Papers by Abdul Mustaqim Abdul Mustaqim

A Halal Label for Msmes: Obstacles and Challenges Faced Halal Label for Msmes: Obstacles and Challenges Faced
Jurnal REP (Riset Ekonomi Pembangunan)
The aim of this study is to further study the role of halal labels on a package of food products ... more The aim of this study is to further study the role of halal labels on a package of food products processed by MSMEs, and explore further about the obstacles and challenges faced by MSMEs. The majority of Indonesians are Muslims, of course, food choices are a top priority. The number of food choices in this market must certainly be in accordance with Islamic guidance, that is only halal food that can be consumed. To fulfill that, of course, it is the obligation and responsibility of producers/MSMEs. This research method uses a qualitative approach with case study design from 2015 to 2020. The results obtained are still available in some areas both concumers and producers/MSMEs who are less concerned about the inclusion of halal labels in each product. In addition, there is still a high sense of consumer confidence in the production that the food served is halal because they know the natural raw materials used by producers without, they having halal labels. The recommendation of this ...
Pergeseran Epistemologi Tafsir : Abdul Mustaqim ; Peny : Saifuddin Zuhri Qudsy /

Dinamika Sejarah Tafsir Al-Qur’an Studi Madzahibut Tafsir/Aliran-aliran dari Periode Klasik, Pertengahan, Hingga Modern-Kontemporer
Idea Press eBooks, Nov 1, 2016
Buku yang ada di tangan pembaca ini berbicara tentang dinamika sejarah penafsiran al-Qur’an yang ... more Buku yang ada di tangan pembaca ini berbicara tentang dinamika sejarah penafsiran al-Qur’an yang mencoba mengkombinasikan dan mendialogkan pendekatan historisperiodik dengan pendekatan filosofis-konseptual dalam memotret perkembangan aliran-aliran tafsir dari Era klasik, Pertengahan sampai modern-kontemporer. Meski dalam uraian-uraiannya mungkin belum semuanya rinci namun yang jelas karya sederhana ini diharapkan dapat memancing para peneliti untuk mengkaji secara lebih tajam. Meski buku ini masih dalam tahap survei awal, tapi usaha ini rasanya patut dihargai. Sebab hal ini menunjukkan ‘sedikit’ adanya kesadaran akademis dari penulis untuk ikut mensosialisasikan pentingnya menyadari aspek historsitas dari munculnya aliran-aliran tafsir. Pembagian mazhab penafsiran menjadi tiga periode yaitu, Klasik, Pertengahan dan Kontemporer didasarkan atas episteme dan paradigma yang mendasari masing-masing periode tersebut. Hal ini mengisyaratkan bahwa sistem dan pola penafsiran masing-masing periode itu tidak lepas dari perkembangan pemikiran manusia. Pada periode klasik penafsiran atas al-Quran cenderung bersifat mitis. Artinya, di situ belum ada kritisisme dalam menerima sebuah produk tafsir. Jadi, seolah-olah tafsir Nabi dan para sahabat diterima begitu saja hingga nyaris tanpa kritik. Sementara tafsir pada periode pertengahan sebagai kelanjutan periode sebelumnya, meski sudah ada sedikit nuansa kritisisme, namun masih menunjukkan wajah yang ideologis, sebab di situ pembelaan terhadap mazhab yang dianut oleh mufassirnya sangat kental mewarnai tafsirnya. Artinya tafsir-tafsir yang muncul pada masa abad pertengahan sarat dengan kepentingankepentingan idiologis dan politik. Berbeda dengan tafsir yang muncul pada periode modern-kontemporer di mana penafsiran atas ayat-ayat al-Quran memiliki kecenderungan kritis-ilmiah dan sudah diwarnai oleh pendekatan hermeneutis lebih bersifat kritis-filosofis.
Konsep Poligami Menurut Muhammad Syahrur
This article represents a study of Muhammad Syahrur's thought regarding the polygamy. Syahrur... more This article represents a study of Muhammad Syahrur's thought regarding the polygamy. Syahrur combines scientific and linguistic approaches. He concludes that polygamy informed in QS al,Nisa' (4): 3 concerns on mothering orphans. So polygamy is allowed as long as there are orphans that are needed to be protected and raised up. Employing the limit theory, he approaches the number of 4 in the verse as a maximum limit of getting marriage with widows having orphans, including the first marriage as the least number. This verse states two main conditions of getting marriage for the second, third, or fourth. They are getting marriage with widows having orphans and readiness to be just among the wives and their orphans. Kata Kunci: Muhammad Syahrur, Nazariyyat al-Hudud, al-Hadad al-Adna; al-hadad al-A'la, Poligami.
Criticism of Margin Actualization in Murābahah Financing at Sharia Banking Evidence from Indonesia
Ijtimā'iyya, Mar 31, 2023

Tulisan ini mengekplorasi tentang etika pemanfaatan keanekaragaman hayati dalam perspektif al-Qur... more Tulisan ini mengekplorasi tentang etika pemanfaatan keanekaragaman hayati dalam perspektif al-Qur'an. Keanekaragaman hayati adalah segala macam bentuk ciptan Allah swt di muka bumi ini, baik yang terdiri dari alam binatang maupun alam tumbuhan. Dalam perspektif al-Qur'an keanekaragaman tersebut merupakan anugrah sang pencipta yang merupakan tanda-tanda kekuasaannya. Artikel ini bertujuan untuk mengungkap bagaimana perspektif al-Qur'an dalam melihat pemanfaatan keanekaragaman hayati yang dimaksud tersebut, dengan menggunakan pendekatan konten analisis penulis berusaha untuk membongkar sisi-sisi yang belum terungkap dalam al-Qur'an yang berkaitan dengan keragaman ciptaan Allah. Hasilnya adalah terungkapnya tujuan Allah menciptakan makhluknya yang beragam tersebut sesungguhnya adalah diperuntukkan untuk manusia agar dapat dimanfaatkan dalam kehidupan. Hal itu membutuhkan etika manusia agar kelangsungan kehidupan ala mini tetap seimbang dan tidak merusak keberlanjutan ekologi.

Nun, Dec 28, 2015
alah satu persoalan yang sedang mendera masyarakat dewasa ini adalah terjadinya berbagai bencana,... more alah satu persoalan yang sedang mendera masyarakat dewasa ini adalah terjadinya berbagai bencana, mulai dari tanah longsor, banjir di Jakarta, gempa bumi di Bantul, tsunami di Aceh dan Mentawai Sumatera Barat, hingga meletusnya gunung Merapi di Yogyakarta dan lain sebagainya. Bencana tersebut telah mengakibatkan rusaknya harta benda, rumah dan pemukiman warga. Bahkan puluhan ribuan korban jiwa meninggal dengan mengenaskan, belum lagi duka nestapa para anggota keluarga yang ditinggalkan. Menangani persoalan bencana, sesungguhnya diperlukan berbagai pendekatan, tidak hanya pendekatan ekonomi, politik, atau psikologi, melainkan juga diperlukan pendekatan teologis (baca: agama). Telebih al-Qur'an juga diyakini sebagai sumber nilai tertinggi bagi umat Islam, bahkan ia juga menjadi sumber inspirasi untuk mencari solusi dalam menghadapi berbagai persoalan kehidupan termasuk masalah bencana.

Suhuf, Nov 8, 2015
Diakui bahwa dalam Al-Qur'an terdapat ayat-ayat yang secara tekstual berpotensi mendorong aksi-ak... more Diakui bahwa dalam Al-Qur'an terdapat ayat-ayat yang secara tekstual berpotensi mendorong aksi-aksi kekerasan. gagasan tentang pentingnya melakukan deradikalisasi penafsiran Al-Qur'an terkait ayat-ayat yang terkesan "radikal" menjadi sangat penting, agar seseorang tidak terdorong melakukan tindak kekerasan atas nama agama. Sebab bagaimanapun produk tafsir ikut berperan dalam memberikan warna pemahaman Islam kepada masyarakat. Meneguhkan kembali wajah Islam yang teduh, santun, toleran, dan damai harus menjadi komitmen bersama, tanpa kehilangan wibawa dan harga di mata umat yang lain.Tulisan ini mencoba memberikan paradigma baru dalam memahami ayat-ayat yang teksnya bersifat "radikal" dan berpotensi memicu tindakan kekerasan. Kata kunci: radikal, deradikalisasi, Tafsir Al-Qur'an, multi kultur It is recognized that in the Qur'an, there are verses that are textually have the potential to encourage violence acts. The idea of the importance of deradicalization is related to the commentary of the Qur'anic verses that seem to be" radical" is very important in order that someone is not driven to commit violence in the name of religion. It is because, somehow, the product of the commentary of the Qur'an plays a role in providing the color of the understanding of Islam to society. To reaffirm the shady face of Islam, which is polite, tolerant, and peace should be a mutual commitment without losing the prestige and value in the eyes of the other community. This writing tries to give a new paradigm in understanding the verses of the text of which are considered to be" radicals" and potentially trigger the violence acts.

DINIKA : Academic Journal of Islamic Studies
This article reconsiders the shubha (misgrounded conceit) proposed by the orientalists. The fir... more This article reconsiders the shubha (misgrounded conceit) proposed by the orientalists. The first shubhais about the revelation of the Qur’an; the second shubhais about the differences of qira’at (recitations or readings) claimed by the orientalists as proof that the Quran is not entirely authentic for the existence of false readings. The third shubha is about the authorship and the relationship of the Qur’an with previous divine books (Tawrat and Bible) showing that the Qur’an is a plagiarism work of The Prophet Muhammad or the notion of influence or borrowings from Judeo-Christian tradition. Employing the theological-historical approach, this article argues that, firstly, that the Qur’an is a Divine Revelation is evident from the linguistic style in which it very often uses direct speech to Muhammad, such as “Say, (O Muhammad to the mankind)â€, and from the criticism posed by the Qur’an to Muhammad as the recipient of the revelation. Historically, the process ...
Innovating Tahfidz Learning in the Covid-19 Pandemic: a Case Study in Indonesia
Journal of Nonformal Education, Feb 10, 2023

Nun: Jurnal Studi Alquran dan Tafsir di Nusantara
Teologi bencana adalah suatu konsep tentang bencana dengan berbagai kompleksitasnya yang didasar... more Teologi bencana adalah suatu konsep tentang bencana dengan berbagai kompleksitasnya yang didasarkan pada pandangan al-Qur’an. Menurut al-Qur’an term bencana dapat terwakili dengan beberapa istilah, yaitu bala’ yang secara bahasa dapat berarti jelas, ujian, rusak. Bencana yang diungkapkan dengan term bala’ mempunyai aksentuasi makna bahwa bencana itu merupakan bentuk ujian Tuhan yang sengaja diberikan Tuhan untuk menguji manusia, agar tampak jelas keimanan. Bala’ dapat berupa hal-hal yang menyenangkan , dapat pula hal-hal yang tidak menyenangkan. Sementara itu, bencana dengan term mushîbah lebih merupakan segala sesuatu yang menimpa manusia yang umunya berupa hal-hal yang tidak menyenangkan. Ketika terkait dangan hal-hal yang baik, maka al-Qur’an menisbatkannya kepadaAllah, sementara ketika musibah itu terkait dnegan hal-hal yang menyengsarakan, al- Qur’an menyatakannya, bahwa hal itu akibat kesalahan manusia. Maka musibah itu sesungguhya bisa sebagai ujian, bisa pula sebagai tegura...
Buku atau Kitab tersebut berbicara tentang Isu-isu Aktual dalam Perspektif Tafsir Maqashid
![Research paper thumbnail of Falsafat al-Qiṣṣat fī al-Qur'ān wa Dauruhā fī Binā'i al-Shakhṣiyyat min Khilāli Qiṣṣati Mūsā wa al-Khidr [The Philosophy of Quranic Narrative and Its Significance for Character-Building Based on the Story of Moses and Khidr]](https://attachments.academia-assets.com/108712697/thumbnails/1.jpg)
ESENSIA: Jurnal Ilmu-Ilmu Ushuluddin
This paper seeks to understand the significance of the story of Moses and Khidr PBUH to develop c... more This paper seeks to understand the significance of the story of Moses and Khidr PBUH to develop character-building, whose actions seemed to contradict the teachings of Sharia. As one of the most prominent accounts in Islamic tradition, the long journey of Moses for receiving knowledge meets an end by encountering Khidr, an acquaintance with unique personalities who later becomes his mentor. As literary research on the Quranic tales, the discussion adopts inductive-analytical methods to describe the semantic and rhetorical aspects contained from Moses and Khidr’s relationship. Those aspects are further analyzed to instill noble virtues thoroughly. By contemplating Khidr’s confrontation toward Moses, the acts contain good reasons despite their figurative meanings may be misinterpreted as a call for evil deeds against weaklings. The results commemorate the significance of contemplation and patience and reemphasize that none shall rushing adjudicate the occurring issues because there ma...
Studi Al-Quran Kontemporer : wacana baru berbagai metodologi tafsir (Fazlur Rahman, Riffat Hassan, Hassan Hanafi, Nasr Hamid Abu Zayd, Muhammad Arkoun, Abul Kalam Azad, Muhammad Shahrur, John Wansbrough, Farid Esack, Sayyid Qutb)
Tiara Wacana, 2002
SUHUF, 2015
Diakui bahwa dalam Al-Qur’an terdapat ayat-ayat yang secara tekstual berpotensi mendorong aksi-... more Diakui bahwa dalam Al-Qur’an terdapat ayat-ayat yang secara tekstual berpotensi mendorong aksi-aksi kekerasan. Gagasan tentang pentingnya melakukan deradikalisasi penafsiran Al-Qur’an terkait ayat-ayat yang terkesan “radikal†menjadi sangat penting, agar seseorang tidak terdorong melakukan tindak kekerasan atas nama agama. Sebab bagaimanapun produk tafsir ikut berperan dalam memberikan warna pemahaman Islam kepada masyarakat.Meneguhkan kembali wajah Islam yang teduh, santun, toleran, dan damai harus menjadi komitmen bersama, tanpa kehilangan wibawa dan harga di mata umat yang lain.Tulisan ini mencoba memberikan paradigma baru dalam memahami ayat-ayat yang teksnya bersifat “radikal†dan berpotensi memicu tindakan kekerasan.Kata kunci: radikal, deradikalisasi, Tafsir Al-Qur’an, multi kultur
The Contribution of Kiai Sholeh Darat in Asserting Wasathiyah Islam in Nusantara
Ushuluddin International Conference (USICON), Oct 20, 2019
De-Radicalization In Quranic Exegesis
Ushuluddin International Conference (USICON), Sep 30, 2017

Tulisan ini mengekplorasi tentang etika pemanfaatan keanekaragaman hayati dalam perspektif al-Qur... more Tulisan ini mengekplorasi tentang etika pemanfaatan keanekaragaman hayati dalam perspektif al-Qur’an. Keanekaragaman hayati adalah segala macam bentuk ciptan Allah swt di muka bumi ini, baik yang terdiri dari alam binatang maupun alam tumbuhan. Dalam perspektif al-Qur’an keanekaragaman tersebut merupakan anugrah sang pencipta yang merupakan tanda-tanda kekuasaannya. Artikel ini bertujuan untuk mengungkap bagaimana perspektif alQur’an dalam melihat pemanfaatan keanekaragaman hayati yang dimaksud tersebut, dengan menggunakan pendekatan konten analisis penulis berusaha untuk membongkar sisi-sisi yang belum terungkap dalam al-Qur’an yang berkaitan dengan keragaman ciptaan Allah. Hasilnya adalah terungkapnya tujuan Allah menciptakan makhluknya yang beragam tersebut sesungguhnya adalah diperuntukkan untuk manusia agar dapat dimanfaatkan dalam kehidupan. Hal itu membutuhkan etika manusia agar kelangsungan kehidupan ala mini tetap seimbang dan tidak merusak keberlanjutan ekologi.
Ideologi transnasional menyebabkan pudarnya sikap bela terhadap negara. Pada sisi lain, bela nega... more Ideologi transnasional menyebabkan pudarnya sikap bela terhadap negara. Pada sisi lain, bela negara selalu dikaitkan dengan militer. Konsep jihad dalam Al-Qur’an dapat diterjemahkan sebagai sebuah kewajiban membela negara kepada semua kalangan. Kewajiban tersebut berupa menjaga persatuan dan kesatuan bangsa, membudayakan musyawarah, memperjuangkan keadilan dan menjaga prinsip kebebasan. Kewajiban bela negara dalam bentuk fisik dilakukan apabila penguasa memerintahkan untuk berjihad dan ketika musuh sudah mengepung suatu negeri. jika membela Negara Indenesia menjadi salah satu prasarat bagi tegak dan jayanya umat Islam dalam menjalankan nilai-nilai Islam dan kemanusian universal, maka jihad membela negara menjadi sebuah keharusan.

Metode Penelitian Al-Qur’an dan Tafsir
Buku yang ada di tangan Anda adalah hasil pengalaman riset dan mengajar matakuliah metode penelit... more Buku yang ada di tangan Anda adalah hasil pengalaman riset dan mengajar matakuliah metode penelitian al-Qur’an dan tafsir, selama kurang lebih lima tahun. Setelah penulis merenungkan cukup lama dan mencoba mengendapkan berbagai ide dan gagasan pemikiran terkait dengan riset al-Qur’an dan tafsir, penulis merasa perlu untuk menuliskannya dalam sebuah buku teks atau buku daras. Sebab, memang tidak banyak – untuk tidak menyebut tidak ada--buku yang secara khusus membincang metodologi penelitian al-Qur’an dan tafsir. Apalagi dalam buku ini penulis mencoba melengkapi pembahasan dalam setiap model penelitian dengan contoh kasus riset dan contoh proposalnya, sehingga memudahkan bagi para mahasiswa untuk mencoba mengikuti model-model tersebut. Secara garis besar buku ini mencoba menjelaskan tentang bagaimana mestinya para mahasiswa, baik S1, S2, maupun S3 dan juga para dosen memiliki gairah untuk melakukan riset, dalam rangka mengkonstruksi dan mengembangkan ilmu pengetahuan. Sebab hanya den...
Uploads
Papers by Abdul Mustaqim Abdul Mustaqim