Suku Ibaloi
Ivadoy | |
|---|---|
Seorang wanita berpakaian tradisional Ibaloi | |
| Jumlah populasi | |
| 209.338[1] (Sensus 2020) | |
| Daerah dengan populasi signifikan | |
| Bahasa | |
| Ibaloi, Ilokano, Tagalog | |
| Agama | |
| Kekristenan, Agama rakyat | |
| Kelompok etnik terkait | |
| Igorot |
Suku Ibaloi (juga dieja Ibaloy; bahasa Ibaloi: ivadoy/ivaˈdoj) adalah kelompok etnis pribumi yang berasal dari Provinsi Benguet di Filipina Utara.[2] Kata "Ibaloi" terdiri dari imbuhan depan i-, yang berarti "berkaitan dengan" dan badoy (berkerabat dengan kata "balai") yang berarti "rumah" yang jika digabungkan berarti "orang-orang yang tinggal di rumah". Suku Ibaloi adalah salah satu masyarakat adat yang secara kolektif dikenal sebagai Igorot (igudut, "penghuni bukit"), yang tinggal di Cordillera Tengah, Pulau Luzon.
Persebaran
[sunting | sunting sumber]Suku Ibaloi mendiami bagian tenggara Provinsi Benguet. Wilayah ini kaya akan sumber daya mineral seperti tembaga, emas, pirit, dan batu gamping. Aneka tumbuhan dan satwa juga melimpah ruah di hutan dan pegunungan, dengan sistem hidrologi yang luas yang mencakup Sungai Bued, Sungai Agno, dan Sungai Amburayan. Gunung Pulag, gunung tertinggi ketiga di Filipina, berada di wilayah mereka dan juga merupakan wilayah yang penting secara budaya, karena dianggap sebagai tempat di mana para arwah orang mati berkumpul.[2]
Suku Ibaloi tersebar di desa-desa di lembah-lembah pegunungan. Klaim tanah leluhur oleh komunitas Ibaloi mencakup sebagian wilayah Kota Baguio.[3]
Bahasa
[sunting | sunting sumber]Bahasa asli masyarakat ibaloi adalah Ibaloi, yang juga dikenal sebagai inibaloi atau nabaloi.[2] Bahasa ini memiliki tiga dialek: Bokod, Daklan dan Kabayan.[4] Suku Ibaloi juga kerap menggunakan bahasa Ilokano dan Tagalog sebagai bahasa kedua.
Kebudayaan
[sunting | sunting sumber]
Masyarakat Ibaloi terdiri dari orang kaya (baknang) dan tiga kelas miskin, yaitu gembala (pastol), buruh tani (silbi), dan budak non-Ibaloi (bagaen).[2]
Suku Ibaloi memiliki budaya material yang kaya, terutama dalam tradisi mumifikasi yang memanfaatkan air garam untuk mencegah pembusukan organ.[5] Daun jambu biji dan daun patani yang ditumbuk dioleskan ke jenazah untuk mencegah aktivitas belatung atau cacing selama proses pengeringan jenazah, yang memakan waktu mulai dari dua bulan hingga satu tahun hingga jenazah mengeras.[2]
Suku Ibaloi membangun rumah (balai atau baeng) di dekat lahan pertanian mereka. Rumah-rumah ini biasanya dibangun di atas tiang setinggi lima kaki (tokod) dan hanya berisi satu ruangan tanpa jendela. Kayu pinus biasanya digunakan untuk membangun rumah, terutama oleh keluarga kaya. Sementara rumah berdinding kulit bambu dan beratapkan rumput alang-alang digunakan oleh orang miskin. Untuk memasak, mereka menggunakan panci yang terbuat dari tembaga (kambung), dan wadah makanan (shuyu) dan peralatan yang terbuat dari kayu. Keranjang dan batok kelapa juga digunakan sebagai wadah. Sebuah kotak kayu yang diisi dengan tanah berfungsi sebagai tempat memasak (shapolan), dan tiga batu sebagai kompor (shakilan). Senjata tradisional suku Ibaloi adalah tombak (kayang), perisai (kalasai), busur dan anak panah (bekang dan pana), dan pentungan (papa), meskipun jarang digunakan saat ini. Suku Ibaloi juga menggunakan alat pemotong seperti pisau, peralatan pertanian, dan alat penumbuk padi lengkap: lesung (dohsung), yang berbentuk bulat atau persegi panjang untuk berbagai keperluan, dan alu (al-o atau bayu) dengan berbagai ukuran, yang diukir dari batang pohon yang kokoh dan cabang pinus. Tampah padi mereka (dega-o atau kiyag) terbuat dari bambu atau rotan.[2]
Alat musik tradisional Ibaloi meliputi genggong (kodeng), seruling (kulesheng), gitar (kalsheng atau kambitong), calung, drum (solibao), gong (kalsa), dan banyak lainnya. Alat-alat tersebut dianggap sakral, dan harus selalu dimainkan karena suatu alasan, seperti pesta cañao.[2]
Pakaian pria Ibaloi adalah cawat (kuval), dan orang kaya mengenakan jubah selimut biru tua (kulabaw atau alashang) sementara yang lainnnya menggunakan jubah putih (kolebao dja oles). Wanita mengenakan blus (kambal) dan rok (aten atau divet). Penutup gigi berlapis emas (shikang), gelang kaki dari tembaga (batding), gelang tembaga (karing), dan anting telinga (tabing) menunjukkan kegiatan penambangan mineral dan keahlian menempa logam telah dikenal oleh suku Ibaloi. Penambangan dengan cara menggali atau mendulang dilanjutkan dengan menghancurkan bijih menggunakan batu pipih besar (gai-dan) dan batu kecil (alidan). Emas dalam pasir halus yang dihasilkan kemudian dipisahkan (sabak) dalam palung air (dayasan). Emas kemudian dilebur.[2]
Orang Ibaloi yang lebih tua memiliki lengan bertato sebagai tanda kedudukan.[2]
Karena tanah dan iklim Benguet yang subur, suku Ibaloi sebagian besar bekerja sebagai petani. Ada dua varietas padi yaitu kintoman dan talon. Kintoman adalah varietas padi merah yang berbulir panjang, lebih enak dan menghasilkan bulir nasi dalam berbagai bentuk; balatin-naw yang lembut dan pulen saat dimasak, shaya-ut yang juga lembut, dan putaw yang sedikit kasar di langit-langit mulut saat dimakan. Varietas beras ini juga digunakan untuk membuat arak beras asli yang disebut tafey. Varietas beras kedua, talon, merupakan jenis beras dataran rendah putih yang ditanam selama musim hujan. Orang Ibaloi juga menanam tanaman umbi-umbian seperti ubi jalar, talas, singkong, dan kentang. Sayuran meliputi kubis, seledri, dan sawi hijau. Mereka juga mengonsumsi berbagai jenis jamur liar beserta buah-buahan seperti alpukat, pisang, dan mangga yang ditanam di banyak daerah. Daging yang dikonsumsi meliputi babi, sapi, kambing, dan ayam serta rusa liar (olsa), babi hutan (alimanok), dan kadal besar (tilay). Terakhir, orang Ibaloi mengonsumsi ikan dari beberapa sungai yang mengalir di daerah mereka.[2]
Babi asap yang disebut kinuday merupakan makanan utama bagi orang Ibaloi.[6]
Agama
[sunting | sunting sumber]Banyak orang Ibaloi di masa kini menganut agama Kristen dari berbagai denominasi, meskipun banyak dari mereka masih menganut kepercayaan tradisional Ibaloi.
Suku Ibaloi percaya pada dua jenis roh (anito). Roh alam yang dikaitkan dengan bencana, serta roh leluhur (ka-apuan) menunjukkan keberadaan mereka melalui mimpi atau dengan membuat anggota keluarga sakit.[2]
Referensi
[sunting | sunting sumber]- ↑ "Ethnicity in the Philippines (2020 Census of Population and Housing)". Philippine Statistics Authority.
- 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 Sumeg-ang, Arsenio (2005). "2 The Ibaloys". Ethnography of the Major Ethnolinguistic Groups in the Cordillera. Quezon City: New Day Publishers. hlm. 28–51. ISBN 9789711011093.
- ↑ Olea, Ronalyn V. (25 Maret 2007). "Ibalois, Victims of Historical Injustice Laws failed to recognize ancestral land rights" (dalam bahasa American English). Northern Dispatch – via Bulatlat.
- ↑ "Spoken L1 Language: Ibaloi". Glottolog.
- ↑ Carascal, Mark B.; Fontanilla, Ian Kendrich C.; De Ungria, Maria Corazon A. (2021). "The Ibaloi Fire Mummies: The Art and Science of Mummification in the Philippines". Anthropological Science (dalam bahasa Inggris). 129 (2): 197–202. doi:10.1537/ase.210422.
- ↑ Garambas, Cynthia D.; Luna, Myrna Benita Z.; Chua, Consuelo T. (21 Juni 2022). "Time-honored praxis in preparing smoked meat delicacy (kinuday) of the ibaloy indigenous people in Benguet, Philippines". Journal of Ethnic Foods. 9 (21). doi:10.1186/s42779-022-00135-6.