrat seksual. Misalnya, banyak partisipan berharap dengan saling berbagi fantasi seks, mereka bisa mewujudkannya bersama pasangan.</p> <p>Sebagian lainnya merasa berbincang tentang fantasi seksual menjadi momen yang menggairahkan. Ada pula yang merasa bahwa berbagi hasrat tersembunyi membantu mereka lebih memahami satu sama lain.</p> <p>Beberapa pasangan mengaku merasa aman berbagi fantasi seks, karena punya komitmen yang tinggi, serta sangat menghargai kejujuran, keterbukaan, dan kepercayaan di antara mereka.</p> <p>Meski begitu, ada pula yang membagikan fantasi seks sebagai upaya terakhir dalam menyelamatkan kehidupan seksual mereka yang tak memuaskan.</p> <h2>Merasa malu bikin enggan berbagi</h2> <figure class="align-right zoomable"> <a href="https://images.theconversation.com/files/621364/original/file-20240924-17-wom268.jpg?ixlib=rb-4.1.0&amp;q=45&amp;auto=format&amp;w=1000&amp;fit=clip"><img alt="Gillian Anderson, penulis buku _Want_." src="https://images.theconversation.com/files/621364/original/file-20240924-17-wom268.jpg?ixlib=rb-4.1.0&amp;q=45&amp;auto=format&amp;w=237&amp;fit=clip" srcset="https://images.theconversation.com/files/621364/original/file-20240924-17-wom268.jpg?ixlib=rb-4.1.0&amp;q=45&amp;auto=format&amp;w=600&amp;h=767&amp;fit=crop&amp;dpr=1 600w, https://images.theconversation.com/files/621364/original/file-20240924-17-wom268.jpg?ixlib=rb-4.1.0&amp;q=30&amp;auto=format&amp;w=600&amp;h=767&amp;fit=crop&amp;dpr=2 1200w, https://images.theconversation.com/files/621364/original/file-20240924-17-wom268.jpg?ixlib=rb-4.1.0&amp;q=15&amp;auto=format&amp;w=600&amp;h=767&amp;fit=crop&amp;dpr=3 1800w, https://images.theconversation.com/files/621364/original/file-20240924-17-wom268.jpg?ixlib=rb-4.1.0&amp;q=45&amp;auto=format&amp;w=754&amp;h=964&amp;fit=crop&amp;dpr=1 754w, https://images.theconversation.com/files/621364/original/file-20240924-17-wom268.jpg?ixlib=rb-4.1.0&amp;q=30&amp;auto=format&amp;w=754&amp;h=964&amp;fit=crop&amp;dpr=2 1508w, https://images.theconversation.com/files/621364/original/file-20240924-17-wom268.jpg?ixlib=rb-4.1.0&amp;q=15&amp;auto=format&amp;w=754&amp;h=964&amp;fit=crop&amp;dpr=3 2262w" sizes="(min-width: 1466px) 754px, (max-width: 599px) 100vw, (min-width: 600px) 600px, 237px"></a> <figcaption> <span class="caption">Gillian Anderson, penulis buku <em>Want</em>.</span> <span class="attribution"><span class="source">wikipedia</span>, <a class="license" href="http://creativecommons.org/licenses/by-sa/4.0/">CC BY-SA</a></span> </figcaption> </figure> <p>Alasan utama kelompok peserta lain enggan menceritakan fantasi seksual mereka adalah karena merasa topiknya sangat tabu. Sesuai kisah di buku <em>My Secret Garden</em> maupun <em>Want</em>, beberapa partisipan malu dengan fantasi mereka karena merasa terlalu ekstrem dan tak pantas untuk diceritakan ke pasangan.</p> <p>Beberapa orang—terutama yang pasangannya tidak merespons positif percakapan soal topik serupa sebelumnya—khawatir menerima reaksi yang dapat mengganggu hubungan mereka.</p> <p>Kami juga menemukan bahwa sebagian individu merasa fantasi seksual adalah kenikmatan personal yang tak ingin mereka diskusikan kepada siapa pun.</p> <p>Kami mencari tahu lebih jauh persoalan ini dalam penelitian lanjutan yang masih dalam proses publikasi. Kami menemukan bahwa karakter hubungan menjadi faktor utama yang memengaruhi keputusan seseorang dalam membagikan fantasi seksual mereka.</p> <p>Pasangan yang gemar mengeksplorasi seks cenderung lebih terbuka soal fantasi seksual.</p> <p>Selain itu, bentuk fantasi seksual turut memengaruhi keputusan seseorang dalam membagikannya. Seseorang cenderung tak menceritakannya, ketika merasa fantasi seks mereka tak bisa diterima oleh pasangan atau berpotensi merusak hubungan (misalnya keluar dari monogami).</p> <p>Bahkan bagi seseorang yang pernah membagikan fantasi mereka, sebenarnya mereka masih memiliki setidaknya satu fantasi lain yang tak ingin diungkapkan.</p> <p>Meski kami menemukan bahwa mayoritas orang-orang yang membagikan fantasi seksual mereka mendapat reaksi positif, tetapi proses menuju keputusan itu bisa sangat rumit. Sebagian orang juga punya alasan kuat untuk tetap menyembunyikan fantasi mereka.</p> <p>Semoga kehadiran buku seperti <em>Want</em> bisa mengurangi rasa malu yang dirasakan seseorang dalam membagikan fantasi seksual mereka. Namun, melihat kemiripannya dengan buku yang terbit 50 tahun lalu, pemahaman dan keterbukaan kita soal seksualitas agaknya masih sangat panjang.</p> <hr> <p><em>Kezia Kevina Harmoko, mahasiswa Universitas Ciputra berkontribusi dalam penerjemahan artikel ini.</em></p><img src="https://counter.theconversation.com/content/262331/count.gif" alt="The Conversation" width="1" height="1" /> <p class="fine-print"><em><span>Para penulis tidak bekerja, menjadi konsultan, memiliki saham atau menerima dana dari perusahaan atau organisasi mana pun yang akan mengambil untung dari artikel ini, dan telah mengungkapkan bahwa ia tidak memiliki afiliasi di luar afiliasi akademis yang telah disebut di atas.</span></em></p> Perempuan masih merasa malu akan fantasi seksual mereka sendiri meski zaman terus berkembang. Matt Kimberley, Assistant Lecturer in Psychology, Birmingham City University Jade Elliott, Senior Lecturer in Psychology, Liverpool John Moores University Samuel Jones, Lecturer in Applied Cognitive Psychology, The Open University Licensed as Creative Commons – attribution, no derivatives. tag:theconversation.com,2011:article/261009 2025-07-18T01:44:49Z 2025-07-18T01:44:49Z Seberapa dalam vagina kita: Apakah usia dan seks bisa pengaruhi ukurannya? <figure><img src="https://images.theconversation.com/files/679513/original/file-20250611-56-po6swq.jpg?ixlib=rb-4.1.0&amp;rect=5%2C0%2C4892%2C3261&amp;q=45&amp;auto=format&amp;w=1050&amp;h=700&amp;fit=crop" /><figcaption><span class="caption"></span> <span class="attribution"><a class="source" href="https://www.gettyimages.com.au/detail/photo/stone-arch-royalty-free-image/1129957973?phrase=archway%20leading%20down&amp;searchscope=image%2Cfilm">Jarrod Simpson/Getty</a></span></figcaption></figure><p><a href="https://www.jeanhailes.org.au/health-a-z/vulva-vagina/about-the-vulva-and-vagina">Vagina</a> merupakan saluran otot elastis yang menghubungkan alat kelamin luar (vulva) dengan pintu masuk menuju rahim (serviks). </p> <p>Namun, karena tampilannya hampir tak terlihat dari luar, kita mungkin bertanya-tanya mengenai seberapa dalam vagina dan seperti apa ukurannya yang ideal.</p> <p>Pertanyaan ini sering kali diajukan kepada Melissa Kang—rekan penulis yang juga ahli kesehatan remaja—selama lebih dari 20 tahun mengampu kolom tanya jawab medis “Dolly Doctor” di majalah anak muda Australia, Dolly. </p> <p>Beberapa remaja menanyakan soal ukuran vagina karena punya pengalaman kesulitan atau sakit saat memasukkan alat penampung darah haid, seperti tampon ataupun <em>menstrual cup</em>.</p> <p>Menariknya, vagina merupakan bagian tubuh yang sangat adaptif dan kedalamannya bisa berubah sepanjang hidup (bahkan dalam hitungan bulan) akibat perubahan hormon maupun rangsangan seksual.</p> <h2>Kedalaman vagina berbeda di tiap usia</h2> <p>Sebelum masa pubertas, <a href="https://www.sciencedirect.com/science/article/pii/S1083318814002113#bib8">kedalaman vagina</a> umumnya berkisar antara 5,5 - 8 sentimeter (cm).</p> <p>Selama masa pubertas (biasanya usia 8-13 tahun), panjang dan lapisan dalam (mukosa) vagina bisa berubah akibat perubahan hormon. Peningkatan kadar hormon estrogen (baik saat pubertas dan menopause) menyebabkan lapisan dalam vagina menebal dan melembut. </p> <p>Kondisi tersebut membuat vagina tetap lembap dan responsif terhadap rangsangan seksual.</p> <p>Adapun saat dewasa, vagina umumnya berukuran antara <a href="https://www.sciencedirect.com/science/article/pii/S1083318814002113#bib8">6,5 - 12,5 cm</a>. Setiap orang bisa memiliki ukuran vagina yang berbeda-beda dan dapat berubah seiring waktu.</p> <h2>Kondisi lain yang pengaruhi kedalaman vagina</h2> <p>Saat <a href="https://www.plannedparenthood.org/blog/cervical-health-101-exploring-your-cervix-for-health-and-pleasure">menstruasi</a>, serviks (leher rahim) berada di posisi lebih rendah sehingga saluran vagina jadi lebih dangkal. Setelah menstruasi selesai, serviks akan kembali terangkat dan menempati posisi tertinggi saat ovulasi (sel telur matang keluar dari indung telur dan siap dibuahi sperma).</p> <p>Kedalaman vagina juga dipengaruhi fase reproduksi lainnya. Misalnya, saat <a href="https://www.isuog.org/clinical-resources/patient-information-series/patient-information-pregnancy-conditions/early-pregnancy/cervix-in-early-pregnancy.html">kehamilan</a>, serviks berada di posisi atas sehingga vagina menjadi lebih dalam.</p> <p>Prolaps (penurunan) organ panggul alias turun berok juga bisa membuat vagina lebih dangkal. Kondisi ini terjadi ketika <a href="https://www.thewomens.org.au/health-information/vaginal-prolapse">bagian dasar panggul melemah</a>, serta rahim atau kandung kemih menonjol ke dalam vagina sehingga menimbulkan rasa nyeri.</p> <p>Sebelum persalinan, sejumlah kondisi langka dapat memengaruhi perkembangan vagina. Misalnya, <a href="https://pmc.ncbi.nlm.nih.gov/articles/PMC11763213/">atresia vagina</a> yang menyebabkan vagina tidak terbentuk sempurna.</p> <hr> <p> <em> <strong> Baca juga: <a href="https://theconversation.com/what-is-pelvic-organ-prolapse-and-how-is-it-treated-239199">What is pelvic organ prolapse and how is it treated?</a> </strong> </em> </p> <hr> <p>Sementara itu, saat kita mulai mengalami <a href="https://asmedigitalcollection.asme.org/biomechanical/article/146/6/060903/1166188/The-Effect-of-Menopause-on-Vaginal-Tissue">menopause</a>, berkurangnya kelembapan karena vagina kering membuat saluran vagina lebih dangkal.</p> <h2>Apakah seks pengaruhi kedalaman vagina?</h2> <p><a href="https://www.nature.com/articles/3901428">Seks</a> berpengaruh signifikan terhadap kedalaman vagina. Rangsangan seksual menyebabkan vagina menjadi lebih dalam, serta mendorong serviks lebih jauh dari lubang vagina. Kondisi ini memungkinkan terjadinya penetrasi seksual.</p> <p>Meskipun vagina menjadi lebih dalam saat berhubungan intim, serviks tetap berpotensi tersentuh oleh jari, penis, ataupun mainan seks. Sebagian orang merasa <a href="https://www.plannedparenthood.org/blog/cervical-health-101-exploring-your-cervix-for-health-and-pleasure">stimulasi serviks</a> ini menyakitkan, tetapi ada juga yang menikmatinya.</p> <p>Sensasi berhubungan seksual pun dapat berubah seiring dengan siklus menstruasi. </p> <p>Ketika kita sedang menstruasi, serviks berada di posisi lebih rendah. Potensi menyentuh serviks saat seks menjadi lebih besar, terutama pada beberapa posisi seks.</p> <p>Menyentuh serviks saat seks umumnya tidak berbahaya. Meski begitu, hubungan seks yang agresif dapat menyebabkan <a href="https://www.plannedparenthood.org/blog/cervical-health-101-exploring-your-cervix-for-health-and-pleasure">pembengkakan</a> serviks. Kondisi ini tidak berbahaya dan bisa sembuh dengan sendirinya.</p> <p>Karena itu, komunikasikan hubungan seksual secara terbuka dengan pasangan, guna memahami dan menyesuaikan kebutuhan satu sama lain.</p> <h2>Cara mengukur kedalaman vagina</h2> <p>Mengetahui kedalaman vagina dan posisi serviks kita dapat membawa beberapa manfaat.</p> <p>Misalnya, jika kita ingin menggunakan tampon ataupun <em>menstrual cup</em>, kita perlu mengetahui kedalaman vagina untuk memilih ukuran produk yang pas. Jika kita memiliki saluran vagina lebih dangkal, maka kita dapat memilih ukuran yang lebih kecil.</p> <p>Faktor lain (seperti usia dan volume darah menstruasi) juga memengaruhi pemilihan alat penampung darah haid yang tepat buat kita.</p> <p>Nah, untuk mengukur kedalaman vagina, caranya dengan mengetahui posisi serviks. Waktu pengukuran paling tepat adalah saat menstruasi, karena saluran vagina lebih dangkal.</p> <p>Pertama-tama, cuci tangan dengan air dan sabun. Posisikan diri dengan nyaman, misalnya duduk, jongkok, atau menempatkan salah satu kaki di kursi. Kemudian, masukkan jari ke dalam vagina dengan arah ke atas dan ke belakang.</p> <p>Area vagina akan terasa lembut dan lentur. Area serviks akan terasa lebih padat karena os serviks (lubang serviks di tengah seperti donat mini).</p> <p>Jika kamu merasa harus meregangkan tubuh untuk bisa menjangkau serviks, maka pilihlah tampon atau <em>menstrual cup</em> berukuran lebih panjang. Jika kamu tidak perlu memasukkan seluruh jari, kemungkinan posisi serviks berada lebih dangkal sehingga kamu mungkin akan lebih nyaman pakai alat penampung darah haid berukuran lebih kecil.</p> <p>Perlu diingat, ini hanyalah gambaran umum soal cara mengukur kedalaman vagina dan posisi serviks kita, yang ukuran dan letaknya bisa berubah dari waktu ke waktu (bahkan mungkin berbeda keesokan harinya).</p> <hr> <p> <em> <strong> Baca juga: <a href="https://theconversation.com/menstrual-cups-are-safe-and-sustainable-but-they-can-be-tricky-for-first-time-users-our-new-study-shows-246045">Menstrual cups are safe and sustainable – but they can be tricky for first-time users, our new study shows</a> </strong> </em> </p> <hr> <h2>Seberapa penting mengetahui kedalaman vagina?</h2> <p>Setiap bagian tubuh kita memiliki keunikan tersendiri, begitu pun dengan vagina yang bisa berbeda-beda kedalamannya pada setiap orang. Namun, vagina yang “dalam” atau “dangkal” tidak menimbulkan perbedaan yang signifikan.</p> <p><a href="https://pmc.ncbi.nlm.nih.gov/articles/PMC2893226/">Sebuah studi tahun 2009</a> dengan subjek perempuan di atas 40 tahun menemukan bahwa kedalaman vagina tidak memengaruhi fungsinya maupun aktivitas seksual kita.</p> <p>Vagina adalah bagian tubuh yang sangat elastis karena bisa meregang dan menyesuaikan ukuran guna mengakomodasi berbagai kebutuhan, hingga akhirnya kembali ke bentuknya semula. </p> <p>Meski begitu, diskusikan dengan dokter jika kamu mengalami beberapa gejala yang mengganggu vagina, seperti rasa sakit saat melakukan hubungan seks, kesulitan menggunakan tampon atau <em>menstrual cup</em>, maupun turun berok.</p> <hr> <p><em>Kezia Kevina Harmoko, mahasiswa Universitas Ciputra berkontribusi dalam penerjemahan artikel ini.</em></p><img src="https://counter.theconversation.com/content/261009/count.gif" alt="The Conversation" width="1" height="1" /> <p class="fine-print"><em><span>Melissa Kang terafiliasi dengan Australian Association for Adolescent Health dan International Association for Adolescent Health. Ia adalah penulis kesehatan untuk kolom Dolly Doctor di majalah Dolly pada tahun 1993-2016.</span></em></p><p class="fine-print"><em><span>Keersten Fitzgerald tidak bekerja, menjadi konsultan, memiliki saham, atau menerima dana dari perusahaan atau organisasi mana pun yang akan mengambil untung dari artikel ini, dan telah mengungkapkan bahwa ia tidak memiliki afiliasi selain yang telah disebut di atas.</span></em></p> Kedalaman vagina bisa berubah-ubah karena dipengaruhi usia, perubahan hormon, hingga aktivitas seksual. Keersten Fitzgerald, Lecturer in General Practice, University of Sydney Melissa Kang, Professor of Adolescent Health, Co-Head of the General Practice Clinical School, University of Sydney Licensed as Creative Commons – attribution, no derivatives. tag:theconversation.com,2011:article/260301 2025-07-04T02:02:21Z 2025-07-04T02:02:21Z Air galon isi ulang rentan tercemar bakteri dan mikroplastik: Masihkah layak minum? <blockquote> <p>● Penelitian terbaru menunjukkan air galon isi ulang rentan tercemar bakteri dan mikroplastik.</p> <p>● Sumber kontaminasi diduga berasal dari tidak higienisnya tangki penyimpanan air hingga cara mencuci galon.</p> <p>● Pencemaran ini bisa menimbulkan dampak kesehatan, salah satunya diare.</p> </blockquote> <hr> <p>Di tengah kebutuhan akan air minum yang praktis dan terjangkau, banyak rumah tangga di perkotaan menjadikan depot air minum isi ulang sebagai pilihan utama. </p> <p>Badan Pusat Statistik (BPS) pada tahun 2023 memperkirakan sekitar <a href="https://www.bps.go.id/id/statistics-table/3/YzBaMlduSlFVbTVrUnpWeU9YRTJka0pVTTFkU1FUMDkjMw==/distribusi-persentase-rumah-tangga-menurut-provinsi-dan-sumber-air-minum--2020.html?year=2023">40% rumah tangga di Indonesia</a> menggunakan air kemasan sebagai sumber air minum utama. Konsumsi air isi ulang <a href="https://theconversation.com/riset-prediksi-separuh-penduduk-indonesia-minum-air-kemasan-pada-2026-tapi-berisiko-tercemar-tinja-dan-mikroplastik-193308">tiga kali lebih tinggi</a> dibandingkan dengan air kemasan bermerek.</p> <p>Air isi ulang menjadi primadona, terutama bagi masyarakat ekonomi menengah ke bawah, karena harganya lebih ekonomis. <a href="https://airminumbiru.com/terkini/biru-tambah-gerai-di-jogjakarta">Di Kota Yogyakarta</a>, misalnya, satu galon air berkisar Rp5 - 7 ribu.</p> <p>Meskipun banyak diminati, <a href="https://www.researchgate.net/publication/385028377_Environmental_health_risks_EHR_and_E_coli_concentration_in_refilled_drinking_water_stations_in_Palembang_a_cross-sectional_study">penelitian kami</a> menunjukkan adanya risiko kesehatan tersembunyi dari kebiasaan mengonsumsi air isi ulang.</p> <h2>Dampak kesehatan air isi ulang</h2> <p><a href="https://www.researchgate.net/publication/385028377_Environmental_health_risks_EHR_and_E_coli_concentration_in_refilled_drinking_water_stations_in_Palembang_a_cross-sectional_study">Riset kami</a> bersama mahasiswa pada 2024-2025 di Kota Palembang dan Yogyakarta menemukan kandungan bakteri <em>Escherichia coli</em> dan mikropastik dalam air isi ulang.</p> <p>Kedua kontaminan ini berisiko membahayakan kesehatan.</p> <p><strong>1. Bakteri <em>E.coli</em> dalam air isi ulang</strong></p> <p>Dari 106 sampel air galon di <a href="https://www.researchgate.net/publication/385028377_Environmental_health_risks_EHR_and_E_coli_concentration_in_refilled_drinking_water_stations_in_Palembang_a_cross-sectional_study">Palembang</a>, hampir setengahnya mengandung bakteri <em>E. coli</em> melebihi batas aman. </p> <p>Rata-rata jumlah bakteri <em>E. coli</em> yang ditemukan berkisar 18 CFU/100 ml. Berdasarkan klasifikasi Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), jumlah ini termasuk dalam <a href="https://pmc.ncbi.nlm.nih.gov/articles/PMC10302631/">kelas risiko kesehatan tinggi yang bisa memicu penyakit</a> seperti diare.</p> <p>Melalui pendekatan <em>quantitative microbial risk assessment</em> (menakar dampak kesehatan akibat paparan mikroorganisme pakai pemodelan matematika), kami memperkirakan jumlah kasus diare akibat konsumsi air isi ulang sekitar <a href="https://www.researchgate.net/publication/385028377_Environmental_health_risks_EHR_and_E_coli_concentration_in_refilled_drinking_water_stations_in_Palembang_a_cross-sectional_study">13 ribu kasus</a> dalam setahun. Menariknya, hasil estimasi ini sejalan dengan data kasus diare balita yang dilaporkan oleh Dinas Kesehatan Kota Palembang pada 2023. </p> <p>Temuan ini mencerminkan dampak nyata kontaminasi mikrobiologis dalam air isi ulang terhadap kesehatan masyarakat. Karena itu, penting untuk memperketat pengawasan terhadap keamanan depot air minum guna melindungi kelompok rentan seperti anak-anak.</p> <p><strong>2. Mikroplastik dalam air isi ulang</strong></p> <p>Riset mahasiswa kami di Yogyakarta (belum dipublikasikan) menunjukkan bahwa sampel galon depot air minum memiliki kelimpahan mikroplastik sebesar 28 partikel/liter. </p> <p>Artinya, jika seseorang rutin mengonsumsi 1,5 liter air galon isi ulang setiap hari, dia akan menelan lebih dari 15 ribu partikel mikroplastik per tahun. Angka ini nyaris 1,5 kali lebih tinggi dibandingkan kasus kontaminasi sampel air galon dari dua merek komersial yang beredar di pasaran.</p> <p>Meski begitu, otoritas kesehatan global (termasuk WHO) belum menetapkan standar ambang batas terkait kadar mikroplastik dalam air minum.</p> <hr> <p> <em> <strong> Baca juga: <a href="https://theconversation.com/ada-mikroplastik-dalam-teh-celup-haruskah-kita-khawatir-255503">Ada mikroplastik dalam teh celup, haruskah kita khawatir?</a> </strong> </em> </p> <hr> <p>Kendati <a href="https://www.sciencedirect.com/science/article/pii/S240584402307648X">berbagai studi menunjukkan</a> bahwa partikel kecil (&lt;1,5 mm) mungkin bisa menembus saluran pencernaan dan menyebar ke jaringan tubuh, dampak jangka panjangnya terhadap kesehatan manusia masih terus diselidiki.</p> <p>Jenis polimer dominan yang kami temukan adalah <em>Cellophane</em> (relatif aman karena berasal dari selulosa) dan <em>Polyethylene Terephthalate</em> (PET). Secara teoretis, keduanya dapat <a href="https://www.sciencedirect.com/science/article/pii/S240584402307648X">menimbulkan gangguan hormon</a> jika terakumulasi dalam jumlah besar. Namun, bukti dampak kesehatan langsung pada manusia masih terbatas.</p> <h2>Dari mana kontaminasi ini berasal?</h2> <p><a href="https://www.researchgate.net/publication/385028377_Environmental_health_risks_EHR_and_E_coli_concentration_in_refilled_drinking_water_stations_in_Palembang_a_cross-sectional_study">Hasil inspeksi kami</a> terhadap 106 depot air minum di Palembang menunjukkan bahwa setiap depot memiliki rata-rata tiga sumber potensi kontaminasi. Sumber yang paling umum diamati, yaitu retaknya tangki penyimpanan air, adanya tanda kontaminasi di dalam tangki penyimpanan air, serta depot air minum terlihat kotor. Hal ini menandakan bahwa aspek higienitas masih menjadi tantangan serius. </p> <p>Selain itu, kami menemukan bahwa kebersihan tangki penyimpanan dan efektivitas alat pengolahan air (seperti penggunaan sinar UV) berhubungan positif dengan tingkat kontaminasi. Hal ini berarti semakin bersih tangki penyimpanan dan semakin optimal penggunaan UV, maka kualitas air yang diedarkan ke masyarakat akan semakin baik.</p> <hr> <p> <em> <strong> Baca juga: <a href="https://theconversation.com/riset-prediksi-separuh-penduduk-indonesia-minum-air-kemasan-pada-2026-tapi-berisiko-tercemar-tinja-dan-mikroplastik-193308">Riset prediksi separuh penduduk Indonesia minum air kemasan pada 2026, tapi berisiko tercemar tinja dan mikroplastik</a> </strong> </em> </p> <hr> <p>Adapun di Yogyakarta, kontaminasi mikroplastik dalam air isi ulang diduga berasal dari proses pencucian. Sebab, galon disikat dengan bulu keras berbahan plastik (seperti PET atau nilon). </p> <p>Gesekan berulang saat mencuci berisiko melepaskan partikel mikroplastik ke dalam galon. Belum lagi, terjadi proses degradasi pada permukaan galon akibat penggunaan berulang dalam jangka waktu lama.</p> <h2>Mengurangi dampak kesehatan air isi ulang</h2> <p>Masyarakat tidak perlu panik, karena temuan kami justru mendorong kita untuk lebih cermat. Lakukan sejumlah cara di bawah ini guna mengurangi dampak kesehatan air isi ulang yang terkontaminasi.</p> <ul> <li>Rebus kembali air isi ulang hingga mendidih, lalu diamkan selama 5-10 menit <a href="https://iris.who.int/bitstream/handle/10665/155821/WHO_FWC_WSH_15.02_eng.pdf">guna mematikan bakteri <em>E.coli</em></a>.</li> <li>Hindari penggunaan galon yang sudah kusam, banyak goresan, atau terpapar sinar matahari langsung guna mengurangi risiko kontaminasi mikroplastik. </li> <li>Idealnya, <a href="https://www.sciencedirect.com/science/article/pii/S240584402307648X">gunakan galon isi ulang maksimal satu tahun</a>/40 kali pemakaian berulang.</li> <li>Libatkan puskemas untuk mengawasi secara ketat dan rutin higienitas depot air minum maupun kualitas airnya <a href="https://peraturan.bpk.go.id/Download/301587/Permenkes%20Nomor%202%20Tahun%202023.pdf">sesuai dengan regulasi</a>. </li> <li>Laporkan depot air minum yang dirasa kurang higienis ke puskesmas atau dinas kesehatan setempat. </li> </ul> <p>Air isi ulang tetap bisa menjadi solusi yang terjangkau dan layak, asalkan kita memiliki kesadaran bersama (baik pelaku usaha, konsumen, maupun pemerintah) dalam mengawasi secara ketat kualitas air minum kita.</p> <p>Sebab, air minum bukan sekadar kebutuhan mendasar, tetapi juga fondasi bagi kesehatan jangka panjang yang tak boleh dikompromikan.</p> <hr> <p><em>Mery Astri Yanni, Nurul Izza, dan Meilany Syabrina Daulay, mahasiswa program studi Kesehatan Masyarakat, Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat, dan Keperawatan, Universitas Gadjah Mada, turut berkontribusi dalam penelitian ini.</em></p> <hr> <iframe src="https://tally.so/r/nrQbAN?alignLeft=1&amp;hideTitle=1&amp;transparentBackground=1&amp;dynamicHeight=1" width="100%" height="321" frameborder="0" marginheight="0" marginwidth="0" title="Survey Form"> </iframe><img src="https://counter.theconversation.com/content/260301/count.gif" alt="The Conversation" width="1" height="1" /> <p class="fine-print"><em><span>Para penulis tidak bekerja, menjadi konsultan, memiliki saham atau menerima dana dari perusahaan atau organisasi mana pun yang akan mengambil untung dari artikel ini, dan telah mengungkapkan bahwa ia tidak memiliki afiliasi di luar afiliasi akademis yang telah disebut di atas.</span></em></p> Penelitian kami menunjukkan bahwa air minum dari galon isi ulang rentan terkontaminasi E.coli dan mikroplastik. Mengapa hal ini terjadi dan bagaimana solusinya? Daniel, Lecturer in Public Health, Universitas Gadjah Mada Anindrya Nastiti, Associate professor, Institut Teknologi Bandung Licensed as Creative Commons – attribution, no derivatives. tag:theconversation.com,2011:article/259439 2025-06-20T09:17:25Z 2025-06-20T09:17:25Z Kandungan nutrisi ikan salmon budi daya turun drastis <figure><img src="https://images.theconversation.com/files/675554/original/file-20250604-56-mhtgus.jpg?ixlib=rb-4.1.0&amp;rect=8%2C0%2C4271%2C2847&amp;q=45&amp;auto=format&amp;w=1050&amp;h=700&amp;fit=crop" /><figcaption><span class="caption"></span> <span class="attribution"><a class="source" href="https://www.shutterstock.com/image-photo/delicious-cooked-salmon-fish-fillets-503173369">Maria_Usp/Shutterstock</a></span></figcaption></figure><p>Ikan salmon hasil budidaya telah menjadi salah satu komoditas bisnis pangan yang paling <a href="https://www.salmonscotland.co.uk/">menggiurkan</a> di dunia. Hal tersebut karena manfaat kesehatannya. Sudah lama diketahui bahwa <a href="https://www.nhs.uk/live-well/eat-well/food-types/fish-and-shellfish-nutrition/">minyak ikan</a> pada salmon mengandung asam lemak omega-3 kompleks yang berkhasiat untuk <a href="https://www.sciencedirect.com/science/article/abs/pii/S0006899308021033">perkembangan otak, kesehatan mental, dan kognisi</a>.</p> <p>Asam lemak omega-3 salmon bersumber dari makanan ikan itu sendiri. Untuk ikan yang dibudidayakan, makanan bersumber dari “bahan laut” yang terbuat dari ikan liar yang digiling seperti ikan teri dan produk sampingan ikan sebagai pengganti tepung ikan dan minyak ikan.</p> <p>Namun, pada kenyataannya pasokan omega-3 global sangat terbatas, baik yang bersumber dari hasil laut budidaya maupun hasil laut alami. Banyak perikanan utama yang memasok bahan-bahan laut sudah mencapai tahap eksploitasi pada pertengahan <a href="https://www.sciencedirect.com/science/article/pii/S0044848622012133">1990-an</a>. Sejak pertumbuhan akuakultur salmon, peningkatan <a href="https://www.tandfonline.com/doi/full/10.1080/23308249.2024.2388563">volume pasokan bahan-bahan laut</a> yang terbatas telah diambil alih oleh pelaku budidaya ikan.</p> <p>Hal ini menimbulkan kekhawatiran atas keberlanjutan dan peningkatan kebutuhan biaya bahan-bahan ini. Degradasi yang telah terlihat sekarang adalah merosotnya proporsi minyak ikan dalam makanan ikan salmon yang dibudidayakan. Kandungan omega-3 kompleks telah digantikan oleh minyak nabati secara alamiah.</p> <p>Pada periode 2006-2015, jumlah omega-3 dalam satu porsi salmon sudah <a href="https://www.nature.com/articles/srep21892">berkurang setengahnya</a>. Ironisnya, industri salmon makin <a href="https://asc-aqua.org/blog/5-ways-eating-salmon-supports-your-health/">mengedepankan kandungan omega-3</a> sebagai <a href="https://eatforum.org/content/uploads/2019/11/Seafood_Scoping_Report_EAT-Lancet.pdf">nilai jual utama</a> produknya. Padahal, saat ini, dibutuhkan <a href="https://www.nature.com/articles/srep21892">dua porsi</a> salmon Skotlandia hasil budidaya per minggu untuk bisa memenuhi asupan yang direkomendasikan untuk orang dewasa. </p> <p>Pelaku industri salmon harus lebih efisien, jika ingin terus berkembang dan mempertahankan target omega-3nya. Industri makanan laut juga harus berbuat lebih banyak untuk mencegah hilangnya omega-3 melalui rantai nilainya secara menyeluruh. Bagian dari upaya efisiensi ini adalah memproduksi lebih banyak minyak ikan.</p> <p>Hal ini dapat dilakukan dengan memanfaatkan nilai produk sampingan perikanan dan akuakultur seperti sisa-sisa makanan, kulit dan kepala, sehingga lebih banyak omega-3 yang tersimpan dalam sistem pangan (dan pakan).</p> <p>Pada prakteknya, ada kesadaran besar untuk menggunakan ikan utuh. Hal ini mendorong kemajuan yang baik dalam meningkatkan penggunaan produk sampingan. Sekarang diperkirakan bahwa sekitar setengah dari pasokan minyak ikan global bersumber dari perikanan, dan khususnya akuakultur, sumber pemrosesan. Namun, masih ada <a href="https://www.sciencedirect.com/science/article/abs/pii/S0308597X17305328">banyak limbah</a> dan kesulitan logistik dalam menyimpan dan mengangkut <a href="https://dspace.stir.ac.uk/handle/1893/26580">produk sampingan makanan laut</a>.</p> <p>Insentif industri untuk menggunakan produk sampingan sebagian besar terikat pada hukum ekonomi. Karena itu, kelangkaan minyak ikan global mendorong harga di atas <a href="https://www.tandfonline.com/doi/full/10.1080/23308249.2024.2388563#d1e203">US$8.000/ton (Rp130 jutaan)</a> pada tahun 2024. Bukti dari 20 tahun terakhir menunjukkan bahwa penggunaan ikan liar secara keseluruhan dalam industri salmon Eropa telah menurun (digantikan oleh bahan-bahan nabati), sementara produksi telah tumbuh beberapa kali lipat.</p> <p>Meskipun ada perbaikan dan pengurangan dalam penggunaan bahan-bahan laut alamiah, industri ini masih mendapat tekanan besar dari Lembaga Swadaya Masyarakat dan kelompok konservasi. Mereka khawatir tentang penggunaan <a href="https://journals.plos.org/sustainabilitytransformation/article?id=10.1371/journal.pstr.0000005">ikan sebagai pakan</a>, yang dapat merusak persepsi publik terhadap industri akuakultur.</p> <p>Untuk menilai takaran penggunaan ikan sebagai pakan dalam akuakultur, perlu menghitung rasio “ikan masuk ikan keluar” (Fifo) layaknya konsep yang mengukur rasio biomassa ikan yang termasuk dalam pakan ikan terhadap biomassa ikan yang akhirnya diproduksi untuk konsumsi. Tujuannya adalah agar lebih banyak ikan yang diproduksi untuk konsumsi manusia daripada yang digunakan sebagai pakan, dan ini akan menghasilkan <a href="https://www.sciencedirect.com/science/article/pii/S0044848620309741">Fifo kurang dari 1</a>.</p> <h2>Takaran nutrisi baru</h2> <p>Lembaga sertifikasi seperti <a href="https://asc-aqua.org/?gad_source=1&amp;gad_campaignid=21709835693&amp;gbraid=0AAAAApAaEeA8fJwPJ0o_O7s4-1GBlJ6C-&amp;gclid=CjwKCAjw3f_BBhAPEiwAaA3K5LcNQnG26jiMKoWwLM8AheSqvLYQ8Uj16r9mxGNHmKgT4OFHHrd6URoCZIYQAvD_BwE">Aquaculture Stewardship Council</a> dan <a href="https://www.bapcertification.org/">Best Aquaculture Practices</a> telah mengadopsi berbagai bentuk metrik Fifo. Akan tetapi, hingga saat ini, Fifo belum membahas salah satu alasan mendasar untuk memasukkan bahan-bahan laut ke dalam pakan akuakultur, yakni menyediakan kebutuhan omega-3 bagi konsumen. Tidak ada pertimbangkan kandungan omega-3 dalam pakan ikan, maupun dalam produk akhir dalam kedua sertifikasi tersebut.</p> <p>Demikian pula, penelitian retensi nutrisi pada salmon hanya sebatas meneliti tingkat retensi pakan hingga ikan yang dibudidayakan. Omega-3 yang hilang dalam proses bahan baku ikan menjadi pakan saat ini belum diukur. Dengan memperkenalkan ukuran baru kami, <a href="https://www.sciencedirect.com/science/article/abs/pii/S0044848625002182?via%3Dihub">nutrisi Fifo</a> (nFifo), nutrisi dapat dilacak dari penangkapan ikan liar, pemisahannya menjadi tepung dan minyak, hingga produk akhir yang dijual kepada konsumen.</p> <figure class="align-center zoomable"> <a href="https://images.theconversation.com/files/672779/original/file-20250606-56-elq58v.jpg?ixlib=rb-4.1.0&amp;q=45&amp;auto=format&amp;w=1000&amp;fit=clip"><img alt="logo of the aquaculture stewardship council on a phone screen" src="https://images.theconversation.com/files/672779/original/file-20250606-56-elq58v.jpg?ixlib=rb-4.1.0&amp;q=45&amp;auto=format&amp;w=754&amp;fit=clip" srcset="https://images.theconversation.com/files/672779/original/file-20250606-56-elq58v.jpg?ixlib=rb-4.1.0&amp;q=45&amp;auto=format&amp;w=600&amp;h=450&amp;fit=crop&amp;dpr=1 600w, https://images.theconversation.com/files/672779/original/file-20250606-56-elq58v.jpg?ixlib=rb-4.1.0&amp;q=30&amp;auto=format&amp;w=600&amp;h=450&amp;fit=crop&amp;dpr=2 1200w, https://images.theconversation.com/files/672779/original/file-20250606-56-elq58v.jpg?ixlib=rb-4.1.0&amp;q=15&amp;auto=format&amp;w=600&amp;h=450&amp;fit=crop&amp;dpr=3 1800w, https://images.theconversation.com/files/672779/original/file-20250606-56-elq58v.jpg?ixlib=rb-4.1.0&amp;q=45&amp;auto=format&amp;w=754&amp;h=566&amp;fit=crop&amp;dpr=1 754w, https://images.theconversation.com/files/672779/original/file-20250606-56-elq58v.jpg?ixlib=rb-4.1.0&amp;q=30&amp;auto=format&amp;w=754&amp;h=566&amp;fit=crop&amp;dpr=2 1508w, https://images.theconversation.com/files/672779/original/file-20250606-56-elq58v.jpg?ixlib=rb-4.1.0&amp;q=15&amp;auto=format&amp;w=754&amp;h=566&amp;fit=crop&amp;dpr=3 2262w" sizes="(min-width: 1466px) 754px, (max-width: 599px) 100vw, (min-width: 600px) 600px, 237px"></a> <figcaption> <span class="caption">Badan sertifikasi seperti Aquaculture Stewardship Council dapat mengadopsi metrik baru untuk nutrisi.</span> <span class="attribution"><a class="source" href="https://www.shutterstock.com/image-photo/stuttgart-germany-07012024-mobile-phone-logo-2487635551">T. Schneider/Shutterstock</a></span> </figcaption> </figure> <p>Metode yang digunakan dalam nFifo lebih mengutamakan penggunaan sumber daya produk sampingan daripada bahan baku murni. Alhasil, makanan yang mengandung produk sampingan menerima nFifo yang lebih rendah. Secara teori, hal ini seharusnya mendorong inisiatif ekonomi sirkular.</p> <p>Pembelajaran tersebut penting dalam pengembangan industri bahan makanan laut. Makanan laut sangat mudah rusak, terutama produk sampingannya. Namun, makanan laut juga merupakan sumber omega-3 terkaya, seperti dari ikan haring atau makarel.</p> <p>Akan tetapi, biaya untuk mempertahankan, menstabilkan, menyimpan, dan mengangkut produk sampingan kerap mahal. Ini terutama berlaku di atas kapal penangkap ikan, karena ruang sangat terbatas dan produk sampingan sering kali dibuang ke laut.</p> <p>Adaptasi metrik yang mencegah pemborosan sumber daya hayati sangat penting untuk produksi pangan berkelanjutan. Pakan salmon saat ini mengandung sekitar 20% hingga 25% bahan laut, tetapi hanya sekitar 5% yang berasal dari produk sampingan. Hal ini menghasilkan nFIFO sebesar 2,17.</p> <p>Penggunaan bahan laut yang bersumber dari produk sampingan mengurangi nFifo tersebut hingga di bawah 0,5. Yang terpenting, hal ini tetap memberikan tingkat omega-3 yang sama kepada konsumen.</p> <p>Jika industri makanan laut serius mengarah pada produksi berkelanjutan, industri tersebut perlu jauh lebih efisien dalam mengelola sumber daya. Metrik nFifo menghubungkan penggunaan ikan liar dengan omega-3 yang dikonsumsi dalam salmon yang dibudidayakan untuk pertama kalinya—tetapi metrik ini juga dapat diterapkan pada spesies dan nutrisi lain.</p> <p>Metodologi ini serupa dengan yang digunakan untuk mengukur dampak lingkungan terhadap perubahan iklim, penggunaan lahan atau air. Metodologi ini memungkinkan untuk menilai pertukaran dari penyertaan dan penggantian bahan-bahan laut dalam makanan ikan di berbagai titik produksi.</p> <p>Misalnya, meskipun <a href="https://www.sciencedirect.com/science/article/pii/S0044848622012133">bahan-bahan laut</a> dapat menimbulkan kekhawatiran tentang dampaknya terhadap perikanan, bahan-bahan tersebut memiliki jejak karbon yang relatif rendah dan hampir tidak meninggalkan jejak dibandingkan dengan bahan-bahan nabati. Hal ini berpotensi mengarah pada pendekatan yang lebih seimbang dan berkelanjutan terhadap produksi makanan laut.</p> <p>Harapannya, metrik nFifo dan alat yang mudah diakses untuk menghitungnya (tersedia di situs web <a href="https://bluefoodperformance.com/">Blue Food Performance</a>, akan diadopsi oleh lembaga sertifikasi. Ini juga dapat mendorong agar indikator keberlanjutan yang lebih kompleks menjadi arus utama, yang memungkinkan konsumen membuat pilihan yang lebih bijak berdasarkan nilai gizi dan dampak lingkungan dari produk yang mereka beli.</p><img src="https://counter.theconversation.com/content/259439/count.gif" alt="The Conversation" width="1" height="1" /> <p class="fine-print"><em><span>Para penulis tidak bekerja, menjadi konsultan, memiliki saham atau menerima dana dari perusahaan atau organisasi mana pun yang akan mengambil untung dari artikel ini, dan telah mengungkapkan bahwa ia tidak memiliki afiliasi di luar afiliasi akademis yang telah disebut di atas.</span></em></p> Penurunan kandungan gizi menjadi salah satu alasan mengapa ikan kembung lebih bergizi dibandingkan salmon. Richard Newton, Lecturer in Aquaculture, University of Stirling Dave Little, Professor of Aquatic Resources Development, University of Stirling Licensed as Creative Commons – attribution, no derivatives.